Tadabbur Ayat
Ayat 1 Allah subhanahu wataala mengawali surat pembuka kitab Al Quran yang mulia ini dengan bacaan basmalah yang mana mengajarkan kita agar setiap melaksanakan aktivitas kebaikan hendaklah menyertakan Allah dengan bacaan:"Bismillah...". Yang demikian itu akan memberikan beberapa dampak positif, diantaranya:
- Aktivitas kita dalam naungan berkah dan rahmat Allah.
- Allah akan membimbing kita untuk mendapatkan yang terbaik.
- Jika kita mendapatkan hasil yang memuaskan, tidak mudah lupa diri/lupa daratan, karena kita sadar bahwa keberhasilan ini atas ijin Allah.
- Jika kita mendapatkan hasil kurang memuaskan, kita tidak mudah menggerutu, karena mungkin Allah punya maksud lain sehingga kita bisa berintrospeksi diri, evaluasi, memperbaiki diri, dll.
- Jika kita gagal, kita tidak mudah putus asa, karena mungkin Allah belum menghendakinya ataupun mungkin ini yang terbaik buat kita.
Ayat 2 - 5 Allah hendak mengingatkan bahwa semua pujian adalah milik Allah dan yang pantas menerima pujian hanya diriNya. Dialah Dzat pemelihara alam raya ini, menciptakan, mengatur, merawat, dan melimpahkan rahmatNya terus menerus untuk kebaikan dan kesejahteraan seluruh makhlukNya. Maka tidaklah pantas makhlukNya menerima pujian, apalagi minta dipuji ataupun mencari-cari untuk dipuji, karena apapun kebaikan yang ada pada kita adalah atas anugerah dan kasih sayang Allah, Dzat Yang Maha pengasih lagi penyayang. Dialah yang lebih tahu mana yang sebenarnya baik, yang pura-pura baik, atau sepertinya baik. Di hari pembalasan nanti, Allah lah yang berkuasa menilai dan memutuskan amal ibadah hambaNya dengan sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. Maka sepantasnya kita mengakui kelemahan dan ketergantungan kita kepada Allah dengan pengakuan penghambaan:"Hanya kepadaNya kami menyembah dan hanya kepadaNya kami mohon pertolongan".
Ayat 6 - 7 karena sifat lemah pada diri kita, kita tidak pernah tau arah perjalanan hidup kedepan akan berbuah baik buat kita atau tidak, maka memohonlah kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Yaitu jalan-jalan yang telah dilalui oleh hamba-hambaNya yang telah diberi nikmat yaitu para Nabi, Rasul, Syuhada, dan orang-orang shaleh. Dan memohon kepada Allah agar jangan dipalingkan jalan hidup kita ke jalan yang dimurkai, juga bukan jalan yang sesat.
Tadabbur Ayat
Ayat 1 Alif, laaam, miiim; Allah mengawali surat ini dengan huruf muqoththoah, termasuk golongan ayat-ayat mutasyabihat (ayat yang samar). Juga termasuk ayat lainnnya seperti yasiin, thoha, hamiim, dll. Maksud dari ayat-ayat tersebut hanya Allah yang tau, kita cukup mengimaninya karena Nabi shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabat tidak pernah menerangkan ataupun mecari-cari dari makna ayat tersebut.
Ayat 2 - 5 menerangkan bahwa Al Quran adalah kitab Allah yang berisikan petunjuk kebenaran yang tidak terbantahkan. kebenarannya sesuai dengan fitrah manusia, kebenaran yang sejalan dengan hukum alam, dan kebenaran yang ilmiah. Hanya orang-orang yang bertaqwa saja yang dapat mengambil petunjuk Al Quran sebagai pedoman hidupnya untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat. Ciri-ciri dari orang-orang yang bertaqwa diantaranya adalah:
- Beriman kepada hal yang ghaib, seperti: adanya surga dan neraka, hari kiamat, malaikat, dll.
- Mendirikan sholat; melaksanakan sholat dengan menyempurnakan rukun-rukunnya seperti ruku', sujud, bacaan Al Quran, berusaha untuk khusyu', dan memenuhi hak-hak sholat.
- Menafkahkan hartanya pada jalan Allah swt.
- Mempercayai kebenaran Al Quran dan kitab-kitab yang Allah turunkan sebelumnya, yaitu: Taurat, Zabur, dan Injil.
- Yakin akan adanya alam akhirat/hari pembalasan.
Tadabbur Ayat
Ayat 6 - 7 menjelaskan bahwa orang-orang kafir; yang menolak hukum-hukum Allah (ajaran Islam) sebagai pedoman hidup mereka, dan terus-menerus bergelimang dalam dosa dan maksiat, maka dosa-dosanya itulah yang telah menutupi hati mereka dari cahaya Ilahi/cahaya kebenaran. Karena itu Allah kunci hati mereka sehingga tidak bisa menerima seruan Islam, sedangkan pendengaran dan penglihatan mereka sudah tidak peka lagi terhadap peringatan.
Ayat 8 - 16 ada juga sebagian orang yang bermain-main dalam agama, mereka berpura-pura menerima Islam, namun hatinya ingkar. Mereka hendak mencari keuntungan pribadi dengan mengelabui Allah dan orang-orang mukmin. Mereka itulah orang-orang yang sakit hatinya karena sifat buruknya, maka Allah tambahkan rasa sakit yang amat sangat dengan kehidupan yang tak akan pernah puas (rakus), selalu bimbang (peragu), mudah cemas, pengecut, sulit menerima nasehat, tidak mudah mengakui kesalahan (angkuh), berpikir pintas (sembrono/gegabah), dan sifat-sifat buruk lainnya. Mereka hendak mencari kenyamanan dalam Islam dengan tanpa mentaati ajarannya, tapi yang akan mereka dapatkan adalah kerugian dan kebingungan yang menggelayuti jiwanya. Yang demikian itu karena mereka tidak mempunyai pijakan yang kokoh, pedoman/tujuan hidup yang jelas, dan tidak mengerti arti hidup yang sebenarnya.
Tadabbur Ayat
Ayat 17 - 20 Allah memperumpamakan kehidupan orang-orang munafik seperti orang yang kehilangan cahaya dalam suasana yang gelap, hujan deras, ditambah adanya halilintar dan kilat menyambar silih berganti. Jalan nyaman dikehidupannya sekilas-kilas saja, mereka mengandalkan kebaikan orang-orang disekitarnya. Jiwanya rapuh diliputi kecemasan, ketakutan, serba salah, dan kebingungan yang silih berganti. Mereka seperti orang tuli, bisu, dan buta ditengah terang benerangnya dunia. Bisa jadi Allah bukakan keburukan mereka, ataupun orang-orang mukmin pun bisa menilai dari perangai yang sering ia tampilkan, namun Allah lah yang lebih tahu tentang urusan hati seseorang, dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu.
Ayat 21 - 24 Allah mengingatkan akan tujuan hidup manusia adalah untuk mengabdi padaNya. Yang demikian itu karena Allah lah yang menciptakannya dan yang memberikan tempat yang nyaman di alam dunia ini dengan beraneka ragam kebutuhan hidup yang tersedia. Maka sepantasnyalah manusia beribadah padaNya dengan tanpa mempersekutukanNya, dan mengikuti petunjukNya yang telah dituangkan dalam ayat-ayatNya, yaitu Al Quran yang telah terbukti kebenarannya. Jika ada yang masih meragukan akan kebenaran Al Quran, maka Allah tantang untuk membuat semisal Al Quran, dan Allah menjamin tidak ada yang bisa menandinginya. Itulah kebenaran wahyu Allah yang diturunkan sebagai pedoman hidup manusia untuk meraih kebahagian hidup bahagia dunia akhirat dan selamat dari api neraka.
Tadabbur Ayat
Ayat 25 melanjutkan ayat sebelumnya bahwa bagi orang-orang yang mengimani Robbnya dan menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidupnya (beribadah dan beramal sesuai petunjukNya), Allah janjikan balasan surga yang penuh dengan kenikmatan; rizki buah-buahan yang hampir ada kesamaan didunia tapi lebih bagus dan lebih enak rasanya. Juga Allah berikan pasangan hidup yang disucikan. Mereka hidup kekal dalam kebahagiaan abadi.
Ayat 26 - 27 Allah memberikan petunjuk dan pengajaran kepada manusia dengan mengemukakan beberapa perumpamaan adalah agar lebih mudah difahami, seperti kejiwaan orang munafik diumpamakan orang yang kehilangan cahaya, atau seperti orang tuli, bisu, dan buta. Dengan perumpamaan tersebut, Allah pun tidak malu untuk mengemukakan perumpamaan yang lebih rendah lagi seperti menampilkan seekor nyamuk sebagai perumpamaan. Bagi manusia akan ditanggapi berbeda-beda dalam menyikapi hal tersebut.
orang mukmin; mereka meyakini sebagai petunjuk yang benar, kemudian ia berusaha untuk memahaminya.
orang kafir; mereka meremehkan dengan mempertanyakan akan hal yang sepele tersebut.
orang fasik; mereka tidak memperdulikan dengan hal tersebut sehingga makin sesat dikehidupannya.
Diantara ciri khas orang-orang fasik adalah:
suka melanggar hukum-hukum syariat.
suka merusak hubungan silaturrahim antara sesama saudara, teman, tetangga, dan orang-orang dilingkungannya.
suka bikin keonaran, merusak tatanan sosial, lingkungan, dan alam.
Ayat 28 - 29 Seharusnya manusia itu takut dan taat kepada Robbnya yang telah menghidupkannya, mematikannya, dan pada akhirnya akan menghidupkannya kembali untuk menerima balasan terhadap apa yang ia lakukan didunia. Dialah Dzat yang menciptakan bumi dan langit kemudian menyempurnakan ciptaanNya, dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Tadabbur Ayat
Ayat 30 - 37 setelah Allah memberitahu tentang tujuan menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya (QS.Al Baqarah: 21-22), selanjutnya Allah terangkan tujuan menurunkan manusia ke bumi ini adalah Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi ini untuk mengatur, memelihara, mengelola, dan mendayagunakan apa-apa yang ada di bumi untuk kesejahteraan hidup mereka dan seluruh makhluk hidup di bumi sesuai dengan hukum-hukum Allah. Sehubungan dengan hal tersebut, Allah bekali manusia dengan kemampuan akal untuk menyerap ilmu pengetahuan, sehingga dengan begitu manusia bisa mengetahui hal-hal yang baru, dapat memanfaatkan potensi-potensi yang ada, dan agar dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan demikian akan dapat menjalankan misi kepemimpinannya dengan baik.
Selanjutnya, sebelum diturunkan ke bumi, Allah uji nenek moyang manusia (Nabi Adam as.) tentang kemampuan akal dan keilmuannya dihadapan para malaikat dengan diajukan beberapa nama-nama yang telah ia pelajarinya. Juga tentang ketaatannya, Allah uji dengan perintah dan larangan sewaktu tinggal sementara di surga, (Konsekuensi dari tidak taat pada perintah dan larangan Allah adalah mendatangkan murkaNya). Namun karena dorongan nafsu yang ada pada diri manusia, ditambah dengan godaan syaitan yang telah mengikrarkan diri untuk menjerumuskannya ke dalam dosa, ternyata Nabi Adam as. dan Hawa khilaf melanggar larangan Allah. Selanjutnya atas penyesalan keduanya, Allah ajarkan kalimat taubat kepada mereka dan Allah ampuni kesalahannya.
Tadabbur Ayat
Ayat 38 - 39 melanjutkan ayat sebelumnya; ketika Nabi Adam as. dan Hawa tidak tahan menerima ujian dari Allah, sebagai konsekuensinya Allah turunkan keduanya ke bumi. Pun juga Iblis yang telah nyata-nyata menunjukkan kesombongannya, Allah usir mereka dari kedudukannya yang mulia disisi Robbnya. Di bumi manusia tumbuh berkembang memenuhi jalan hidupnya dengan membawa misi kepemimpinan yang telah ia amanatkan. Allah berikan jaminan ketentraman dan kebahagian bagi orang yang mengikuti petunjuk-petunjukNya, sedangkan bagi yang mengingkari dan mendustakannya, Allah ancam mereka dengan adzab neraka.
Ayat 40 - 48 Allah hendak menunjukkan beberapa contoh prilaku orang-orang dahulu (Bani Israel) yang menyeleweng dari ajaran Allah yang tidak patut ditiru. Prilaku-prilaku itu diantaranya:
- mengingkari janji/sumpah
- menjual hukum agama untuk kepentingan pribadi.
- mencampur adukkan antara yang haq dengan yang batil.
- tidak sinkron antara ucapan dengan perbuatan.
Beberapa hal yang wajib dilakukan dalam memaknai hidup di bumi ini sebagai hamba Allah adalah:
- selalu mengingat akan nikmat-nikmat Allah.
- mengimani Al Quran sebagai petunjuk Allah, membaca, mempelajari, dan mengamalkannya.
- mendirikan sholat berjamaah.
- menunaikan zakat.
- meminta tolong hanya kepada Allah dengan diiringi sabar dan sholat yang khusyu.
- takut akan nasibnya di hari akhirat nanti dengan mempersiapkan bekal untuk dirinya dengan sebaik-baiknya.
Tadabbur Ayat
Ayat 49 - 57 Allah kisahkan beberapa peristiwa bagaimana kasih sayang dan pertolongan Allah akan selalu hadir kepada hambaNya agar mereka mau taat, bertaubat kembali ke jalan yang diridloiNya. Peristiwa-peristiwa itu seperti:
1. penyelamatan kaum Bani Israel dari penindasan dan kekejaman Firaun dan bala tentaranya.
2. pemberian ampunan atas penyembahan patung anak lembu, ketika mereka telah sadar dan mau bertaubat.
3. Diberikan kitab Taurat untuk dijadikan petunjuk hidupnya.
4. Diberikan kesempatan untuk hidup kembali ketika mereka mati tersambar halilintar disebabkan karena sikap kurang ajar/tidak sopan kepada Nabinya dengan menyampaikan perkataan yang berlebihan.
5. Allah anugerahkan naungan awan yang menyejukkan dan disediakannya makanan yang mudah didapat lagi lezat (manna dan salwa) bagi kaum Bani Israel saat perjalanan mereka keluar dari Mesir menuju Palestina.
Tadabbur Ayat
Ayat 58 - 61 melanjutkan tentang beberapa contoh kasih sayang Allah dan pertolonganNya yang diberikan kepada umat dahulu (Bani Israel) agar mereka kembali ke jalan Robbnya meskipun telah berkali-kali mereka melakukan pelanggaran. Contoh peristiwa itu diantaranya:
1. ditunjukkan jalan kembali untuk menempati tanah yang diberkahi (Palestina), namun sebagian mereka kembali menyeleweng dan membantah dengan sengaja merubah kata-kata yang diperintahkannya.
2.Dipancarkan 12 mata air disaat mereka kesulitan mendapatkan air.
3. Mengeluhkan tentang makanan yang diperolehnya saat itu dan merajuk kepada Nabinya untuk mendapatkan makanan yang bermacam-macam dengan cara yang cepat. Mereka tidak sabar dengan apa yang disediakan oleh Allah. Jika permintaan mereka dituruti, tentu akan mengganggu perjalanan untuk dapat sampai tujuannya (Baitul Maqdis).
Demikianlah, penyelewengan, pembantahan, dan pelanggaran mereka tunjukkan silih berganti, bahkan sampai berani mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Nabi-nabiNya. Maka pantaslah orang-orang seperti itu ditimpakan kenistaan dan kesengsaraan hidup. Atas mereka kemurkaan Allah dikarenakan kedurhakaannya dan mereka termasuk orang-orang yang melampaui batas.
Tadabbur Ayat
Ayat 62 : Allah menegaskan bahwa syarat diterimanya amal ibadah seseorang adalah:
1. Beriman kepada Allah dan hari akhir. Konsekuensi dari iman kepada Allah dan hari akhir adalah tunduk dan taat mengikuti petunjukNya/hukum-hukumNya yang telah disampaikan kepada RasulNya.
2. Beramal shaleh.
Ayat 63 - 69 : kembali Allah terangkan beberapa contoh pelajaran dari prilaku buruk Bani Israel dan hukuman atas perbuatannya:
1. Tidak menunaikan janjinya kepada Allah dengan baik sehingga menemui banyak kerugian.
2.Melanggar kemuliaan hari sabtu yang Allah khususkan untuk beribadah padaNya. Karena itu mereka ditimpa adzab dirubah menjadi kera.
3.Terlalu banyak tanya, sehingga mempersulit dirinya untuk melaksanakan perintah/hukum-hukum Allah.
Tadabbur Ayat
Ayat 70 - 74 melanjutkan tentang kisah prilaku buruk sebagian dari Bani Israel yang terlalu banyak tanya dalam menanggapi perintah Nabinya sehingga mempersulit baginya untuk melaksanakannya. Hampir saja mereka tidak sanggup memenuhi apa yang diperintahkannya itu (seandainya mereka mencari sapi yang sederhana untuk memenuhi perintah disembelih, maka sebenarnya itu sudah cukup tanpa perlu mempersulit Nabinya dengan banyak tanya). Pada kisah tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Melaksanakan hukum-hukum Allah dan RasulNya hendaknya didasari dengan ketaatan, yaitu sami'na wa atho'na (kami mendengar dan kami patuh).
- Kebohongan, cepat atau lambat pasti akan terbongkar. Manusia mungkin dapat dikelabuhi, tapi Allah Maha tahu segalanya.
- Bahwa Allah sungguh berkuasa menghidupkan orang yang telah mati. Dan seperti itu juga nantinya di hari kebangkitan benar-benar akan terjadi dan amat mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia semuanya.
Demikian itulah Allah menghendaki ketaatan yang patuh dan tulus, tanpa perlu tanya-tanya yang tidak penting, berbantah, beralasan yang bukan-bukan, sehingga akan mengeraskan hati. Padahal kerasnya batu dapat terbelah, memancarkan air, tapi kerasnya hati membuat petunjuk, nasehat, peringatan sulit untuk menembus.
Ayat 75 - 76 contoh dari orang-orang yang keras hatinya adalah sebagian ahlul kitab yang tidak mau menerima ajaran Nabi Muhammad saw. Padahal kabar tentang kedatangan beliau sudah tertulis didalam kitabnya (Taurat dan Injil), sedangkan mereka telah membaca, mempelajari, dan memahaminya. Namun karena sifat dengkinya, mereka berani mendustakannya, menyembunyikan kabar tersebut, dan merubah-rubah isi kitabnya. Merekapun sanggup memerankan bermuka dua untuk mengelabuhi Nabi saw. dan orang-orang mukmin agar tidak diketahui keingkarannya. Maka tidak perlu banyak diharapkan ketaatan mereka untuk menerima Islam seutuhnya.
Tadabbur Ayat
Ayat 77 - 82 melanjutkan tentang kisah penyelewengan sebagian Bani Israel yang patut menjadi pelajaran bagi umat sekarang agar tidak ditiru/terulang lagi.
- Mereka merasa aman atas pelanggaran-pelanggaran yang ia lakukan, padahal Allah Maha tau apa yang nyata dan tersembunyi.
- Sebagian mereka hanya menerka-nerka tentang maksud hukum Allah tanpa ilmu dan dalil yang haq.
- Sebagian ulama dari mereka ada yang berani menambah isi kitab Allah (Taurat dan Injil) kemudian mendakwahkan bahwa ini bagian dari ayat-ayat Allah. Hal itu mereka lakukan karena ingin mendapatkan keuntungan/kesenangan di dunia.
- mereka menganggap bahwa ia akan masuk neraka sebentar atas pelanggaran-pelanggaran yang ia lakukan.
Sungguh bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang keterlaluan terhadap Allah, sedangkan ia merasa ringan-ringan saja dalam menanggapi ancaman dan dosa. Balasan yang sebenarnya bagi orang-orang yang jiwanya diliputi dosa-dosa adalah menjadi ahli neraka dan kekal didalamnya. Sedangkan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka baginya hidup kekal di surga.
Ayat 83 menjelaskan bahwa Allah telah mengambil janji kepada Bani Israel untuk kemuliaan hidupnya disisi Allah dan manusia:
- Menyembah hanya kepada Allah saja.
- Berbakti kepada kedua orang tua.
- Berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin.
- Menjaga hubungan baik kepada semua orang.
- Mendirikan sholat dan menunaikan zakat.
Namun lagi-lagi kebanyakan mereka berpaling dari janji tersebut dan sedikit yang sanggup mematuhinya.
Tadabbur Ayat
Ayat 84 - 86 melanjutkan ayat sebelumnya bahwa Allah juga telah mengambil perjanjian kepada Bani Israel untuk tidak membunuh, memerangi, mengusir, maupun menawan sesama kaumnya. Namun janji tinggalah janji, mereka selalu menyalahinya dengan membunuh, memerangi, mengusir, dan menawan sesama kaumnya sendiri dikarenakan sifat rakusnya terhadap harta. Mereka seakan mengimani isi kitabnya yang sebagian dan sebagian lagi ia ingkari karena tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Mereka telah menjual kebahagiaan yang kekal abadi diakhirat yang Allah janjikan, ditukar dengan kesenangan sementara didunia. Maka Allah hinakan hidup mereka baik didunia maupun diakhirat.
Ayat 87 - 88 menerangkan bahwa sudah berkali-kali Allah turunkan RasulNya untuk menunjuki jalan kebenaran dan untuk memperbaiki sifat buruk mereka, namun karena sifat sombong dan rakus yang telah menyelimuti hatinya, setiap ajaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya akan selalu ia langgar. Bahkan karena sikap keras kepalanya itu hingga berani mendustakan ayat-ayat Allah dan berusaha membunuh para NabiNya. Mereka terang-terangan mengatakan: "Hati kami tertutup". Itulah kekerasan hati orang-orang yang telah mengingkari petunjuk Allah sehingga Allah laknat mereka untuk tidak bisa menerima petunjuk kebenaran, dan sedikit sekali dari mereka mengimani ajaran RasulNya.
Tadabbur Ayat
Ayat 89 - 93 setelah Allah kisahkan tentang beberapa karakter buruk yang melekat pada kebanyakan kaum Bani Israel, pada ayat selanjutnya ini akan diketahui bagaimana sikap penolakan dan penentangannya yang begitu keras terhadap dakwah Nabi dan umat Islam. Mereka dengki karena Nabi yang dijanjikan dan selama ini ia harapkan kedatangannya ternyata bukan dari golongan mereka. Mereka mengaku beriman kepada kitabnya (Taurat), tapi menolak Al Quran meskipun nyata kebenarannya dan membenarkan kitab sebelumnya. Sebenarnya mereka berdusta telah mengimani kitabnya, nyatanya mereka mengingkari ajaran Tauhid dari Nabinya (Nabi Musa as.) dengan menyembah patung anak sapi dan selalu melanggar janji-janji. Merekapun selalu bermaksiat tidak taat terhadap ajaran Nabinya. Amat buruk keimanan mereka dan sesungguhnya mereka telah kafir dan pantaslah adzab Allah baginya.
Tadabbur Ayat
Ayat 94 - 101 menjelaskan bahwa keyakinan mereka yang menganggap merekalah (orang-orang Yahudi) satu-satunya yang memperoleh surga diakhirat nanti, hanyalah angan-angan kosong saja. Jika memang benar mereka meyakininya, tentunya mereka tidak takut akan datangnya kematian. Tapi karena dosa-dosanya, mereka takut mati (QS.Al Jumuah: 6-8). Mereka bahkan berkeinginan untuk hidup seribu tahun lagi karena sifat rakusnya terhadap dunia.
Merekapun menyatakan secara terang-terangan memusuhi malaikat Jibril (mereka menganggap Jibril musuhnya, sedangkan Mikail penolongnya) . Allah tegaskan bahwa barang siapa yang memusuhi salah satu dari utusanNya, sama saja memusuhi diriNya. Dan barang siapa yang menolak kitabNya, maka mereka termasuk orang-orang yang fasik.
Ada juga sebagian dari mereka yang merusak janjinya dengan nyata-nyata mengingkari sebagian isi kitab Allah yang menjelaskan tentang kedatangan Nabi akhir zaman. Ketika Rasulullah datang dengan membawa ajaran penyempurna (Islam) dan membenarkan kitab-kitab mereka, mereka terang-terangan mendustakannya, seakan-akan mereka tidak pernah tau tentang kabar kedatangannya. Padahal sebelumnya mereka paham betul, dan bahkan mengharapkan kedatangannya.
Tadabbur Ayat
Ayat 102 - 105 menjelaskan tentang keyakinan dari sebagian ahlul kitab yang batil yaitu membenarkan perbuatan sihir dan mempelajarinya, dengan alasan bahwa Nabi Sulaiman alaihissalam juga belajar sihir dan menggunakannya dalam pemerintahannya. Allah tegaskan bahwa Nabi Sulaiman bersih dari apa yang mereka tuduhkan, dan bahwa setanlah yang mengajarkan sihir melalui 2 orang yang dianggapnya malaikat karena terpesona tampilan kebaikannya. Keduanya mengajarkan sihir yang bisa merusak hubungan suami istri dan kejahatan lainnnya melalui jalan sembunyi (kasat mata/sihir). Sebenarnya tidaklah sihir dapat memberikan bahaya apa-apa tanpa izin Allah swt. Dan perbuatan mereka yang mempelajari sihir dan menggunakan itu telah mengambil keuntungan sementara dengan menukar keuntungan abadi diakhirat dan amat buruk yang ia lakukan. Sekiranya mereka beriman dan bertaqwa menerima ajaran Nabi, maka Allah akan berikan balasan yang lebih baik.
Ada juga diantara mereka yang benar-benar bermaksiat kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dengan merubah-rubah perkataan untuk mengingkarinya. Maka Allah luruskan kepada kaum mukminin dengan perkataan berbeda dengan arti yang sama, agar ahlul kitab tersebut tidak ada celah untuk menyelewengkannya (Mereka hendak mengikuti prilaku buruk pendahulunya yang mengganti perintah Nabinya seperti yang tersebut pada S.Al Baqarah: 58-59). Sebenarnyalah mereka (ahlul kitab) dan kaum musyrikin itu tidak menginginkan rahmat Allah diturunkan kepada Nabi saw. dan kaum muslimin, padahal Allah lah yang berkuasa menentukan kepada siapa yang dikehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar.
Tadabbur Ayat
Ayat 106 - 112 ada beberapa petunjuk Allah kepada Nabi Muhammad saw. dan kaum muslimin dalam menyikapi prilaku dan keyakinan yang salah dari ahlul kitab, diantaranya:
1ā£. Keyakinan ahlul kitab bahwa ayat-ayat/hukum-hukum Allah yang telah diturunkan kepada NabiNya tidak mungkin terhapus ataupun tergantikan. Dengan keyakinan tersebut mereka jadikan alasan untuk menolak kebenaran kitab Injil dan Al Quran. Keyakinan ini dibantah oleh Allah bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu.
2ā£. Tidak boleh banyak tanya kepada Nabi sehingga akan mempersulit diri sendiri seperti yang telah dilakukan oleh Bani Israel dalam kasus perintah mendatangkan sapi untuk mengungkap kasus pembunuhan.
3ā£. Hadapi penolakan dan permusuhan ahlul kitab dengan memaafkan dan berlapang dada sampai Allah datangkan perintah yang lain. Sikap penolakannya itu karena didasarkan pada kedengkiannya.
4ā£. Teguhkan keimanan dengan mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan janji balasan yang lebih baik dari Allah atas amal ibadahnya akan ia dapatkan.
5ā£. Klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa hanya dari golongan mereka saja yang akan memasuki surga adalah tidak mempunyai alasan yang kuat. Akan tetapi yang bisa memasuki surga adalah orang-orang yang tunduk patuh mengikhlaskan diri menerima agama Allah yang diajarkan RasulNya, dan beramal ibadah sesuai dengan petunjukNya. Bagi mereka akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tadabbur Ayat
Ayat 113 - 118 Allah mencela beberapa sikap yang berlebihan dalam agama (ghuluwwun fiddin), diantaranya adalah:
- Fanatik buta, yaitu meyakini kebenaran tanpa didasari ilmu, alasan, atau bukti yang haq. Allah akan mengadili dan memintai pertanggungjawaban di hari kiamat nanti atas keyakinan yang didasarkan kedengkian, nafsu, kepentingan lain, dan didasari atas kebodohan.
- Menghalang-halangi orang-orang yang hendak masuk kerumah ibadah dan apalagi hendak merobohkan/merusaknya.
āMenganggap Allah mempunyai anak.
āMeminta berlebihan kepada Allah, seperti ingin melihat/bercakap-cakap langsung kepada Allah. Juga ingin mendikte Allah untuk menunjukkan ayat-ayat kebesaranNya.
Di arah mana engkau menghadap, disitu engkau akan menemukan wajah Allah, dan Allah Maha luas karuniaNya lagi Maha mengetahui (ayat ini menjadi dasar ketika melaksanakan sholat dikendaraan atau ketika tidak bisa mengetahui arah kiblat yang benar).
Ayat 119 Allah menegaskan bahwa ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. adalah yang haq (dapat dibuktikan kebenarannya). Beliau ditugaskan hanya sebagai pembawa berita gembira bagi yang mengimaninya dan pemberi peringatan bagi yang mengingkarinya, dan beliau tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas keingkaran umatnya.
Tadabbur Ayat
Ayat 120 - 121 melanjutkan ayat sebelumnya tentang tugas risalah kenabian; menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugas dakwah menyampaikan kebenaran (dakwah islamiyah) jangan mengharapkan kerelaan orang, tapi hadapilah dengan mengharapkan Keridlaan Allah swt. Hanya orang-orang yang ikhlas dalam beragama, mereka mau membaca kitab Allah dengan semestinya; merekalah yang akan terbuka hatinya menerima cahaya kebenaran (Islam).
Ayat 122 - 123 kembali Allah ingatkan dari generasi ke generasi Bani Israel akan nikmat-nikmat Allah yang telah dicurahkan kepadanya, agar bersegera menerima dengan lapang dada (cahaya kebenaran yang tidak terbantahkan, yaitu Islam) yang diserukan oleh Nabi Muhammad saw. dan lepaskan kedengkian, kerakusan dunia, dan keangkuhanmu yang menghalangi hati menerima cahaya Islam. Dan hendaklah mereka takut akan nasibnya nanti di hari kiamat yang masing-masing akan mempertanggungjawabkan atas perbuatannya.
Ayat 124 - 126 Allah menganugerahkan derajat keimaman (menjadi suri tauladan) kepada Nabi Ibrahim as. karena kepatuhan dan keteguhannya dalam menjalankan syariat Allah swt., dan Allah akan anugerahkan derajat tersebut kepada generasi selanjutnya jika mereka tunduk dan patuh menetapi keimanannya sebagaimana permohonan Nabi Ibrahim as., dan doa yang diajarkan Allah swt. di S.Al Furqon: 74.
Selanjutnya Allah menjadikan ka'bah baitullah sebagai tempat yang dituju manusia berkumpul menyembah kepadaNya, kota Makkah menjadi tempat yang aman, dan area maqam Ibrahim sebagai tempat sholat.
Nabi Ibrahim as. yang menerima perintah membangun ka'bah dan menempatkan sebagian anak keturunannya di Makkah, beliau iringi doa keamanan dan kesejahteraan atas kota tersebut untuk generasi selanjutnya yang menetapi jalan keimanan. Sedangkan bagi yang kafir, Allah akan berikan kenikmatan sementara dan kesengsaraan yang tidak ada habisnya (neraka). Ayat ini juga mengajarkan kita tentang cara membangun keluarga yang diharapkan akan lahir generasi-generasi rabbani, diantaranya:
ā Orang tua menjadi teladan yang baik.
ā Menempatkan rumah/keluarga pada lingkungan yang baik, seperti dekat dengan masjid/musholla, majlis taklim, dll.
ā Selalu iringi tumbuh kembang keluarga dengan doa dan tawakkal kepada Allah swt.
Tadabbur Ayat
Ayat 127 - 134 melanjutkan kisah Nabi Ibrahim as. bersama putranya yaitu Ismail as. pada saat membangun ka'bah dan kota Makkah. Agar keimanan anak keturunannya tertambat kuat pada Allah Sang pemilik ka'bah, mempunyai daya juang yang tinggi, dan Makkah sebagai sentral ibadah menjadi negeri yang aman lagi berkah, Nabi Ibrahim as. mengajarkan kepada anak keturunannya 3 hal: a) Mafahim/pola pikir, yaitu aqidah tauhid yang kuat. b) Perilaku, yaitu perilaku ibadah dan akhlaq yang harus dijalankan. c) manasik , bisa diartikan sejarah perjalanan dan perjuangan, sehingga perjuangan itu bisa dipahami, dilaksanakan dan dilanjutkan. Kemudian ditutup dengan doa kehadiran pelanjut perjuangan. Dari kisah diatas, ada beberapa hal yang perlu dicontoh dalam upaya mencetak generasi Rabbani yang Islami :
1ā£. Dalam usaha membangun kebaikan harus diniatkan lillahi ta'alaa, dilakukan dengan baik dan benar, kemudian mohon diterima semua amal baiknya kepada Allah.
2ā£. Mohon bimbingan Allah dalam menetapi kebaikan untuk dirinya dan keturunannya, mohon ditunjukkan cara-cara yang benar dalam beramal beribadah, dan selalu bertaubat kepadaNya.
3ā£. Mohon juga untuk dibangkitkan pada anak keturunannya nanti, pelopor-pelopor kebajikan yang mau mengajarkan Al Quran, hadits Nabi, dan melakukan proses tadzkiyatunnafs (amar ma'ruf nahi munkar, saling berwasiat dan tolong menolong dalam kebaikan, dll.) kepada umat manusia disekitarnya.
4ā£. Mengajarkan, mengingatkan, dan meyakinkan dengan betul-betul agar generasi yang akan ditinggalkan benar-benar berpegang teguh kepada Islam hingga dibawa sampai mati dengan ketauhidan yang mantap.
Sungguh Allah telah memilih Nabi Ibrahim as. sebagai RasulNya dan kekasihNya, maka pantaslah menjadi teladan umat sesudahnya. Itulah generasi awal yang Allah kisahkan, tidak ada manfaatnya pertalian persaudaraan/nasab dengan orang-orang yang shaleh (Nabi Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya) kecuali dengan mengerjakan kebaikan seperti apa yang dicontohkan, karena bagi mereka amalan mereka dan bagi kita amalan kita.
Tadabbur Ayat
Ayat 135 - 141 Allah hendak meluruskan klaim-klaim yang diyakini kebenarannya oleh ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani):
1. Mereka mengklaim bahwa agama mereka diatas petunjuk Allah karena agama mereka bersumber dari wahyu Allah yang dibawa oleh para Nabi pilihan yang diyakini kebenarannya (Nabi Musa as. dan Nabi Isa as.). Bantahan untuk mereka adalah agama yang benar adalah agama yang sama seperti yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim as.(Bapaknya para Nabi) yang berisikan ajaran mentauhidkan Allah swt. dan tidak mempersekutukanNya. Kami mengimani Al Quran, juga mengimani apa yang diturunkan kepada Nabi-nabi semuanya dari Allah swt. yang mengajarkan ketauhidan.
2. Agama yang benar adalah agama penyerahan diri tanpa membeda-bedakan antara Nabi yang satu dengan yang lainnya(S.An Nisa': 150-152).
3. Jika mau mengimani sama seperti apa yang diimani para Nabi tersebut maka ia termasuk dalam petunjuk kebenaran, tapi jika menyelisihinya maka ia telah sesat dari jalan kebenaran.
4. Agama Allah adalah sesuai dengan fitrah manusia. Itulah Islam, agama penyerahan total kepada Allah, sebaik-baik agama yang sejalan dengan fitrah manusia, dan kepadaNya kami menyembah.
5. Jika mereka masih mendebat tentang Allah, katakanlah bahwa Tuhan kami adalah Tuhan kamu juga, bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalanmu, dan kepadaNya kami tulus menghambakan diri.
6. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, Nabi Ishak as, Nabi Ya'kub as, dan anak keturunannya adalah beragama Yahudi atau Nasrani. Katakanlah: kaliankah yang lebih tau daripada Allah?. Mereka hendak mengadakan kedustaan atas nama Allah dengan menyembunyikan kesaksian bahwa Nabi Ibrahim as. dan anak keturunannya bukanlah penganut agama Yahudi atau Nasrani. Juga mereka hendak menyembunyikan kabar tentang datangnya Nabi akhir zaman yang telah tertulis dikitab Taurat dan Injil.
Itulah kisah sebenarnya dari umat yang telah lalu, dan masing-masing akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Tadabbur Ayat
Ayat 142 - 145 menjelaskan tentang perintah pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Baitul Atiq (Masjidil haram). Peristiwa tersebut Allah hendak menguji siapa yang benar-benar taat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tunduk kepada hukum-hukumNya. Yang demikian itu karena Allah ingin menjadikan umat Muhammad sebagai umat pilihan lagi adil, yang pantas menjadi saksi atas umat yang lain juga pantas dipersaksikan oleh Rasulullah saw. Maka walaupun perintah pengalihan kiblat itu terasa berat bagi sebagian orang bahkan sampai mempertanyakan tentang hal tersebut, tapi bagi orang-orang yang benar-benar keimanannya akan terasa ringan, karena prinsip dasar orang mukmin sejati dalam menyikapi hukum-hukum Allah adalah "Sami'na wa atho'na".
Pengalihan kiblat tersebut juga wujud kasih sayang Allah kepada NabiNya yang selalu berdoa untuk dipalingkan wajahnya ke masjidil haram yang disukainya. Dan peralihan arah kiblat inipun sebenarnya telah diketahui oleh ahlul kitab dari kitab Taurat maupun Injil sebagai bagian kabar kedatangan Nabi akhir zaman. Namun karena kedengkiannya mereka menolak mengikuti pemindahan arah kiblat. Meskipun mereka ditunjukkan beribu tanda-tanda kebenaran dari Allah, mereka tidak akan mengikutinya karena mereka beragama atas dasar nafsunya saja, sedangkan agama yang haq didasarkan atas petunjuk Allah melalui RasulNya. Maka jangan sekali-kali mengikuti kiblat mereka dan jangan menjalankan agama atas dasar nafsu seperti mereka lakukan yang akan menjadikan kalian termasuk golongan orang-orang yang dzolim.
Tadabbur Ayat
Ayat 146 - 147 pada ayat ini Allah hendak meneguhkan hati Nabi Muhammad saw. beserta kaum muslimin untuk melaksanakan perintah pemindahan arah kiblat meskipun banyak dari ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum musyrikin menolak maupun mencemoohkannya. Sungguh para ahlul kitab itu telah mengetahui tentang kebenaran Nabi Muhammad saw. dengan pengetahuan yang pasti seperti halnya mereka mengetahui detail terhadap anak-anaknya sendiri, melalui kitab yang telah dibacanya. Sungguh kebenaran yang hakiki datangnya dari Allah swt., maka tak perlu diragukan lagi.
Ayat 148 - 152 bahwa setiap umat mempunyai kiblatnya sendiri-sendiri (punya arah dan tujuan yang bermacam-macam), dan semuanya akan kembali kepada Allah swt. untuk menerima balasan sesuai dengan amal ibadahnya, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Dimana saja kalian datang, menuju, dan berada dimana saja, tetap arahkan wajah kalian (saat sholat) ke arah masjidil haram, agar keyakinanmu semakin mantap sehingga tidak ada jalan bagi orang lain untuk membantahnya, dan tak perlu takut kepada siapapun kecuali kepada Allah swt. Dengan keyakinan yang mantap, Allah hendak menyempurnakan nikmat dan petunjukNya atas kalian seperti halnya Allah telah mengutus RasulNya untuk mengajarkan Al Quran dan hadist, juga mengajarkan apa saja yang belum kalian ketahui. Ingat dan bersyukurlah kepada Allah agar Allah ingat kepada kalian dan berkenan menambah nikmat-nikmatNya.
Ayat 153 Allah menyeru kepada orang-orang mukmin untuk menjadikan sholat dan sabar sebagai jalan minta pertolongan kepada Allah swt. Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar.
Tadabbur Ayat
Ayat 154 - 163 menerangkan beberapa hal, diantaranya:
1. Orang-orang mukmin yang gugur di medan perjuangan menegakkan kalimat Allah/membela agama Allah, mereka dialam kubur (barzah) itu sebenarnya hidup dan mendapat kemuliaan dan kehormatan disisi Allah swt.
2. Sungguh Allah akan menguji orang-orang mukmin dari rasa takut, lapar, kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan buah-buahan. Mereka yang menghadapinya dengan sabar dan tawakkal, merekalah yang akan memperoleh keberkahan, rahmat, dan petunjuk dari Allah swt.
3. Sa'i (lari-lari kecil) antara bukit shoffa dan marwa adalah bagian dari syiar-syiar Allah dan merupakan bagian dari ibadah haji maupun umroh. Setiap ibadah yang kalian laksanakan akan dibalas Allah dengan yang lebih baik.
4. Allah melaknat orang-orang yang berusaha menyembunyikan ayat-ayat Allah yang telah diwahyukan didalam kitabNya, sampai mereka kembali bertaubat kepadaNya.
5. Orang-orang kafir yang mati dalam kekafirannya, mereka mendapat laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Mereka selanjutnya akan kekal dineraka. Bahwa Tuhan yang wajib disembah hanyalah Allah yang Maha pengasih lagi penyayang.
Tadabbur Ayat
Ayat 164 - 167 melanjutkan ayat sebelumnya menjawab keheranan orang-orang kafir bahwa Tuhan hanya satu; Allah tunjukkan ke Maha kuasaNya menciptakan alam raya ini beserta isinya dan Allah pelihara, diatur dengan sistem kehidupan yang seimbang, dinamis, berkaitan, berkesinambungan, tersusun dan terarah dengan baik (sunnatullah). Yang demikian itu tidaklah mungkin dilakukan oleh 2 Tuhan atau lebih karena akan terjadi benturan keinginan, kepentingan, dan kekuatan.
Ada sebagian orang yang mencintai selain Tuhan melebihi cintanya kepada Allah swt. Bagi orang yang beriman Allahlah yang lebih dicintainya diatas segalanya. Sungguh semua kekuatan milik Allah saja dan adzabNya sangat keras.
Di hari kiamat nanti adalah tempat penyesalan orang-orang yang tidak menggunakan akalnya dalam beragama. Beragama seharusnya dengan menyertakan akal atau logika, karena agama tanpa logika cenderung akan menyesatkan. Sekarang pun orang bisa sesat ketika melaksanakan agama Islam dengan mengabaikan logika.
aliran sesat saat ini sesat karena mereka beragama dengan;
1. perasaan
2. mengabaikan logika
3. mengabaikan ulumusysyar'iyyah dan ulama.
Oleh karena itu aliran sesat itu ajarannya liar, tidak logis, tidak sesuai dengan ulumusysyar'iyyah, melecehkan ulama.
karena perasaan tanpa logika, tanpa ilmu syariat, tanpa bimbingan ulama, pasti liar-seliarnya. Mereka hanya mengikuti pemuka-pemukanya saja, padahal mereka nantinya tidak bisa menanggung nasib pengikutnya. Bahwa setiap diri akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya masing-masing, dan terputuslah semua hubungan.
Ayat 168 - 169 Allah menyeru manusia untuk memperhatikan apa yang dimakan dan diminumnya. Hendaklah makan makanan yang halal lagi baik, dan jangan makan makanan yang haram karena makanan haram yang bersemayam pada tubuh seseorang akan menghambat cahaya Ilahi, mengeraskan hati, menghambat terkabulnya doa, dan mendorong orang tersebut mudah berbuat dosa. Dengan demikian syaitan akan semakin mudah memperdaya orang tersebut untuk berbuat jahat, keji, dan mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa dasar ilmu yang benar.
Tadabbur Ayat
Ayat 170 - 171 menerangkan tentang keingkaran orang-orang kafir ketika diseru untuk mengikuti hukum-hukum Allah disebabkan kebanggaan terhadap leluhur mereka, mengikuti tradisi, mempertahankan budaya, meskipun hal-hal tersebut tanpa ada dasar yang benar. Mereka tidak menggunakan akalnya dalam beribadah dan beramaliah. Mereka itu seperti hewan ternak yang tidak mengerti seruan kecuali hanya suara teriakan saja.
Ayat 172 - 173 Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman untuk makan makanan yang baik-baik dari rizki halal yang diperolehnya, dan memperbanyak rasa syukur untuk menyempurnakan ibadahnya kepada Allah swt. Dengan syukur akan melapangkan jiwanya dan dengan makan makanan yang halal lagi baik akan memudahkan petunjuk Allah merasuk dalam hati dan pikirannya. Allah mengharamkan makan bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih bukan atas namaNya. Namun jika dalam keadaan terpaksa, maka boleh makan makanan yang diharamkan tersebut sekedarnya (tentang keseluruhan makanan yang diharamkan, ada penjelasan selanjutnya dalam hadits Nabi saw.).
Ayat 174 - 176 menjelaskan bahwa Allah melarang menyembunyikan ayat-ayatNya dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai tawar menawar untuk kepentingan pribadi/golongan. Sungguh apa yang Allah turunkan adalah kebenaran yang haq. Barang siapa yang menyembunyikan, memperjualbelikan, dan memperselisihkan hukum-hukum Allah, maka Allah tidak akan memperdulikannya dan tidak menyucikannya. Jalan hidup mereka akan tergelincir dalam kesesatan dan ancaman Allah buat mereka adalah adzab neraka.
Tadabbur Ayat
Ayat 177 menjelaskan bahwa kebaikan itu tidak hanya beribadah kepada Allah saja, tapi yang dinamakan kebaikan adalah menjaga hubungan baik kepada Allah, juga kepada manusia (hablumminallah wa hablumminannas), bahwa ketundukannya kepada Allah terimplementasikan dalam kontribusi kemanfaatan dirinya pada manusia disekitarnya. Jadi ibadahnya baik, dan dalam muamalahnya juga baik. Yang demikian itulah kategori orang-orang yang bertaqwa.
Ayat 178 - 179 Allah mewajibkan hukum qishahs ditegakkan untuk memelihara kehidupan umat manusia (Qishash adalah hukuman yang semisal dengan kejahatan yang dilakukan atas diri manusia). Dalam prakteknya jika ada pemaafan dari pihak keluarga korban, maka berilah tebusan dengan yang lebih baik. Dan Allah melarang berlaku melampaui batas dalam tuntutan. Yang demikian itu agar kalian bertaqwa.
Ayat 180 - 181 tentang ayat yang mewajibkan berwasiat kepada ahli waris telah dihapus hukumnya setelah turunnya ayat tentang waris (An Nisa': 11-14). Selanjutnya bahwa orang yang mengganti isi wasiat akan menanggung dosa terhadap apa yang ia lakukan. Sungguh Allah Maha mendengar lagi mengetahui.
Asbabunnuzul ayat 178:
Ibnu Abbas ra. menuturkan bahwa ayat ini turun sebagai penetapan Allah kepada kaum muslimin dengan adanya pilihan antara qishas dengan diat, ketika keluarga korban telah memaafkan. Berbeda dengan apa yang telah ditetapkan kepada Bani Israel, dimana tidak ada diat bagi mereka. Yang ada hanyalah hukuman qishas (HR.Bukhari, Nasai, dan Addaruqutni. Lihat Qurthubi: 1/244).
Tadabbur Ayat
Ayat 182 melanjutkan ayat sebelumnya tentang wasiat; Jika penerima wasiat merasa khawatir jikalau isi wasiat tersebut akan menyalahi hukum atau akan mengakibatkan perselisihan, pertengkaran, atau dosa, maka diperbolehkan melakukan solusi-solusi lain untuk tujuan mendamaikan (agar bisa diterima dari berbagai pihak yang bersangkutan). Sungguh Allah Maha pengampunan lagi penyayang.
Ayat 183 - 186 menerangkan beberapa hal tentang puasa dibulan Ramadhan:
1ā£. Allah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan untuk mengajarkan ketaqwaan hambaNya.
2ā£. Bagi orang-orang yang lemah seperti sakit, lanjut usia, darurat, dan bagi musafir, Allah memberikan beberapa keringanan dalam hal puasanya (membayar fidyah atau mengganti puasa yang ditinggalkan di bulan lain sesuai penjelasan dalam hukum fiqh).
3ā£. Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran, maka sangat dianjurkan untuk memperbanyak membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al Quran di bulan itu.
4ā£. Bila telah sempurna bilangan hari dan sampai diakhir bulan Ramadhan diutamakan melakukan takbir dimalamnya dan dilanjutkan melaksanakan sholat Idul Fitri di pagi harinya.
5ā£. Allah adalah sangat dekat dengan hambaNya yang mengimaniNya dan memenuhi perintahNya. Jika ia berdoa pasti akan dikabulkan permintaannya.
Asbabunnuzul ayat 186:
Sahabat Ali ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah kalian berhenti berdoa, karena sesungguhnya Allah swt. telah berfirman kepadaku:'Berdoalah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian". Seorang sahabat lalu bertanya: "Wahai Rasul, apakah Tuhan mendengar doa kita?. Bagaimana caranya?. Lalu Allah menurunkan ayat ini. (HR.Ibnu Asakir. Lihat Ibnu katsir: 1/299).
Tadabbur Ayat
Ayat 187 melanjutkan tentang perintah puasa di bulan Ramadhan; Allah telah menghalalkan melakukan hubungan suami istri di malam bulan Ramadhan, juga diperbolehkan makan minum dari tenggelamnya matahari hingga terbit fajar. Allah hanya melarang melakukan hubungan suami istri saat i'tikaf di masjid.
Ayat 188 - 190 Allah memberikan beberapa pengajaran tentang tata pergaulan antar manusia:
1ā£. Dilarang memakan dan menguasai harta orang lain dengan batil; seperti mengklaim harta orang lain dengan memperkarakan kepengadilan agar ia dimenangkan dengan memutar balikkan fakta atau dengan mengajukan bukti palsu.
2ā£. Bulan sabit/peredaran bulan bermanfaat bagi manusia untuk menentukan/menghitung waktu seperti waktu haji, puasa ramadhan, iddah, dll.
3ā£. Adab memasuki rumah adalah melalui pintu-pintu depan. Hal ini akan mendekatkan ketaqwaan, juga menjauhkan fitnah dan prasangka.
4ā£. Bahwa perang dalam Islam adalah untuk membela diri dan menghilangkan rintangan-rintangan terhadap kebebasan menjalankan agama, dan bukan untuk memaksakan ajaran Islam.
5ā£. Larangan sikap berlebihan dalam segala hal. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Asbabunnuzul ayat 187:
Al Barra' ra. berkata: "Saat turun kewajiban puasa di bulan Ramadhan, para sahabat tidak mendekati para istri mereka sebulan penuh. Namun beberapa diantara mereka ada yang melanggar larangan itu. Maka Allah menurunkan ayat ini". (HR.Bukhari).
Tadabbur Ayat
Ayat 191 - 195 melanjutkan tentang perintah perang dalam Islam:
1. Diperintahkan membunuh dan mengusir orang-orang yang memerangi dan mengusir umat Islam sampai mereka mau berdamai/berhenti memusuhi (tidak menindas, menganiaya umat Islam dan tidak merintangi umat Islam menjalankan agamanya).
2. Jika umat Islam diperangi pada bulan haram (muharram, rajab, dzul qaidah, dan dzulhijjah), maka umat Islam diperbolehkan berperang di bulan tersebut. Begitu juga ditempat yang suci seperti disekitar masjidil haram, boleh berperang jika diperangi ditempat tersebut.
3. Berikanlah yang terbaik dengan siap mengorbankan seluruh jiwa dan harta untuk mempertahankan tegaknya agama Allah dan terjaga keamanan umat Islam. Janganlah kenikmatan dunia menjadikan kalian lalai dan membinasakanmu.
Ayat 196 menjelaskan tentang berkenaan ibadah haji atau umroh:
1. perintah menyempurnakan haji dan umroh karena Allah swt.(diharamkan membatalkan disaat ibadah haji/umroh yang sudah diniatkan/sudah ihram).
2. Jika proses pelaksanaan haji/umroh terhalang seperti terkepung musuh, sakit, dll. maka bayarlah haddnya yaitu memotong hewan kurban, setelah itu baru tahallul (menghalalkan kembali apa saja yang sebelumnya diharamkan saat pelaksanaan ibadah haji/umroh) dengan mencukur sebagian rambut kepala.
3. Jika jatuh sakit saat proses ibadah haji/umroh sehingga harus mencukur rambut kepala, maka dikenakan denda/fidyah, yaitu puasa 3 hari atau memberi makan 6 orang miskin atau memotong hewan kurban.
4. Bagi yang memisahkan pelaksanaan ibadah umroh dan haji (haji tamattu'), maka diwajibkan bayar haddnya (memotong hewan korban). Jika tidak menemukan, boleh diganti dengan puasa 3 hari di musim haji dan 7 hari setelah pulang. Haji tamattu' tidak diperbolehkan bagi yang mukim di Makkah.
Pelakasanaan haji ada 3 cara. masing-masing memiliki nama. yang membedakan nama tersebut berdasarkan pelaksanaan haji dan umroh.
1. haji tamattu'yaitu umroh dulu kemudian haji.
2. ifrod. yaitu haji dulu kemudian umroh.
3. qiron, yaitu haji dan umroh bersama-sama.
Asbabunnuzul ayat 195:
Abu Ayyub al Anshari ra. berkata: " Ayat ini turun pada kami kaum Anshar, karena ada yang tidak mau menginfakkan hartanya di jalan Allah swt." (HR.Tirmidzi).
Tadabbur Ayat
Ayat 197 - 202 masih melanjutkan tentang ketentuan yang berkenaan dengan pelaksanaan ibadah haji:
Ibadah haji hanya bisa dilakukan pada bulan-bulan tertentu ( Syawal, Dzul kaidah, dan Dzul hijjah).
Dalam ibadah haji dilarang melakukan hubungan suami istri/senggama, berciuman, berkata cabul (rafats), bermaksiat, dusta, tindakan dosa (fusuq), bertengkar, berdebat, berbantah-bantahan (jidal).
Mempersiapkan diri dengan perbekalan yang halal lagi mencukupi. Jangan sampai menjadi beban orang lain atau sampai meminta-minta.
Diperbolehkan melakukan perniagaan selama musim haji.
Berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya (tahlil, tahmid, takbir) saat berangkat dari arafah hingga di masy'aril haram/peringatan suci (sebuah bukit dekat muzdalifah).
Saat bertolak dari muzdalifah menuju Mina disuruh memperbanyak mohon ampunan Allah (istighfar).
Jika telah selesai melaksanakan ibadah haji, perbanyak ingat kepada Allah dan mintalah kebaikan penghidupan didunia dan akhirat, dan minta perlindungan dari adzab neraka, agar Allah selalu membimbingmu kejalan keselamatan.
Orang yang demikian itulah yang hendak Allah sempurnakan balasan amalan haji dan doa yang dimintakannya, dan Allah sangat cepat memperhitungkan semua amal manusia.
Asbabunnuzul ayat 197:
Ibnu Abbas ra. berkata: "Orang-orang Yaman selalu menunaikan ibadah haji dengan tanpa membawa bekal. Mereka berkata:'Kami bertawakkal kepada Allah'. Akan tetapi sesampainya mereka di Madinah, mereka meminta-minta kepada orang-orang. Maka turunlah ayat ini"(HR.Bukhari dan Muslim).
Tadabbur Ayat
Ayat 203 melanjutkan tentang pelaksanaan ibadah haji, yaitu tanggal 8 - 13 dzulhijjah untuk memperbanyak berdzikir kepada Allah. Mabit di Mina boleh sampai tanggal 12 atau 13 dzulhijjah. Yang sampai tanggal 12 disebut nafar awal, sedangkan yang sampai tanggal 13 disebut nafar tsani/akhir.
Ayat 204 - 207 menerangkan tentang 2 karakter yang berbeda antara dua orang yang sama-sama menampilkan prilaku yang baik lagi mengesankan.
1ā£. Yang pertama adalah orang-orang munafik yang hubbuddunya dan memperturutkan hawa nafsunya:
Mahir dalam bicara masalah dunia.
agamanya tidak membekas pada prilakunya.
ukuran kebahagiaan baginya adalah banyaknya harta.
suka berbuat kerusakan untuk keuntungan pribadinya.
Jika diingatkan maka akan muncul kesombongannya.
2ā£. Yang kedua adalah orang-orang yang benar-benar takut terhadap Robbnya:
Ia bersungguh-sungguh dalam mencari Keridlaan Allah.
Sangat berhati-hati, dan hawatir/takut jika amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah.
Selalu berusaha untuk memperbaiki amal ibadahnya (suka menuntut ilmu).
Agamanya membuatnya semakin tunduk dan baik perilakunya.
Peka hatinya dan peduli terhadap sesama.
Ayat 208 - 210 Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman untuk totalitas dalam menjalankan syariat Islam dan berhati-hati dengan tipu daya syaitan yang akan menggelincirkan dari jalan kebenaran. Tetap berpegang teguh dengan tali agama Allah hingga sampai datangnya ajal yang akan mengantarkan dirinya dengan Tuhannya untuk diputuskan segala perkaranya waktu didunia.
Asbabunnuzul ayat 208 - 209:
Sahabat Ikrimah ra. berkata:"Suatu saat ada sekelompok orang Yahudi datang menghadap rasulullah saw. Mereka hendak beriman dan meminta agar mereka diizinkan untuk memuliakan hari sabtu sebagai hari besar dan diperbolehkan membaca dan mengamalkan Taurat pada malam harinya. Allah kemudian menurunkan kedua ayat ini"(HR.Ibnu Jarir).
Tadabbur Ayat
Ayat 211 - 215 menjelaskan tentang godaan tarikan kesenangan dunia membuat orang mudah tergelincir melanggar, merubah, dan menentang ayat-Ayat Allah seperti yang dilakukan orang-orang kafir ahlul kitab dari Bani Israel. Mereka silau dengan kesenangan dunia dan merendahkan orang-orang yang beriman, padahal Allahlah yang mengatur rizki kepada hambaNya.
Dahulu manusia adalah umat yang satu, kemudian Allah turunkan Rasul dan kitabNya untuk menghukum/mengatur apabila timbul masalah dan perselisihan. Selanjutnya karena kedengkian, sebagian mereka memperselisihkan hukum-hukum Allah dengan menyelewengkan, menyembunyikan, mengubah-ubah, hingga mengingkari hukum Allah. Sungguh Allah swt. menurunkan kitabNya dan telah menerangkan yang hak melalui RasulNya kepada makhlukNya adalah sebagai keadilan dan penegakkan hujjah kepada manusia agar tidak ada yang berkata, "Belum datang kepada kami seorang pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan". Dia juga menunjukkan orang yang dikehendakiNya dengan karunia dan rahmatNya ke jalan yang lurus. Dengan demikian, Allah menerangkan yang hak kepada hambaNya yang kafir adalah sebagai keadilan dan hikmahNya, sedangkan kepada hambaNya yang beriman adalah sebagai bentuk rahmat dan kasih sayangNya.
Ayat 214 Ayat ini menunjukkan bahwa termasuk sunnatullah yang tidak dapat dirubah adalah memberikan ujian dan cobaan kepada orang yang menegakkan agama dan syari'at-Nya . jika seseorang bersabar terhadap ujian Allah dan tidak peduli terhadap rintangan yang menghadang, maka dia adalah orang yang benar imannya dan akan memperoleh kebahagiaan secara sempurna. Untuk meraih surganya Allah swt. harus melewati ujian-ujian sebagaimana yang telah menimpa orang-orang dahulu, sehingga akan terbukti siapa saja yang benar-benar tulus keimanannya dan senantiasa memohon pertolongan hanya kepada Allah saja.
Ayat 215 kewajiban menginfaqkan hartanya yang baik-baik selain terhadap dirinya dan anak istrinya (keluarga inti) adalah juga kepada kedua orang tuanya, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang terlantar. Dan sungguh Allah mengetahui kebaikan apa saja yang telah kita lakukan.
Asbabunnuzul ayat 214:
Qatadah ra. berkata: "Ayat ini diturunkan pada saat perang Ahzab, ketika Rasulullah dan kaum muslimin menghadapi cobaan, yaitu dikepung dan diserang oleh beberapa pasukan gabungan kaum kafir Quraish dan orang-orang Yahudi" (HR.Abdurrazzaq).
Tadabbur Ayat
Ayat 216 - 219 menerangkan tentang beberapa hukum Allah yang lebih mendatangkan banyak kebaikan dan manfaat bagi manusia itu sendiri meskipun sepintas tidak menyenangkan atau tidak mengenakkan:
1ā£. kewajiban perang jika telah memenuhi syarat seperti yang telah dijelaskan di S.Al Baqarah: 190-193. Kebaikan yang didapatkan diantaranya:
Hidup merdeka, bebas menjalankan amal ibadahnya
Mencegah penindasan dan kesewenang-wenangan.
Terwujudnya hidup damai dan hukum berjalan normal.
Jika tertawan, kehormatan diri terpelihara
Jika mati terbunuh; mati syahid dan meninggalkan keteladanan baik bagi generasi berikutnya.
2ā£. Berperang di bulan haram diperbolehkan jika memenuhi syarat seperti dipenjelasan pada S.Al Baqarah: 194. Meskipun berdosa berperang pada bulan-bulan tersebut, namun menghalangi orang di jalan Allah, mengusir dan menindas orang di bulan tersebut lebih besar dosanya. Orang-orang kafir lebih tidak bisa menghormati bulan haram untuk memenuhi ambisinya memadamkan agama Allah hingga kamu murtad mengikuti agama mereka.
3ā£. Untuk menjadi orang mukmin yang sejati yang akan dikasihi dan diampuni oleh Allah swt., syaratnya adalah:
Beriman yang teguh
Siap hijrah; dari kebodohan menuju faham tentang agamanya, dari maksiat dan dosa menuju ampunan dan ridlaNya, dll.
Jihad bersungguh-sungguh menetapi jalan Allah, beristiqamah dalam taat, dan senantiasa berusaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas amal ibadahnya.
4ā£. Haram dan tinggalkan khamar dan judi. Meskipun sepintas menyenangkan dan mengenakkan dirimu, namun keduanya lebih banyak mendatangkan bahayanya, diantaranya:
Merusak akal fikiran dan badan.
Merusak perekonomian dan tatanan sosial masyarakat.
Menciptakan konflik dan permusuhan, dll.
5ā£. Belanjakan dari kelebihan hartamu untuk orang-orang yang membutuhkan disekitarmu seperti yang telah dijelaskan di S.Al Baqarah: 215. Meskipun kalian merasa senang mengumpulkan dan menguasai harta itu sendiri, namun dengan senantiasa berinfaq kepada mereka akan mendatangkan manfaat, diantaranya:
Akan disayang dan dicintai oleh Allah, keluargamu dan orang-orang disekelilingmu.
Akan dimudahkan setiap urusanmu, karena pertolongan Allah dan banyak yang siap membantu.
Tidak terbebani dalam pengurusan harta berlebihan. Dll.
Asbabunnuzul ayat 219:
Ibnu Abbas ra. berkata: "Saat turun perintah untuk menafkahkan harta di jalan Allah, beberapa sahabat mendatangi Nabi saw. dan bertanya: 'Sesungguhnya kami tidak mengetahui maksud sedekah yang telah engkau perintahkan kepada kami dan apa yang harus kami lakukan?'. Atas hal tsb. turunlah dilanjutan ayat ini" (HR.Ibnu Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 220 - 223 menjelaskan tentang beberapa tata pergaulan dalam rumah tangga, diantaranya:
Merupakan keutamaan merawat dan memperhatikan tumbuh kembang anak-anak yatim dan mempergaulinya dengan baik. Tidak mengapa tercampurnya harta anak yatim dengan harta kalian dalam hal pemeliharaannya dengan i'itikad yang baik bukan untuk menguasai atau menikmati harta mereka, dan Allah tidak ingin menyulitkan kalian, karena Dia Maha Perkasa lagi bijaksana.
Allah mengharamkan menikah dengan orang-orang musyrik karena mereka akan menarik keneraka sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan idzinNya.
Allah melarang menggauli istri-istrimu yang sedang haid, namun untuk bersenang-senang dengannya selain itu diperbolehkan, seperti sekedar mencium, bercumbu, dll. Setelah mereka suci dari haid, maka diperbolehkan menggaulinya dari arah mana saja asal tidak memasukinya di liang dubur.
Ayat 224 menjelaskan bahwa sumpah-sumpah kalian tidak boleh untuk menghalangi wujudnya kebaikan, ketaqwaan, dan ketentraman antar manusia. Jika terlanjur bersumpah, maka harus dibatalkan dan membayar kifarat memberi makan 10 orang miskin, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan budak, atau puasa 3 hari (S.Al Maidah: 89).
Asbabunnuzul ayat 222:
Sahabat Anas ra. berkata: "Kaum Yahudi tidak memberi makan dan tidak tidur bersama istri mereka ketika istrinya sedang haid. Para sahabat kemudian bertanya kepada Rasulullah saw. Allah lalu menurunkan ayat ini. Maka itu, Rasulullah saw. bersabda: 'Lakukan apa saja, kecuali berhubungan suami istri"(HR.Muslim dan Tirmidzi).
Tadabbur Ayat
Ayat 225 melanjutkan tentang sumpah; bahwa Allah menagih/menghukumi setiap sumpah kalian yang disengaja, sedangkan yang tidak sengaja atau karena paksaan maka Allah memaafkannya.
Ayat 226 menjelaskan tentang Ila' (bersumpah tidak akan menggauli istrinya), maka masa penantiannya adalah 4 bulan. Jika telah selesai masa itu, maka diperbolehkan menggaulinya lagi (dengan membayar kifarat sumpahnya terlebih dahulu) atau menceraikannya.
Ayat 227 - 230 menerangkan tentang hukum-hukum perceraian:
Masa iddah (masa tunggu) istri yang dicerai dalam keadaan sudah digauli (jima') adalah 3 kali sucian dari haid. Suami lebih berhak merujuk istrinya jika ia menghendakinya lagi kembali membina rumah tangganya.
perceraian yang ada kesempatan untuk rujuk kembali hanya ada 2 kali perceraian (talak raj'i).
Diperbolehkan bagi istri menggugat cerai (khulu') terhadap suaminya dengan syarat mengembalikan mahar yang telah diberikan atau membayar denda yang telah ditetapkan oleh pengadilan.
Jika suami sudah menjatuhkan talak sebanyak 3 kali, maka jatuhlah talak bain yaitu tidak ada masa indah bagi mantan istrinya dan tidak boleh dinikahi lagi sebelum mereka (mantan istrinya) dinikahi oleh orang lain dan sudah digauli, kemudian diceraikan oleh suami barunya tersebut.
Asbabunnuzul ayat 225:
Aisyah ra. berkata: "Orang-orang jahiliyah biasa bersenda gurau dan bersumpah dengan mengucapkan, 'Demi Allah tidak, demi Allah begitu'. Sebagai teguran bagi mereka, Allah menurunkan ayat ini" (HR.Bukhari).
Tadabbur Ayat
Ayat 231 - 232 masih melanjutkan tentang hukum-hukum rumah tangga dalam Islam
- Jika istri yang ditalak sudah mendekati akhir masa iddah, maka suami bersegera mengambil keputusan untuk rujuk atau menceraikannya dengan cara yang baik, dan janganlah hukum-hukum Allah ini kalian buat permainan karena mengikuti hawa nafsumu, seperti hendak mempermainkan atau ingin menyengsarakan wanita dengan dalih pernikahan atau perceraian.
- Kepada para wali dilarang menghalang-halangi janda-janda yang sudah melewati masa iddahnya untuk menikah lagi kepada calon suami yang disukainya, baik kepada mantan suaminya (jika masih dalam talak raj'i) maupun kepada yang lainnya, selagi hukum Allah bisa ditegakkan atas mereka.
Ayat 233 menjelaskan tentang tata cara perawatan anak dalam Islam:
1. Diutamakan menyusui anak selama 2 tahun penuh.
2. Kewajiban suami mencukupi nafkah istri dan anaknya sesuai kadar kemampuannya.
3. Janganlah karena perceraian itu, ibu menderita karena anak, begitu pula sang ayah, ataupun pewarisnya.
4. Bila penyapihan menyusui anak sebelum masa 2 tahun, hendaklah atas kesepakatan keduanya (antara ayah dan ibu dari anak tersebut).
5. Jika ingin dilanjutkan penyusuannya kepada orang lain, hendaklah diberikan pembayaran yang sepadan.
Asbabunnuzul ayat 232:
Ma'qil bin Yassar ra. berkata: "Ayat ini diturunkan berkenaan saudara perempuan iparku yang hendak dirujuk suaminya setelah masa iddahnya berakhir. Akan tetapi aku melarangnya, padahal Allah mengetahui bahwa keduanya masih saling mengharapkan"(HR.Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Tadabbur Ayat
Ayat 234 - 237 masih melanjutkan tentang tata aturan berumahtangga dalam Islam:
1ā£. Masa iddah bagi wanita yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari.
2ā£. Diharamkan meminang wanita yang masih dalam masa iddah (iddah karena ditinggal mati suaminya), kecuali dengan ungkapan sindiran. Diharamkan juga memberikan janji untuk menikahinya secara rahasia, apalagi secara terang-terangan. Dan diharamkan pula menikahinya hingga habis masa iddahnya.
3ā£. Suami boleh menceraikan istrinya yang belum dicampuri, sedangkan maharnya belum ditentukan besarannya, maka hendaklah suami tersebut memberikan pemberian yang menyenangkan (mut'ah) sesuai dengan kadar kesanggupannya kepada mantan istrinya tersebut.
4ā£. Sedangkan apabila sudah ditentukan kadar maharnya, maka berkewajiban untuk membayarkan setengahnya, kecuali jika mantan istrinya atau walinya memaafkannya. Dan memaafkan adalah dekat dengan ketaqwaan, maka hendaklah saling mengingat kebaikan masing-masing. Sungguh Allah Maha melihat apa yang kalian kerjakan.
Tadabbur Ayat
Ayat 238 - 239 Allah mengajarkan beberapa hal agar dalam menjalankan tata kehidupan berumahtangga dapat memberikan rasa ketentraman, kedamaian, dan terwujudnya rumah tangga yang mawaddah warahmah:
- saling memaafkan.
- mengingat kebaikannya masing-masing.
- bentengi keimanan keluarga dengan memelihara/menjaga sholat 5 waktu diantara anggota keluarga, terutama sholat wustho/ashar (sebagian ulama mengatakan sholat ashar dan subuh); dalam situasi dan kondisi bagaimanapun.
Ayat 240 - 242 Allah mengingatkan agar para suami yang merasakan ajalnya makin dekat, untuk berwasiat agar istri yang akan ditinggalkannya diberikan santunan nafkah selama setahun dan tidak diminta keluar dari rumahnya selama itu pula, kecuali jika ia berkeinginan keluar sendiri setelah habis masa iddahnya ( setelah 4 bulan 10 hari) maka tidak mengapa. Pemberian santunan menafkahi mereka adalah kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa (sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini telah di nasakh oleh S.Al Baqarah ayat 234).
Ayat 243 - 245 menjelaskan tentang perbedaan antara orang-orang yang bersungguh-sungguh berjihad di jalan Allah dengan orang-orang yang cinta terhadap dunianya berlebihan. Mereka yang mencintai dunia berlebihan akan menyelamatkan hidupnya dengan lari dari medan juang, padahal kematian yang mereka takutkan akan mendatangi kepada siapa saja dan kapan saja apabila ajal telah tiba (QS.An Nisa': 78). Sedangkan mereka yang bersungguh-sungguh berjihad akan menyongsong medan juangnya dengan segenap jiwa dan hartanya untuk tegaknya hukum-hukum Allah/agama Allah, mereka itulah orang-orang yang memberikan pinjaman kepada Allah dan Allah berjanji untuk melipatgandakan pengembaliannya dengan yang lebih baik lagi.
Asbabunnuzul ayat 241:
Jabir bin Zaid ra. berkata: "Ketika QS.Al Baqarah: 236 turun, ada seorang laki-laki berkata:'Jika aku hendak berbuat baik, aku akan melakukannya. Jika tidak menghendaki, aku tidak akan melakukannya. Lalu Allah menurunkan ayat ini"(HR.Ibnu Jarir).
Tadabbur Ayat
Ayat 246 - 248 Allah mengisahkan tentang karakter orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalanNya dengan orang-orang yang hanya ingin memburu kenikmatan dunianya saja. Orang-orang yang siap sedia berjuang dijalan Allah dikisahkan seperti Thalut, Dawud, dan para pengikutnya yang siap menyediakan jiwa raganya untuk berkorban menegakkan kebenaran (agama Allah) juga melawan kedzaliman dan penindasan. sedangkan mereka yang hanya menginginkan kenikmatan dunianya saja, mereka takut akan kematian dengan berpaling dari perintah Allah untuk berjihad. Mereka tak segan-segan membantah dan mempertanyakan hukum-hukum Allah yang tak sesuai dengan keinginan/seleranya. Jikapun mereka terpaksa mengikutinya, mereka berjuang setengah hati dan ringan melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan. Walaupun Allah telah menunjukkan bukti-bukti kebenaran yang nyata (dengan dibuktikan akan datangnya tabut sebagai bukti kepemimpinannya atas Thalut), orang seperti mereka pun akan selalu lemah untuk diharapkan keteguhan dan ketaatannya dalam berjuang.
Tadabbur Ayat
Ayat 249 - 252 melanjutkan kisah sebelumnya, pada bagian ini Allah hendak buktikan tentang daya juang orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang dijalanNya dengan orang-orang yang hanya mengikuti keinginannya/hawa nafsunya. Allah uji keduanya dalam hal ketaatan dan keteguhannya maju dimedan perang dengan menyebarangi aliran sungai. Mereka dilarang minum banyak-banyak dari air sungai tersebut karena akan melemahkan badannya menghadapi Jalut dan tentaranya. Benar saja, ujian sungai tersebut telah menyeleksi keduanya dan hanya sedikit orang-orang yang teguh keimanannya saja yang bisa melanjutkan jihad ke medan peperangan (dikisahkan dalam hadits Nabi saw. riwayat Imam Bukhari bahwa dari 80.000 personel Bani Israel, hanya tinggal 300 lebih saja yang taat bisa melanjutkan peperangan melawan Jalut dan tentaranya). Namun, meskipun hanya tinggal sedikit, Allah pun hendak membuktikan bahwa berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak, dikarenakan kualitas keimanan dan daya juang yang kuat meliputi mereka. Dengan iringan doa, sabar, tawakkalnya kepada Allah, dan atas pertolonganNya, mereka dapat meraih kemenangan dan terbunuhnya Raja Jalut oleh Dawud. Selanjutnya Allah anugerahkan Dawud kerajaan, hikmah, dan ilmu. Demikianlah diantara cara Allah mencegah kemungkaran menguasai dunia ini, jika tidak, pasti akan terjadi banyak kerusakan dimuka bumi ini.
Inilah diantara bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad saw. dengan diungkapkan kebenaran kisah-kisah masa lalu karena wahyu dari Allah swt.
JUZ 3
Tadabbur Ayat
Ayat 253 menjelaskan bahwa pada tiap Nabi atau Rasul telah Allah beri keistimewaan masing-masing; ada yang bisa berbicara langsung dengan Allah, ada yang bisa menghidupkan orang mati dengan izin Allah, ada yang dibakar api tidak terbakar, dll. Maka tidak selayaknya antara rasul satu dengan yang lainnya diunggul-unggulkan, karena semuanya adalah hamba-hamba pilihan dan terdekat dengan Allah swt. Setelah datangnya para Rasul membawa cahaya kebenaran (agama tauhid) untuk menjadi petunjuk bagi manusia, mereka terbagi dalam 2 pilihan: ada yang mengimani dan ada yang mengingkari. Karena itulah banyak terjadi perselisihan dan saling bunuh membunuh. Jika Allah berkehendak, Allah bisa menjadikan mereka tidak saling membunuh, namun Allah hendak menguji dan meminta pertanggungjawaban atas mereka. Dan Allah berbuat dengan apa yang dikehendakiNya.
Ayat 254 Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman untuk menginfakkan hartanya dijalan Allah sebelum kematian mendatangi mereka dan di hari kiamat nanti sudah tidak ada lagi jual beli, persahabatan, dan syafaat (tolong menolong). Dan orang-orang yang ingkar, mereka itulah orang yang dzolim sebenarnya.
Ayat 255 ini dikenal dengan sebutan ayat kursi (singgasana Allah). Luasnya seluas antara langit dan bumi. Sedangkan perbandingan antara kursi dengan Arsy Allah adalah seperti seutas tali yang dilempar di gurun yang lapang. Kekuasaan Allah meliputi segalanya, hanya Dialah yang pantas disembah, tiada tuhan selain Dia, yang mengetahui segalanya, selalu waspada dalam segala hal dan keadaan, dan tidak merasa berat/lelah mengurusi semua makhlukNya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Ayat 256 menjelaskan apabila masih ada manusia yang mengingkariNya, tidak mau mengikuti petunjukNya, padahal bukti keterangan sudah sangat nyata, maka tidak ada paksaan dalam beragama, dan mereka nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya. Sedangkan siapa saja yang beriman kepadaNya dan mengingkari ketuhanan selain Dia, mereka itulah yang telah berpegang pada tali agama Allah yang sangat kuat.
Asbabunnuzul ayat 256:
Ibnu Abbas ra. berkata:"Seorang sahabat Anshar bernama Hushain ra. mengadu kepada Nabi saw. tentang kedua anaknya yang masih menganut agama Nasrani. Ia berkata kepada Nabi saw:'Apakah aku perlu memaksa kedua anakku untuk masuk Islam?'. Atas pertanyaan tersebut, maka turunlah ayat ini"(HR.Ibnu Jarir ra.).
Tadabbur Ayat
Ayat 257 menjelaskan bahwa Allah lah yang menjadi pelindung terhadap orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Dialah yang membimbing mereka dari kegelapan hidup menuju kehidupan yang terang lagi lapang, yaitu kehidupan yang bertujuan dan bermakna. Sedangkan orang-orang yang menyembah selain Allah (thoghut), merekalah yang akan menjerumuskannya kelembah kegelapan dan kesengsaraan, yaitu kehidupan didunia yang hampa lagi membingungkan, sedangkan diakhirat nanti mereka dapati kesengsaraan yang tiada batas.
Ayat 258 - 259 Allah hendak menunjukkan tentang kekuasaanNya yang tiada batas lagi tak tertandingi. Kesombongan Raja Namrudz atas kekuasaannya yang bisa mematikan dan menjamin kehidupan rakyatnya, Allah bungkam ia melalui NabiNya dengan tantangan untuk menerbitkan matahari dari barat. Maka ia kebingungan atas ketidak berdayaannya itu. Begitu pula Allah bisa tunjukkan kekuasaanNya dengan menghidupkan orang yang telah mati ratusan tahun, dan keledai yang menemaninya hanya tinggal tulang belulang disampingnya sebagai bukti lamanya ia telah meninggal (kisah dihidupkannya lagi Nabi Uzair as.). Selanjutnya ia mengakui bahwa Allah benar-benar berkuasa atas segala sesuatu.
Asbabunnuzul ayat 257:
Abdah bin Abu Lubabah ra. berkata:"Ayat ini turun berkenaan dengan keimanan beberapa umat Nasrani terhadap Nabi Muhammad saw. setelah beliau diutus untuk menyebarkan ajaran Islam"(HR.Ibnu Jarir).
Tadabbur Ayat
Ayat 260 melanjutkan tentang bukti kekuasaan Allah dalam menghidupkan sesuatu yang sudah mati. Meskipun kulit, daging sudah hancur bercampur baur dengan tanah, dan tulang belulang berserakan terpencar-pencar, disaat Allah berkehendak menghidupkannya, maka dengan serta merta kulit, daging, tulang-tulang, dan semuanya akan datang menyatu dengan sendirinya atas kehendakNya, seperti halnya kisah Nabi Ibrahim as dengan 4 burung yang dicincangnya. Demikianlah kekuasaan Allah yang Maha Perkasa lagi bijaksana.
Ayat 261 - 264 menerangkan tentang balasan yang diberikan Allah terhadap orang-orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah swt. Allah akan lipat gandakan balasannya hingga 700 kali lipat, bahkan lebih banyak lagi. Balasan yang demikian itu dapat diperoleh dengan syarat:
- Ikhlas karena Allah
- Tidak menyebut-menyebutnya/mengungkit-ungkit.
- Tidak diiringi dengan perkataan yang menyakitkan.
- Tidak untuk riya.
- Didasari dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir.
Perumpamaan sedekah yang rusak karena tidak memenuhi syarat diatas adalah seperti debu yang menempel diatas batu yang licin kemudian terkena air hujan, batu menjadi bersih tak berbekas. Dan perkataan yang baik dan permintaan maaf itu lebih baik daripada pemberian sedekah yang rusak karena diiringi dengan riya, makian, maupun umpatan.
Bagaimana melatih ikhlas dalam sedekah?
1. terus bersedekah, jangan berhenti sedekah walaupun belum bisa ikhlas.
2. jadikan sedekah sebagai kebiasaan (akhlaq), manusia cenderung tidak ingat terhadap kebiasaannya.
3. biasakan sedekah walaupun sedikit.
4. bersedekahlah dengan sebanyak-banyaknya orang, niscaya akan lupa kalau pernah sedekah.
Tadabbur Ayat
Ayat 265 - 266 Allah memberikan 2 perumpamaan tentang amalan infaq yang diterima olehNya dan amalan infaq yang tertolak. Infaq yang diniatkan untuk mencari ridlo Allah dan akan memberikan dampak pada peneguh jiwanya adalah seperti kebun yang subur dan menghasilkan panenan terus menerus lagi lebat buahnya. Sedangkan amalan infaq yang tertolak adalah seperti kebun yang subur dan beraneka macam buahnya. ketika pemiliknya telah tua dan anak cucunya ingin merasakan hasilnya, tiba-tiba kebun itu habis terbakar.
Ayat 267 - 269 menjelaskan bahwa infaq yang baik adalah bersumber dari harta yang halal, berharga (yang disenangi), dan dapat memberikan banyak manfaat, bukan barang yang sudah tidak berguna. Mengeluarkan infaq terbaik yang demikian akan terasa berat bagi orang yang hatinya mengikuti bisikan syaitan yang menakuti dengan kemiskinan dan mereka senang menghamburkan harta, foya-foya untuk kepentingan dirinya, sedangkan kepada orang yang lemah, mereka tidak peduli lagi kikir. Bagi orang yang mau berinfaq yang terbaik, Allah janjikan ampunan dan karunia yang besar, diantaranya adalah disukai banyak orang, ditambah rizkinya, dijaga keamanannya, dikasih ilmu hikmah (ilmu bijaksana/akhlak yang mulia), dll. Dan hanya orang-orang berakal yang bisa mengambil pelajaran.
Asbabunnuzul ayat 266:
Ibnu Abbas ra. berkata:"Ada seorang laki-laki kaya raya yang beramal penuh ketaatan kepada Allah. Kemudian Allah mengutus setan kepadanya sehingga ia berbuat maksiat, dan seluruh amal perbuatannya pun menjadi lenyap. Lalu turunlah ayat ini"(HR.Bukhari).
Tadabbur Ayat
Ayat 270 - 274 masih menerangkan tentang berinfaq di jalan Allah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1ā£. Infaq maupun nazar, baik ia tunaikan ataupun tidak, sesungguhnya Allah Maha tau apa yang kalian lakukan. Dan diakhirat nanti semua akan dimintai pertanggungjawabannya.
2ā£. Pada dasarnya, sedekah (mencakup zakat dan infaq) itu yang utama dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Yang demikian itu akan menjaga diri dari kesalahan dan dosa, seperti ujub, riya, sombong, dll.
3ā£. Harta yang telah diinfaqkan yang diniatkan mengharap ridho Allah dan bila akhirnya disalahgunakan oleh penerimanya untuk bermaksiat ataupun dosa, maka sipemberi tidak patut dipersalahkan/terbebani dosa. Mereka tetap mendapatkan pahalanya disisi Allah swt.
4ā£. Orang-orang yang telah disibukkan untuk berjuang dijalan Allah (seperti tentara, dai, guru, pelajar, dll.), mereka juga perlu diperhatikan untuk menerima bantuan infaq dari kaum muslimin. Meskipun mereka kelihatannya seperti mampu dalam mencukupi kebutuhannya, dikarenakan mereka berusaha menjaga diri dari meminta-minta/dikasihani. Sungguh Allah Maha tau kebaikan apa saja yang diinfakkan.
5ā£. Menginfakkan harta, baik dilakukan pada waktu siang maupun malam, sembunyi maupun terang-terangan, semua akan mendapat balasan dari Allah swt. Bagi orang yang beriman, tidak ada rasa kekhawatiran dan bersedih hati.
Asbabunnuzul ayat 271:
Amir asy-Sya'bi ra. berkata:"Suatu saat Umar ra. menyedekahkan hartanya dengan terang-terangan dimaksud agar dicontoh oleh orang lain, sedangkan Abu Bakar ra. menyedekahkan hartanya dengan rahasia. Lalu Allah menurunkan ayat ini"(HR.Ibnu Abi Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 275 - 277 setelah Allah menerangkan tentang keutamaan berinfaq dijalan Allah, selanjutnya Allah iringi dengan ancaman praktek riba. Riba adalah haram dan tidak sama dengan jual beli. Orang yang mengambil harta dengan cara riba adalah seperti orang yang mabuk karena sebagian naluri kemanusiaannya telah hilang. Mereka bisa menjadi kejam, rakus, gila harta, pelit, dan sombong. Allah menghapus praktek riba dan menganjurkan untuk bersedekah. Dan bagi orang-orang yang beriman, beramal shaleh, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, Allah berikan pahala disisiNya dan ketentraman hatinya.
Ayat 278 - 281 Wajib bagi orang mukmin untuk membersihkan hartanya dan usahanya dari sistem riba. Orang yang menjalankan sistem riba akan mendapatkan murka Allah dan RasulNya. Sistem ekonomi yang diajarkan dalam Islam adalah sistem taawun alal birri wattaqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan). Jika ada yang minta bantuan seperti hutang, maka pinjamilah atau bersedekahlah. Jika telah jatuh tempo dan belum bisa melunasi, maka beri tangguhlah, atau kalian maafkan (dihapus hutangnya) maka itu akan lebih baik lagi. Sungguh diakhirat nanti, semua balasan akan Allah tunaikan sempurna dan tidak akan ada yang merasa dicurangi.
Asbabunnuzul ayat 278 - 279:
Ibnu Abbas ra. berkata:"Suatu saat Bani Mughirah mengadu kepada gubernur makkah bahwa mereka mengutangkan hartanya pada Bani Amr bin Auf dari penduduk Tsaqif. Lalu Bani Amr bin Auf meminta penyelesaian tagihan riba mereka. Atas konflik ini, Atab mengirim surat laporan kepada Rasulullah saw. Sebagai jawaban, maka turunlah kedua ayat ini"(HR.Abu Ya'la dan Ibnu Mandah).
Tadabbur Ayat
Ayat 282 setelah Allah menjelaskan tentang keharaman riba, kehalalan jual beli, dan diperbolehkannya pinjam meminjam/hutang piutang, selanjutnya Allah mengajarkan sistem transaksi yang aman, adil, lagi terpercaya/kuat:
1ā£. Setiap transaksi, jual beli, hutang piutang, akad salam/pesan, dll. hendaklah dicatat/dituliskan.
Masa hutang, perjanjian, maupun syarat-syarat yang disepakati harus memenuhi unsur keadilan dan diterima oleh kedua pihak, ditulis dan dibacakan lagi sesuai kesepakatan tanpa ada penambahan maupun pengurangan lagi.
2ā£. Bila salah satu pihak ada yang lemah akalnya atau lemah keadaannya, maka hendaklah dalam transaksi tersebut didampingi oleh walinya yang adil, dan menghadirkan 2 saksi laki-laki, atau 1 saksi laki-laki dan 2 saksi perempuan. Para saksi tersebut harus siap untuk saling mengingatkan dan siap dimintai persaksiannya jika suatu saat diperlukan.
3ā£. Para pencatat transaksi harus detail, teliti, dan cekatan dalam mencatat setiap ada transaksi lanjutan baik kecil maupun besar.
4ā£. Jika transaksi tersebut dilakukan dengan cara tunai, maka boleh tidak dicatat, namun tetap harus menghadirkan 2 orang saksi, terutama dalam hal transaksi yang jumlahnya cukup besar.
5ā£. Tidak boleh membebani para juru tulis maupun para saksi dalam hal-hal yang bersangkutan dengan transaksi tersebut diluar kewajaran/kesanggupannya.
Demikianlah pengajaran yang baik dari sisi Allah dalam bermuamalah dengan adanya catatan dan persaksian yang adil akan menjauhkan keraguan dan perselisihan. Dan barang siapa yang hendak berbuat curang, sungguh Allah Maha tau apa yang kalian perbuat, maka bertaqwalah kepadaNya. Dia Maha tau segalanya.
Asbabunnuzul ayat 282:
Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan masalah akad salam/salaf (pinjaman/mengutangkan tanpa bunga) penduduk madinah yang berlaku sampai masa waktu tertentu yang telah disepakati kedua belah pihak. Akan tetapi hukum yang terkandung dalam ayat ini berlaku umum untuk semua praktek utang piutang (HR.Hakim).
Tadabbur Ayat
Ayat 283 masih melanjutkan tentang cara bermuamalah yang baik, yaitu apabila dalam keadaan bepergian dan tidak menemukan orang yang mencatat transaksi (notaris), maka boleh dilakukan dengan sistem jaminan. Tapi apabila diantara keduanya saling percaya, maka boleh dengan tanpa jaminan. Hendaklah setiap pihak menunaikan amanahnya dan para saksi dilarang menyembunyikan persaksiannya. Dan Allah Maha tau apa yang kalian kerjakan.
Ayat 284 - 287 bahwa apa saja yang ada dilangit dan di bumi adalah milik Allah swt. Manusia sebagai hamba Allah juga sebagian khalifah dibumi seharusnya mengikuti sistem hidup (hukum-hukum) yang ditunjukkan oleh Allah. Semua Rasul telah mengimani apa yang diturunkan kepadanya juga orang-orang mukmin, mereka beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul dengan tanpa membeda-bedakannya. Dalam hal aturan Allah, mereka berkata: "Kami mendengar dan kami taat, dan ampunilah kami, kepadaMu kami kembali".
Ayat 286 ayat ini menasakh ayat sebelumnya, yaitu ayat 284 (tentang akan diperhitungkan apa-apa yang dibersitkan hati) sebagai rahmat Allah dan menjadikan agama Allah mudah dijalankan manusia yang banyak kelemahannya ini. Kemudian Allah ajarkan doa untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan pertolongan Allah dalam menjalankan syariatNya di dunia ini dari beban tanggung jawab/permasalahan hidup dan kezaliman orang-orang kafir. Aaamiiin Yaa Robbal Aalamiiin.
Asbabunnuzul ayat 285:
Abu Hurairah ra. berkata bahwa saat turun QS. 2: 284, para sahabat merasa sedih. Mereka mendatangi Rasulullah saw. berlutut, lalu berkata:"Wahai Rasul, kami tidak sanggup melaksanakan ayat ini. Rasul bersabda: Apakah kalian ingin mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Ahlul kitab sebelum kalian, 'kami mendengar dan kami mengingkari?' Namun katakanlah,'Kami mendengar dan kami taat, ampunlah kami Ya Tuhan kami. Dan kepadaMu lah tempat kembali'. Setelah para sahabat terbiasa dengan bacaan itu, lalu turunlah ayat ini"(HR.Muslim, Ahmad, dll.)
Tadabbur Ayat
Ayat 1 dari surat Ali Imran ini merupakan penggalan huruf-huruf muqotto'ah (huruf yang terdapat diawal surat ), makna huruf ini hanyalah Allah yang tahu, namun dapat pula difahami sebagai tanda kehebatan Al Quran.
Ada juga yang berpendapat untuk menarik perhatian atau untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf abjad tersebut. Ada sebuah nilai imaniyah di dalamnya tentang kehebatan Al Quran yang tidak bisa ditandingi oleh kitab selainnya.
Ayat 2 - 9 menjelaskan sifat keilahian dan ubudiyah itu sepenuhnya milik Allah, hanya Allah yang berhak dan layak bersanding dengan sifatNya tersebut. Dialah Allah yang Hidup Kekal, Maha mengatur semua urusan makhlukNya di langit dan di bumi .
Dia menurunkan Al Qurāan kepada Nabi Muhammad saw. dengan benar, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, yakni Taurat dan Injil sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Siapa yang ingkar kepada ayat-ayat Allah, termasuk Al-Qurāan, maka dia akan mendapat adzab dunia dan akherat. Adzab dunia berupa adzab kekacauan fikiran, adzab karena tidak dapat membedakan antara baik dan buruk, adzab hidup seperti menghasta kain sarung, berputar putar disana sana juga, hidup tidak mempunyai sebuah tujuan. Adzab akherat mereka akan mendapatkan adzab neraka. Allah Maha Perkasa, mempunyai balasan siksa.
Tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi Allah, baik yang di langit dan di bumi. Dialah yang mendesain manusia dalam rahim ibunya, sesuai kehendakNya. Sebab itu Dia yang berhak disembah. Hanya Allah lah yang Maha Perkasa dan Bijaksana.
Dalam Al Quran, Allah menjelaskan tentang ayat-ayatNya. Ada ayat yang muhkamat (terang dan jelas maksudnya, dapat difahami dengan mudah) dan ada yang mutasyabihat (mengandung beberapa pengertian, sulit difahami, artinya hanya Allah yang mengetahuinya). Orang yang beriman mengimani keduanya penuh keyakinan. Sedangkan orang yang di dalam hatinya ada penyakit akan mencari-cari tafsir ayat-ayat mutasyÄbihÄt dengan tujuan membuat kerusakan.
Maka berdoalah agar tidak tersesat di dunia, mendapat rahmat-Nya dan selamat dari adzab akherat.
Dalam doa orang-orang yang ilmu pengetahuannya telah mendalam, tergambar keyakinan tentang kedatangan hari kiamat dan Allah akan mengumpulkan seluruh makhlukNya untuk diperhitungkan segala amal perbuatannya yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.
Mereka yakin bahwa pada hari itu Allah membalas amal baik dengan pahala yang berlipat ganda, dan membalas semua perbuatan dosa dengan adzab yang setimpal.
Asbabunnuzul ayat 2:
Ayat ini turun berkaitan dengan kaum Nasrani Mahram yang datang kepada Rasulullah saw. dan berbantah tentang Isa as. Mereka bertanya kepada Rasulullah, siapa ayahnya?. Kemudian mereka pun menyifati Isa sebagai Tuhan, sebagai anak Allah, dan trinitas ketuhanan (At Tafsir Al Wahid ala Jamisil Quranil Adzim:51).
Tadabbur ayat
Ayat 10 - 12 menerangkan tentang tidak bergunanya segala sesuatu yang dimiliki oleh orang kafir, apakah itu harta yang berlimpah, atau anak yang banyak, itu semua tidak akan menjadikan mereka terlepas dari azab Allah, hal ini dikarenakan mereka tidak beriman kepada Allah dan mendustakan ayat ayat-Nya.
Allah akan membalas mereka dengan azab neraka jahannam sebagaimana yang juga dirasakan oleh fir'aun dan para pengikutnya serta orang-orang durhaka terdahulu.
Ayat-ayat tersebut juga menyiratkan bahwa yang dapat menjauhkan kita dari azab dan siksa Allah adalah iman dan amal sholeh.
Ayat 13 bercerita tentang suasana yang terjadi ketika perang badar, saat pasukan muslim dengan sedikit pasukan dan perlengkapan perang yang tidak memadai berhadapan dengan pasukan kafir yang jumlah pasukannya berkali lipat lebih banyak dengan perlengkapan yang canggih, namun yang terjadi pasukan muslimlah yang memenangkan perang tersebut, tak lain tak bukan hanya karena pertolongan dari Allah semata.
Hal ini mengajarkan kita bahwa sehebat apapun makar musuh, tidak akan ada apa-apanya jika Allah menolong kita.
Ayat 14 - 15 menerangkan bahwa Allah menciptakan dunia dengan segala kesenangannya (yang disenangi nafsu manusia). Hal ini bertujuan untuk menguji manusia, apakah mereka terpesona dengan segala nikmat itu, dan menjadikan mereka lupa bahwa hidup yang kekal itu adalah kehidupan akhirat, ataukah mereka mendayagunakan semua nikmat itu untuk berbuat kebajikan dan taqwa, hingga Allah hadiahkan kehidupan akhirat berupa surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, keridhaan Allah yang tiada tara nikmatnya, serta kenikmatan-kenikmatan lain yang lebih kekal. Diakhir ayat Allah mengatakan bahwa Dia Maha Melihat hamba-hambaNya, Allah melihat sedetail apapun perbuatan yang dilakukan hambaNya, hingga di bagian bumi manapun mereka berada.
Asbabunnuzul ayat 12 - 13:
Ibnu Abbas ra. menjelaskan bahwa setelah kemenangan di perang badar, Rasulullah saw. kembali ke Madinah, lalu mengumpulkan orang-orang Yahudi di pasar Bani Qunaiqa'. Beliau bersabda:"Wahai orang-orang Yahudi, masuklah kalian ke dalam agama Islam, sebelum Allah menimpakan kalian seperti apa yang menimpa kaum Quraisy". Kemudian seorang Yahudi menjawab:"Hai Muhammad, jangan terlena kau dengan dirimu sendiri. Kau berhasil mengalahkan kaum Quraisy karena mereka bodoh dan tidak tau strategi perang. Jika kau berperang melawan kami, kau akan mengetahui bahwa kami adalah kaum yang ahli perang, dan kau tidak akan pernah menemui musuh seperti kami"(HR.Abu Dawud dan Baihaqi).
Tadabbur Ayat
Ayat 16 - 18 menjelaskan kepada kita beberapa karakteristik orang bertakwa diantaranya sabar, benar perkataan dan perbuatannya, taat, menginfaqkan sebagian hartanya, dan orang yang senantiasa bertaubat kepadaNya. Allah sediakan surga untuk mereka. Dan Allah menyatakan tentang keesaan DzatNya dan keadilanNya, begitu pula para malaikat dan para ahli ilmu yang menegakkan keadilan.
Dijelaskan bahwa iman yang sempurna dalam diri manusia dapat membebaskan dirinya dari cinta yang berlebihan terhadap harta benda dan menjadikan Ridho Illahi sebagai cita-cita terakhir dalam kehidupannya. Dan beberapa tanda sempurnanya iman seseorang ialah bahwa ia selalu mengharap ampunan dari Allah serta selalu bersifat sabar, jujur, taat, dermawan, dan tekun beribadah di malam hari.
Ayat 19 - 20 Allah menekankan bahwa semua agama yang dibawa oleh para nabi adalah satu yaitu Islam, agama yang berdasarkan tauhid (menyembah hanya kepada Allah swt.) serta berserah diri padaNya. Para rasul telah bertugas menyampaikan agama Allah kepada seluruh umatnya. Jika ada yang mendebat tentang kebenaran Islam, maka katakanlah bahwa Rasulullah dan pengikut setianya menyerahkan sepenuhnya sistem hidup hanya kepada Allah swt. Itulah pokok dari agama Islam. Jika mereka menerima Islam, maka mereka telah mendapat petunjuk yang benar, tapi jika mereka berpaling, maka kami telah menyampaikan.
Ayat 21 - 22 Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, membunuh para Nabi dan orang-membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka akan Allah timpakan azab yang pedih.
Karena perbuatan mereka itulah, menyebabkan terhapusnya pahala dan amalan mereka selama didunia dan mereka tidak mendapat penolong di akhirat.
Asbabunnuzul ayat 18 - 20:
Al Kalabi ra. mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan 2 pendeta Nasrani Najran, ketika keduanya datang ke Madinah untuk menemui Nabi Muhammad saw. yang dikatakan sebagai Rasul terakhir. Setelah mereka bertemu Rasulullah, mereka mendapati bahwa kota Madinah dan sifat-sifat yang ada pada diri Rasulullah sama persis dengan keterangan yang ada pada kitab mereka. Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah tentang syahadat yang paling agung dalam kitab Allah. Sebagai jawaban, Allah turunkan ayat ini. Merekapun akhirnya masuk Islam (HR.Tsa'labi).
Tadabbur ayat
Ayat 23 - 25 dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang keadaan ahli kitab yang berpaling dari kitab Allah (Taurat). Allah telah menurunkan kepada mereka Taurat sebagai petunjuk dan pedoman hidup, akan tetapi mereka tidak mau beriman. Mereka yakin bahwa mereka tidak akan terjerumus ke dalam api neraka atas perbuatannya itu. Sungguh Allah tidak akan keliru dalam memperhitungkan segala sesuatu, dan mereka akan diperhitungkan pada hari dimana tidak ada kedzoliman di dalamnya.
Ayat 26 - 27 menerangkan bahwa betapa agung dan besarnya kekuasaan Allah, Allah lah yang memiliki kehendak atas segala sesuatu. Di tangan Allah pula siapa-siapa yang berhak mendapatkan amanah kekuasaan. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah terjadinya siang dan malam, Allah menjadikan yang hidup dari yang mati, begitu juga sebaliknya. Dan Allah jualah yang berhak memberikan rizki kepada siapa-siapa yang Dia kehendaki.
Ayat 28 - 29 menjelaskan tentang larangan menjadikan seorang non muslim sebagai pemimpin, karena kepemimpinan dalam Islam mengatur dunia dan din (agama). Maka yang tunduk, cinta, dan tahu dengan Islam dan aturan Islam hanya seorang muslim itu sendiri. Menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan umat muslim kepada selain muslim tidak dibenarkan dalam Al Quran. Karena hal ini bertentangan dengan masalah keimanan seorang muslim kepada Allah. Barang siapa yang menjadikan seorang non muslim sebagai pemimpin, maka ia seolah-olah menjadi bagian dari mereka. Hendaknya seorang muslim menyerahkan segala urusannya kepada pemimpin muslim yang taat. Kecuali dalam keadaan darurat yang mana khawatir dengan ancaman mereka. Sungguh Allah maha mengetahui apa-apa yang terjadi di dalam hati manusia.
Asbabunnuzul ayat 26:
Qatadah ra. berkata:"Suatu ketika Rasulullah saw. memohon kepada Allah agar raja Romawi dan Persia menjadi penganut agama Islam, lalu turunlah ayat ini"(HR.Ibnu Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 30 Pada ayat ini Allah swt. mengabarkan bahwa pada hari kiamat kelak, akan dihadirkan dihadapan seorang hamba semua amal perbuatannya yang baik maupun yang buruk dan Allah sudah memperingatkan atau menyampaikan tentang azabNya. Kemudian Allah memberikan harapan kepada hamba-hambaNya agar mereka tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Ayat 31 merupakan hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah swt. namun tidak mengikuti Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak mentaati perintahnya dan tidak menjauhi larangannya, bahwa pengakuan cintanya adalah dusta sampai dia mengikuti Nabi Muhammad saw. Dengan ayat ini ditimbang semua makhluk, iman dan kecintaan mereka kepada Allah tergantung sejauh mana ittiba' (mengikutinya) mereka kepada Rasulullah saw.
Ayat 33 ā 34 Allah telah memberitahukan bahwa Dia telah memilih beberapa keluarga atas keluarga lainnya di belahan bumi ini mulai Adam, Nuh, dan keluarga Nabi Ibrahim yang di antaranya adalah Nabi Muhammad, serta memilih keluarga Imran yaitu orang tua dari keturunan mereka yakni maryam.
Ayat 35 Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Menghendaki dengan mengkaruniakan seorang anak kepada keluarga Imran dengan mengijabah harapan dan doa-doa mereka. Diantara doa mereka adalah bernadzar mendapatkan keturunan yang senantiasa tulus beribadah kepada Allah serta berkhidmat ke Baitul Maqdis. Maka lahirlah seorang keturunan atas ijin Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui niat-niat hambanya.
Ayat 36 anugerah Allah yang diberikan kepada keluarga Imran dan istrinya yaitu mendapatkan keturunan yang bernama Maryam dengan kekuatan dan keuletan dalam beribadah dan pengabdian yang luar biasa. Selain itu dalam ayat ini keluarga Imran selalu memanjatkan doa kepada Allah agar Maryam dan keturunannya mendapatkan perlindungan dari segala kejahatan-kejahata syaitan.
Ayat 37 Sungguh Allah memberikan atau menganuhgerahkan kembali seseorang pengayom, pendidik yang bijaksana, berwawasan luas, amal sholeh yang tidak diragukan lagi yakni Zakaria . Allah pun dalam ayat ini memberitahukan kelebihan dan keutamaan yang dimiliki oleh Maryam. Suatu ketika Zakaria mendapatkan makanan yang ada disisi Maryam, maka Zakaria bertanya darimanakah makanan ini?, maka Maryam menjawab bahwa makanan ini dari Allah yang Maha Memberi Rezeki kepada siapa saja yang di kehendakiNya.
Asbabunnuzul ayat 31 - 32:
Hasan al-basri berkata:"Suatu saat, sekelompok orang berkata:'wahai Muhammad, demi Allah sesungguhnya kami amat mencintai Tuhan kami'. Kemudian Allah menurunkan kedua ayat ini sebagai tuntunan bagi orang yang ingin mencintai Allah yaitu mencintai utusanNya dan berpaling dari kekafiran".(HR.ibnu mundzir).
Tadabbur Ayat
Ayat 38 - 41 mengisahkan tentang harapan Nabi Zakaria untuk memperoleh keturunan yang baik di sisi Allah. Nabi Zakaria mencontohkan kepada kita untuk selalu pasrah kepada Allah, pasrah dalam arti menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah tentu dengan diiringi doa yang khusyu dan kontinu serta ikhtiar yang sungguh-sungguh. Ayat ini juga menerangkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, jika Allah sudah berkehendak.
Ayat 42 - 43 menjelaskan tentang Maryam dan kelebihan yang dianugrahkan Allah padanya, tersebab itu Allah memerintahkannya untuk hanya taat dan senantiasa beribadah kepadaNya. Dan ayat ini mengisyaratkan kepada kita untuk berada dalam sebuah kelompok atau jama'ah yang memiliki tujuan yang sama, untuk bersama-sama bersujud, ruku, dan melaksanakan amal-amal sholeh lainnya dimuka bumi ini.
Ayat 44 menjelaskan bahwa kisah kelahiran Mariyam, Yahya, itu merupakan sebagian yang Allah kabarkan kepada Nabi Muhammad saw., bahkan seolah-olah Nabi Muhammad saw. benar benar menyaksikan kejadian demi kejadian mengenai kisah tersebut.
Ayat 45 Allah memerintahkan malaikat untuk mengabarkan kepada Maryam bahwa ia akan melahirkan seorang putera yang nantinya akan menjadi orang besar dan didekatkan kepada Allah. Hal ini nantinya akan menjadi ujian serta bukti kepantasan Maryam untuk menjadi seorang perempuan yang diistimewakan oleh Allah di antara semua wanita yang ada di muka bumi ini.
Tadabbur Ayat
Ayat 46 - 47
Setelah Allah menjelaskan tentang keajaiban kelahiran Yahya bin Zakaria, bagaimana Allah berkuasa menganugerahkan seorang putra kepada Nabi Zakaria di usia yang sudah sangat tua. Pada ayat ini Allah menjelaskan kembali tentang keajaiban kelahiran Nabiyullah Isa as. Ia dilahirkan dari rahim seorang wanita suci yaitu Maryam, wanita yang tidak pernah tersentuh oleh laki-laki, tapi dengan kuasa Allah ia mampu melahirkan seorang putra manusia pilihan Allah, yang mengajak kaumnya untuk beriman. Bahkan sejak dalam buaian, Allah sudah memberikan keistimewaan bisa berbicara. Allah pula lah yang mengajarkan kepada Nabi Isa as. tentang kebenaran kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa serta kebenaran kitab Injil yang diturunkan kepadanya.
Ayat 49 menjelaskan tentang beberapa mukjizat Nabi Isa as. diantaranya adalah :
1. Membuat tanah berbentuk burung, lalu meniupkan ruh dengan izin Allah maka jadilah seekor burung sungguhan
2. Menyembuhkan orang yang buta sejak lahir.
3. Menyembuhkan penyakit kusta.
4. Menghidupkan orang yang mati.
5. Mengetahui apa-apa yang disimpan dan dimakan oleh kaumnya.
Dan sesungguh kemampuan yang luar biasa tersebut, tidak dapat ia lakukan tanpa izin Allah swt. Allah anugerahkan kepadanya untuk menguatkan risalahnya dan sebagai bukti bahwa ia adalah seorang rasul utusan Allah.
Ayat 50 - 51 menerangkan bahwa
Sesungguhnya Nabi Isa as. juga datang untuk membenarkan apa yang ada di dalam Taurat, menghalalkan apa yang sebelumnya diharamkan dengan petunjuk Allah, maka bertakwa dan taatlah kepada Allah. Dialah Tuhan yang Maha Esa yang berhak disembah, tiada sekutu baginya dan inilah jalan yg lurus.
Ayat 52 mengisahkan ketika Nabi Isa mulai merasakan keingkaran Bani Israil, berkatalah Isa as.: "Siapakah nanti yang akan menjadi penolongku untuk menegakkan agama Allah?". Kaum Hawariyyun menjawab : "Kamilah yang akan menjadi penolong agama Allah dan kami beriman kepadaNya". Hawariyyun adalah pengikut setia Nabi Isa as. sebagaimana para sahabat di zaman Rasulullah Muhammad saw.
Tadabbur ayat
Ayat 53 adalah doa mohon keteguhan kaum Hawariyyun, yaitu setelah mereka beriman kepada Allah dan Isa sebagai Rasulullah, mereka bersiap untuk mengikuti apa yang disampaikan oleh Nabi Isa as. untuk bersama menolongnya dalam dakwah di jalan Allah serta siap untuk mengikuti nur (Injil) yang diturunkan bersamanya.
Ayat 54 mengabarkan mengenai persekongkolan jahat sekelompok pemuka Bani Israil dan orang-orang kafir, mereka ingin menangkap Nabi Isa as., menyalibnya serta ingin meyiksanya, namun ketika mereka telah mengepung rumahnya, maka Allah menyelamatkan Nabi Isa as. dengan mengangkatnya ke langit, dan menjadikan salah seorang yang berada dirumah itu (salah satu sahabat Nabi Isa yang berkhianat) diserupakan dengannya. Maka inilah salah satu kekuasaan dan tipu daya Allah terhadap mereka atas pembangkangan dan Allah menimpakan kehinaan yang tidak pernah lepas hingga hari kiamat kelak.
Ayat 55 Allah yang Maha Menghendaki dengan mengangkat Nabi Isa as. untuk menyelamatkannya, dan di akhir zaman nanti ia akan turun kembali untuk menegakkan syariat Islam dan setelah itu Allah akan mematikannya. Bentuk pemuliaan lainnya terhadap Nabi Isa as. adalah Allah akan menjadikan orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa as. atas apa yang diserukan oleh beliau, yaitu dengan menjadikan mereka orang-orang yang menang dan unggul atas orang kafir.
Ayat 56 - 57 menerangkan bahwa orang-orang yang ingkar kepada Nabi Isa as. dan yang mendustakannya, mereka itu adalah kaum Yahudi. Atas dosa-dosa mereka di dunia, mereka termasuk umat yang hina, ditindas dan mereka akan dijadikan umat yang dikuasai oleh umat lain. Dan di akhirat nanti mereka disiksa dengan api neraka jahanam dan mereka tidak akan mendapatkan penolong seorangpun. Sedangkan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh, sungguh Allah akan memberikan pahala secara penuh tanpa sedikitpun terkurangi. Bahwa Allah akan membalas dengan hukuman yang sesuai dan pantas mereka terima secara adil.
Ayat 58 Kisah Nabi Isa as. merupakan salah satu bukti yang jelas dan kuat akan kebenaran kenabiannya dan inilah salah satu kandungan ayat yang disampaikan di dalam Al-Quran sebagai huda dan penuh hikmah.
Ayat 59 - 60 sesungguhnya keadaan Nabi Isa as. adalah hampir sama keadaannya ketika Allah menciptakan Nabi Adam as, yaitu tanpa melalui adanya laki laki dan perempuan. Penciptaan hawa hanya ada laki laki saja tanpa adanya perempuan, dan penciptaan Isa hanya dari perempuan saja tanpa adanya laki laki. Dengan demikian ketika Allah mengatakan jadilah maka jadilah, itulah kebesaran dan tanda kekuasaan Allah. Dan kebenaran tentang kisah Isa yang Allah wahyukan adalah haq dan tidak ada alasan untuk meragukannya.
Ayat 61 ayat ini adalah bentuk tantangan bagi orang yang berbantah tentang kebenaran kisah Nabi Isa as. yang Allah wahyukan, maka ajaklah mereka untuk bermubahalah . bermubahalah artinya berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar pihak yang berdusta dilaknat dan dihilangkan dari rahmat Allah. Hal ini pun diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah mengajak kaum Nasrani dan Yahudi untuk mengadakan mubahalah tetapi mereka menolak ajakan tersebut.
Asbabunnuzul ayat 58 - 60:
Arzaq bin Qaiz ra. mengatakan bahwa suatu hari ada seorang pendeta dari Najran beserta seorang pengikutnya datang menemui Nabi saw. Ketika Nabi menjelaskan kepada mereka tentang Islam, mereka bertanya:"Kami juga muslim sebelum kamu". Nabi saw. menjawab:"Kalian berdusta. Karena sesungguhnya ada 3 ajaran kalian yang bertentangan dengan Islam, yaitu: Kalian menisbatkan seorang anak kepada Allah, kalian memakan daging babi, dan kalian menyembah berhala". Lalu mereka bertanya:"Siapakah ayah Isa?". Rasulullah tidak segera menjawab karena menunggu petunjuk Allah. Kemudian turunlah ketiga ayat ini (HR.Hakim).
Tadabbur Ayat
Ayat 62 - 63 Mempertegas bahwa kisah tentang hamba-hamba pilihan Allah itu adalah kisah yang sesungguhnya. Semua itu membuktikan bahwa hanya Allah Tuhan yang berhak disembah, karena Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau manusia berpaling dari mentauhidkan-Nya, maka mereka akan rusak dan merusak.
Ayat 64 - 70 Kembali menyoroti kekeliruan konsep ketuhanan Ahli Kitab. Sebab itu, Allah memerintahkan Rasul SAW. dan umatnya untuk menyeru mereka agar sama-sama menauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, termasuk dengan Nabi dan para ulama. Jika mereka tidak mau, katakan dengan tegas bahwa kami adalah muslim.
Di antara kebodohan Yahudi dan Nasrani ialah berdebat tentang Ibrahim. Masing-masing mengklaim Ibrahim penganut agamanya. Padahal Yahudi dengan Kitab Tauratnya dan Nasrani dengan Kitab Injil jauh jauh setelah Ibrahim. Kenapa mereka tidak berfikir?. Kenapa mereka berdebat apa yang mereka tidak ketahui. Allah Maha Tahu Ibrahim bukanlah penganut Yahudi dan bukan pula Nasrani. Dia adalah penganut tauhid, muslim dan bukan dari kalangan musyrikin. Sebab itu, Ibrahim lebih dekat kepada para pengikutnya, Nabi Muhammad dan kaum mukmin.
Dari ayat 65 - 68 dapat diambil beberapa kesimpulan, di antaranya:
- Larangan berdebat dalam hal yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya.
- Anjuran untuk mengetahui tarikh (sejarah), dan bahwa mengetahui tarikh dapat digunakan untuk membantah perkataan-perkataan yang batil dan dakwaan yang menyalahi sejarah.
Ada segolongan Ahlul Kitab yang menginginkan kaum muslimin sesat, padahal yang sesat itu adalah Ahlul kitab, akan tetapi mereka tidak sadar. Sebab itu, Allah menegur penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, padahal mereka menyaksikan kebenarannya.
Asbabunnuzul ayat 65 - 67:
Ibnu Abbas ra. berkata bahwa suatu ketika ada orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Yahudi, sedangkan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Nasrani. Sebagai teguran kepada mereka, Allah lalu menurunkan ayat ini"(HR.Ibnu Ishak).
Tadabbur Ayat
Ayat 71 mengisahkan tentang tindakan ahli kitab yang menutupi firman-firman Allah yang mereka ketahui dari taurat dan injil dengan perkataan-perkataan yang mereka buat-buat sendiri, serta menyembunyikan kebenaran tentang berita kenabian Muhammad padahal telah termaktub dalam kitab taurat dan injil.
Ayat 72 menerangkan tentang beberapa orang dari ahli kitab yang melakukan suatu pembicaraan untuk mengajak sesamanya beriman kepada Islam di pagi harinya, dan kafir kembali pada sore harinya. Perbuatan itu mereka lakukan untuk menimbulkan kesan pada orang-orang yang belum mantap dalam barisan Islam (dan orang seperti itu memang senantiasa ada dalam setiap barisan) bahwa Islam merupakan suatu agama yang telah ditinggalkan oleh orang-orang ahli kitab yang mengerti tentang kitab-kitab, rasul-rasul, dan agama-agama.
Ayat 73 - 74 Allah menyanggah apa yang mereka sangkakan, bahwa pangkat kenabian hanya diberikan kepada golongan mereka saja (ahlul kitab). Mereka berusaha mempengaruhi orang-orang agar tidak mudah mempercayai kenabian Muhammad dan ajaran yang dibawanya, yaitu Islam. Bahwasanya hidayah dan petunjuk adalah hak prerogatif Allah semata, diberikan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Begitupun setiap rahmat dan karunia Nya, hanya diberikan kepada orang-orang yang Dia kehendaki.
Ayat 75 - 76 menceritakan tabiat ahli kitab itu, akhlak dan pandangannya, serta sikap-sikap terhadap janji-janji. Sebagian mereka memegangnya dengan amanat, dan sebagian lain tidak dapat dipercaya, termasuk memenuhi janji, dan tidak bertanggung jawab. Padahal Allah sangat mencintai orang-orang yang menepati janji dan bertakwa.
Ayat 77 menerangkan tentang balasan untuk orang-orang yang memperjualkan janji dan sumpah Allah dengan harga murah, seperti: jual beli hukum, korupsi, markup, suap, dll. Mereka tidak akan disapa dan tidak akan diperhatikan serta disucikan oleh Allah, bahkan yang mereka dapatkan adalah azab yang sangat pedih.
Asbabunnuzul ayat 71 - 73:
Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa Abdullah bin Shaif, Adi bin Zaid, Haris bin Auf berkata:"Mari kita beriman dengan apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad dan para Sahabatnya pada waktu pagi dan kita ingkar pada malam hari. Dengan demikian kita telah membuat mereka ragu-ragu atas agama mereka. Semoga mereka akan melakukan hal yang sama meninggalkan agama mereka". Maka turunlah ketiga ayat ini (HR.Ibnu Ishak).
Tadabbur ayat
Ayat 78 menerangkan keadaan sekelompok ahli kitab yang suka merubah, menambah, dan menukar letak juga menghapus sebagian dari ayat-ayat Allah, sehingga berubah pengertian yang asli. Mereka melakukan dengan sengaja dan tidak merasa bersalah, karena sifat ketaqwaan mereka pada Allah telah lenyap dan mereka yakin bahwa dosa mereka akan di ampuni. Hal ini merupakan pembelajaran bagi umat Islam bahwa perbuatan tersebut sangat keji.
Ayat 79 menerangkan tentang sifat kaum Yahudi dan Nasrani, mereka beranggapan bahwa para Nabi-nabi menghendaki untuk di sembah. Tuduhan mereka di bantah oleh Allah, bahwa tidak pantas bagi seorang manusia yang diberi kitab oleh Allah dan diberi pembelajaran tentang pengetahuan agama, minta disembah maupun mengaku dirinya sebagai tuhan.
Ayat 80 Orang Arab pernah menyembah malaikat, orang yahudi menyembah uzair, orang nasrani menyembah al-masih. Semua yang di lakukan mereka adalah bertentangan dengan ajaran agama yang di bawa oleh para Nabi. Sesungguhnya para Nabi mengajarkan manusia untuk menyembah hanya kepada Allah SWT.
Ayat 81 Allah telah mengambil perjanjian dari para Nabi bahwa mereka akan membantu, menolong dan mempercayai (Nabi Muhammad). Apabila datang syariat baru yang mengubah atau menghapus ketentuan dari syariat yang lalu, hal tersebut harus di terima karena ajaran yang berhubungan dengan pokok-pokok agama yang berhubungan dengan keimanan dan ketuhanan yang di bawa para Nabi adalah sama, namun syariat hukum setiap agama berbeda sesuai dengan keadaan, waktu dan tempatnya.
Ayat 82 - 83 Kaum yahudi dan nasrani yang tidak mempercayai kenabian Muhammad saw., berarti mereka tidak mempercayai perjanjian yang telah diikrarkan oleh Nabi Musa as. dan Isa as., sehingga mereka disebut orang fasik, yakni mereka mengetahui kebenaran yang sudah nyata tetapi mereka tidak mau melaksanakannya. Sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak menerima ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah untuk dijadikan pedoman hidup, karena Islam adalah agama Allah sebagai jalan keselamatan umat manusia di dunia dan akhirat. Apa saja yang ada dilangit dan bumi tunduk padaNya baik suka rela maupun terpaksa, dan kepadaNya semua dikembalikan.
Asbabunnuzul ayat 78 - 79:
Ibnu Abbas ra. berkata:"Suatu hari para pendeta Yahudi dan Nasrani Najran berkumpul di hadapan Rasulullah saw. Beliau lalu mengajak mereka untuk memeluk agama Islam". Abu Rafi' Quradhi berkata:'Hai Muhammad, apakah kau ingin agar kami menyembahmu seperti kaum Nasrani menyembah Isa?'. Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan itu,'jawab Rasul saw. Maka turunlah kedua ayat tersebut (HR.Ishak dan Baihaqi).
Tadabbur Ayat
Ayat 84 - 85 Allah menyuruh orang-orang yang beriman dari umat Nabi Muhammad saw. untuk beriman kepada seluruh Nabi yang diutus dan semua kitab yang diturunkan Allah swt., tidak ada satupun mengingkarinya dan membeda-bedakannya. Barangsiapa menempuh jalan selain yang telah disyaria'atkan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya. Mengimani seluruh nabi artinya:
1ā£Meyakini sepenuh hati bahwa Allah swt memilih manusia-manusia tertentu untuk menerima wahyunya dan menyampaikan kepada umat mereka.
2ā£Meyakini dengan sepenuh hati, bahwa mereka adalah manusia yang sempurna kemanusiaannya.
3⣠Meyakini dengan sepenuh hati, bahwa mereka adalah manusia yang mulia nasabnya.
4⣠Meyakini sepenuh hati bahwa Nabi Muhammad saw. penutup para nabi, syariatnya penutup syariat Allah, penyempurna syariat dan penghapus syariat sebelumnya.
Ayat 86 - 88 Maksudnya, telah jelas bagi mereka segala argumen dan bukti kebenaran apa yang dibawa Rasulullah, dan perkara ini telah nyata bagi mereka, namun mereka kembali kafir, kembali kepada kegelapan syirik. Maka bagaimana mungkin mereka akan memperoleh hidayah setelah mereka bergelimang dalam kebutaan. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang dzalim. Mereka akan mendapat laknat dari Allah dan seluruh makhluk-Nya. Siksa mereka tidak akan dikurangi atau diringankan walaupun hanya sesaat.
Ayat 89 Ini termasuk bentuk kelembutan, kebaikan, kesantunan, kasih sayang, dan kemurahan Allah bagi makhluk-Nya, yakni barangsiapa yang bertaubat kepada Allah, niscaya Allah akan mengampuninya.
Ayat 90 - 91 Allah memberikan peringatan dan ancaman bagi orang yang kafir setelah beriman, lalu bertambah kekafirannya sampai mati. Dan Allah mengabarkan bahwa taubat mereka menjelang datangnya ajal tidak akan pernah diterima. Barangsiapa mati dalam kekafiran, maka tidak ada kebaikannya yang diterima oleh Allah selamanya, walaupun ia telah menshadaqahkan emas sepenuh bumi yang ia pandang sebagai amal yang mendekatkan diri kepada-Nya. Demikian halnya jika ia menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi ini supaya terhindar dari azab Allah disebabkan kekafirannya, maka hal itu tidak akan pernah diterima.
Asbabunnuzul ayat 85 - 89:
Ibnu Abbas ra. berkata:"Suatu ketika Harits bin Suwaid yang masuk Islam kembali murtad. Setelah itu ia menyesal, dan ia mengutus seseorang untuk menanyakan kepada Rasulullah, Apakah ia masih ada kesempatan untuk bertaubat?. Maka turunlah ayat ini, ia kembali kepada Islam"(HR.Nasai dan Ibnu Hibban).
JUZ 4
Tadabbur Ayat
Ayat 92 Menerangkan bahwa kita belum mendapat kebajikan yang sempurna sebelum kita menginfakkan harta yang kita cintai. Dalam hal ini, Allah tentunya mengetahui apakah yang kita infakkan itu sesuatu yang istimewa dan utama atau hanya sisa dari apa yg kita miliki. Berkenaan dengan ini, ada sebuah kisah: Dari Anas ibnu Malik, bahwa Abu Talhah adalah seorang Ansar yang paling banyak memiliki harta di Madinah, dan tersebutlah bahwa harta yang paling dicintainya adalah Bairuha (sebuah kebun kurma) yang letaknya berhadapan dengan Masjid Nabawi. Nabi Saw. sering memasuki kebun itu dan meminum airnya yang segar lagi tawar. Sahabat Anas r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah diturunkan firman-Nya yang mengatakan: Kalian sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. (Ali Imran: 92) Lalu Abu Talhah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman: 'Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai' (Ali Imran: 92), dan sesungguhnya hartaku yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha ini, dan sekarang Bairuha aku sedekahkan agar aku dapat mencapai kebajikan melaluinya dan sebagai simpananku di sisi Allah Swt. Maka aku mohon sudilah engkau, wahai Rasulullah, mempergunakannya menurut apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadamu." Maka Nabi Saw. menjawab melalui sabdanya: Wah, wah, itu harta yang menguntungkan, itu harta yang menguntungkan; dan aku telah mendengarnya, tetapi aku berpendapat hendaklah kamu memberikannya kepada kaum kerabat"
Abu Talhah menjawab, "Akan aku lakukan sekarang, wahai Rasulullah." Lalu Abu Talhah membagi-bagikannya kepada kaum kerabatnya dan anak-anak pamannya.
(HR.Bukhari dan Muslim).
āAyat 93-94 Menerangkan tentang makar yahudi untuk mencela kenabian Muhammad SAW.
Hakikatnya semua makanan itu halal bagi Bani Israil kecuali apa yang diharamkan oleh Israel, yakni Nabi Ya'qub as sebelum turunnya taurat. Dalam beberapa riwayat diceritakan ketika Nabi Ya'qub sakit, ia bernazar ia akan sukarela menahan diri untuk tidak memakan daging unta dan susu yang disukainya jika Allah menyembuhkannya. Allah menerima nazarnya, dan memberlakukannya untuk setiap Bani Israel sebagai pengikut Nabi Yaqub. Allah juga mengharamkan beberapa jenis makanan karena kemaksiatan-kemaksiatan yang mereka lakukan.
Kemudian al-quran menantang mereka untuk mengkorfirmasikan hal ini dengan kitab taurat. Bahwasanya jika Allah haramkan sesuatu tentu ada sebab khusus. Jika kemudian Allah halalkan semua makanan untuk kaum muslimin, hal sudah tidak bisa diganggu gugat, karena tidak ada kebohongan pada al-Quran. Selanjutnya cukuplah predikat zhalim disematkan untuk mereka atas kebohongan-kebohongan yang mereka ada-adakan terhadap Allah.
Ayat 95-97 Menerangkan bahwa segala yang Allah firmankan adalah benar. Termasuk tentang Baitullah yang pertama kali dibangun oleh Ibrahim dan Ismail. Dalam ayat-ayat ini disebutkan keutamaan Nabi Ibrahim, seseorang yang lurus dan tidak musyrik. Juga keutamaan Baitullah sebagai rumah pertama umat Islam, selain itu Baitullah memiliki keistimewaan, dimana ia merupakan daerah yang diberkahi, siapa yang masuk kedalamnya ia akan aman. Ia juga merupakan kiblat bagi umat Islam seluruh dunia, di baitullah pula terdapat jejak Nabi Ibrahim. Dan di sini pula terdapat salah satu kewajiban umat Islam yaitu berhaji (bagi yang mampu).
Sesungguhnya Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan apapun dari semua makhluk-Nya.
Ayat 98-99 Menerangkan tentang kecaman dan ancaman terhadap ahli kitab, bahwasanya mereka selain mengingkari ayat-ayat Allah, mereka juga menghalang-halangi orang untuk beriman kepada Allah. Mereka diancam dengan pernyataan "padahal Allah menyaksikan apa yang kamu kerjakan" dan "padahal Allah tidak lengah terhadap hal yang kamu kerjakan".
Ayat 100 Menjelaskan tentang larangan kepada orang beriman untuk tidak mengikuti ahli kitab, dalam hal apapun karena akan dapat menggangu pondasi keislaman dan keimanan mereka.
Asbabunnuzul ayat 99 - 100:
Zaid bin Aslam ra. berkata bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Syas bin Qais yang mengadu domba antara kaum Aus dan khazraj. Suatu hari orang-orang Aus dan khazraj berbincang-bincang. Tak lama, seorang Yahudi bernama Syas bin Qais lewat di depan mereka. Syas benci melihat keakraban mereka, lalu ia mengirim temannya untuk bergabung kepada mereka dan mengadu domba antar mereka. Upaya ini berhasil, dan hampir kedua kaum tersebut saling bertikai"(HR.Ibnu Ishak dan Abu Syaikh).
Tadabbur Ayat
Ayat 101 menjelaskan bahwa kekafiran akan jauh dari kalian dan tidak mungkin kalian lakukan, apabila benar-benar berpegang teguh kepada ayat-ayat Allah (Al Quran) dan hadits RasulNya, karena dengan berpegang teguh kepada tali agama Allah dan tawakal kepadaNya merupakan sendi dalam memperoleh hidayah, bekal untuk menjauhi kesesatan, sarana menuju kebenaran dan jalan yg lurus untuk sampai ke tujuan.
Ayat102 - 104 Allah memerintahkan kepada kaum mukminin untuk bertaqwa yang sebenar-benarnya, yaitu dengan:
1ā£. Berpegang teguh tali agama Allah.
2ā£. Menjadikan Al Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup.
3ā£. Mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan bersabar dalam menjalani ujian hidup.
4ā£. Membangun dan menjaga ukhuwah islamiyah.
5ā£. Senantiasa mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar.
Ayat 105-108 Allah mengingatkan kepada umat Islam agar tidak seperti umat-umat terdahulu yang terpecah-belah, berselisih, dan tidak menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, padahal hujjah telah jelas bagi mereka. Pada hari kiamat nanti, ada wajah yang putih berseri dan ada wajah yang hitam muram. Adapaun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga). Mereka akan tetap di dalamnya untuk selamanya, dan mereka pun tidak ingin beranjak darinya meski sekejap. Ini adalah ayat-ayat Allah, hujjah-hujjah dan penjelasan dari Allah yang dibacakan kepadamu (wahai Muhammad). Allah tidak akan menzalimi mereka. sebaliknya, Allah Mahabijaksana, berlaku adil, dan tidak semena-mena. Hal ini karena Allah Mahakuasa dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu, sehingga Allah tidak perlu berbuat zalim terhadap hamba-hambaNya.
Asbabunnuzul ayat 101 - 103:
Ibnu Abbas ra. berkata bahwa suatu ketika orang-orang Aus dan khazraj berkumpul dalam satu majlis. Mereka saling berbincang-bincang tentang permusuhan mereka saat masa jahiliyah. Hal ini ternyata memancing kemarahan diantara mereka, bahkan ada yang sampai menghunus pedang. Untuk mendamaikan pertikaian itu, Allah menurunkan ketiga ayat ini (HR.Faryabi dan Abu Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 109 Allah lah Sang Pemilik segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia lah yang menciptakan, memberikan rizki, serta mengatur segala ketetapan yang berkaitan dengan makhlukNya. Hanya kepadaNya tempat kembali, dan kelak pada hari kiamat Allah akan membalas segala perbuatan manusia baik dan buruknya.
Ayat 110 - 112
Sungguh Allah telah memuliakan Umat Islam dengan sebaik-baik umat, yaitu umat terbaik diantara umat yang lain. Dengan kesempurnaan imannya, umat Islam tunduk dan patuh terhadap apa yang Allah perintahkan kepadanya, amar ma'ruf nahi munkar, serta berjihad dengan segala upaya dalam memerangi kesesatan dan gangguan umat lain yang berada di sekelilingnya. Berbeda dengan umat-umat sebelumnya (Ahli Kitab), kebanyakan dari mereka keluar dari ketaatan kepada Allah (Fasiq). Tapi sungguh kefasikan mereka itu tidak akan mempengaruhi keimanan umat Islam. Mereka tidak akan membahayakan umat Islam kecuali dengan gangguan-gangguan kecil saja, karena mereka pasti akan kalah dan mundur, karena umat Islam akan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah swt. Mereka yang fasiq itu mendapatkan kemurkaan dari Allah disebabkan oleh kekufuran mereka terhadap ajaran Nabi Muhammad saw. Mereka juga memerangi Nabi-nabi Allah serta membunuhnya tanpa alasan yang jelas dan benar. Sesungguhnya perbuatan mereka itu benar-benar durhaka dan melampaui batas.
Ayat 113 ā 115 Sangatlah berbeda kedudukan mereka yang Fasiq dengan kedudukan mereka yang telah beriman. Sebagaimana Allah telah menjelaskan kedudukan mereka yg fasiq pada ayat sebelumnya maka di ayat ini Allah menjelaskan kedudukan mereka yg telah beriman. Allah menyebutnya dengan sebutan "Ummatun Qooimatun" . Kaum yang teguh taat kepada ajaran Allah, setia kepada agama Allah, menjalankan segala perintah Allah dari mulai Sholat, membaca ayat-ayatNya, baik siang maupun malam disertai dengan keadaan yang penuh perhatian dan kekhusyukan. Mereka beriman kepada semua Nabi dan Rasul, semua Kitab yang diturunkan Allah, dan yang paling penting adalah beriman kepada kepada hari Kiamat. Karena dengan iman kepada hari kiamat berarti meyakini bahwa segala yang diperbuat di dunia ini pasti akan mendapat balasan di hari kiamat kelak.
Mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari kemungkaran termasuk sifat-sifat yang melengkapi keadaan Ahli Kitab yang beriman. Memiliki semangat yang tinggi dalam kebaikan serta pandai dalam memanfaatkan kesempatan. Maka Allah memberinya gelar "Ash Shoolihiin". Mereka itulah yang akan mendapatkan rahmat, keutamaan dan kebaikan dari Allah swt. Sungguh balasan yang mereka terima sesuai dengan kadar kebaikan yang mereka lakukan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Asbabunnuzul ayat 113 - 115:
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ia berkata: Rasulullah saw. pernah menunda shalat Isya, lalu keluar ke masjid, ternyata para sahabat sedang menunggu shalat, maka Beliau bersabda, "Adapun, tidak ada seorang pun penganut agama ini yang mengingat Allah di waktu ini selain kamu." Maka Allah menurunkan beberapa ayat", yakni dari ayat 113 s/d 115.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'yah, Asad bin Ubaid serta beberapa orang Yahudi yang masuk Islam lainnya beriman, membenarkan dan semakin cinta dengan Islam. Para ulama yahudi yang kafir berkata, "Tidak ada yang beriman kepada Muhammad dan mengikutinya selain orang-orang buruk di antara kami. Jika mereka termasuk orang-orang yang baik, tentu mereka tidak akan meninggalkan agama nenek moyang mereka," maka Allah menurunkan ayat, "Laisuu sawaa'aaā¦dst. sampai "Minash shaalihiin". (HR. Thabrani).
Tadabbur Ayat
Ayat 116 - 120 Allah hendak menyingkapkan hakekat kehidupan orang-orang yang menentang ajaran Allah dan RasulNya, yaitu:
- harta dan anak keturunannya tidak berarti apa untuk menolong dari adzab Allah baik didunia maupun diakhirat.
- kehidupan mereka di akhirat nanti kekal di dalam neraka, dan tidak ada makhluk yang dapat menolongnya.
- apa yang dibanggakan dan kebaikan yang ia lakukan didunia ini, Allah tidak memperhitungkan sebagai amal sholeh, karena tidak dilandasi dengan keimanannya. Mereka telah mendzolimi diri mereka sendiri, karena sebaik apapun amal orang kafir itu sia-sia.
- Allah melarang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia, karena bagaimanapun mereka selalu mengharapkan kehancuran bagi muslimin. Menjadikan Orang kafir teman setia (wala') artinya memberikan kepada Orang kafir tersebut:
1. cinta (mahabbah).
2. pembelaan. (nushroh).
3. kecenderungan (al mail).
4. kedekatan hati (qurbah).
Semua hal di atas merupakan perbuatan hati sebelum perbuatan badan, dan seharusnya tidak ada dalam hati seorang muslim.
- orang-orang kafir itu akan melakukan berbagai cara untuk mengelabuhi kaum muslimin, yang penting bagi mereka adalah dapat melakukan maksud jahatnya. Mereka bisa saja akan bersikap baik didepan muslim, meskipun sesungguhnya mereka sangat membencimu. Bahkan kebencian didalam dadanya lebih besar daripada yang ia tampakkan.
- mereka akan bahagia jika kamu kesusahan dan mereka akan sedih jika kamu dalam keadaan lapang.
Bahwa pertolongan Allah swt. akan selalu bersama orang yang sabar dan taqwa, sehingga tipu daya orang-orang kafir sia-sia.
Ayat 121Allah mengingatkan Nabi saw. tentang suasana ketika akan menghadapi perang uhud.
Asbabunnuzul ayat 118:
Ibnu Abbas ra. berkata:"Ada sebagian kaum muslimin yang berhubungan baik dengan orang-orang Yahudi, karena ketika masa jahiliyah mereka tetangga dekat dan sekutu dalam peperangan. Lalu Allah menurunkan ayat ini"(HR.Ibnu Jarir dan Ibnu Ishak).
Tadabbur Ayat
Ayat 122 - 123 menjelaskan tentang suasana saat terjadinya perang uhud, yaitu dalam suasana yang sulit dan tidak menyenangkan tersebut, ada 2 golongan di antara kaum muslimin yang hampir patah semangatnya setelah mengetahui bahwa 300 orang dari pasukan kaum muslimin tidak mau ikut bertempur dan telah kembali ke madinah. Mereka yang telah patah semangat itu ialah Bani salamah dari suku Khozraj dan Bani harisah dari suku Aus masing-masing sayap kanan dan kiri. Mereka terpengaruh oleh suasana yang amat mencemaskan dari pada di hancurkan oleh musuh yang demikian besar lebih baik mundur. Alhamdulillah perasaan patah semangat itu tidak lama mempengaruhi mereka karena mereka adalah orang-orang yang penuh tawakal kepada Allah dan tetap berkenyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang sabar dan bertaqwa kepadaNya. Sebagai penambah kekuatan jiwa dan ketabahan hati dalam menghadapi segala bahaya dan kesulitan, Allah mengingatkan mereka pada perang badar, ketika mereka berada dalam keadaan lemah dan jumlah yang amat sedikit dibanding dengan kekuatan dan jumlah musuh. Berkat pertolongan Allah mereka berhasil memporak porandakan musuh hingga banyak diantara pembesar quraish yang menjadi korban dan banyak pula yang ditawan. Tidak sedikit harta rampasan perang yang diperoleh kaum muslimin karena mereka ingat pada perintah Allah agar mereka bersabar dan bertaqwa, dengan begitu mereka akan mendapat pertolongan dan kemenangan.
Ayat 124-125 untuk memperkuat hati dan tekad kaum muslimin dalam menghadapi perang uhud ini, Nabi saw. mengatakan pada mereka bahwa mereka akan dibantu oleh Allah dengan 3000 malaikat. Apabila mereka sabar dan tabah menghadapi segala bahaya dan bertaqwa kepada Allah, maka akan akan membantu mereka dengan 5000 malaikat.
Ayat 126 menjelaskan bahwa apapun yang terjadi, kemenangan itu datang dari Allah. Jadi kalau kaum muslimin benar-benar mengamalkan petunjuk Allah dan RasulNya, percaya dan yakin akan mendapat kemenangan dan tetap bersifat sabar dan taqwa dengan penuh tawakal, tentulah Allah akan memberi kemenangan. Dan kekalahan kaum musyrikin, banyaknya korban yang jatuh, adalah sudah menjadi kehendak Allah untuk membinasakan golongan orang kafir, mengesalkan hati dan menghinakan mereka.
Ayat 128 - 129 adalah teguran Allah kepada Nabi saw. untuk tidak berdoa kebinasaan kepada orang-orang yang masih dalam kekafiran. Kewajibanmu hanyalah menyampaikan, membimbing manusia dan memberitahukan hal yang bermaslahat bagi mereka. Adapun yang demikian adalah urusan Allah, oleh karena itu bersabarlah. Jika hikmah (kebijaksanaan) Allah dan rahmat-Nya menghendaki, bisa saja Dia menerima tobat mereka dan menjadikan mereka masuk Islam, dan jika hikmah-Nya menghendaki, bisa saja membiarkan mereka di atas kekafiran sehingga mereka akan mendapat siksa. Allah yang memiliki semua yang ada di langit dan di bumi. Dia Maha Berkuasa penuh atas semuanya. Dialah yang menghukum dan memutuskan segala urusan. Dia berhak mengampuni dan menerima tobat hambaNya.
Ayat 130 - 131 Ayat ini adalah ayat pertama yang diturunkan tentang haramnya riba. Allah memerintahkan agar kaum muslimin memelihara dan menjauhi perbuatan orang kafir yang tidak memperdulikan akan harta yang mereka peroleh berasal dari sumber-sumber yang tidak halal seperti riba, memeras kaum lemah dan miskin. "Imam Abu Hanifah menerangkan bahwa ayat ini mengandung ancaman yang sangat menakutkan".
Ayat 132 Perintah untuk tidak melakukan riba diiringi dengan perintah agar kaum muslimin selalu taat dan patuh kepada perintah Allah dan RasulNya karena dengan mentaati Allah dan RasulNya maka akan dapat limpahan Rahmat dan hidup berbahagia di dunia dan di akhirat.
Asbabunnuzul ayat 128:
Anas ra. menjelaskan bahwa Ayat ini turun ketika perang Uhud Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terluka, gigi Beliau pecah dan wajah Beliau terluka, maka Beliau berkata, "Bagaimana suatu kaum yang melukai wajah nabi mereka dan memecahkan giginya akan beruntung?". Beliau kemudian mendoakan kebinasaan kepada tokoh-tokoh orang musyrik seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, Suhail bin 'Amr dan Harits bin Hisyam, maka turunlah ayat ini yang melarang Beliau mendoakan laknat kepada mereka dan dijauhkan dari rahmat Allah.(HR.Bukhari, Ahmad, dan Muslim)
Tadabbur Ayat
Ayat 133 Ayat ini mengisyaratkan keharusan bersegera melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan ampunan Allah, yaitu ketaatan. Dalam ayat ini ampunan didahulukan daripada surga karena meninggalkan perbuatan dosa didahulukan atas mendapatkan nikmat. Dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yaitu memberikan gambaran bahwa surga adalah sesuatu yang paling luas yang pernah kalian lihat. Sedangkan ayat yang artinya disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa adalah mengisyaratkan bahwa surga telah ada dan telah diciptakan seperti halnya neraka.
Ayat 134 - 135 menjelaskan tentang indikasi orang yang shaleh dan bertakwa yang akan menjadi penghuni surganya Allah swt., yaitu :
- Menginfakkan harta, tenaga, dan ilmunya, dalam segala keadaan, baik ketika sedang dalam keadaan lapang atau sempit, senang ataupun susah.
- Mampu menahan amarah meskipun ia mampu untuk meluapkannya.
- Mudah memaafkan/pemaaf.
- Membiasakan diri untuk selalu berbuat kebajikan.
- Bersegera menyesali diri dan mohon ampunan ketika khilaf melakukan kesalahan atau dosa.
Ayat 136 Mengandung isyarat bahwa karunia dan kemurahan Allah diberikan kepada setiap orang yang benar-benar tulus di dalam pertobatannya dan tidak terus menerus di dalam kemaksiatannya. Hal ini menggambarkan tentang pasukan yang melarikan diri pada perang uhud lalu ia bertobat, maka baginya ampunan Allah SWT.
Ayat 137 - 138 menjelaskan bahwa kehendak dan hukum Allah berjalan berdasarkan aturan yang baku dan sunah atau hukum alam yang sudah Allah tetapkan. Di dalamnya berkaitan dengan sebab akibat dan nilai, meskipun pada dasarnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sunatullah ini berlaku bagi para umat terdahulu dan para umat setelahnya, barangsiapa yang berjalan di atas manhaj orang-orang yang taat dan beriman, maka dia pasti akan meraih kebahagiaan, kemenangan, keberuntungan. Sedangkan barangsiapa yang berjalan di jalan orang orang yang membangkang dan mendustakan agama, maka nasibnya adalah kerugian, kehancuran, dan kebinasaan. Bagi orang yang beriman, hendaklah senantiasa mengambil pelajaran tentang umat-umat terdahulu, mempelajari sejarah dan kisah kisah yang ada, dan sungguh Allah telah menjelaskan bahwa kitab al Quran adalah sebagai petunjuk dan mauidzah khusus bagi orang-orang yang bertakwa.
Ayat 139 - 140 mengabarkan kepada kaum mu'minin untuk tidak bersikap lemah dan takut di dalam berperang dikarenakan apa yang pernah mereka alami dan apa yang mereka rasakan berupa luka terkena senjata, karena begitu juga keadaannya orang-orang kafir. Yang demikian itu agar mereka tidak bersedih hati atas apa yang menimpa mereka pada perang berupa gugurnya para syuhada yang dimuliakan Allah swt. Ini merupakan pelajaran penempaan diri bagi kaum muslimin.
Asbabunnuzul ayat 140
Ikrimah ra. menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika seorang wanita bertanya kepada dua orang sahabat setelah perang ubud:"Bagaimana kondisi Rasulullah?". Keduanya menjawab:"Beliau masih hidup". Wanita itu pun berkata:"Jika demikian, aku tidak peduli jika Allah menjadikan hambaNya syahid".(HR.Ibnu Abi Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 141-143 Allah pasti menyiapkan hikmah dalam setiap peristiwa, termasuk hikmah dalam Perang Uhud. Dimana kaum mu'minin merasakan kepedihan atas kekalahan yang mereka alami. Sungguh kekalahan yang mereka alami adalah cara Allah untuk membersihkan kaum mu'minin dari dosa dan aib mereka. Sungguh jihad dan peperangan di jalan Allah telah menghapus dosa-dosa mereka. Dan dengan cara ini pula akan terlihat jelas perbedaan kaum munafiq dan kaum mu'minin.
Kaum munafiq perlahan-lahan akan binasa karena perbuatan mereka sendiri. Jika mereka ditolong mereka berpaling dan bertambah pula kemaksiatan mereka. Dan sungguh Allah akan membinasakan kaum munafiq sebagai rahmat bagi kaum mu'minin.
Apakah kaum mu'minin mengira akan masuk ke dalam surga padahal usaha dan ujian mereka belum sebanding sebagaimana apa yang dilakukan para Salafus Sholih??
Sungguh surga adalah cita-cita mulia yang tertinggi yang diimpikan oleh setiap mu'min. Makin tinggi impian makin keras usaha kita untuk mencapainya. Kita tidak akan sampai kepada kenikmatan surga sebelum kita berjihad siap mempertaruhkan kenikmatan dunia untuk akhiratnya. Dan dunia inilah cobaan dan ujian yang paling dahsyat bagi kaum mu'min. Allah lah yang Maha Berkehendak siapa saja yang akan mendapatkan keutamaan surga itu.
Syahid itu butuh perjuangan, maka janganlah sekali-kali seorang mu'min mengharapkan syahid tanpa perjuangan yang sungguh-sungguh. Karena pahala berjihad hanya bisa didapatkan dengan perjuangan yang nyata.
Ayat 144 - 145 menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah pengemban dakwah. Sama dengan Nabi dan Rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw. menyampaikan risalah dakwah, menyeru kepada keimanan dan selalu taat terhadap perintah Rabb nya. Adanya dan tidak adanya Rasul bukan sebagai bukti ketaatan kepada Allah, karena kita diwajibkan taat pada setiap waktu dan setiap keadaan. Tidak adanya Rasul pada saat ini bukan berarti kewajiban taat kepada Allah juga berakhir.
Barang siapa yang berpaling dari ajaran Allah pasti dia akan merugi, dan Allah sungguh sedikitpun tidak akan rugi dengan perbuatannya itu.
Justru akan membuat kemuliaan bagi siapa saja yang tetap tsabat di jalan Allah. Dan Allah akan memberikan balasan yang sempurna bagi hamba yang bersyukur.
Segala ketetapan Allah tentang hidup dan mati seseorang sudah tercatat jelas di Lauh Mahfudz. Kalaulah seseorang telah sampai ajalnya maka sampailah walau tanpa sebab. Dan Allah akan memberikan manusia sesuai dengan permintaanya. Barang siapa meminta dunia maka Allah kasih, barang siapa meminta akhirat maka Allah kasih. Dan barang siapa yg meminta keduanya,maka Allah berikan keduanya.
Ayat 146 - 148 sungguh betapa banyak pengikut Rasul yang merasakan kesedihan dalam peperangan. Tetapi itu semua tidak membuat mereka bersedih, mereka tetap tegar dan bersabar di jalan Allah. Dan mereka terus berdoa " Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". Mereka mengerti bahwa dosa dan sikap berlebihan merupakan sebab utama dari sebuah kegagalan. Dan menjauhkan diri dari 2 sikap tersebut penyebab utama kemenangan. Mereka terus bertawakkal kepada Allah dan selalu memperkuat usaha mereka, Mengumpulkan kesabaran dan memperbanyak istighfar. Dan Allah akan memberikan balasan di dunia dan di akhirat.
Asbabunnuzul ayat 144:
Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad).
Tadabbur Ayat
Ayat 149 sungguh Allah memperingatkan kepada kaum mu'minin agar waspada jangan sampai terpedaya dan mengikuti orang-orang kafir dan munafik. Karena hal itu menyebabkan kehinaan dan kebinasaan baik didunia dan diakhirat. Di dunia berupa kehinaan kekufuran setelah kalian mendapatkan kemuliaan iman dan islam, kalian akan berada di bawah kekuasaan dan kontrol musuh dan kalian tidak akan mendapatkan kenikmatan berupa dijadikan orang-orang yang berkuasa dibumi, seperti yang dijanjikan oleh Allah. Sedangkan di akhirat kalian merugi dengan tidak mendapatkan nikmat-nikmat Allah dan pahala dariNya serta kalian akan terancam terkena siksaNya di dalam neraka.
Ayat 150 orang-orang mu'minin akan diberi pertolongan sedangkan orang-orang kafir akan di hinakan dan dibiarkan tanpa memberi mereka pertolongan.
Ayat 151 dan di antara bentuk pertolongan Allah kepada kaum mu'minin adalah dengan rasa takut yang sangat kuat di dalam hati orang-orang kafir di karenakan sikap mereka yang menyekutukan Allah SWT, menyembah berhala dan lain-lain, padahal tidak ada bukti hujjah atau alasan baik menurut rasio maupun indra kalau hal-hal tersebut memang berhak untuk disembah dan menjadi perantara antara Allah dan makhlukNya. Tempat kembali akhir mereka di akhirat adalah neraka disebabkan atas kedzoliman dan kekufuran mereka serta pengingkaran terhadap kebenaran dan para pengikut kebenaran. Dan neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali karena mereka adalah orang-orang yang berbuat aniaya baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.
Ayat 152 sungguh Allah telah memenuhi janjinya untuk memberi pertolongan dan kemenangan kepada kalian terhadap musuh ketika kalian memerangi dan membunuh mereka dengan bentuk penyerangan yang begitu dahsyat dengan bantuan, pertolongan, dan kehendakNya. Namun ketika kalian berselisih dalam hal mematuhi instruksi dan perintah Nabi kalian untuk tetap berada dalam posisi di atas bukit Ar-Rumaah, sebagian kalian berkata : "kenapa kita harus tetap berada pada posisi kita di sini, sedangkan kaum musyrik telah terdesak mundur dan kalah?" sedangkan sebagian dari kalian yang lain berkata "kita tidak akan melanggar instruksi Rasulullah. Kepada kita agar tetap bertahan di posisi kita ini ". Dan waktu itu yang tetap bertahan hanyalah Abdullah Bin Jubair dan beberapa kawannya. Ketika semua ini terjadi, maka pertolongan yang dijanjikan kepada kalian ditangguhkan dan sebaliknya, kalian mengalami kekalahan. Sebenarnya angin kemenangan berada di pihak islam. Namun ketika kalian berselisih dan pasukan pemanah melakukan pelanggaran terhadap instruksi Rasulullah SAW, maka pasukan mengalami kegagalan, maka janji tersebut ditangguhkan, karena janji itu bersyarat dan syaratnya adalah sikap tabah, sabar, tetap bertahan di medan peperangan dan taat. Itulah kisah tentang perang uhud. Intinya ayat ini mengandung celaan terhadap mereka yakni kaum mu'minin dan menjelaskan tentang sebab perselisihan di antara mereka karena diantara kalian ada yang menginginkan dunia, maksudnya harta rampasan.
Ayat 153 teguran dan celaan ini ditujukan bagi orang-orang yang melarikan diri, tidak mencakup orang-orang yang bertahan. Karena orang-orang yang tetap bertahan pada posisi mereka mendapatkan pahala. Kemudian setelah pada permulaan perang kalian dijadikan mampu memukul mundur musuh, Allah SWT selanjutnya memalingkan kalian dari musuh (melarikan diri dan kalah). Hal ini sengaja Allah lakukan untuk menguji iman kalian. Dan Allah telah mengampuni perbuatan kalian dengan ujian dan cobaan yang di timpakan kepada kalian tersebut yang bisa menghapus bekas-bekas dosa dari jiwa kalian dan Allah menerima tobat kalian ketika kalian menyesali kecerobohan kalian tersebut.
Asbabunnuzul ayat 152:
Muhammad bin akan al Quradzi ra. berkata bahwa ketika sebagian kaum muslimin berkata pada saat perang Ubud:"Mengapa ini bisa menimpa kita, padahal Allah telah menjanjikan kemenangan?". Allah kemudian menurunkan ayat ini (HR.Qurthubi).
Tadabbur Ayat
Ayat 154 Mengisahkan tentang suasana pada saat perang uhud, Allah memberikan rasa kantuk kepada orang-orang beriman, ditengah-tengah kelelahan dan suasana hati mereka yang tak menentu. Allah tau fitrah manusia, selelah apapun jika mendapat tidur yang berkualitas akan memberikan ketenangan dan rasa nyaman. Sedangkan kepada orang-orang yang masih berpenyakit imannya, Allah biarkan mereka dengan rasa cemas dan tak aman. Mereka masih saja ragu dengan ketentuan Allah dan berprasangka kenapa Allah membiarkan mereka kalah dalam perang. Padahal ini adalah salah satu bentuk ujian dari Allah, dan bahwa ujian selalunya tidak menyenangkan hati.
Orang-orang yang masih ragu-ragu tersebut berfikiran bahwa mereka akan mati karena perang itu, padahal dimanapun berada bahkan di rumah sekalipun jika Allah menghendaki mereka mati tentu itu yang akan terjadi.
Yang Allah inginkan dari peristiwa ini adalah untuk membersihkan segala keraguan, prasangka, dan penyakit-penyakit yang ada di hati mereka.
Ayat 155 Mengisahkan tentang berpalingnya sebagian pasukan pemanah dikarenakan tergiur oleh harta rampasan perang, mereka melanggar pesan Rasulullah untuk tetap pada posisi mereka di atas bukit. Ayat ini juga menunjukkan bahwa saat itu mereka dengan sangat mudah digelincirkan oleh setan karena sifat-sifat buruk mereka semisal tamak dan serakah muncul ketika melihat harta rampasan yang akan mereka dapatkan. Namun demikian Allah telah mengampuni dosa mereka, jika kemudian mereka menyadari kesalahan dan kemudian bertaubat, maka mereka pasti mendapatkan bahwa Allah Maha Pengampun dan Penyayang
Ayat 156 Mengingatkan kepada orang beriman untuk tidak berkata kepada sesama mereka "Andai saja mereka tidak berperang tentu mereka tidak akan mati", karena perkataan seperti itu menimbulkan rasa sesal dihati manusia. Padahal yang berhak menghidupkan dan mematikan itu ada pada Allah, dimanapun dan kapanpun manusia itu berada.
Ayat 157 Menyatakan jika manusia gugur di jalan Allah atau mati dalam keadaan iman, Allah pasti mengampuni dosa mereka dan melimpahkan rahmatNya, dan hal ini lebih baik dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.
Asbabunnuzul ayat 154:
Az-Zubair pernah menceritakan hadis berikut: Ketika aku sedang bersama Rasulullah Saw., yaitu di saat rasa takut sangat mencekam kami, maka Allah mengirimkan kantuk yang meliputi diri kami. Maka tidak ada seorang lelaki pun dari kami melainkan dagunya menempel pada dadanya (karena tertidur). Az-Zubair melanjutkan kisahnya, "Demi Allah, aku benar-benar mendengar suara Mu'tib ibnu Qusyair yang suaranya kudengar seperti hanya dalam mimpi. ia mengatakan: 'Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Kata-kata itu selalu kuingat." Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Mereka berkata, '"Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." (Ali Imran: 154) karena perkataan Mu'tib itu. (HR.Ibnu Abu Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 158 menjelaskan bahwa apabila ada seseorang mati, dimanapun ia berada, diatas kasur atau di medan perang, pastilah akan dikumpulkan dan dikembalikan kepada Allah. Maka hendaklah seorang hamba menyiapkan bekal terbaik untuk menghadap Robbnya.
Ayat 159 - 160 Allah swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. agar berlemah lembut, tidak kasar dan tidak berkeras hati terhadap para sahabat. Hendaklah melibatkan mereka untuk bekerjasama dan bermusyawarah dalam urusan perang. Kemudian berserah dirilah pada Allah, mohon petunjuk dan pertolongan-Nya. Karena Allah menyukai orang-orang yang bertawakal. Jika pertolonganNya datang terhadap seseorang, maka tidak ada yang dapat mengalahkannya. Maka hendaklah mohon pertolongan dan bertawakal hanya kepada Allah saja.
Ayat 161 menyatakan bahwa seorang nabi tidak akan pernah curang. Jika seseorang melakukan kecurangan, maka pada hari kiamat ia akan menanggung atas kecurangannya, dan mereka tidak dizolimi sedikitpun.
Ayat 162 - 163 menjelaskan bahwa orang yang memiliki tujuan untuk mencari ridlo Allah, berbeda dengan orang yang menuruti nafsunya untuk selalu berbuat maksiat, sehingga membuat Allah murka. Dan bagi mereka berhak untuk tinggal di jahannam, yaitu tempat terburuk. Sedangkan penghuni surga memiliki derajat yang bertingkat-tingkat karena keridoan Allah yang dicarinya. Allah akan memberikan balasan sesuai dengan apa yang mereka usahakan, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di sisi Allah swt.
Ayat 164 menyatakan bahwa suatu ni'mat yang besar bagi orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka, membacakan ayat al Quran, menghilangkan syirik dan akhlak yang rusak. Kemudian mengajarkan al Quran. Karena sebelumnya, mereka adalah umat yang benar-benar sesat lagi bodoh.
Ayat 165 menjelaskan bahwa adalah hal biasa dalam setiap peperangan kadang menang dan kadangkala kalah, dan kekalahan ini tidak lain karena penyelewengan terhadap perintah Rasulullah saw., dan kerakusan terhadap harta ghonimah. Dan Allah Maha kuasa dalam menentukan sesuatu.
Asbabunnuzul ayat 161:
Ibnu Abbas ra. berkata bahwa ayat ini turun berkenaan dengan hilangnya permadani merah pada perang badar. Kata sebagian orang, "Mungkin rasulullah saw. telah mengambilnya". Maka turunlah ayat ini (HR.Tirmidzi).
Tadabbur Ayat
Ayat 166 kemenangan yang di peroleh tentara islam dalam perang badar karena izin dan pertolongan Allah. kekalahan ataupun kemenangan merupakan sebuah ujian keteguhan iman dan ketabahan masing-masing agar orang orang mukmin lebih tebal keimanan, sehingga dapat dibedakan dari umat yang lain.
Ayat 167 orang yang munafik dapat terlihat jelas, apa yang mereka ucapkan berbeda dengan apa yang ada dalam hati mereka, hal tersebut nampak sekali ketika perang uhud 300 tentara muslim di bawah pimpinan Abdullah bin ubay memilih kembali ke medinah.
Ayat 168 mereka kaum muslim munafik yang memilih kembali ke madinah berkata bahwa jika saja kaum muslim yang telah gugur sebelumnya ikut bersama mereka kembali ke madinah pasti kaum muslim yang gugur tersebut masih hidup, sungguh jika mereka kaum muslim yang munafik tersebut benar maka tolaklah kematian dirimu, merekapun tidak dapat menolak kematian tersebut walau bersembunyi di tempat yg tidak terlihat, karena jika sudah waktunya maka kematian akan menghampiri dimanapun kita berada.
Ayat 169 - 170 orang-orang yang telah terbunuh dalam perang fii sabilillah, sesungguhnya mereka tidaklah mati, mereka hidup di sisi Allah dengan mendapatkan rizki dan nikmat yang berlimpah. dalam sebuah hadist di katakan bahwa mereka yang mati syahid berada di tepi sungai dekat dengan pintu syurga mereka berada dalam sebuah kubah yang hijau, makanan mereka keluar dari syurga setiap pagi dan sore. Setelah mereka menikmati karunia dari Allah, mereka berkata: "Seandainya saudara kita yang masih hidup mengetahui apa-apa yang Allah berikan kepada kita, mereka tidak akan meninggalkan jihad di jalan Allah dan tidak akan lari dari perang".(HR.Ahmad, dll.).
Ayat 171 - 172 menjelaskan bahwa orang mu'min dan mujahidin bergembira atas nikmat yang Allah berikan, dan Allah tidak akan mengurangi pahala yang telah di tentukan bagi mereka. Orang mu'min selalu siap sedia memenuhi seruan Allah dan RosulNya untuk tetap berada dijalanNya.
Ayat 173 menjelaskan bahwa walaupun orang-orang munafik itu menakut-nakuti dengan mengabarkan bahwa orang-orang kafir telah menghimpun kekuatan besar untuk mengalahkan mereka, justru tidak ada rasa gentar sedikitpun dihati mereka, dan bahkan semakin bertambah keimanan dan semangatnya untuk menyambut peperangan selanjutnya. Mereka sandarkan perlindungan dan pertolongan mereka hanya kepada Allah swt.
Asbabunnuzul ayat 173:
turunya ayat ini berhubungan dengan pasukan Abu sufyan yang kala itu masih menjadi panglima perang kaum musyrikin. Ketika sampai di Ruha, Abu sufyan dan tentaranya yang kalah dan menyesal ingin kembali untuk menyerang pasukan muslim. Hal tersebut di dengar oleh Rasulullah saw., Rosulpun memanggil kembali pasukan yang kemarin sudah ikut berperang, dan Allah pun menurunkan rasa takut kedalam hati kaum musyrikin, sehingga merekapun pulang kembali.
Tadabbur Ayat
Ayat 174 - 175 Ketika orang-orang mukmin bertawakal dengan benar kepada Allah, maka Allah memberikan kecukupan kepada mereka dari perasaan gelisah dan menghindarkan mereka dari tipu daya orang-orang yang ingin berbuat buruk terhadap mereka. Syaitan hendak menakut-nakuti kalian melalui wali-wali mereka (orang-orang kafir) serta menanamkan ketakutan pada diri kalian sehingga merasakan bahwa mereka mempunyai kekuatan dan pengaruh. Jika kalian diintimidasi maka bertawakallah kepada Allah, dan berlindunglah kepadaNya. Cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung kalian.
Ayat 176 - 177 mengingatkan untuk tidak perlu bersedih apabila menyaksikan orang-orang bersegera memyelisihi, mengingkari, menentang dakwah kita, walaupun seruan dakwah ini sebenarnya kebaikan untuk mereka. Penentangan dan penolakan yang mereka lakukan sebenarnya mereka hendak menentang dan menolak Allah, dan tidaklah mungkin mereka dapat mengalahkankanNya. Barang siapa lebih mengutamakan kekafiran dibanding keimanan, sungguh tidak ada kerugian bagi Allah, justru kekafirannya itu akan mendatangkan mudharat bagi diri mereka sendiri.
Ayat 178 janganlah menyangka kesempatan hidup yang masih ia rasakan itu berakibat baik bagi mereka jika masih dalam kekafirannya. Sesungguhnya Allah memberikan umur yang panjang itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia di dunia dan di akhirat nanti semakin pedih siksaannya karena semakin banyak dosa-dosa yang mereka lakukan.
Ayat 179 Allah pasti akan memberikan suatu ujian untuk menampakkan siapa yang termasuk wali-wali Allah dan siapa yang termasuk musuh-musuhNya. Dengan ujian itu, maka akan tampak mana orang mukmin yang sabar dan mana org yang munafik durhaka.
Ayat 180 maksudnya orang-orang yang bakhil jangan sampai menyangka bahwa harta yang mereka kumpulkan akan bermanfaat bagi dirinya. Bahkan harta itu bisa menjadi sumber bencana baginya baik didunia dan akhirat. Sesungguhnya semua harta benda dilangit dan bumi adalah milik Allah, dan Allah berkuasa memindahkan kepemilikan harta kepada siapa saja, dan berkuasa pula untuk memusnahkan seketika.
Asbabunnuzul ayat 179:
Mujahid ra. menjelaskan bahwa suatu ketika antara orang muslim yang ikhlas berjuang dan kaum munafik sulit dibedakan, terlebih saat perang Uhud. Karena itu ada sebagian diantara mereka berkata, "Jika memang Muhammad itu dapat dipercaya dan jujur, tunjukkan pada kami, mana munafik yang sombong, dan mana mukmin yang sabar". Maka turunlah ayat ini (HR.Suddi dan Ibnu Jarir).
Tadabbur Ayat
Ayat 181 - 182 mengisahkan ketika ada orang Yahudi menganggap anggapan keji, yaitu Tuhannya orang mukmin itu miskin, sedangkan mereka kaya, saat turun ayat,"Barang siapa yang meminjami Allah pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak ā¦dst." (Terj. Al Baqarah: 245). Mereka mengatakan, "Jika sekiranya Allah kaya, tentu Dia tidak akan meminta pinjaman kepada kita." Sungguh keangkuhan dan kesombongan mereka yang membuat hati mereka tidak bisa mencerna dan menerima petunjuk/nasehat. Sungguh perkataan dan prilaku mereka Allah catat dan Allah balas dengan adzab neraka. Yang demikian itu karena ulah mereka sendiri, dan sekali-kali Allah tidak ingin menganiaya hambaNya.
Ayat 183 Allah juga mendustakan orang-orang yang mengklaim bahwa Allah telah mengambil janji dari mereka dalam kitab-kitab mereka agar tidak mengimani rasul pun hingga datang mukjizat, yaitu apabila seorang umatnya bershodaqoh lalu shodaqohnya diterima oleh Allah, niscaya akan turun api dari langit yang melahap shodaqoh tersebut.
Ayat 184 Maka janganlah pendustaan mereka itu melemahkanmu, karena para rasul sebelummu pun didustakan. Padahal mereka membawa penjelasan sempurna yaitu hujjah bukti yang nyata.
Ayat 185 Allah mengabarkan kepada segenap makhlukNya bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Barangsiapa dihindarkan dan selamat dari neraka, kemudian dimasukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar mendapatkan keberuntungan.
Ayat 186 Merupakan suatu keharusan bahwa seorang mukmin akan diuji berkaitan dengan hartanya, dirinya, anak-anaknya, serta keluarganya. Dan ia akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ia akan diberikan ujian yang berat pula. Disamping itu Allah juga memerintahkan kepada mereka agar bersabar dan bertaqwa hingga Allah menghilangkan dukacita mereka.
Asbabunnuzul ayat 181:
Dari Ibnu Abbas, bahwa sahabat Abu Bakar As-Siddiq memasuki Baitul Madaris (tempat orang-orang Yahudi membaca kitabnya), dan ia menjumpai banyak orang Yahudi di dalamnya telah berkumpul mendengarkan seseorang dari mereka yang dikenal dengan nama Fanhas. Fanhas adalah salah seorang ulama dan rahib mereka; ia ditemani oleh seorang rahib yang dikenal dengan nama Asy-ya'. Abu Bakar r.a. berkata kepada Fanhas, ''Celakalah kamu, hai Fanhas, takutlah kamu kepada Allah dan masuk Islamlah. Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan dari sisi Allah, ia telah datang kepada kalian dengan membawa perkara yang hak dari sisi-Nya. Kalian menemukan hal itu termaktub di dalam kitab Taurat dan Injil yang ada pada kalian." Fanhas menjawab, "Demi Allah, hai Abu Bakar, kami tidak mempunyai suatu keperluan pun kepada Allah karena Dia miskin, dan sesungguhnya Dia benar-benar berhajat kepada kami. Kami tidak meminta-minta kepada-Nya sebagaimana Dia meminta-minta kepada kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang kaya, tidak memerlukan Dia. Seandainya Dia tidak memerlukan kami, niscaya Dia tidak akan meminta utang kepada kami seperti yang dikatakan oleh teman kamu (maksudnya Nabi Saw.). Dia melarang kalian melakukan riba, tetapi Dia membolehkan kami. Seandainya Dia kaya, niscaya Dia tidak memberi kami riba." Mendengar kata-kata tersebut amarah Abu Bakar memuncak, lalu ia memukul wajah Fanhas dengan pukulan yang keras (hingga membekas), dan berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sekiranya tidak ada perjanjian perdamaian antara kami dan kamu, aku benar-benar akan menebas batang lehermu, hai musuh Allah. Dustakanlah kami semampu kalian, jika kalian adalah orang-orang yang benar." Fanhas berangkat menemui Rasulullah Saw., lalu mengadu atas kasus tersebut. Maka sehubungan dengan perkataan Fanhas ini Allah Swt. Menurunkan ayat ini. (HR.Ibnu Abu Hatim).
Tadabbur ayat
Ayat 187 ini merupakan celaan dan ancaman Allah terhadap Ahlul kitab, Allah telah mengambil janji mereka dari mereka melalui lisan para nabi agar mereka beriman kepada Nabi Muhammad saw. serta menjelaskannya kepada umat manusia. Mereka telah siap menerima perintahNya yakni apabila Allah mengutus nabi muhammad saw., mereka akan mengikutinya. Namun mereka menyembunyikan hal itu. Mereka mengganti apa yang pernah mereka janjikan berupa kebaikan di dunia dan di akhirat dengan kenikmatan duniawi yang sangat murah. Maka seburuk-buruk jual beli adalah jual beli mereka, dan seburuk-buruk perniagaan adalah seperti yang mereka lakukan.
Ayat 188 maksudnya adalah orang-orang yang gemar berbuat riya dan yang ingin dipuji dengan sesuatu yang tidak mereka perbuat, dengan mengaku-ngaku sesuatu pengakuan dusta, agar banyak (dipuji) dengan sesuatu yang tidak terdapat pada dirinya, maka Allah tidak akan menambahkan (apa pun) baginya, kecuali kekurangan. Janganlah kalian mengira bahwa mereka akan selamat dari siksa, bahkan mereka pasti mendapatkan siksa yang pedih.
Ayat 189 Allah adalah pemilik yang berkuasa atas segala sesuatu. Maka tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkanNya. Karena itu janganlah kalian menentangNya serta jauhilah kemurkaan dan siksaNya. Allah adalah Rabb yang Maha agung, tidaka ada yg lebih agung dariNya. Dia Mahakuasa, tidak ada yg lebih berkuasa dari diriNya.
Ayat 190 Pada ketinggian dan luasnya langit serta kerendahan bumi dan kepadatannya. Dan apa yang ada pada keduanya berupa tanda-tanda kekuasaan Allah dan dapat disaksikan, berupa bintang-bintang, komet, daratan dan lautan, pegunungan, tanah gersang, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman, buah-buahan, binatang, barang tambang, serta berbagai macam warna, aroma dan rasa. Dan silih bergantinya malam dan siang, keduanya susul menyusul, serta panjang pendeknya. Terkadang ada malam yang panjang dan siang yang pendek. Lalu masing-masing jadi seimbang. Disanalah terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakekat banyak hal secara jelas dan nyata.
Ayat 191 - 194 menjelaskan bahwa orang yang dapat merasakan kekuasaan dan keberadaan Allah atas ciptaan-ciptaanNya yang tersebut diatas, mereka akan selalu mensyukuri, mengingat, dan mengabdi kepadaNya, baik disaat berdiri, duduk, dan berbaring. Mereka senantiasa merenungi dan mengambil i'tibar dari setiap kejadian sehingga menambah keimanannya, dan mereka meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia dari apa saja yang Allah ciptakan. Selanjutnya mereka berendah diri menghadap Allah dan mensucikanNya, mereka senantiasa berdoa serta mengakui atas kelemahan dan keterbatasan dirinya jika tanpa rahmat dan pertolonganNya, maka ia termasuk orang-orang yang dzalim. Doa mereka seperti yang Allah ajarkan termaktub pada ayat 192-194.
Asbabunnuzul ayat 188:
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Saw. pernah menanyakan sesuatu kepada mereka (Ahli Kitab) dan mereka menyembunyikannya serta memberitahukan hal yang lain kepadanya. Setelah itu mereka keluar dengan perasaan bahwa mereka telah memperlihatkan kepada beliau bahwa mereka telah menceritakan kepada beliau apa yang beliau tanyakan kepada mereka. Mereka ingin dipuji dengan perbuatan tersebut serta merasa gembira karena perbuatan mereka menurut mereka berhasil mengelabuinya dengan memberikan jawaban lain dan menyembunyikan jawaban yang sebenarnya dari Nabi Saw.(HR.Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)
Tadabbur Ayat
Ayat 195 sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal dan doa orang-orang yang selalu beribadah kepadaNya. Baik itu laki-laki maupun perempuan. Bagi setiap mereka sudah dipersiapkan balasan pahala yang sempurna. Begitu juga dengan orang orang yang terus berjihad mengerahkan segala tenaga untuk agama Allah, bahkan sampai terbunuh sekalipun. Allah pasti akan menggantinya dengan surga yang mengalir dibawahnya sungai sungai jernih sebagai balasan terhadap apa yang mereka perjuangkan. Dimana kenikmatan surga itu tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya oleh akal manusia.
Ayat 196-198 ayat ini diturunkan sebagai penghibur bagi kaum yang selalu merasa tertindas oleh orang kafir dalam hal keduniawian. Hendaklah jangan terpesona dengan penguasaan harta benda dan kemewahan orang-orang kafir. Sesungguhnya kenikmatan duniawi itu hanyalah nikmat sesaat. Sedangkan orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya, kenikmatan sejatinya adalah surga dan ridho Allah swt. Dan surga itu didapat dengan penuh kesungguhan.
Ayat 199 menerangkan bahwa diantara ahli kitab itu ada yang beriman kepada ayat-ayat Allah, beriman kepada kitab yang telah diturunkan. Dan keimanan ini menjadi sempurna karena mereka menjadi takut akan siksa Allah dan penuh harap akan rahmat Allah. Mereka itulah yang bersungguh-sungguh menaati segala perintah Allah, bukan seperti ahli kitab yang lain yang menjual ayat-ayat Allah dengan murah, dan terus-menerus menafikan tentang kebenaran ayat-ayat Allah.
Ayat 200 mengingatkan kaum mukminin bahwa sesungguhnya jalan menuju kemenangan hakiki itu harus ditempuh dengan penuh kesabaran. Sabar melawan hawa nafsu, sabar meninggalkan maksiat, sabar atas musibah dan sabar atas segala yg tidak disukai. Selain sabar diperlukan juga ikatan yang kuat antar sesama muslim dalam memperkuat barisan guna menghadapi musuh-musuh Islam. Dan kesabaran dan kebersamaan yang kuat inilah bisa membawa kita kepada kemenangan yang hakiki.
Asbabunnuzul ayat 195:
Bahwa Ummu Salamah ra. pernah berkata, "Wahai Rasulullah, kami belum pernah mendengar Allah menyebutkan kaum wanita dalam masalah hijrah." Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini (HR.Hakim, Ibnu Hatim, dan Tirmidzi).
Tadabbur Ayat
Ayat 1 Allah memulai surat ini dengan perintah untuk bertaqwa dan memelihara hubungan silaturrahim, karena pada dasarnya manusia adalah berasal dari seorang diri, yaitu Adam as., di mana hal ini menghendaki mereka untuk saling menyayangi antara satu dengan lainnya. Perintah taqwa diungkapkan sampai 2 kali menandakan arti pentingnya taqwa. Dengan taqwa, seorang hamba akan mawas diri dan selalu berhati-hati dalam bersikap, karena ia akan selalu merasa diawasi oleh Tuhannya.
Ayat 2 - 6 ada beberapa hal yang Allah ingatkan dalam pemeliharaan anak yatim:
- menjaga amanah tentang harta anak yatim; tidak memakannya, menukar, mencampur harta anak yatim dengan hartanya.
- jika ada hasrat menikahi perempuan yatim karena ada kecenderungan ingin menguasai hartanya, maka lebih baik ia menikahi wanita lain; dua, tiga, atau empat, asal ia yakin bisa berlaku adil. Dan itu lebih menyelamatkan daripada menikahi perempuan yatim tapi dengan niat jahat. Namun jika merasa tidak bisa adil, maka beristri satu itu lebih utama.
- wajib membayarkan mahar yang telah diikrarkan. Tapi jika istri merelakan, maka tidak mengapa. Dan para wali dilarang menguasai mahar perempuan yang diwalikannya.
- dilarang memberikan modal kerja kepada orang bodoh (belum baligh, kurang faham dalam bisnis dan hukum/aturan), tapi diwajibkan membantu kehidupan mereka dan pergauli dengan perkataan yang baik.
- batas waktu penyerahan harta anak yatim adalah ketika ia telah menikah atau sebelumnya jika sudah ada indikasi kecerdasan atau kedewasaannya.
- keluarga miskin boleh mengambil sebagian harta anak yatim sekedar ongkos kerja pemeliharaan mereka, sedangkan bagi keluarga kaya, lebih baik tidak mengambilnya.
- saat penyerahan harta warisan anak yatim, hendaklah menghadirkan saksi-saksi.
Asbabunnuzul ayat 3:
Dari Aisyah ra. bahwa ada seorang lelaki yang mempunyai anak perempuan yatim, lalu ia menikahinya. Sedangkan anak perempuan yatim itu mempunyai sebuah kebun kurma yang pemeliharaannya dipegang oleh lelaki tersebut, dan anak perempuan yatim itu tidak mendapat sesuatu maskawin pun darinya. Maka turunlah ini (HR.Bukhari).
Tadabbur Ayat
Ayat 7 - 11 menjelaskan tentang warisan dan sistem pembagiannya dalam Islam:
- Keluarga yang ditinggal mati, baik laki-laki maupun perempuan, masing-masing mempunyai hak terhadap harta yang ditinggalkan si mayit, sedangkan ketentuannya sudah Allah tetapkan ukuran bagiannya.
- Kerabat jauh, anak yatim, dan orang-orang miskin yang hadir saat pembagian warisan, sedangkan harta warisan cukup banyak, dianjurkan diberikan hadiah menurut kadar keikhlasan semua ahli waris (tidak lebih dari 1/3 harta warisan). Sebagian pendapat ahli tafsir, ayat 8 ini sudah dimansukh dengan ayat tentang pembagian harta waris.
- Hendaklah pada setiap diri untuk berusaha mempersiapkan anak keturunannya yang kuat dalam keimanannya dan tercukupi kebutuhan hidup sepeninggalnya.
- Orang yang memakan maupun berusaha menguasai harta anak yatim dengan dzalim, Allah ancam mereka dengan siksa api neraka.
- Sebelum harta warisan dibagikan, jika ada urusan hutang piutang dan wasiat, maka hendaklah diselesaikan terlebih dahulu.
- Dalam pembagian harta warisan, bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan, hal ini karena laki-laki bertanggung jawab penuh terhadap seluruh keluarganya.
- Bila almarhum meninggalkan anak perempuan seorang saja, maka bagiannya 1/2 dari harta warisan.
- Bila almarhum meninggalkan anak-anak perempuan, 2 atau lebih, maka bagian untuk kesemuanya 2/3.
- Jika almarhum mempunyai anak, ayah, dan ibu, maka ayah dan ibu masing-masing mendapat 1/6.
- Jika almarhum tidak mempunyai anak dan tidak ada pula ahli waris lainnya selain ayah dan ibunya, maka bagian ibu 1/3 dan ayah mendapat sisanya (ashobah).
- Jika disamping ayah dan ibu ada saudara-saudara almarhum, maka bagian ibu 1/6.
- Bahwa anak dan orang tualah yang banyak memberikan dampak pengaruh kebaikan pada diri seseorang baik saat hidup maupun setelah mati, maka tidak dibenarkan mengabaikan hak-hak mereka.
Asbabunnuzul ayat 11:
Dari Jabir yang menceritakan bahwa istri Sa'd ibnur Rabi' datang menghadap Rasulullah Saw., lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, kedua wanita ini adalah anak perempuan Sa'd ibnur Rabi', ayahnya telah gugur sebagai syuhada ketika Perang Uhud bersamamu. Sesungguhnya paman kedua anak perempuan ini mengambil semua hartanya dan tidak meninggalkan bagi keduanya sedikit harta pun, sedangkan keduanya tidak dapat menikah kecuali bila keduanya mempunyai harta." Jabir melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah Saw. bersabda: Allah akan memberikan keputusan mengenai hal tersebut.Maka turunlah ayat tentang pembagian waris. Kemudian Rasulullah Saw. mengirimkan utusan kepada paman kedua wanita itu dan bersabda (kepadanya):Berikanlah dua pertiganya kepada kedua anak perempuan Sa'd dan bagi ibu keduanya seperdelapan. sedangkan selebihnya adalah untukmu (HR.Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah).
Tadabbur Ayat
Ayat 12 - 14 masih melanjutkan tentang pembagian harta warisan:
- Suami mendapat 1/2 jika istri tidak meninggalkan anak.
- Suami mendapat 1/4 jika istri meninggalkan anak.
- Istri mendapat 1/4 jika suami tidak meninggalkan anak.
- Istri mendapat 1/8 jika suami meninggalkan anak.
- Saudara seibu laki-laki atau perempuan yang ditinggalkan sedang almarhum tidak mempunyai anak dan ayah (kalaulah), bila ia seorang diri, maka mendapat 1/6. Jika mereka lebih dari seorang, maka mereka mendapatkan 1/3 dan dibagi rata diantara mereka baik laki-laki maupun perempuan.
- Semua pembagian warisan diatas baru boleh dilaksanakan setelah urusan hutang piutang dan wasiat diselesaikan. Yaitu wasiat yang tidak memberatkan bagi ahli warisnya, seperti wasiat yang melebihi 1/3 dari harta, wasiat untuk salah satu ahli waris, dll.
Demikianlah ketentuan hukum waris yang Allah tetapkan. Allah janjikan surga bagi yang mematuhi syariatNya, dan siksa neraka bagi yang mengingkarinya.
Asbabunnuzul ayat 11 - 12:
Dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan: Rasulullah Saw. dan Abu Bakar datang dengan berjalan kaki menjengukku di Bani Salamah. Nabi menjumpaiku dalam keadaan tidak sadar akan sesuatu pun. Lalu beliau meminta air wudu dan melakukan wudu, kemudian mencipratkan (bekas air wudlunya itu) kepadaku hingga aku sadar. Lalu aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang akan engkau perintahkan kepadaku sehubungan dengan hartaku? Apa yang harus kuperbuat dengannya?" Maka turunlah ayat ini (HR.Muslim dan Nasai).
Tadabbur Ayat
Ayat 15 - 16 menerangkan tentang hukuman bagi wanita-wanita yang berbuat keji, seperti: zina, lesbian, dll. Hukuman baginya adalah dikurung didalam rumah sampai meninggal. Namun syarat penetapan hukuman tersebut adalah bila bisa mengajukan 4 saksi laki-laki yang adil. Sedangkan bagi 2 laki-laki yang melakukan homoseksual, maka hukum keduanya sampai mereka mau bertaubat dan mau memperbaiki diri. Hukuman di kedua ayat ini selanjutnya diganti dengan hukuman cambuk (bagi zina ghoiru muhson) dan rajam (bagi zina muhson) setelah turunnya ayat dalam surat An Nur dan hadits Nabi saw.
Ayat 17 - 18 menjelaskan tentang syarat-syarat taubat yang diterima:
- Kesalahan/dosa yang dilakukan dikarenakan ketidaktahuannya.
- Menyesali diri dengan bersegera bertaubat.
- Bertekad untuk tidak mengulangi lagi dan berusaha memperbaiki diri.
Sedangkan taubat yang tidak diterima adalah bertaubat yang ditunda-tunda hingga mendekati ajal, atau ia tidak sempat bertaubat hingga mati dalam kekufuran.
Ayat 19 menjelaskan tentang perlakuan terhadap wanita dalam Islam:
- Dilarang para orangtua/wali menguasai harta wanita (baik dari warisan ataupun dari pemberian mahar suaminya) dengan paksa.
- Dilarang para suami mencari-cari kesalahan istri karena hendak mengambil mahar yang diberikannya, kecuali jika ia berbuat zina.
- Mempergauli istri dengan baik.
- Bersabar terhadap apa yang dibenci yang ada pada istri, karena boleh jadi Allah memberikan banyak kebaikan dari apa yang tidak disukai tersebut.
Asbabunnuzul ayat 19:
Ibnu Abbas ra. menjelaskan bahwa pada masa jahiliyah, jika ada seorang lelaki wafat, para walinya itu boleh menikahi atau menikahkan istrinya itu dengan orang lain. Para walinya itu lebih berhak atas istrinya daripada keluarga istrinya itu. Maka turunlah ayat ini (HR.Bukhari dan Abu Dawud)
Tadabbur Ayat
Ayat 20 - 22 menerangkan tetang hukum-hukum rumah tangga dalam Islam:
- Jika hendak menceraikan istri, apa saja yang telah diberikan kepada isterinya tersebut dilarang memintanya kembali, karena mereka telah dihalalkan mengambil kenikmatan bersamanya dibawah ikatan pernikahan.
- Ada beberapa wanita yang haram dinikahi:
1. Janda dari istri ayah.
2. Ibu kandung.
3. Anak perempuan.
4. Saudara perempuan.
5. Bibi dari pihak ayah.
6. Bibi dari pihak Ibu.
7. Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan).
8. Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan).
9. Ibu susuan.
10. Saudara perempuan dari sesusuan.
11. Ibu mertua.
12. Anak perempuan dari istri (anak bawaan), jika ibunya telah digauli.
13. Menantu.
14. Saudara perempuan dari istri/ipar (memadu), kecuali jika telah bercerai.
Asbabunnuzul ayat 22:
dari Addi ibnu Sabit, dari seorang lelaki dari kalangan Ansar yang menceritakan bahwa tatkala Abu Qais (yakni Ibnul Aslat, salah seorang yang saleh dari kalangan Ansar) meninggal dunia, anak lelakinya melamar bekas istrinya. Lalu si istri berkata, "Sebenarnya aku menganggapmu sebagai anak, dan engkau termasuk orang yang saleh di kalangan kaummu. Tetapi aku akan datang terlebih dahulu kepada Rasulullah Saw Istri Ibnu Aslat berkata: sesungguhnya Abu Qais telah meninggal dunia." Nabi Saw. Bersabda, āBaik." Si istri bertanya.āSesungguhnya anak lelakinya (yaitu Qais) melamarku, sedangkan dia adalah seorang yang saleh dari kalangan kaumnya, dan sesungguhnya aku menganggapnya sebagai anak. Bagaimanakah menurut pendapatmu?" Nabi Saw. bersabda, "Kembalilah kamu ke rumahmu." Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahkalian. (An Nisa:22) hingga akhir ayat.(HR.Ibnu Abu Hatim).
JUZ 5
Tadabbur Ayat
Ayat 24 - 26 masih melanjutkan tetang wanita yang haram dinikahi berikutnya adalah:
15. Wanita-wanita yang masih bersuami, kecuali kepada budak tawanan perang yang suaminya tidak ikut tertawan. Syarat berikutnya adalah ia telah nyata kosong rahimnya (telah selesai haid/melahirkan).
Dari selain kelima belas wanita diatas, maka halal dinikahi dengan syarat seiman dan memberikan mahar kepada mereka, dengan niat untuk dinikahi, bukan untuk berzina (selain mahar, juga seizin walinya dan disaksikan minimal 2 orang saksi yang adil). Kewajiban memberi mahar kepada istri yang telah digauli, boleh minta diturunkan kadar harganya, dicicil, ataupun dibebaskan, asal sebelumnya sudah ditetapkan kadar harganya dan istri merelakannya.
Laki-laki yang belum mampu mendapatkan mahar untuk menikahi wanita merdeka, ia boleh menikahi hamba sahaya/budak beriman dengan seizin tuannya dan diberikannya mahar yang pantas menurut kesanggupannya. Nikahilah diantara mereka yang pandai memelihara diri dengan sebenarnya pernikahan (memenuhi hak dan tanggung jawab masing-masing), tidak sekedar untuk menyalurkan kebutuhan biologis saja. Namun apabila kalian bersabar sampai Allah mampu kan kalian untuk menikahi wanita merdeka, itu lebih baik.
Hamba sahaya yang berbuat zina, hukuman baginya adalah setengah dari hukuman orang merdeka.
Demikianlah Allah memberikan jalan-jalan kemudahan, agar kalian dapat menjaga syahwat diatas petunjuk yang benar, dan agar Allah menerima taubat kalian. Dan Allah Maha mengetahui lagi bijaksana.
Asbabunnuzul ayat 24:
Dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Saw. memperoleh tawanan wanita dalam Perang Autas, sedangkan tawanan-tawanan wanita itu mempunyai suami yang musyrik. Tersebutlah bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Saw. ada yang enggan dan merasa berdosa bila menggauli mereka. Maka turunlah ayat ini (HR.Muslim, Abu Dawud, Nasai, dan Tirmidzi).
Tadabbur Ayat
Ayat 27 - 28 menerangkan bahwa Allah dalam menetapkan hukum-hukum itu agar ditaati hambaNya sehingga Dia berkenan menerima taubatnya, meskipun banyak diantara manusia yang tergoda menuruti hawa nafsunya. Kemudian Allah berikan keringanan-keringanan agar tidak merasa berat mengikuti petunjukNya, karena memang pada dasarnya manusia bersifat lemah. Itulah diantara anugerah Allah yang diberikan hambaNya.
Ayat 29 - 33 Allah memberikan rambu-rambu dalam mendapatkan dan menyikapi harta kekayaan:
1. Tidak dengan cara yang batil, seperti: menipu, curang, mencuri, merampok, menganiaya diri sendiri maupun orang lain.
2. Didasarkan pada asas kerelaan, suka sama suka, transparan, dan dengan jalan yang benar/halal.
3. Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan. Demikian juga terdapat larangan melakukan/memperoleh sesuatu yang menyebabkan dirinya binasa di dunia atau akhirat.
4. Jauhi dosa-dosa besar yang akan menjauhkan kamu dari Allah dan rahmatNya. Harta kekayaan bisa menjadi anugerah, ujian, maupun adzab. Menjadi nikmat ketika ia membahagiakan tuannya, mendekatkan pada Tuhannya, dan memberikan manfaat bagi sekitarnya. Harta menjadi ujian ketika menggelisahkan tuannya, menyibukkan pemiliknya, dan melalaikan pada Tuhannya. Dan bisa menjadi adzab ketika ia menyengsarakan tuannya, menjauhkan pada Tuhannya, dan membuat orang-orang disekitarnya membencinya. Dengan menghindari dosa-dosa besar dalam memberlakukan harta kekayaannya, Allah janjikan dihapuskan dosa-dosa kecilnya.
5. Jangan iri terhadap nikmat Allah berupa kelebihan/kekayaan yang diberikan kepada orang lain. Yang demikian merupakan hasad, karena dia ingin nikmat Allah yang ada pada orang lain berpindah kepada dirinya. Hal itu dilarang, karena dapat membuahkan sikap kesal terhadap taqdir Allah, membuat malas serta membuahkan angan-angan yang tidak dibarengi amal dan usaha. Yang terpuji adalah jika seorang hamba berusaha sesuai kemampuannya untuk memperoleh hal yang bermanfaat baginya baik agama maupun dunianya.
6. Memperoleh harta dalam warisan hanya pada jalur garis keturunan dan kekerabatan. Sedangkan ikatan sumpah terhadap orang lain untuk mendapatkan harta setelah kematian adalah melalui jalur wasiat. Dan Allah Maha menyaksikan atas segala sesuatu.
Asbabunnuzul ayat 32:
Dari Mujahid yang menceritakan bahwa Ummu Salamah r.a. pernah berkata, "Wahai Rasulullah, kaum pria dapat ikut berperang, sedangkan kami (kaum wanita) tidak dapat ikut berperang, dan bagi kami hanya separo warisan (yang diterima lelaki)." Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini (HR.Tirmidzi dan Hakim).
Tadabbur Ayat
Ayat 34 - 35 menjelaskan tentang pedoman dalam berumah tangga yang Islami:
1. Kaum laki-laki adalah pemimpin, pemelihara, pembela, dan bertanggung jawab penuh terhadap istri dan keluarganya dalam hal nafkah lahir maupun batin dan ketentramannya. Maka setiap istri wajib mentaati suaminya dalam mengurus rumah tangganya, menjaga kehormatan, rahasia/aib, dan harta rumah tangganya.
2. Setiap istri berhak mengadukan suaminya yang meninggalkan kewajiban/tanggung jawabnya terhadap keluarga kepada hakim untuk di selesaikannya.
3. Terhadap istri yang tidak taat kepada suaminya, dapat dilakukan beberapa tindakan: dinasehati dengan baik dari pelan hingga tegas, berpisah tempat tidur, hingga boleh dipukul dengan pukulan yang ringan, tidak pada muka dan tidak meninggalkan bekas.
4. Jika terjadi persengketaan antara suami dan istri sudah pada tingkat menghawatirkan, hendaklah keluarga dari kedua pihak mencari dua orang hakam terdiri dari masing-masing pihak untuk mendamaikan atau mencari solusi penyelesaian yang terbaik.
Ayat 36 - 37 Allah perintahkan untuk menerapkan tata pergaulan keluarga yang akan mengantarkan keluarga bahagia dunia dan akhirat, yaitu:
- Dalam keluarga satu keimanan, taat beribadah kepada Allah tanpa menyekutukanNya.
- Berbuat baik kepada kedua orang tuanya, baik dari keluarga suami maupun istri.
- Menjaga hubungan baik kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman, ibnussabil, dan hamba sahaya.
- Menghindari prilaku sombong, Takabur, dan berbangga diri.
- Jangan bakhil, membenarkan kebakhilan, maupun mengajak orang untuk bakhil.
- Dilarang menyembunyikan kenikmatan/anugrah, sehingga akan berdampak timbulnya prasangka dan fitnah.
Asbabunnuzul ayat 36 - 37:
Ibnu Abbas ra. menjelaskan bahwa kedua ayat tersebut turun berkenaan dengan Kardam bin Zaid dan teman-temannya yang suatu hari datang menasehati orang-orang Anshar. Ia berkata:"Janganlah kalian menafkahkan harta yang kalian miliki, karena kami khawatir kalian akan jadi fakir, dan janganlah kalian tergesa-gesa menafkahkan harta kalian, karena kalian tidak mengetahui apa yang terjadi kelak".(HR.Ibnu Jarir).
Tadabbur Ayat
Ayat 38 - 42 menjelaskan bahwa syarat diterimanya infaq sesorang selain didapatkan dari jalan yang halal, adalah berinfak karena Allah swt.(lillaahi ta'ala) dan beriman kepada Allah dan hari akhir. Orang yang berinfaq karena riya' itu sama saja mengikuti perkataannya syaitan. Sebagaimana kikir terhadap karunia Allah dan menyembunyikan apa yang diberikan Allah, itu merupakan kemaksiatan, demikian pula orang yang. berinfak dan beribadah karena selain Allah, ia pun berdosa dan bermaksiat. Hal itu, karena Allah swt. memerintahkan menaatiNya dengan cara ikhlas, amalan yang didasari keikhlasan itulah yang diterima Allah dan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, di ayat ini Allah swt. mengajak untuk berpikir, yakni apa keberatannya mereka beriman kepada Allah dan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas?. Maka bagaimana nantinya saat hari ditegakkan keadilan dan dihadirkan para Nabi untuk menyaksikan pengadilan umatnya. Pada saat itu, para pendosa dan maksiat putus harapan dan tidak dapat lagi menyembunyikan amal perbuatannya.
Ayat 43 menjelaskan tentang beberapa hal yang disyaratkan sebelum melaksanakan ibadah sholat:
1. Allah melarang beribadah kepadaNya dalam keadaan mabuk, sampai ia mengerti apa yang dibacakannya.
2. Berwudlu ketika berhadats kecil, dan mandi ketika berhadats besar. Jika kesulitan menemukan air atau suatu keadaan darurat, maka boleh diganti dengan tayamum.
3. Orang yang sedang junub, dilarang berdiam diri di masjid, kecuali sekedar lewat karena suatu keperluan.
Ayat 44 Allah mencela orang-orang yang telah diberikan al kitab (umat Yahudi dan Nasrani), namun mereka tidak mau mengikuti hukum-hukum didalamnya. Mereka lebih memilih kesesatan daripada petunjuk, memilih kekafiran daripada keimanan dan memilih kesenangan sementara daripada kebahagiaan abadi. Allah mengingatkan bagi kaum mukmin agar tidak terpedaya oleh mereka dan tidak terjatuh seperti mereka.
Asbabunnuzul ayat 43:
Dari Ali ibnu Abu Talib yang menceritakan, "Abdur Rahman ibnu Auf membuat suatu jamuan makanan buat kami, lalu ia mengundang kami dan memberi kami minuman khamr. Lalu khamr mulai bereaksi di kalangan sebagian dari kami, dan waktu salat pun tiba." Kemudian mereka mengajukan si Fulan sebagai imam. Maka si Fulan membaca surat Al-Kafirun dengan bacaan seperti berikut, "Katakanlah, hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah, dan kami menyembah apa yang kalian sembah" (dengan bacaan yang keliru sehingga mengubah artinya secara fatal). Maka Allah menurunkan ayat ini (HR.Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, dan Hakim).
Tadabbur Ayat
Ayat 45 menjelaskan bahwa Allah yang lebih tahu siapa-siapa saja yang memusuhi Nabi Muhammad saw. dan kaum muslimin, maka hendaklah minta perlindungan dan pertolongan hanya kepadaNya.
Ayat 46 - 51 menjelaskan tentang beberapa kecenderungan sikap negatif kebanyakan orang-orang Yahudi yang menyebabkan hidayah Allah sulit mereka terima, diantaranya:
1 :Keras kepala; Tidak mau taat, dan suka membantah.
2:Merasa suci karena menganggap kaum pilihan yang diutamakan Allah, dan merendahkan kaum lainnya.
3:Suka mengada-adakan sesuatu dengan mengatasnamakan Allah tanpa ada bukti kebenaran untuk mendapatkan keuntungan sesaat.
4: Memutuskan, membela, maupun menyatakan antara kebaikan dan keburukan tidak merujuk pada hukum Allah, tapi atas dasar kemauan dan kedengkiannya.
Itulah diantara karakter orang-orang Yahudi yang perlu diwaspadai oleh umat Islam dalam menyikapi mereka, baik disaat bergaul, berdakwah, mendebat, maupun dalam upaya menolak permusuhannya. Jika mereka masih tidak mau mengimani Al Quran dan Nabi Muhammad saw., akan Allah laknat dengan kehinaan.
Allah juga menegaskan bahwa tidak ada ampunan terhadap dosa kemusyrikan yang dibawa hingga mati, sedangkan dosa selainnya bisa saja Allah ampuni jika menghendaki.
Asbabunnuzul ayat 49-50:
Dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu orang-orang Yahudi menempatkan anak-anak mereka sebagai imam dalam sembahyangnya, juga menyerahkan korban mereka kepada anak-anak tersebut. Mereka berbuat demikian dengan alasan bahwa anak-anak mereka masih belum berdosa dan tidak mempunyai kesalahan. Mereka berdusta, dan Allah menjawab mereka, "Sesungguhnya Aku tidak akan membersihkan orang yang berdosa karena orang lain yang tidak berdosa." Allah Swt. menurunkan kedua ayat ini (HR.Ibnu Abu Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 52 menyatakan bahwa orang-orang Yahudi yang memiliki karakter tersebut diatas dan orang-orang yang mengikuti jejaknya, niscaya mereka akan mendapatkan laknat dari Allah, dan tidak ada lagi penolong baginya.
Ayat 53 - 57 ayat ini menggambarkan bahwa orang yang tidak bisa memberikan kemanfaatan/kebaikan kepada manusia dan masyarakatnya, maka tidak patut dibawa ikut mengurus pemerintahan/kekuasaan. Allah contohkan dari beberapa keluarga besar Nabi Ibrahim as. yang telah nyata menebarkan kebaikan dengan petunjuk Allah berupa kitab dan hikmah, mereka banyak memegang pemerintahan yang besar. Bahwa setelah risalah Nabi Muhammad saw. telah didakwahkan, diantara mereka (ahlul kitab) ada yang beriman dan ada pula yang menentang dan memusuhi. Bagi yang ingkar, Allah sediakan neraka jahanam dengan siksaan yang menyakitkan, sedangkan bagi yang beriman dan beramal sholeh, Allah sediakan surga dengan aneka kesenangan dan pasangan yang suci lagi kekal didalamnya.
Ayat 58 - 59 Allah perintahkan kepada orang-orang mukmin dalam hidup bermasyarakat:
- Menunaikan/menjaga amanah.
- Berprilaku adil.
- Taat kepada Allah, Rasulullah, dan pemimpin-pemimpin mereka.
- Menjadikan Al Quran dan Hadits sebagai rujukan dalam memutuskan hukum suatu perkara.
Sungguh Allah dan RasulNya sebaik-baik pemberi pengajaran dibanding dengan lainnya, dan Allah Maha mendengar lagi melihat.
Asbabunnuzul ayat 59:
Dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya: taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian. (An-Nisa: 59) Bahwa Rasulullah Saw. pernah mengirimkan suatu pasukan khusus di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid, di dalam pasukan itu terdapat Ammar ibnu Yasir. Mereka berjalan menuju tempat kaum yang dituju oleh mereka; dan ketika berada di dekat tempat tersebut, mereka turun beristirahat karena hari telah malam. Kemudian mereka diketahui oleh mata-mata kaum yang dituju mereka, lalu mata-mata itu memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan mereka. Maka kaumnya pergi melarikan diri meninggalkan tempat mereka kecuali seorang lelaki yang memerintahkan kepada keluarganya agar semua barang mereka dikemasi. Kemudian ia sendiri pergi dengan berjalan kaki di kegelapan malam hari menuju ke tempat pasukan Khalid ibnul Walid. Setelah ia sampai di tempat pasukan kaum muslim, maka ia menanyakan tentang Ammar ibnu Yasar, lalu ia datang kepadanya dan mengatakan, "Hai Abul Yaqzan, sesungguhnya sekarang aku masuk Islam dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Sesungguhnya kaumku setelah mendengar kedatangan kalian; mereka semuanya melarikan diri, tetapi aku tetap tinggal di tempat. Maka apakah Islamku ini dapat bermanfaat bagiku besok pagi nanti? Jika tidak, maka aku pun akan ikut lari." Ammar menjawab, "Tidak, bahkan Islammu dapat bermanfaat untuk dirimu. Sekarang pulanglah, dan tetaplah di tempat tinggalmu!" Lalu lelaki itu pulang dan menetap di tempatnya. Pada keesokan harinya Khalid ibnul Walid datang menyerang, dan ternyata ia tidak menemukan seorang pun dari musuhnya selain lelaki tadi, lalu Khalid menawannya dan mengambil semua hartanya. Ketika sampai berita itu kepada Ammar, maka Ammar datang kepada Khalid dan mengatakan kepadanya, "Lepaskanlah lelaki ini, karena sesungguhnya dia telah masuk Islam, dan sesungguhnya dia telah berada di bawah perlindunganku." Khalid berkata, "Atas dasar apakah kamu memberi perlindungan?" Keduanya bertengkar, dan akhirnya keduanya melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. memperbolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya mengulangi perbuatannya lagi, yakni memberikan perlindungan tanpa seizin pemimpin pasukan. Keduanya masih terus berbalas caci-maki di hadapan Rasulullah Saw. Maka Khalid berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau biarkan saja budak yang hina ini mencaciku?" Rasulullah Saw. menjawab: Hai Khalid, janganlah engkau mencaci Ammar, karena sesungguhnya barang siapa yang mencaci Ammar, Allah membalas mencacinya; dan barang siapa yang membenci Ammar, Allah membalas membencinya; dan barang siapa yang melaknat Ammar, maka Allah membalas melaknatnya. Ammar masih dalam keadaan emosi. Maka ia bangkit dan pergi, lalu diikuti oleh Khalid. Kemudian Khalid menarik bajunya dan meminta maaf kepadanya. Akhirnya Ammar memaafkannya. Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini (HR.Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 60 - 63 menjelaskan tentang penolakan orang-orang munafik dalam menetapi hukum-hukum Allah dan RasulNya:
1. Mereka mengatakan beriman pada Al Quran, tapi berhukum dengan hukum lain.
2. Jika diajak untuk kembali menggunakan hukum Allah, mereka berusaha menghindar dan berusaha membelokkan dengan berbagai argumen.
3. Jika terjadi musibah dikarenakan ulah perbuatannya, mereka baru kembali ke hukum Allah dan RasulNya sambil bersumpah bahwa ia ingin kebaikan untuk menutupi kesalahannya.
Kepada orang-orang yang mempunyai karakter demikian, Allah menyuruh untuk berpaling darinya, jangan ikuti kemauannya, dan berilah pelajaran dan kata-kata bijak yang membekas.
Ayat 64 - 65 menjelaskan bahwa Allah menurunkan para Rasul adalah untuk diikuti dan ditaati, dan apabila mereka datang kepada Rasulullah untuk minta dimohonkan ampunan kepada Allah, tentu Allah akan memberikan ampunan padanya. Sebegitu dekatnya para rasul kepada Allah swt., hingga Allah nyatakan, tidaklah dikatakan beriman seseorang hingga orang tersebut berhukum dengan hukum Allah dan RasulNya (bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rasul saw.) dalam setiap memutuskan suatu perkara, dan ia menerima dengan sepenuh hati.
Asbabunnuzul ayat 60 - 62: dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu Abu Barzah Al-Aslami adalah seorang tukang ramal; dialah yang memutuskan peradilan di antara orang-orang Yahudi dalam semua perkara yang diperselisihkan di kalangan mereka. Lalu kaum musyrik pun ikut-ikutan berhakim kepadanya. Maka Allah Swt. menurunkan ketiga ayat ini (HR.Tabrani dan Ibnu Abi Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 66 - 68 menjelaskan bahwa kebanyakan manusia enggan melaksanakan hukum-hukum Allah yang dirasa berat, seperti perintah yang berhubungan pengorbanan jiwa, harta, maupun tempat tinggal, misal: perang, hijrah, zakat, dll. Tapi bagi orang yang imannya kuat, mereka akan taat menunaikannya, meskipun perintah itu terasa berat. Padahal dengan ketaatannya itu akan berakibat baik baginya, akan semakin menguatkan keimanannya, menumbuhkan sifat-sifat terpuji, pahala yang besar, dan petunjuk Allah selalu menyertainya.
Ayat 69 - 70 Allah menjanjikan kepada orang-orang yang bersedia diri untuk mentaati Allah dan RasulNya, akan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang dalam jaminan curahan nikmat-nikmat Allah atasnya, yaitu diantaranya adalah: para Nabi, siddiqin, syuhada, dan orang-orang shaleh. Mereka itu adalah sebaik-baik golongan dalam pandangan Allah, dan orang-orang yang beserta mereka akan memperoleh karunia Allah yang besar. Cukup hanya Allah yang mengetahui siapa saja mereka.
Ayat 71 - 73 menerangkan tentang prinsip, strategi, dan persiapan dalam perang:
- selalu dalam keadaan siap siaga dan waspada, diantaranya dengan pelatihan kemiliteran, senjata, logistik, dan penguasaan medan.
- maju di medan perang dengan berkelompok-kelompok maupun serempak sesuai dengan keadaan dan mengikuti komando pimpinan.
- Dalam setiap pertempuran, selalu ada orang-orang yang lemah semangatnya, maupun yang hendak melemahkan. Maka harus punya komitmen dan disiplin yang kokoh, sehingga tidak mudah terpengaruh.
- Niatkan maju ke medan perang karena berjuang dijalan Allah, bukan maksud yang lain. Berperang di jalanNya akan memperoleh salah satu dari 2 kebajikan: mati syahid atau menang dalam peperangan.
Asbabunnuzul ayat 69-70:
Dari Siti Aisyah yang mengatakan bahwa pernah seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar lebih aku cintai daripada diriku sendiri, dan lebih aku cintai daripada keluargaku, serta lebih aku cintai daripada anakku. Sesungguhnya bila aku berada di dalam rumah, lalu aku teringat kepadamu, maka aku tidak sabar lagi sebelum bersua denganmu dan melihatmu. Tetapi bila aku ingat akan matiku dan matimu, maka aku mengetahui jika engkau dimasukkan ke dalam surga pasti diangkat kedudukanmu bersama para nabi. Jika aku masuk surga, aku merasa khawatir bila tidak dapat melihatmu lagi." Nabi Saw. diam, tidak menjawab, hingga turunlah kedua ayat ini (HR.Ath Thabrani)
Tadabbur Ayat
Ayat 75 - 76 menjelaskan bahwa tujuan perang dalam Islam diantaranya adalah:
- membela diri dan menolak dari gangguan-gangguan bagi tegaknya Islam dan kaum muslimin.
- membebaskan orang-orang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak dari penindasan dan penganiayaan orang-orang kafir.
- adalah sebuah kewajibn membebaskan orang-orang Islam yang ditawan oleh musuh, baik dengan negoisasi, tebusan, maupun perang.
Bahwa tipu daya/konspirasi yang dijalankan orang-orang kafir adalah berasal dari syaitan dan sudah pasti lemahnya, maka yakinkan terhadap pejuang mukmin yang berperang dijalan Allah akan kemenangannya.
Ayat 77 - 79 Allah mencela sikap orang-orang yang lemah imannya yang enggan berperang ketika perintah perang diturunkan. Mereka lebih takut manusia daripada takut kepada Allah. Padahal siapapun tidak ada yang dapat menghindari maut ketika ajalnya sudah tiba, sekalipun ia berlindung didalam benteng yang kokoh. Apabila ia memperoleh kebaikan, ia berkata:"ini dari Allah swt", tapi apabila ia mendapat musibah/bencana, ia timpakan kesalahan pada orang lain. Orang yang lurus imannya, dalam menyikapi setiap kejadian, ia akan mengembalikan sepenuhnya kepada Allah dan dengan izinNya, yaitu jika mendapat kebaikan ia bersyukur, dan apabila mendapat musibah, ia akan introspeksi diri, bersabar, berusaha memperbaiki diri, dan tawakkal kepadaNya.
Asbabunnuzul ayat 77:
Dari Ibnu Abbas, bahwa Abdur Rahman ibnu Auf dan beberapa orang temannya datang menemui Nabi Saw. di Mekah. Lalu mereka berkata, "Wahai Nabi Allah, dahulu kami berada dalam kejayaan ketika masih musyrik. Tetapi setelah beriman, kami menjadi kalah." Nabi Saw. bersabda:Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memberi maaf (terhadap tindakan-tindakan kaum musyrik). Karena itu, janganlah kalian memerangi kaum itu. Setelah Allah memindahkan Nabi Saw. ke Madinah, maka Allah memerintahkannya untuk memerangi orang-orang musyrik. Ternyata mereka yang berkata demikian tidak mau berperang. Maka Allah menurunkan ayat ini (HR.Nasai, Ibnu Abu Hatim, dan Hakim).
Tadabbur Ayat
Ayat 80 - 86 menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh oleh umat Islam agar keimanannya kuat dan tata pergaulan antar sesama muslim terjaga, diantaranya:
1. Ketaatan yang total terhadap Rasulullah setelah taat kepada Allah swt., disebabkan dari rasul-lah perintah dan larangan, janji dan ancaman, hukum-hukum Allah tersampaikan kepada umat manusia. Beliau juga tidaklah memerintah dan melarang kecuali dengan petunjuk Allah.
2. Membaca dan memperhatikan isi kandungan dari Al Quran. Selanjutnya berusaha menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Tidak mudah termakan isu, terprovokasi, dan dilarang mengambil tindakan sendiri-sendiri. Setiap ada kabar yang belum jelas kebenarannya, dan apabila ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya maka hendaklah meminta konfirmasi dari sumbernya atau kepada pihak yang berwenang.
4. Yakini bahwa hukum-hukum Allah yang telah disyariatkan adalah sesuai dengan kadar kemampuan hambaNya. Seperti kewajiban untuk angkat senjata berperang dijalan Allah. Sebab itu tugas pemimpin adalah memotivasi, membakar semangat juang mereka, karena dengan perang, kejahatan orang-orang kafir dapat dicegah dan dihentikan.
5. Tolong menolong dalam hal kebaikan dan jangan bantu membantu dalam keburukan. Standar baik dan buruknya sesuatu adalah dengan ukuran hukum Allah (agama).
6. Menumbuhkan tata kesopanan ketika bertemu atau berhubungan antar manusia. Allah perintahkan kita ketika diucapkan salam penghormatan, untuk menjawab dengan yang lebih baik atau sepadan. Mafhumnya adalah larangan tidak menjawab sama sekali atau menjawab yang kurang (tidak sepadan). Termasuk membalas penghormatan adalah memberikan penghormatan balik yang biasa dilakukan manusia, selama ucapan/perbuatan tersebut tidak terlarang secara syara' .
Asbabunnuzul ayat 83:
Dari umar bin khattab, bahwa ketika ia mendengar berita bahwa Nabi Saw. menceraikan istri-istrinya. Maka ia datang dari rumahnya, lalu masuk ke dalam masjid, dan ia menjumpai banyak orang yang sedang memperbincangkan berita itu. Umar tidak sabar menunggu, lalu ia meminta izin menemui Nabi Saw. dan menanyakan kepadanya apakah memang benar beliau menceraikan semua istrinya? Ternyata jawaban Rasulullah Saw. negatif (yakni tidak). Aku (Umar) bertanya, "Apakah engkau menceraikan mereka semua?" Nabi Saw. menjawab, "Tidak." Aku bangkit dan berdiri di pintu masjid, lalu aku berkata dengan sekeras suaraku, menyerukan bahwa Rasulullah Saw. tidak menceraikan istri-istrinya. Lalu turunlah ayat ini (HR.Muslim).
Tadabbur Ayat
Ayat 87 menjelaskan bahwa hanya Allah saja yang berkuasa mengumpulkan seluruh umat manusia di hari kiamat nanti. Baik dari orang mukmin, orang fasik, orang munafik, orang kafir, maupun orang musyrik, semua akan diputuskan, siapa yang lebih benar perkataannya/alasannya.
Ayat 88 - 91 menerangkan tetang bagaimana menyikapi prilaku orang-orang munafik dalam kehidupan bermasyarakat bersama umat Islam:
1. Bersikap waspada dan tegas terhadap mereka, hingga mereka kembali taat kepada ajaran Islam.
2. Tidak menjadikannya sebagai teman dekat, penolong, apalagi pemimpin.
3. Jika mereka berlindung kepada kaum yang ada perjanjian damai dengan kaum muslimin, maka biarkanlah mereka.
4. Atau jika mereka berlindung kepada kaum yang tidak memusuhi kaum muslimin, maka biarkanlah mereka.
5. Atau jika mereka berlindung kepada kaum yang minta perlindungan terhadap kaum muslimin, maka biarkanlah mereka.
6. Atau jika mereka menyerahkan diri berlindung didalam pemerintahan umat Islam, maka keamanan mereka dijamin.
7. Tapi jika mereka membuat gangguan dan permusuhan dengan kaum muslimin, atau mereka bersekutu dengan kaum yang memusuhi kaum muslimin, maka perangilah mereka dimana mereka berada.
Asbabunnuzul ayat 88: dari Zaid ibnu Sabit, bahwa Rasulullah Saw. berangkat menuju medan Perang Uhud, lalu di tengah jalan sebagian orang yang tadinya berangkat bersama beliau kembali lagi ke Madinah. Sahabat-sahabat Rasulullah Saw. dalam menanggapi mereka yang kembali itu ada dua pendapat: Suatu golongan berpendapat bahwa mereka harus dibunuh; sedangkan golongan yang lain mengatakan tidak boleh dibunuh, dengan alasan bahwa mereka masih orang-orang mukmin. Maka Allah Swt. menurunkan ayat ini (HR.Bukhari dan Muslim).
Tadabbur Ayat
Ayat 92 menerangkan tentang hukuman bagi orang yang membunuh orang mukmin dengan tidak sengaja:
1. Jika yang terbunuh tinggal bersama dilingkungan kaum muslimin, maka hukuman bagi pelaku adalah memerdekakan budak mukmin dan membayar diyat.
2. Jika yang terbunuh tinggal bersama kaum kafir yang memusuhi, maka hukuman bagi pelakunya adalah membayar diyat saja.
3. Jika yang terbunuh tinggal bersama orang kafir yang mempunyai perjanjian damai dengan umat Islam, maka hukuman bagi pelakunya adalah membayar diyat dan memerdekakan budak mukmin.
Ukuran diyat pembunuhan adalah 100 ekor unta, 200 ekor sapi, 2000 ekor kambing, 200 perhiasan, atau uang yang setara dengan harga diatas.
Jika tidak menemukan budak mukmin sebagai syarat tebusan, maka boleh diganti dengan puasa 2 bulan berturut-turut. Syarat memerdekakan budak mukmin atau puasa tersebut dibebankan kepada pelaku pembunuhan, sedangkan diyat dibebankan kepada kerabat dari si pembunuh menurut garis keturunan ayahnya. Diyat bisa saja berkurang atas bebas menurut kerelaan dari keluarga korban.
Ayat 93 Allah sangat murka kepada orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja. Perbuatan tersebut merupakan dosa besar, dan hukumannya adalah qishas. Mereka juga diancam dengan adzab neraka jahanam diakhirat nanti.
Hukuman dalam Islam ada 3 jenis:
1. Hudud, adalah hukuman yang sudah ditentukan dalam alquran, seperti rajam bagi orang yang berzina, sedang ia sudah menikah, cambuk bagi yang belum menikah dst.
2. qishos, yaitu hukuman yang sama dengan pelanggarannya, seperti yang membunuh dibunuh dst.
3. Ta'zir, yaitu hukuman yang tidak ditentukan dalam alquran dan hadist, dan vonisnya diserahkan kepada hakim berdasarkan besar dan kecilnya kejahatan yang dilakukan, atau berdasarkan akibat dari kejahatan yang dilakukan pelaku.
Ayat 94 Allah memerintahkan untuk bersikap hati-hati dan teliti. Jika orang yang keluar berjihad fii sabilillah untuk memerangi musuh Allah diperintahkan untuk meneliti lebih dahulu terhadap orang yang menyampaikan salam, sedangkan qarinah (tanda) yang menunjukkan bahwa ia mengucapkan salam hanyalah untuk menjaga diri agar tidak dibunuh begitu kuat, maka dalam keadaan lain yang di sana terdapat kesamaran juga diperintahkan untuk meneliti lebih dulu sampai perkaranya jelas dan diketahui yang benar dan yang salah. Allah akan memberikan balasan terhadap amal dan niat seseorang mengikuti pengetahuan-Nya terhadap keadaan hamba dan niat mereka.
Asbabunnuzul ayat 94: dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan Muhallim ibnu Jusamah bersama suatu pasukan. Lalu di tengah jalan mereka bersua dengan Amir ibnul Adbat, maka Amir mengucapkan salam penghormatan Islam kepada mereka. Dahulu di masa Jahiliah pernah terjadi permusuhan di antara mereka. Maka Muhallim membidiknya dengan anak panah hingga Amir mati. Berita itu sampai kepada Rasulullah Saw. Maka Uyaynah dan Al-Aqra' membicarakan hal tersebut. Untuk itu ia Al-Aqra' berkata, "Wahai Rasulullah, kirimkanlah pasukan hari ini dan adakanlah serangan pada keesokan harinya." Uyaynah berkata, "Tidak, demi Allah, sebelum wanita-wanitanya (istri-istrinya) merasakan kehilangan dia sebagaimana yang dirasakan oleh wanita-wanitaku." Lalu datanglah Muhallim dengan memakai baju burdah dua lapis. Ia langsung duduk di hadapan Rasulullah Saw. dengan maksud meminta maaf kepadanya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: Semoga Allah tidak mengampunimu! Maka Muhallim pergi dalam keadaan menangis dan air matanya membasahi baju burdahnya. Belum lagi sampai satu minggu, Muhallim meninggal dunia, lalu mereka menguburnya, tetapi bumi menolaknya. Maka mereka (kaumnya) datang kepada Nabi Saw. dan menceritakan peristiwa tersebut kepadanya. Maka beliau Saw. bersabda: Sesungguhnya bumi ini menerima pula orang yang lebih jahat dari teman kalian itu, tetapi Allah bermaksud memberikan pelajaran kepada kalian.Kemudian mereka melemparkan jenazahnya ke celah bukit, lalu menimbunnya dengan batu-batuan. Dan turunlah ayat ini (HR.Ibnu Jarir).
Tadabbur Ayat
Ayat 95 - 96 Allah swt. menyebutkan kedudukan seseorang secara bertingkat, dari yang rendah kepada yang tinggi. Bahwa tidaklah sama apa yang diraih antara orang-orang mukmin yang berjihad dengan yang tidak berjihad, selanjutnya Allah menegaskan kedudukan mujahid di atas orang yang duduk tidak berjihad. Allah menjanjikan akan memberikan ampunan, rahmat dan beberapa derajat. Penyebutan secara bertingkat dari bawah ke atas dan seterusnya merupakan pengutamaan dan pujian, sedangkan penyebutan dari bawah ke bawah lagi merupakan perendahan dan pencelaan. Yang demikian adalah lafaz yang paling indah dan lebih masuk ke hati.
Ayat 97 - 100 menjelaskan tentang sebab dan keutamaan hijrah:
- Allah mewajibkan atas kaum muslimin untuk berhijrah bilamana dilingkungan yang ia tempati memberikan pengaruh besar terjadinya dosa, maksiat, dan kemungkaran bagi dirinya dan agamanya. Oleh karena itu, di mana saja seorang hamba selalu terkena kezaliman (tidak merasa aman) dan tidak bisa menjalankan agamanya, maka di sana ada tempat lain yang ia bisa beribadah di tempat itu karena bumi Allah itu luas.
- Hukum ini dikecualikan bagi orang-orang yang lemah, seperti anak-anak, wanita, orang yang sudah sangat tua, orang cacat, dan orang-orang yang tidak tau jalan untuk hijrah.
- Bagi orang yang berniat untuk berhijrah, Allah janjikan tempat yang aman lagi luas, sedangkan orang yang sudah keluar untuk berhijrah dan meninggal dalam perjalanannya, Allah berikan pahala untuknya.
Ayat 101 menjelaskan tentang keringanan dari Allah untuk menqashar sholat yang harus diambil dalam keadaan dan waktu tertentu. Menqashar lebih utama berdasarkan beberapa alasan:
Pertama, Nabi saw. senantiasa mengqashar shalatnya ketika safar.
Kedua, mengqashar merupakan bentuk kelonggaran dan rahmat (kasih sayang) Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah swt. suka apabila rukhshah-Nya dikerjakan sebagaimana Dia tidak suka maksiat dikerjakan.
Zhahir ayat ini adalah bahwa qashar shalat yang berjumlah empat menjadi dua tidak dilakukan kecuali ada dua sebab, yaitu safar dan kondisi mengkhawatirkan.
Asbabunnuzul ayat 97: dari Ibnu Abbas menceritakan bahwa dahulu ada suatu kaum dari kalangan penduduk Mekah. mereka menyembunyikan keislamannva. Tetapi kaum musyrik memaksa mereka berangkat berperang dalam Perang Badar bersama-sama mereka, lalu ada sebagian dari mereka yang gugur. Maka orang-orang muslim berkata. "Mereka yang gugur di antaranya terdapat sahabat-sahabat kita, yaitu kaum muslim; mereka dipaksa mengikuti perang." Akhirnya mereka memintakan ampun buat mereka yang gugur. Maka turunlah ayat ini (HR.Bukhari dan Ibnu Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 102 - 103 menjelaskan tentang pentingnya shalat berjamaah bagi umat Islam, hingga dalam keadaan perang pun, Allah mengatur tata cara sholatnya dengan diberikan beberapa keringanan, seperti di qoshor dan praktek sholat yang sedikit berbeda pada sholat ketika situasi perang (sholat khouf). Tata cara pelaksanaan sholat khouf adalah sebagai berikut:
- seorang Imam membagi pasukannya menjadi 2 kelompok.
- Imam sholat berjamaah bersama kelompok pertama dengan tetap memegang senjata, sedangkan kelompok kedua berjaga-jaga dengan siap sedia senjatanya masing-masing.
- saat sholat sudah menyelesaikan rakaat pertama, kelompok pertama mundur menempati posisi kelompok kedua untuk berjaga-jaga dan waspada, sedangkan kelompok kedua melaksanakan sholat bersama imam, dengan posisi tetap memegang senjata.
- setelah imam salam menyelesaikan sholatnya, selanjutnya kelompok pertama menyempurnakan sholatnya sendiri-sendiri, sedangkan kelompok kedua berjaga-jaga. Kemudian setelah kelompok pertama selesai, baru kelompok kedua menyempurnakan sholatnya.
Diperbolehkan meletakkan senjata dalam keadaan tersebut apabila dalam keadaan hujan atau sakit, namun tetap menjaga kewaspadaannya.
Apabila telah selesai melaksanakan sholat, maka tetaplah mengingat Allah dalam keadaan bagaimanapun, baik ketika berdiri, duduk, berbaring. Dan apabila keadaan sudah aman, maka pelaksanaan sholat kembali seperti biasanya. Demikianlah Allah mengajarkan sholat dan Allah telah menetapkan sholat pada waktu yang telah ditentukan.
Ayat 104 Allah memerintahkan untuk tetap bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang yang memusuhi Islam dan selalu waspada. Mereka tidak henti-hentinya mencari kelengahan dan kelemahan umat Islam. Kalian mempunyai banyak harapan kepada Allah, sedangkan mereka hanya menginginkan kesenangan dunia saja.
Ayat 105 menjelaskan bahwa Al Qur'an turun dengan kebenaran, mengandung kebenaran, beritanya benar, perintah dan larangannya pun adil, maka hukumilah perkara manusia dengan adil, tidak dengan hawa nafsumu. Al Qur'an merupakan penyelesai masalah di tengah-tengah manusia, baik dalam masalah 'aqidah, hukum, masalah darah, kehormatan, harta dan hak-hak lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hakim harus berilmu dan adil. Dalil berilmu berdasarkan firman Allah, "dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu" dan dalil adil berdasarkan firman Allah, "dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang khianat", yakni janganlah kamu membela orang yang kamu ketahui khianatnya, orang yang mendakwakan sesuatu padahal bukan miliknya, orang yang mengingkari hak yang ditanggungnya, baik kamu mengetahuinya maupun berdasarkan perkiraanmu. Dalam ayat ini terdapat dalil haramnya membela kebatilan dan menjadi pengacara untuk orang yang batil. Dalam ayat tersebut juga terdapat dalil bolehnya menjadi pengacara bagi orang yang tidak diketahui berbuat zalim.
Asbabunnuzul ayat 102: dari Abu Ayyasy Az-Zuraqi yang menceritakan, "Ketika kami bersama-sama Rasulullah Saw. di Asfan, orang-orang musyrik yang di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid (yang saat itu belum masuk Islam) datang hendak menyerang kami. Posisi mereka terletak di antara kami dan arah kiblat. Maka Rasulullah Saw. melakukan salat dzuhur bersama kami." Mereka (pasukan kaum musyrik) berkata, "Sesungguhnya mereka berada di dalam suatu posisi yang menguntungkan, seandainya saja kita menyerang mereka di saat mereka lengah." Kemudian mereka mengatakan pula, "Sekarang telah tiba saatnya bagi mereka suatu salat yang lebih mereka sukai daripada anak-anak dan diri mereka sendiri." Maka turunlah Malaikat Jibril di antara salat dzuhur dan Asar dengan membawa ayat ini (HR.Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim).
Tadabbur Ayat
Ayat 106 - 113 menjelaskan tentang prilaku para pengkhianat dan sikap bijak dan hati-hati dalam setiap memutuskan suatu perkara, diantaranya:
- Tidak mudah percaya terhadap tuduhan maupun pembelaan kedua pihak yang sedang berperkara/bersengketa.
- Jangan memberikan pembelaan terhadap orang yang terindikasi berkhianat. Jika terlanjur, segera beristighfar mohon ampun kepada Allah swt.
- Para pengkhianat akan berusaha menutupi kesalahan dan kecurangannya dengan berbagai cara.
- Orang-orang yang membela para pengkhianat, padahal mereka tau atas perbuatan buruknya, mereka mungkin bisa lepas dari hukum manusia, namun mereka tidak akan lepas dari pengawasan Allah.
- Mereka hendak bersekutu untuk meraih kenikmatan dunia dengan keburukannya, tapi Allah akan memperhitungkan dan tidak ada lagi penolong baginya.
- Barang siapa berbuat curang/berkhianat, kemudian menyesali diri dan mohon ampunan, sungguh Allah Maha pengampun lagi penyayang.
- Barang siapa yang berkhianat kemudian mereka melemparkan kesalahan kepada orang lain, sungguh mereka telah menanggung dosa berlipat ganda.
- Perbuatan curang/khianat, cepat atau lambat, Allah akan bukakan aibnya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.
- Hanya karena rahmat dan karunia Allah lah, yaitu dengan diturunkan Al Quran, hadits rasul, dan ilmu pengetahuan, Allah berikan hukum yang berkeadilan dan Allah selamatkan kaum muslimin dari kecurangan dan pengkhianatan orang-orang yang hendak merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam dari upaya penyesatan dan makar mereka.
Asbabunnuzul ayat 110: dari Abu Darda menceritakan hadis berikut: "Rasulullah Saw. bilamana kami sedang duduk di sekitarnya, lalu beliau hendak membuang hajatnya, maka beliau bangkit untuk menunaikan hajatnya; dan bila beliau hendak kembali lagi ke majelisnya, maka ditinggalkannya sepasang terompahnya atau salah satu dari pakaiannya. Kali ini beliau Saw. bangkit ke hajatnya dan meninggalkan sepasang terompahnya." Abu Darda melanjutkan kisahnya, "Lalu Nabi Saw. membawa segayung air, dan aku mengikutinya. Kemudian beliau pergi selama sesaat, tetapi kembali lagi tanpa menunaikan hajatnya, lalu bersabda:'Sesungguhnya telah datang utusan dari Tuhanku yang menyampaikan, barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka aku bermaksud untuk menyampaikan berita gembira ini terlebih dahulu kepada sahabat-sahabatkuā." Abu Darda melanjutkan kisahnya, "Terasa berat oleh orang-orang ayat yang sebelumnya, yaitu firman-Nya:'Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu' (An-Nisa: 123). Setelah Rasulullah Saw. menyampaikan berita gembira itu, maka aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, sekalipun dia telah berzina dan telah mencuri, lalu ia memohon ampun kepada Tuhannya, niscaya Allah memberikan ampunan baginya?' Rasulullah Saw. menjawab, 'Ya.' ....(HR.Ibnu Murdawaih).
Tadabbur Ayat
Ayat 114 - 115 Allah menyatakan bahwa bukanlah suatu kebaikan, perbuatan berbisik/berbicara rahasia kecuali dalam 3 hal:
1. Dalam memberikan atau menyampaikan sedekah, karena dikhawatirkan jika dilakukan dengan terang-terangan, akan timbul sifat riya', atau akan menimbulkan anggapan merendahkan bagi penerimanya.
2. Beramar ma'ruf nahi munkar, seperti mengingatkan kesalahan orang, tidak baik dilakukan didepan orang banyak, karena bisa jadi akan menyinggung perasaannya.
3. Mendamaikan perselisihan. Jika dikatahui orang banyak, bisa jadi akan menimbulkan fitnah, dianggap membela pihak lain, dianggap ikut campur, dll.
Selain ketiga itu, berbisik merupakan perbuatannya tidak terpuji, apalagi jika yang di bisikkan adalah sesuatu yang mendatangkan dosa, permusuhan, maupun menentang ajaran Rasulullah, maka itu adalah perbuatan setan dan terlarang.
Ayat 116 - 121 menjelaskan tentang hakekat orang-orang yang menyekutukan Allah (syirik) dan ancaman baginya, yaitu:
1. Perbuatan syirik adalah dosa yang paling besar, karena menganggap Allah lemah. Allah sekali-kali tidak akan mengampuni dosa orang yang mati dalam keadaan musyrik dan belum sempat bertaubat.
2. Orang-orang yang menyembah selain Allah, sama saja menyembah dan mengikuti tipu daya syaitan. Diantara tipu daya syaitan adalah menyesatkan manusia dari jalan kebenaran, memunculkan angan-angan kosong, dan berusaha merubah ciptaan Allah. mengubah penampilan fisik, seperti melakukan tato, menipiskan gigi, mencabut alis, merenggangkan gigi dsb. (Dalam penafsiran lain, yang dimaksud merubah ciptaan Allah adalah merubah agama Allah (tauhid), dirubah dengan agama lain.
3. Jika manusia sudah termakan tipu daya setan, setan akan memasukkan bisikan kedalam hati manusia dengan janji-janji, seperti janji akan berumur panjang dan sebagainya. Janji atau wa'd bisa juga berarti wa'id (ancaman) sebagaimana setan menjanjikan kemiskinan jika manusia bersedekah dan berinfak, yakni mengancam akan mendapatkan kemiskinan. Setan juga menakut-nakuti manusia, jika mereka berjihad akan terbunuh.
Tadabbur Ayat
Ayat 122 - 124 Setelah disebutkan pada ayat sebelumnya tempat kembalinya orang-orang yang celaka yang menjadi wali-wali setan adalah neraka, maka pada ayat ini disebutkan tempat kembali orang-orang yang beriman yang menjadi wali-wali Allah adalah surga yang penuh dengan kenikmatan. Mereka itu adalah yang merealisasikan keimanannya dengan amal sholeh. Amal saleh di sini mencakup semua yang diperintahkan, baik yang wajib maupun yang sunat, yang terkait dengan hati, lisan maupun anggota badannya. Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang keimanannya sudah teruji dengan tindakan nyata, tidak sekedar pengakuan, bukan juga karena faktor keturunan maupun karena agama yang dipeluknya. Siapa saja yang beramal sholeh sesuai petunjuk Allah dan RasulNya, baik laki-laki maupun perempuan, didasari dengan keimanan, maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang sempurna.
Ayat 125 menyatakan bahwa yang dipandang baik agamanya bagi Allah adalah orang-orang yang mengikhlaskan dirinya berserah diri mengikuti agama Allah yang lurus seperti apa yang dijalankan Nabi Ibrahim as. Allah swt. mengangkat Nabi Ibrahim sebagai kesayangan-Nya karena ia mampu memenuhi semua yang diperintahkan-Nya kepadanya dan semua ujian dapat dihadapinya. Oleh karena itu, Allah menjadikannya sebagai imam bagi manusia, mengangkatnya sebagai kesayangan-Nya dan meninggikan namanya di alam semesta.
126 Ayat ini menerangkan bahwa Allah lah pemilik segala yang ada di langit dan di bumi. Dia-lah yang menguasainya dan Dia sendiri yang mengatur semuanya. Ilmu-Nya, penglihatan-Nya, dan pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Kehendak dan kekuasaan-Nya berlaku kepada semua yang ada di alam semesta ini.
Ayat 127 Allah mendorong berbuat baik dan berbuat ihsan, yaitu memberikan hak-hak terhadap orang-orang yang dalam tanggung jawabnya dan pemeliharaannya, seperti istri, anak, dan anak yatim. Memperlakukannya dengan baik, mencukupi kebutuhannya sesuai kemampuan, dan berlaku adil. Bahwa Allah mengetahui amal yang dikerjakan oleh manusia, banyak atau sedikit, baik atau tidak, Dia akan memberikan balasan masing-masing sesuai amalnya.
Asbabunnuzul ayat 123-125:
Dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa para pemeluk berbagai agama bersitegang. Maka orang-orang yang berpegang kepada kitab Taurat mengatakan, "Kitab kami adalah sebaik-baik kitab, dan nabi kami adalah sebaik-baik nabi." Pemegang kitab Injil mengatakan hal yang semisal. Maka orang-orang Islam mengatakan, "Tiada agama (yang diterima di sisi Allah) selain Islam, dan kitab kami me-mansukh semua kitab, serta nabi kami adalah nabi penutup. Kami diperintahkan agar iman kepada kitab kalian serta mengamalkan kitab kami sendiri." Maka Allah Swt. memutuskan di antara mereka melalui ayat-ayatNya 123 - 125 (HR.Al Aufi).
Tadabbur Ayat
Ayat 128 - 130 kembali Allah mengatur tentang tatanan rumah tangga kaum muslimin agar terpelihara kedamaian keluarga sebagai unit kecil dari tatanan masyarakat. Dari ayat-ayat ini dapat diambil kesimpulan, bahwa:
- shulh (perdamaian dengan merelakan sebagian haknya) antara dua orang atau lebih yang memiliki hak, lebih baik daripada menuntut untuk dipenuhi haknya, karena di dalamnya terdapat islah, hubungannya tetap baik dan merupakan sifat samahah (merelakan) yang memang terpuji. Hal ini dibolehkan dalam segala perkara, kecuali apabila menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, maka ketika itu bukanlah shulh, bahkan kezaliman. Perlu diketahui, bahwa setiap hukum tidaklah sempurna kecuali jika ada yang menghendakinya dan tidak ada penghalang. Dalam ayat tersebut Allah swt. mengutamakan shulh dan memberitahukan bahwa yang demikian adalah lebih baik. Sedangkan penghalangnya adalah kikir "walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir", oleh karena itu sepatutnya melepaskan diri dari jeratan akhlak yang rendah ini dan menggantinya dengan samahah (merelakan), yakni tetap melakukan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya dan ridha dengan sebagian hak yang didapatkan.
- Allah mewajibkan agar suami berlaku adil terhadap istri-istrinya sesuai dengan kesanggupannya. Adil dalam hal nafkah lahir dan batin, sandang, pangan, papan, dan giliran. Sedangkan kecenderungan hati, itu diluar kekuasaan manusia, namun tidak boleh sampai menelantarkan salah satunya.
- Allah membolehkan suami istri bercerai, jika memang perceraian menjadi jalan terbaik untuk keduanya.
Ayat 131 - 134 menjelaskan bahwa semua yang ada di alam raya ini tunduk dibawah kekuasaan Allah swt. Allah menyuruh manusia untuk bertaqwa adalah untuk kepentingan dirinya, dan kekuasaan Allah tidaklah terkurangi dengan keingkaran hambaNya. Allah mempunyai kekuasaan mutlak terhadap seluruh makhlukNya, menentukan hidup matinya, serta ada dan tidaknya. Dia berkuasa memusnahkan apa dan siapa saja, kemudian menggantikan yang lain dengan kehendakNya. Maka barang siapa yang hanya menginginkan kenikmatan dunianya saja, sungguh mereka telah merugi, karena Allah telah menyediakan kenikmatan dunia dan akhirat bagi siapa yang menginginkannya.
Asbabunnuzul ayat 128:
Aisyah ra. berkata: "Ayat ini turun berkenaan dengan perkataan Saudah binti Zam'ah ra.(istri Rasul) yang mulai memasuki usia lanjut, merasa khawatir diceraikan Rasulullah saw., 'Wahai Rasulullah, aku menghadiahkan hari giliranku kepada Aisyah"(HR.Abu Dawud dan Hakim).
Tadabbur Ayat
Ayat 135 Allah menyuruh orang-orang mukmin untuk berlaku adil dan menjadi penegak keadilan. Keadilan di sini mencakup keadilan terhadap hak Allah, demikian juga keadilan terhadap hak hamba-hamba Allah. Berbuat adil terhadap hak Allah adalah dengan tidak menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya, tetapi untuk ketaaan kepada-Nya. Sedangkan keadilan terhadap hak hamba-hamba Allah adalah dengan memenuhi kewajiban terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya, seperti memberikan nafkah, membayar hutang, dll. Sedangkan menjadi penegak keadilan adalah berusaha memberikan hak-hak orang lain dan apa yang ada disekitarnya dengan yang sebenarnya sesuai dengan kapasitasnya, seperti tidak memihak dari dua orang yang bersengketa walaupun ada hubungan nasab dengannya atau karena lebih cenderung kepadanya. Termasuk adil pula menunaikan persaksian yang diketahuinya bagaimana pun bentuknya, meskipun mengena kepada orang yang dicintainya atau bahkan mengenai dirinya sendiri. Dalam ayat ini Allah mengancam dengan keras bagi orang yang memutar balikkan fakta, enggan bersaksi, menghukum dengan batil, atau bersaksi palsu, karena dengan demikian sama saja telah meninggalkan kebenaran dan malah menegakkan kebatilan.
Ayat 136 Allah swt. juga memerintahkan kepada kaum mukmin untuk beriman dengan kesungguhan iman. Hal ini menghendaki agar mereka memperbaiki keimanan mereka, berupa keikhlasan dan kebenarannya, serta menjauhkan imannya dari segala yang dapat merusak dan bertobat dari segala yang dapat mengurangi keimanan. Demikian juga perintah untuk mewujudkan apa yang belum ada dalam diri seorang mukmin, berupa pengetahuan keimanan dan pengamalannya. Kemudian dilanjutkan dengan istiqamah dan tetap terus di atasnya sampai mati masih dalam menetapi keimanannya. Barang siapa mencari jalan selain yang telah diajarkan oleh Allah, maka mereka telah menempuh jalan sesat yang mengarah kepada azab yang pedih. Perlu diketahui, bahwa mengingkari salah satu di antara yang disebutkan dalam ayat ini, sama saja mengingkari semuanya, karena adanya talazum (terikat dan tidak dapat dipisahkan yang satu dengan yang lain).
Ayat 137 Ayat ini menunjukkan bahwa naik turunnya keimanan seseorang, bahkan hingga keluar masuk keislamannya, jika pada akhirnya ia kembali kepada Islam serta meninggalkan kekafirannya, maka Allah akan mengampuninya meskipun telah melakukan kemurtadan berkali-kali. Allah akan menerima tobatnya jika dia benar-benar kembali, meskipun ia telah berkali-kali melakukan dosa.
Ayat 138 - 139 menegaskan bahwa ampunan Allah dikecualikan bagi orang yang menyembunyikan kekafirannya atas keislamannya (munafik). Bagi mereka adzab neraka yang pedih. Tanda dari kemunafikan mereka adalah memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum kafir dan meninggalkan berwala' kepada kaum mukmin, padahal keimanan yang sesungguhnya menghendaki mencintai kaum mukmin seperti mereka mencintai dirinya sendiri.
Ayat 140 seorang muslim dituntut mengimani ayat-ayat Allah, memuliakannya, mentadabburinya serta mengamalkannya. sedangkan kebalikannya adalah dilarang merendahkan dan memperolok-oloknya. Dalam ayat ini juga terdapat larangan menghadiri majlis-majlis maksiat dan kefasikan yang di sana hukum Allah direndahkan dan diremehkan. Dengan demikian barang siapa yang menghadiri majlis yang di sana dikerjakan maksiat, maka ia harus mengingkari jika memiliki kemampuan atau pergi meninggalkan jika tidak mampu mengingkari. Diamnya orang, saat terjadinya kemaksiatan dan dosa, bisa menunjukkan keridhaan terhadap keingkaran mereka dan keridhaan kepada sikap mereka mengolok-olok ayat Allah, sedangkan orang yang ridha dengan maksiat sama seperti orang yang melakukannya.
Asbabunnuzul ayat 135:
As Suddi ra. menuturkan bahwa suatu hari, seorang kaya dan seorang miskin bersengketa datang menghadap Rasulullah saw. Ternyata Rasulullah lebih membela orang yang miskin. Beliau beranggapan bahwa orang yang miskin tidak akan mungkin mengdzalimi yang kaya. Atas sikap Rasul itu, Allah menegur beliau melalui ayat ini (HR.Ibnu Abi Hatim).
Tadabbur Ayat
Ayat 141 - 143 Allah hendak membuka tanda-tanda orang-orang yang menutupi kemunafikannya dilingkungan kaum muslimin:
- Mereka berpura-pura ikut bersama kaum mukmin, dan mengemukakan berbagai tipuan dan alasan agar tidak disalahkan dan dicela.
- Mereka melaksanakan sholat jika ada maunya, sholat bermalas-malasan lagi sedikit berdzikir.
- Mereka senang dapat membukakan rahasia-rahasia orang mukmin dan menyampaikan hal ihwal mereka kepada orang-orang kafir.
- Mereka benci diajak perang, jikalau ikut berperang bersama kaum mukmin, mereka berperang dengan tidak sepenuh hati.
- Suka membuat kegaduhan dan biasa menyalahkan pendapat kaum mukmin.
- Mereka kadangkala memihak orang mukmin, kadangkala memihak orang kafir. Yang demikian itu karena hati mereka diliputi kebimbangan, kebingungan, dan tidak mempunyai pendirian yang teguh.
Mereka hendak menipu Allah dan kaum muslimin. Diakhirat nanti, Allah akan bukakan kebusukannya, dan Allah hukum mereka dengan neraka jahanam. Sungguh Allah menjanjikan kemenangan dengan dijadikan segolongan kaum mukmin yang senantiasa tegak di atas kebenaran meskipun mereka tidak dibantu dan banyak yang menyelisihi, dan Allah akan mengadakan sebab kemenangan bagi kaum mukmin dan menyingkirkan kekuasaan kaum kafir atas kaum mukminin.
Ayat 144 - 147 menegaskan bahwa orang Islam dilarang menjadikan orang kafir sebagai orang kepercayaan atau teman setia dengan mengesampingkan orang mukmin sendiri, karena hal ini sangat merugikan kepentingan umat Islam dan yang demikian itu mendekati prilaku orang munafik. Allah mengancam orang munafik akan ditempatkan dikeraknya neraka. Kepada orang-orang yang telah bertaubat, menyesali kemunafikannya, selanjutnya mereka memperbaiki diri dan ikhlas berpegang teguh pada agama Allah, mereka akan diberikan pahala yang besar. Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya dengan memberi pahala terhadap amal-amal hamba-Nya, memaafkan kesalahannya dan menambah nikmat-Nya. Oleh karena itu, barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberikan ganti yang lebih baik.
Lalu, bagaimana dengan keberadaan orang munafik pada zaman sekarang ini?. Sepertinya saat ini sudah Tidak ada lagi orang munafik. Orang munafik adalah orang yang dhohirnya beriman, tapi batinnya kafir dan ingin kehancuran Islam. Itu Karena mereka dalam pemerintahan Islam dan mereka tidak punya kekuatan untuk melawan, sedangkan saat ini tidak ada yang mereka takuti. bahkan untuk menjadi atheis sekalipun. Sedangkan adanya orang muslim yang memiliki sifat kemunafikan, dia orang muslim yang ada pada dirinya sifat-sifat munafik. Jadi mereka bukan orang munafik yang sejati, akan tetapi orang muslim yang fajir atau fasiq. Bagi mereka, keimanan dan amal ibadahnya akan diperhitungkan oleh Allah swt.
Hadits yang berhubungan dengan ayat 143:
Dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak termasuk kepada golongan ini (orang-orang ber-iman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). (An-Nisa: 143) Qatadah mengatakan bahwa mereka bukan orang-orang mukmin yang murni, bukan pula orang-orang musyrik yang terang-terangan dengan kemusyrikannya. Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Allah pernah membuat perumpamaan bagi orang mukmin dan orang munafik serta orang kafir. Perihalnya sama dengan tiga orang yang berangkat menuju ke sebuah sungai. Lalu orang mukmin menceburkan dirinya ke sungai itu dan berhasil menyeberanginya. Kemudian orang munafik menceburkan dirinya; tetapi ketika ia hampir sampai ke tempat orang mukmin, tiba-tiba orang kafir menyerunya, "Kemarilah kepadaku, karena sesungguhnya aku merasa khawatir denganmu." Lalu orang mukmin menyerunya pula, "Kemarilah kepadaku, kemarilah ke sisi ku." Padahal jika ia berenang terus, niscaya ia dapat memperoleh apa yang ada di sisi orang mukmin itu. Tetapi orang munafik itu terus-menerus dalam keadaan kebingungan di antara kedua orang tersebut, hingga keburu datang air bah yang menenggelamkannya. Orang munafik masih tetap dalam keadaan ragu dan kebingungan hingga ajal datang menjemputnya, sedangkan dia masih tetap dalam keraguannya. Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Perumpamaan orang munafik sama dengan seekor kambing yang mengembik sendirian di antara dua kumpulan ternak kambing. Ia melihat sekumpulan kambing di atas tempat yang tinggi, lalu ia datang kepadanya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal. Kemudian ia melihat sekumpulan ternak kambing yang lain di atas tempat yang tinggi, lalu ia mendatanginya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal(HR.Ibnu Jarir).