Spermatogenesis dan Oogenesis
Spermatogenesis dan Oogenesis
Pernahkah kalian mendengar kata "gametogenesis"? Gametogenesis merupakan proses pembentukan sel kelamin. Proses ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Spermatogenesis
Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang mana bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi ditubulus seminiferus yang kemudian disimpan diepididimis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) atau yang disebut dengan spermatogonia (spermatogonium=tunggal).
Spermatogonia terletak di dua hingga tiga lapisan luar sel epitel tubulus seminiferus dan terus membelah untuk memperbanyak diri. Sebagian spermatogonia berdiferensiasi menjadi sperma melalui beberapa tahap perkembangan. Pada tahap awal spermatogenesis, spermatogonia diploid (2n, dengan 23 pasang kromosom) berkumpul di tepi membran epitel germinal sebagai spermatogonia tipe A. Spermatogonia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Setelah beberapa kali pembelahan, sel-sel ini berubah menjadi spermatosit primer yang tetap diploid. Setelah beberapa minggu, spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua spermatosit sekunder haploid. Spermatosit sekunder kemudian menjalani meiosis kedua, menghasilkan empat spermatid haploid yang belum memiliki ekor. Setiap spermatid kemudian berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma).
Gambar 1. Spermatogenesis
Sumber: [Irwan, 2020]
Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi. Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
Gambar 2. Struktur Sel Sperma
Sumber: [Campbell, 2008]
Proses spermatogenesis distimulasi oleh beberapa hormon utama:
Testosteron: Disekresi oleh sel-sel Leydig di antara tubulus seminiferus. Berperan dalam pembelahan sel germinal dan pembentukan sperma, terutama dalam meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder.
LH (Luteinizing Hormone): Disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior, merangsang sel Leydig untuk menghasilkan testosteron.
FSH (Follicle-Stimulating Hormone): Disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior, menstimulasi sel Sertoli. Tanpa FSH, spermiogenesis tidak akan terjadi.
Estrogen: Dihasilkan oleh sel Sertoli ketika dirangsang oleh FSH. Sel Sertoli juga mensekresi protein pengikat androgen yang membawa testosteron dan estrogen ke dalam cairan tubulus seminiferus untuk pematangan sperma.
Hormon Pertumbuhan: Mengatur fungsi metabolisme testis dan meningkatkan pembelahan awal dalam spermatogenesis.
2. Oogenesis
Oogenesis adalah proses pembentukan ovum di dalam ovarium, didalam ovarium terdapat oogonium yang merupakan sel indung telur. Oogonium bersifat diploid dengan 46 kromosom atau 23 pasang. Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan mulai dalam kandungan, sekitar usia 5 bulan dalam kandungan. Pada saat bayi perempuan usia 6 bulan, oosit primer memulai pembelahan meiosis I, tetapi proses ini tidak dilanjutkan hingga bayi perempuan mencapai pubertas. Oosit primer tetap dalam keadaan istirahat (dorman) selama masa ini.
Setiap ovarium bayi perempuan lahir mengandung sekitar 1 juta oosit primer. Saat mencapai pubertas, jumlah ini berkurang menjadi sekitar 200 ribu karena sebagian besar oosit mengalami degenerasi selama pertumbuhan. Pada masa pubertas, perubahan hormon memicu oosit primer untuk melanjutkan meiosis tahap pertama.
Oosit primer pada meiosis I pada menghasilkan dua sel yang tidak sama ukurannya: oosit sekunder (besar) dan badan polar pertama (kecil). Oosit sekunder kemudian melanjutkan meiosis II, yang berhenti saat mencapai metafase II sampai terjadi ovulasi. Jika tidak terjadi fertilisasi, oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Namun, jika sperma memasuki oviduk, meiosis II pada oosit sekunder dilanjutkan.
Hasil akhir dari meiosis II adalah ootid (sel telur yang matang) dan badan polar kedua. Badan polar pertama juga membelah menjadi dua badan polar kedua, sehingga total terbentuk tiga badan polar dan satu ootid yang akan tumbuh menjadi ovum dari oogenesis setiap satu oogonium.
Proses oogenesis disertai dengan perkembangan folikel yang dapat dilihat pada Gambar 2. masing-masing oosit primer berkembang di dalam folikel. Folikel-folikel tersebut akan tumbuh akibat respons terhadap hormon FSH. Namun, umumnya hanya satu folikel saja yang menjadi matang, disebut folikel de Graff. Ketika peristiwa ovulasi terjadi, oosit sekunder akan keluar dari folikel tersebut berkembang menjadi korpus luteum. Apabila tidak terjadi fertilisasi, korpus luteum akan berdegenerasi menjadi korpus albikans.
Gambar 3. Proses Oogenesis
Sumber: [Indrawati, 2020]
Proses Spermatogenesis dan Oogenesis
Daftar Pustaka:
Amelia, P & Cholifah. (2018). Biologi Reproduksi. Sidoarjo: UMSIDA Press.
Campbell, N.A., Jane, B. R & Laurence G.M. (2008). Biologi: Edisi Kedelapan Jilid 3. Bandung: Erlangga.
Efrizon, S., Zulfa, C. S., Atifah, Y., Achyar, A., & Ramadhani, S. (2021). Reproductive System In Humans Sistem Alat Reproduksi Pada Manusia. 1(1), 725–732.
Ferial, E.W. (2013). Biologi Reproduksi. Jakarta: Erlangga.
Indrawati. (2020). Oogenesis : Proses Pembentukan Sel Telur Pada Wanita. Diakses dari https://www.materikuliah.my.id/2022/08/oogenesis-proses-pembentukan-sel-telur.html 6 Agustus 2024, pk 22.00.
Irwan. (2020). Sistem Reproduksi Pada manusia Bagian Kedua. diakses dari iwanlukman.blogspot.com 6 Agustus 2024, pk 22.00.
Wardiyah, A., Aryanti, L., Marliyana, M., Oktaliana, O., Khoirudin, P., & Dea, M. A. (2022). Penyuluhan kesehatan pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi. JOURNAL OF Public Health Concerns, 2(1), 41–53.