Karier RIASEC adalah pendekatan yang dikembangkan oleh John L. Holland dalam Theory of Career Choice untuk membantu individu memilih karier yang sesuai dengan kepribadian mereka. RIASEC adalah akronim dari enam tipe kepribadian yang diidentifikasi oleh Holland, yaitu Realistic (R), Investigative (I), Artistic (A), Social (S), Enterprising (E), dan Conventional (C). Setiap tipe kepribadian ini menggambarkan kecenderungan seseorang dalam hal minat, keterampilan, dan cara mereka berinteraksi dengan dunia pekerjaan.
Teori ini menyatakan bahwa individu cenderung mencari pekerjaan yang cocok dengan kepribadian mereka, dan semakin selaras pekerjaan tersebut dengan tipe kepribadian mereka, semakin puas dan sukses mereka dalam karier tersebut. Teori karir John Holland (RIASEC) menyatakan bahwa individu cenderung memilih pekerjaan yang memungkinkan mereka berada di lingkungan yang serupa dengan diri mereka. Mereka menginginkan lingkungan yang mendukung penggunaan kemampuan dan keterampilan, serta memungkinkan ekspresi sikap dan nilai pribadi mereka, sambil menghadapi tantangan dan peran yang mereka anggap menyenangkan. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh interaksi antara karakter pribadi dan lingkungan di mana mereka berada. (Amalianita & Putri, 2019)
Holland mengemukakan bahwa kepribadian mempengaruhi karir karena ada hubungan yang signifikan antara sifat-sifat kepribadian dan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi seseorang. Dengan mencocokkan pekerjaan dengan kepribadian individu, mereka akan lebih mungkin merasa puas, termotivasi, dan efektif dalam peran mereka. Ini membantu mereka mencapai kesuksesan dan kepuasan dalam karir mereka.
Menurut John Holland terdapat enam tipe kepribadian utama. Pertama, tipe kepribadian Realistik (R), yang cenderung bekerja di lingkungan dengan tugas-tugas yang jelas, praktis, dan spesifik. Individu, seperti tukang listrik, operator jaringan, teknisi, dan pengawas bangunan. Kedua, tipe kepribadian Investigatif (I), yang berada dalam lingkungan kerja yang memerlukan pemikiran kreatif dan analisis mendalam, seperti dalam bidang sains, fisika, biologi, dan matematika. Ketiga, tipe kepribadian Artistik (A), yang mengutamakan kreativitas dan ekspresi imajinatif dan menekankan bakat seni, seperti musisi, penyair, pelukis, atau actor. Keempat, tipe kepribadian Sosial (S), yang suka berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. suka peran yang melibatkan hubungan sosial seperti konselor, psikolog, atau pengajar. Kelima, tipe kepribadian Enterprising (E), yang biasanya memilih lingkungan yang dinamis, kepemimpinan, dan manajemen. Orang dengan tipe ini menyukai karier di bidang penjualan, manajemen, dan promosi, seperti manajer hotel, konsultan, atau promotor. Terakhir, tipe kepribadian Konvensional (K), yang lebih nyaman di lingkungan yang terstruktur dengan aturan dan tugas yang jelas. Mereka lebih senang bekerja dengan angka, data, atau sistem administrasi, seperti analis keuangan, ahli statistik, akuntan, atau spesialis pajak. (Asri et al., 2021)
Perlu dipahami bersama bahwa setiap manusia memiliki potensinya masing-masing. Jadi, sangat mungkin untuk melatih dan mengembangkan diri dalam berbagai bidang yang ada; tidak ada manusia yang sempurna dalam semua aspek, oleh karena itu penting bagi seseorang untuk berkembang, begitupun dengan ABK memiliki peluang yang sama. Di Indoensia penyandang disabilitas masih sulit dalam mencari pekerjaan. jumlah disabilitas di Indoensia ada sebanyak 22.790 juta jiwa (Kemenko PMK, 2023) dan dari jumlah tersebut hanya 3,16% penyandang disabilitas yang telah mendapatkan kesempatan bekerja.
Pada akhirnya seseorang harus memantapkan keterampilan untuk memutuskan karir, sebagai penentu hidup di masa mendatang. ABK juga tidak luput dari hal tersebut, adanya kebutuhan bertumbuh dan berkembang untuk menjamin kemandirian ekonomi, sehingga membutuhkan pekerjaan yang layak dan sesuai bagi dirinya. Mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh ABK. Tantangan yang dihadapi individu berkebutuhan khusus adalah lingkungan kerja yang kurang inklusif, tempat kerja yang inklusif merupakan faktor penting dalam meningkatkan penentuan masa depan dan kualitas hidup individu dengan kebutuhan khusus (Nadya et al., 2022)
Penyandang disabilitas memiliki potensi yang sangat besar untuk berkarir dan memberikan kontribusi nyata di berbagai sektor, sama seperti individu lainnya. Mereka memiliki keterampilan, bakat, dan kemampuan yang dapat dikembangkan untuk berperan secara aktif dalam dunia kerja. Potensi ini tidak terbatas oleh kondisi fisik atau mental yang mungkin dimiliki, asalkan mereka diberikan akses dan kesempatan yang setara untuk berpartisipasi. Sebagai bentuk wujud dukungan dari pemerintah dalam memeberikan kesempatan bekerja bagi penyandang disabilitas, pemerintah terus berupaya menciptakan lingkungan yang inklusif, terutama dalam dunia kerja. Melalui berbagai kebijakan, pemerintah berusaha memastikan bahwa penyandang disabilitas mendapatkan akses yang setara dalam kesempatan berkarir. Salah satu landasan hukum yang signifikan adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016. yang memastikan hak-hak mereka untuk mendapatkan akses penuh ke pendidikan, pekerjaan, serta perlindungan hukum dari diskriminasi di lingkungan kerja.
Namun, di balik semua dukungan tersebut, penyandang disabilitas juga harus memiliki kesadaran untuk terus mengembangkan diri. Mengasah keterampilan menjadi salah satu kunci utama agar penyandang disabilitas dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan kerja yang dilapangan, menerut Caballero dalam membentuk kesiapan kerja ada beberapa hal yang mesti diperhatikan diantaranya karakteristik pribadi, organisasi, kompetensi kerja, kecerdasan sosial (Nilamsari et al., 2022). Agar penyandang disabilitas bisa berkarir dengan sukses, mereka perlu mengembangkan keterampilan yang mencakup hardskill dan soft skill. Hardskill adalah keterampilan yang lebih teknis dan spesifik sesuai dengan bidang pekerjaan. Beberapa contoh hardskill yang penting untuk dikembangkan oleh penyandang disabilitas diantaranya; Kemampuan Teknologi dan Digital, Menguasai penggunaan komputer, perangkat lunak perkantoran (seperti Microsoft Office), aplikasi kolaborasi (seperti Google Workspace), serta alat bantu aksesibilitas (seperti screen reader bagi tunanetra atau aplikasi teks ke suara). Keterampilan digital sangat dibutuhkan di banyak pekerjaan saat ini. Keterampilan Bahasa Asing, Ini bisa membantu penyandang disabilitas bekerja di perusahaan multinasional atau industri yang melibatkan komunikasi lintas negara. Keterampilan Desain Grafis atau Pemrograman, bagi mereka yang berminat di bidang teknologi atau kreatif, kemampuan dalam desain grafis menggunakan aplikasi seperti Adobe Photoshop, CorelDRAW, atau keterampilan pemrograman. Keterampilan Administratif, penyandang disabilitas juga bisa mengembangkan keterampilan dalam manajemen administrasi, seperti pengarsipan, entri data, atau pengelolaan dokumen, yang banyak dibutuhkan di berbagai perusahaan. Keterampilan Menjahit atau Kerajinan, Bagi mereka yang ingin bekerja di industri kreatif atau kerajinan tangan, keterampilan seperti menjahit, membuat kerajinan, atau desain produk bisa menjadi bidang yang sangat potensial untuk dikembangkan.
Selain hardskill, softskill tidak kalah penting untuk dikembangkan agar penyandang disbilitas dapat berdaya saing didunia kerja, soft skill tersebut diantaranya; Kerja Tim dan Kolaborasi, bekerja sama dalam tim menjadi keterampilan yang sangat penting di banyak lingkungan kerja. Kemampuan untuk bekerja harmonis dengan rekan kerja, berbagi tanggung jawab, dan menghargai ide orang lain sangat diperlukan. Manajemen Waktu, kemampuan mengelola waktu dengan baik adalah kunci produktivitas. Penyandang disabilitas perlu bisa merencanakan dan mengatur waktu dengan efisien, menyelesaikan tugas sesuai tenggat waktu, serta mengelola prioritas dengan baik. Problem Solving dan Berpikir Kritis, penyandang disabilitas perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah dengan cepat dan efektif. Ini termasuk kemampuan untuk menganalisis situasi, menemukan solusi yang kreatif, dan mengambil keputusan yang tepat. Adaptasi dan Fleksibilitas, di dunia kerja yang terus berubah, kemampuan beradaptasi menjadi keterampilan yang sangat penting. Penyandang disabilitas harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan di lingkungan kerja, tugas baru, atau teknologi yang terus berkembang. Kecerdasan Emosional, kemampuan untuk memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat membantu penyandang disabilitas berinteraksi dengan lebih baik di tempat kerja. Ini juga membantu mereka mengatasi tekanan, konflik, atau tantangan yang mungkin muncul dalam pekerjaan sehari-hari.
Dengan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, penyandang disabilitas tidak hanya mampu meningkatkan daya saing mereka, tetapi juga membuktikan bahwa mereka bisa memberikan kontribusi yang signifikan di dunia kerja. Dukungan dari pemerintah dan perusahaan, di samping upaya pribadi untuk terus belajar dan berkembang, akan membuka lebih banyak peluang bagi penyandang disabilitas untuk meraih kesuksesan dan mencapai kemandirian ekonomi. Potensi mereka yang besar, jika didukung dengan keterampilan yang tepat dan akses yang memadai, dapat menjadikan penyandang disabilitas sebagai aset berharga bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial yang inklusif. Untuk mencapai potensi maksimalnya, mereka memerlukan berbagai bentuk dukungan, baik dari keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Beberapa bentuk dukungan yang dapat diberikan seperti pendampingan Khusus: Keberadaan guru pendamping atau asisten yang dapat memberikan perhatian khusus dan bantuan dalam proses belajar mengajar/ bekerja. Layanan Terapi dan Rehabilitasi: Terapi fisik, terapi okupasi, terapi bicara, dan jenis terapi lainnya yang dapat membantu ABK mengatasi hambatan perkembangan atau fisik. Lingkungan kerja yang aksesibel, seperti fasilitas fisik yang ramah, desan tempat kerja yang ramah pula, tata ruang dan letak yang memudahkan abk untuk menjangkau, penggunaan teknologi bantu seperti perangkat lunak pembacalayar, dll. Penyesuaian tugas dan jadwal kerja , dan yang penting juga adalah pendampingan dan mentoring di tempat kerja seperti dukungan emosional dan sosial. Kebijakan yang inkulif dan anti deskriminasi perlu juga untuk mamastikan bahwa abk diperlakukan sama dengan karyawan/ pekerja lainnya
Kita tidak bisa mengontrol sesuatu yang terjadi pada kita. Baik itu kabar duka atau kabar gembira. Nasib baik atau nasib buruk. Tetapi, kita bisa mengontrol cara kita dalam menghadapi situasi tersebut. Aziz Hermawan adalah salah satu manusia yang berhasil bertahan dan memberi makna dalam kehidupan.
Menjadi penyandang disabilitas sejak SD, mengalami lumpuh total sejak SMA, dan harus menjadi yatim pula, tak membuat Aziz menyerah dengan cita-citanya. Aziz terus berjuang untuk menjadi seorang arsitek. Dan kisahnya menjadi inspirasi bagi siapapun yang mendengar perjuangannya.
Farida Bedwei menderita Cerebral Palsy (CP) namun tak pernah membatasi dirinya untuk terus melangkah maju. Ia tak pernah meragukan kekuatan dirinya. Sejak kecil, ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan sangat berminat dalam bidang komputer, sehingga ia memutuskan untuk terjun ke bidang komputasi dan sukses menjadi insinyur perangkat lunak dan wirausahawan yang sukses.
Farida meluncurkan tokoh fiksi yang kuat, yaitu Karmzah dan Zara. Karmzah digambarkan sebagai pahlawan super komik wanita, Karmza dikenalkan pada publik pada tahun 2018, tepat pada Hari CP sedunia.
Sebelumnya, pada tahun 2010, Farida menerbitkan Definition of a Miracle, sebuah buku anak-anak yang dibintangi seorang gadis muda Afrika pengidap cerebral palsy, yang diberi nama Zaara. Melalui bukunya inni, Farida mencoba mendidik dan meluruskan kesalahpahaman masyarakat seputar disabilitas.
Selama sisa hidupnya, Stephen Hawking bertahan melawan amytrophic lateral sclerosis, yaitu sebuah pernyakit saraf yang membuatnya tak lagi bisa bergerak serta berkomunikasi secara kompleks. Sebagian besar hidupnya dihabiskan menjadi Profesor di Universitas Cambridge. Kerusakan saraf tak membuatnya berhenti dalam berkarya. Dengan menggunakan teknologi canggih yang membantunya, ia tetap semangat melakukan penelitian, memberikan kuliah, menulis buku, dan membagikan pemikirannya pada dunia. Beberapa hasil karya yang melegenda : A Brief History of Time,Hawking Radiation, dan masih banyak lagi.
Dhani kecil adalah anak yang suka bermain sepak bola. Mimpi buruknya bermula ketika ia divonis menderita kanker tulang seusai pulang dari Jerman selepas masa tugas ayahnya. Waktu itu ia baru berusia 14 tahun. Tak jelas alasan pasti kenapa kakinya bisa terkena kanker. Tapi yang pasti, tak mudah menerima kenyataan bahwa satu kakinya mesti diamputasi agar tak menyebarkan kanker ke bagian tubuh lain. Benar-benar tak ada pilihan lain.
Dhani sendiri awalnya ragu apakah dia bisa melalui itu semua. Namun menyerah tak ada dalam kamus hidupnya. Tak mudah bukan berarti tak bisa. Saat SMA, Dhani berhasil meraih nilai tertinggi di SMA dan berencana mendaftarkan diri pada jurusan kedokteran. Tetapi selalu ditolak dengan alasan karena dirinya tuna daksa. Satu-satunya yang menerima hanya UNPAD. Hingga akhirnya, Dhani yang tubuhnya memiliki keterbatasan ini berhasil menyelesaikan pendidikan dokter gigi tahun 2018.
erlahir prematur dan tuna netra sejak lahir, tak membuat Putri menjadi takut bermimpi. Berbeda dari teman-temannya juga tak menjadikannya anak pemurung, justru Putri tumbuh dengan riang dan kerap memberi motivasi kepada adik-adiknya. Sejak usia dua tahun, Putri sudah mulai suka menyanyi dan terus mengembangkan bakatnya hingga sekarang. Tentu saja, dengan pencapaiannya yang luar biasa saat ini, Putri tak bisa diraih oleh orang yang mudah putus asa.
Selain pribadi yang penuh semangat dan pantang menyerah, orang tua pun mengambil peran penting dalam kehidupan Putri. Terutama dalam mendukung impiannya. Ibunya rela resign dari pekerjaan dan pindah dari kampung untuk menemani sang putri menggapai mimpi ke Yogyakarta.
Siapa sangka, seorang anak yang dikucilkan dari lingkungan bahkan oleh keluarganya sendiri karena terlahir tanpa lengan ternyata bisa menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam bidang seni lukis.
Tak ada yang tak mungkin selagi kita mau belajar. Dan Peter membuktikannya. Dengan kegigihan, ia berhasil menciptakan lukisan indah melalui kaki kanannya. Bahkan, selain menjadi pelukis, Peter pun adalah seorang ayah, peternak babi, serta pelatih football.
Perempuan inspiratif ini merupakan penyandang buta dan tuli pertama yang berhasil meraih gelar sarjana.
Helen Keller masuk di Lembaga Perkins untuk belajar menguasai huruf Braille. Proses belajar bicaranya dimulai di bawah Sarah Fuller dari Horace Mann School for the Deaf yang juga di daerah Boston. Dia juga belajar komunikasi melalui latihan membaca bibir dengan cara meletakkan jari-jarinya di bibir dan tenggorokan pembicara ketika kata-kata itu dieja bersamaan untuknya.
Dia mengabadikan kisah hidupnya dengan bantuan guru, Anne Sullivan, ke dalam 12 buku, termasuk The Story of My Life (1903), Optimism (1903), The World I live in (1908), My Religion (1927), Helen Keller's Journal (1938), dan The Open Door (1957).
Seorang dosen yang memeroleh gelar Doktor Pendidikan melalui prodi Bimbingan dan Konseling di tahun 2008 ini merupakan seorang tunanetra. Bahkan, Didi menggunakan komputer dan LCD dalam proses mengajarnya.
Keyakinan yang ditanamkan orang tuanya tentang betapa penting dan terhormatnya seorang guru, benar-benar mengakar, dan menjadi pacuan baginya meski ditimpa kehilangan pengelihatan pada usia lima tahun.
Didi dan empat dosen UPI lainnya pernah melakukan studi banding ke Norwegia, yang kemudian kunjungan ini menjadi cikal bakal munculnya Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Inklusi di SPs UPI. Didi juga adalah Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia tahun 2004-2009. Pada tahun 2004-2008, Didi dipercaya untuk menjadi Vice President World Blind Union Asia-Pasific. Kemudian, UPI menibatkannya sebagai dosen berprestasi tingkat satu pada 2013.
Akibat efek obat-obatan malaria yang dikonsumsi pada usia 10 tahun, Angkie harus kehilangan kemampuan mendengarnya. Dengan keteguhan hati, dan usaha yang sangat gigih, ia akhirnya berhasil mendapat gelar master dari Fakultas komunikasi di London School of Public Relations Jakarta.
Angkie akhirnya mendirikan Thisable Enterprise di tahun 2009 yang bertujuan untuk memberdayakan kelompok disabilitas, setelah sebelumnya sempat bekerja di IBM Indonesia dan Geo Link Nusantara.
Hobi menulisnya, berhasil membuatnya melahirkan beberapa buku, seperti Perempuan Tunarungu Menembus Batas, Setinggi langit, dan Become Rich as Sociopreneur.
Berkat keaktifannya di bidang sociopreneur, Angkie dipercaya oleh Presiden Jokowi untuk menjadi juru bicaranya pada bidang sosial.
Dengan misi untuk memperjuangkan hak disabilitas, khususnya perempuan, agar mendapat kesempatan yang sama untuk mandiri dan berjaya, Putri bersama Andika Prakoso dan Erwin Syah Putra yang juga tuli, akhirnya mendirikan Kopi Tuli di tahun 2018. Pegawai dan barista di Kopi Tuli merupakan orang tuli. Harapannya, hal ini bisa meningkatkan interaksi orang tuli dengan orang dengar.
Meski lingkungan masih memandang disabilitas dengan sebelah mata, namun Rica Rahim mampu membuktikan kemampuannya dan melangkah maju.
Perempuan yang menyandang disabilitas “kelainan kaki” sejak lahir ini dikenal karena keberaniannya dan kemampuan kerjanya. Ia selalu setia mencatat poin penting pada saat rapat resmi yang melibatkan Wali Kota, Wakil Wali Kota, atau Sekretaris Kota Samarinda. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Rica Rahim tidak pernah menjadi penghalang bagi karirnya. Ia terus berkontribusi dalam administrasi dan kegiatan resmi pemerintahan.
Rica Rahim juga merupakan contoh inspiratif bagi masyarakat, menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak harus menjadi penghalang untuk mencapai kesuksesan dalam karir.
Sebelum dikenal dengan namanya yang sekarang, Rica adalah pekerja serabutan. Demi membesarkan ketiga anaknya, Rica yang menjadi orang tua tunggal rela banting tulang menjadi tukang bersih-bersih, tukang cuci, tukang setrika, dan pekerjaan lain.
Berkat ketekunan dan kelihaiannya, Rica Rahim pernah ditunjuk sebagai Kepala Rekam Medis di Puskesmas Remaja, Kec. Sungai Pinang. Rica lagi-lagi menunjukkan kebolehannya dengan menciptakan inovasi sederhana yang dinamai Data Pasien dan Cetar (Cepat Pintar), dimana inovasinya ini dijadikan rujukan puskesmas-puskesmas lain.
Suci terlahir dengan tangan kiri yang hanya tumbuh sampai siku dan tidak memiliki jari. Beruntungnya, keluarga dan lingkungan sosialnya merupakan orang-orang yang berpaham inklusif, tidak memandangnya dengan berbeda.
Namun, masalah muncul ketika ia baru saja menamatkan kuliahnya. Suci mengaku sangat sulit mencari kerja sebagai seorang disabilitas. Bahkan, nyaris 50 lowongan pekerjaan yang didatanginya berujung sia-sia. Dan hal tersebut berlangsung sekitar tiga tahun.
Hingga Suci memutuskan beragabung dengan ThisAble, yaitu perusahaan yang melakukan proses perekrutan, pelatihan hingga pendampingan para penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan. Hingga akhirnya, Suci bekerja pada perusahaan sosial tersebut.