Pelaksanaan Swakelola Tenaga Kerja Mandiri Pemula Oleh Bapak dan Ibu Dosen Universitas Dian Nusantara.
Jakarta, 07 November 2024
Direktorat Kemahasiswaan dan Kerja sama dan Direktorat Inovasi dan Pengembangan Usaha Universitas Dian Nusantara, mengadakan Monitoring dan Evaluasi Tenaga Kerja Mandiri Pemula (TKMP) dan Tenaga Kerja Mandiri Lanjutan (TKML). Pada pertemuan kali ini juga menghadirkan WEWO Kinarya Bangsa, yang menjadi rekan kerja pada “Pelaksanaan Swakelola Pendamping Tenaga Kerja Mandiri Pemula dan Tenaga Kerja Mandiri Lanjutan Program Kementerian Ketenagakerjaan 2024”.
Dibuka oleh Bapak Norman Yachya S.T, MM, MBA. sebagai Direktur Kemahasiswaan dan Kerja sama, yang mewakili Bapak Rektor Universitas Dian Nusantara dan Wakil Rektor II dan III, dan juga Direktorat Inovasi dan Pengembangan Usaha yang berhalangan hadir dalam acara tersebut. Bapak Norman berharap pada forum hari ini dapat diikuti dengan baik dan banyak masukan serta keluhan yang dialami para pendamping.
Setelah itu Bapak Norman meminta para peserta yang hadir untuk memperkenalkan diri dan pengalaman menarik yang terjadi pada proses berjalannya program TKMP dan TKML, banyak sekali pengalaman menarik mulai dari pengalaman kriminal, penipuan, pungli, dan premanisme. Yang disampaikan kali ini oleh Bapak Norman adalah, keselamatan para pendamping menjadi prioritas pada program ini, jangan terlalu dipaksakan untuk menjalankan jika memang ada halangan yang sangat beresiko.
Lalu juga dilanjutkan oleh Ibu Dyah Ekarini Ratnaningtyas yang akrab di panggil Ibu.Randu sebagai bagian dari WEWO yang menjelaskan tentang WEWO, beliau mengatakan “Wewo adalah mitra dari ketengakerjaan yang memberikan pembekalan kepada TKML lanjutan, baru menangani TKMP ini adalah tahun ini, pada tahun 2023 baru terbawa untuk membina TKM Pembina, dan pada tahun ini ada 3300 TKM Lanjutan dan 3400 TKM Pemula.
Dihadiri oleh 19 orang Bapak dan Ibu pendamping TKMP dan TKML oleh karena itu Ibu Randu berharap kembali untuk para peserta lebih fokus pada target yang harus dicapai oleh para setiap pendamping yaitu tercapainya KPI (Key Performance Indicator). Kembali menekankan bahwa prioritas para pendamping TKMP dan TKML saat dilapangan adalah keselamatan kerja.
Ibu Randu menjelaskan proses berjalannya program TKMP ini melalui data yang didapat yaitu data TKMP yang memiliki produk, Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi tertinggi yaitu 33,08% TKMP yang memiliki produk berupa barang dan jasa. Lalu data selanjutnya adalah data provinsi yang memiliki sudah memiliki strategi pemasaran, provinsi DKI Jakarta menjadi provinsi tertinggi yaitu 16,32% peserta TKMP yang memiliki strategi pemasaran. Adapula data TKMP yang memiliki arus kas, provinsi DKI Jakarta kembali menjadi angka tertinggi yaitu 9,68%, data selanjutnya adalah data kepemilikan NIB, Nusa Tenggara Barat adalah provinsi tertinggi yaitu 19,55% data TKMP yang memilki NIB, lalu data yang selanjutya adalah DKI Jakarta menjadi data terbanyak peserta TKMP yang memiliki Rencana bisnis yang terarah dan terukur yaitu 17,65%.
Lalu Ibu Randu juga membacakan data proses program TKML yang berjalan, dari data yang didapat adalah, data yang usahanya sesuai dengan proposal yang diajukan yaitu Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat menjadi nilai tertinggi yaitu 100%, Sulawesi Tenggara 99% dan Sulawesi Tengah 93%, lalu data TKML yang usahanya masih berjalan, DKI Jakarta memiliki nilai 100%, Jawa Barat 99%, Sulawesi Tengah 95%, dan Sulawesi tenggara 100%, data TKML yang sudah menerima bantuan yaitu DKI Jakarta memiliki nilai 15%, Jawa Barat 3%, Sulawesi Tengah 13% dan Sulawesi Tenggara 17%, Ada data yang sudah menggunakan Dana Hibah, DKI Jakarta 85%, Jawa barat 99%, Sulawesi Tengah 2%, Sulawesi Tenggara 83%, Data TKML yang bersedia didampingi, DKI Jakarta 100%, Jawa Barat 96%, Sulawesi Tengah 93%, Sulawesi Tenggara 98%, dan yang terakhir adalah data TKML yang mengalami kenaikan omzet yaitu DKI Jakarta 15%, Jawa Barat 41%, Sulawesi Tengah 5%, dan Sulawesi Tenggara 7%.
Kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi permasalahan yang terjadi di lapangan dengan para peserta pendamping, Bapak Norman dan Ibu Randu menjadi solusi dari setiap pertanyaan yang ada, pertanyaan yang dilemparkan oleh para pendamping adalah seputar permasalahan yang terjadi di beberapa provinsi, dari provinsi Nusa Tenggara Timur diwakilkan oleh Bapak Alexander adalah “Susahnya berkoordinasi dengan TKM karena menumpang nomor tetangga, lalu takutnya karena adanya keikutsertaan partai politik” lalu yang kedua “ Ada yang KTP nya dipinjam lalu dijadikan peserta TKM lalu uangnya di bagi 2 atau secara berkelompok”.
Begitu pula Ibu Hellen Natalia Hilly yang mewakili provinsi Nusa Tenggara Timur mengajukan keluh kesah yaitu “ Keterbatasan handphone peserta terkendala dalam pembuatan NIB Sinyal dan Perangkat yang tidak support. Jika bertemu konsekuensinya adalah perjalanan yang jauh karena meminta KTPnya atau perihal menunggunya karena membutuhkan waktu yang sangat lama”, dan “protes yang dilakukan pada para TKM yaitu tentang pencairan dana, serta hilangnya alamat serta jejak para TKM yang mau dibina tanpa memberi alasan.” Dalam permasalahan diatas WEWO membantu dalam memecahkan masalah tersebut yaitu “Para TKM perlu memiliki KTP yang valid dan tidak salah saat di daftarkan, lalu jika jaraknya terlalu jauh untuk menemu para TKM maka pendamping perlu berbicara untuk bertemu di titik tengah dengan kondisi sinyal dan alat yang memadahi, untuk perangkat seperti handphone bisa meminjam saudara atau kerabat dekat.” ujar tim WEWO.
Lalu ada pula pendamping dari sulawesi yang permasalahannya hampir mirip dengan permasalahan di Nusa Tenggara Timur, Bapak Adri sebagai perwakilan dari provinsi Sulawesi Selatan menceritakan tentang “ Tingginya suhu politik yang terjadi sehingga adanya penunggangan penunggangan para pendamping maupun para TKM, jadi solusinya adalah yang harus dilakukan adalah perekrutan pendamping di awal, sebelum perekrutan para TKM, supaya juga tidak terjadinya penyalahgunaan uang yang diberikan di awal. Pak Ardi juga berkata bahwa persoalan yang terjadi di Sulawesi Selatan sama seperti di NTT yaitu terkendala pada jarak tempuh saat mengunjungi para TKM. Pada masalah ini WEWO setuju akan adanya perekrutan pendamping diawal sebelum direkrutnya para TKM dan tahun ini Kemnaker sedang mengurus cara tersebut dan ada kemungkinan perekrutan pendamping dilakukan diawal, lalu untuk urusan politik dimohon para pendamping untuk segera menghindari persoalan tersebut karena kondisinya adalah sedang memanas pada hal politik.
Setelah sesi diskusi permasalahan selesai, kami kedatangan Bapak Iwan Darmawan SH,ME - Direktur Bina PKK Kemnaker & Jajaran, beliau mengapresiasi acara tersebut karena pentingnya diskusi ini untuk menjalani program yang belum usai ini, beliau berbicara tentang melakukan langkah tidak lanjut kejadian atau tindak pidana dengan bekerja sama dengan BARESKRIM, jadi laporkanlah kepada Pak Norman, jika ada masalah atau tindak kriminal dan laporkan jika peserta TKM tidak merespon atau bahkan menghilang. Karena ada pengalaman bahwa para peserta TKM dahulu ada yang di keroyok, namun langsung di tindak lanjuti oleh kemnaker, ujar Pak Iwan.
Setelah itu kami kedatangan kembali Ibu Dini Antari W. - Kepala Balai Perluasan Kesempatan Kerja Bekasi.Beliau juga memberi dorongan tentang pencairan dana, ada 100 data yang tidak di teruskan dan ada 217 data yang belum terpenuhi yaitu masalah NIB dan BPJS. Ujar Ibu Dini.
Kemudian acara penutup yang ditutup oleh Pak Norman, dengan memberi masukan kembali tentang keselamatan kerja para pendamping untuk program kedepan, dan laporan laporan berupa data pasti dari pihak pihak terkait.Bapak Norman juga mengajak para TKMP dan TKML untuk berfoto bersama dengan Bapak Iwan Darmawan dan Ibu Dini Antari. Lalu setelah sesi foto masih diberikan sesi Ramah Tamah bagi para peserta pendamping yang ingin berbincang bincang seputar program swakelola ini.