Ini adalah proses pasca umang-umang. Ruang eksperimen, yang mana setiap entitas di dalamnya bebas menuangkan idenya masing-masing. Biometrika Tubuh Hujan adalah tema besarnya. Ya, kali ini kita bertumpu pada tubuh. Menjadikan tubuh sebagai modal utama, untuk mengulas berbagai kumpulan peristiwa, yang kemudian kita satukan menjadi sebuah pementasan. Pentas Kudus Panggung Miring ini di sokong banyak sekali pihak. Teater Tigakoma, Mas Dhani, Mas Agus, Mbak Siwi, Wahyu Hok, Vani, Puji Pistols, Swatantu, Terracotta,
Kudus belum sepenuhnya pulih dari pandemi, di tiap-tiap belahan dunia pun juga. Pembatasan sosial masih digalakkan. Sektor sosial hampir lumpuh total. Kegiatan yang mengundang kerumunan tidak diperkenankan. Akibatnya beberapa komunitas seni di Kudus mulai gelisah. Bagaimana caranya agar terhindar dari stagnasi.
Berangkat dari persoalan tersebut, kami, Teater Tigakoma, Teater Satoesh, dan Kampung Budaya Piji Wetan. Akhirnya sama-sama bersepakat bekerja sama untuk mengikuti lomba video kreatif yang diselenggarakan KIFC. Memilih Pegunungan Muria sebagai lokasi syuting. Dan mengangkat beberapa persoalan mengenai isu kehutanan meliputi: deforestasi, penebangan liar, perburuan liar, dan pembakaran hutan.
Di tahun 2021, dan beberapa tahun silam, di Kudus, kami jarang menemukan pertunjukan yang berbasis puisi ditiketkan. Dan fenomena tersebut, cukup menggugah kelompok Teater Tigakoma untuk berspekulasi membangun sebuah pertunjukan yang berbasis puisi lalu ditiketkan. Tibalah keharusan untuk saling berbicara satu sama lain demi memecahkan suatu perkara, "Bagaimana caranya mengemas puisi menjadi pertunjukan yang menarik dan berbeda? Ditambah, berapa kami harus mematok tiket dengan harga yang terjangkau untuk semua kalangan, dan menjalankan latihan yang tidak begitu menguras materi?"