Sistem refrigerasi AC mobil terdiri atas: kompresor, kondensor, receiver/dryer, katup ekspansi dan evaporator. Ada juga komponen lain agar sistem AC dapat bekerja sempurna yaitu unit kopling magnet (magnetic clutch), blower untuk menghembuskan udara pada evaporator, saringan udara untuk membersihkan udara yang dihisap blower, kontrol panel, sistem anti pembekuan. Masing-masing komponen mempunyai fungsi yang berbeda-beda dan bekerja membentuk suatu siklus.
Kompresor AC berfungsi mengalirkan freon atau refrigerant agar tekanan naik untuk bisa berkerja atau bersirkulasi di dalam sistem AC mobil. Kompresor memiliki dua saluran, yaitu saluran hisap (suction) dan saluran buang (discharge). Saluran hisap dihubungkan dengan evaporator dan merupakan sisi tekanan rendah, sedangkan saluran buang dihubungkan dengan kondensor dan merupakan sisi tekanan tinggi. Refrigerant dalam fase gas pada tekanan dan temperature rendah dihisap oleh kompresore melalui saluran hisap, kemudian dimampatkan sehingga tekanan dan temperaturnya naik. Selanjutnya mengalir ke kondensor melalui saluran buang. Kompresor AC mobil digerakan oleh mesin mobil itu sendiri. Agar kompresor bisa dihidupkan dan dimatikan sesuai kebutuhan, maka penghubung putaran ke mesin menggunakan kopling magnet. Kompresor dibagi menjadi 2 jenis yaitu jenis Reciprocating dan jenis Rotary.
Jenis Reciprocating (Piston)
Kompresor jenis piston bekerja memanfaatkan volume, jadi ketika piston turun ke bawah, ruangan yang di atasnya akan membesar dan membuat tekanan turun kemudian katup pemasukan akan bergerak membuka. Dari sini refrigeran masuk terhisap. Dengan poros engkol yang berputar membuat piston bergerak ke atas. Piston yang baik pun membuat katup pengeluaran membuka sehingga refrigeran terdorong keluar menuju kondensor.
Jenis Rotary
Kompresor jenis rotary umumnya bekerja memanfaatkan gerak yang berputar untuk menghisap dan menekan refrigerant atau freon. Secara detail, rotor yang berputar di dalam stator memanfaatkan kompresi serta menekan gas dari ruang chamber. Dari ruang Chamber kemudian dibawa menuju saluran tekan berdiameter kecil yang bertugas untuk menurunkan volume gas.
Meskipun terbagi menjadi 2 Jenis, kompresor juga dibagi menurut tipenya, yaitu: :
A. Kompresor Tipe Crank
Jenis kompresor AC mobil crank ini terasuk kedalam kompresor jenis reciprocating bekerja dengan memanfaatkan pulley yang terhubung dengan poros v-belt. Bekerja maju mundur, kompresor AC tipe Crank menggunakan satu piston sebagai penggerak, cara kerjanya sama dengan kendaraan mesin pembakaran dalam. Ketika kompresor crank berputar, piston akan naik turun dan membuka katup sehingga freon terdorong masuk. Saat freon sudah masuk, maka freon akan ditekan oleh silinder dan didorong keluar menuju kondensor AC.
B. Kompresor Tipe Swash Plate
Kompresor tipe Swash Plate merupakan salah satu tipe kompresor yang termasuk bagian dari reciprocating. Kompresor tipe swash plate biasanya memiliki beberapa silinder di dalamnya. Swash plate juga memiliki dua pasang katup. Oleh karena itu tipe yang satu ini akan bekerja secara ganda dari beberapa silinder dan katup yang ada di dalamnya. Meskipun secara umum memiliki cara kerja yang sama, perbedaan mencolok kompresor AC mobil tipe crank dengan kompresor tipe AC mobil swash plate ini terletak pada jumlah silinder. Kompresor AC tipe swash plate memiliki 6 sampai 10 silinder. Kompresor tipe swash plate terdiri dari beberapa piston yang disusun dengan interval 72 derajat untuk kompresor dengan silinder 10 dan 120 derajat untuk kompresor dengan silinder 6. Untuk menghisap dan menekan refrigeran, piston bergerak ke kanan dan kiri sesuai dengan putaran swash plate. Saat piston bergerak ke dalam, katup pemasukan terbuka dan menghisap refrigeran ke dalam silinder. Saat piston bergerak keluar, katup pengeluaran membuka dan menekan refrigeran keluar. Fungsi katup pemasukan dan pengeluaran satu arah mencegah pemasukan balik.
C. Kompresor Tipe Wobble Plate
Tipe kompresor selanjutnya adalah tipe wobble plate yang masih termasuk dalam jenis Kompresor reciprocating . Tipe ini memiliki 5 buah piston dan sepasang katup discharge dan suction. Sistem kerja kompresor tipe ini sama dengan kompresor tipe swash plate. Namun, kompresor tipe wobble plate hanya memiliki satu sisi kerja piston. Cara kerja kompresor tipe wobble plate yaitu gerakan putar dari poros kompresor diubah menjadi gerakan bolak-balik oleh pelat penggerak (drive plate) dan wobble plate dengan bantuan guide ball. Gerakan bolak-balik ini selanjutnya diteruskan ke piston melalui batang penghubung.
D. Kompresor Tipe Through Vane
Kompresor ini masuk kedalam Kompresor jenis Rotary. Kompresor ini ini memiliki dua bilah (vane) yang terpasang saling tegak lurus pada bagian dalam silinder. Bilah bergeser pada arah radial dan menyentuh bagian dalam silinder (stator) ketika rotor berputar, membentuk ruang masuk dan keluarnya refrigeran.
E. Kompresor Tipe Scroll
Kompresor ini termasuk pada Jenis kompresor Rotary. Kompresor ini memiliki scroll putar dan scroll tetap. Saat scroll putar diputar oleh poros kompresor, ruang pemasukan dan pengeluaran muncul di antara scroll tetap dan scroll putar. Refrigeran terhisap masuk melalui lubang pemasukan dan dipompa sambil dimampatkan hingga mencapai lubang pengeluaran, di mana kondisi refrigerant bertekanan tinggi saat dipompa ke kondensor.
F. Kompresor Tipe Wangkel
Kompresor ini termasuk pada jenis kompresor rotary. Cara kerjanya yaitu Pada saat putaran mesin hidup dan kopling magnet bekerja maka pressure plate akan tertarik oleh kekuatan magnet, sehingga putaran mesin berhubungan dengan rotor pada kompresor. Gerakan rotor akan menyebabkan perubahan volume dalam ruang stator. Perubahan ruang yang berupa pembesaran ruang akan menyebabkan penurunan tekanan sehingga refrigrant akan mengalir melalui suction hole menuju ruang belakang dan selanjutnya dengan bantuan balancer akan didorong masuk menuju ruang bagian stator depan untuk penampungan. Untuk selanjutnya dari ruang depan akan diisap kembali dengan bantuan balancer depan menuju ruang stotor rotor melalui lubang isap. Selanjutnya rotor juga terus berputar dan menyebabkan penyempitan ruang didalam stator terhadap rotor sehingga terjadi penekanan refrigrant. Tekanan refrigrant selanjutnya akan mengalir melalui katup tekan dan dialirkan mennuju ruang belakang dan dikeluarkan melalui discharge hole dalam bentuk gas refrigran bertekanan dan bersuhu tinggi. Proses terjadinya pengisapan dan penekanan dipengaruhi oleh gerakan dari rotor. Gerakan rotor dipengaruhi oleh poros yang digerakkan oleh mesin.
G. Kompresor Tipe Sliding Vane
Kompresor tipe sliding vane termasuk kedalam kompresor jenis Rotari. Kompresor ini melakukan pengompresian refrigerant menggunakan mekanisme yang hampir sama dengan trough vane, yaitu dengan menggunakan mekanisme rotor dan vane yang berputar mendorong refrigerant menuju sisi ruang dalam cylinder yang lebih sempit, sehingga refrigerant nantinya akan terkompresi dan keluar melalui discharge port.
komponen ini terletak pada depan kompresor yang terhubung dengan v belt putaran mesin. Fungsi kopling magnet adalah untuk menghubungkan dan melepaskan putaran mesin ke kompresor. Magnetik clutch terdiri dari tiga bagian yaitu rotor, stator, dan plat tekan. Rotor terhubung ke puli penggerak, dan stator terpasang pada rumah kompresor. Plat tekan terpasang pada poros kompresor.
Cara kerja Magnetic Cluth ( Kopling magnet )
Puli penggerak tidak dihubungkan dengan poros kompresor sehingga kompresor tidak ikut berputar saat mesin berputar. Jika saklar kontrol AC dinyalakan, arus mengalir ke kumparan stator dari baterai. Gaya elektromagnet yang terbentuk pada stator akan menarik plat tekan ke rotor, yang menyebabkan poros kompresor dan rotor berputar bersama-sama. Jika saklar kontrol AC dilepaskan, kemagnetan hilang. Plat tekan kembali ke tempat semula setelah tidak lagi tertarik. Meskipun puli tetap berputar selama mesin beroperasi, kompresor tidak ikut berputar.
Dampak Kerusakan Magnetic Clutch
Ketika magnetic clutch sudah menunjukkan kerusakan, maka komponen lainnya pada mobil juga akan terganggu. Apabila terjadi kerusakan pada magnetic clutch, dampak yang akan ditimbulkan yaitu :
Fungsi utama kopling magnet adalah penghubung dan pemutus kerja kompresor. Ketika magnetic clutch tidak berfungsi, otomatis kompresor tida bisa bekerja dengan normal. Magnetic clutch yang rusak menyebabkan kompresor mengeluarkan bunyi karena adanya suara kasar akibat pergeseran magnet pulley dengan pelat centerpiece. Suara ini dapat timbul disebabkan salah satu komponen yang sudah tidak rata, tidak lagi presisi, dan bisa karena berkarat.
Dampak lainnya dari kerusakan magnetic clutch adalah ketidakstabilan suhu yang dihasilkan oleh AC, seperti kadang dingin kadang panas. Masalah tersebut terjadi karena magnetic clutch sudah lemah atau rusak.
Ketika komponen magnetic clutch rusak, beban mesin akan berkurang signifikan karena kompresor tidak bekerja. Tarikan gas menjadi lebih ringan, yakni putaran RPM mesin biasanya di angka 1000 RPM bisa sampai 1.500 RPM.
Efek lainnya dari kerusakan magnetic clutch adalah spull magnet bisa mati mendadak ketika dipakai terlalu lama atau dalam kondisi panas. AC harus dimatikan terlebih dahulu dan dinyalakan lagi setelah kurang lebih sekitar 10 sampai 15 menit, baru spull magnet dapat berfungsi secara normal kembali.
Berfungsi untuk menyerap panas pada refrigerant yang telah dikompresikan oleh kompresor dan mengubah refrigrant yang berbentuk gas menjadi cairan dingin. Tugas kondensor adalah menurunkan temperatur refrigeran yang tinggi tersebut dengan cara mengambil panas refrigeran melalui aliran udara pada sirip-sirip kondensor. Gas refrigeran dari kompresor selanjutnya berubah fasa menjadi cair dikarenakan pengambilan panas tersebut. Alat tersebut melakukan cara ini dengan menghilangkan panas dari refrigerant panas ke temperature atmosfer. Kondenser terdiri dari coil dan fin yang berfungsi mendinginkan refrigerant ketika udara tertiup diantaranya. Jenis air conditioning Kondenser ini adalah aluminum serpentine type (R-12) dan parallel flow type (R-134a) ditempatkan di depan radiator kendaraan. Jenis parallel Flow type kondenser lebih memperbaiki efisiensi dan meminimalkan fungsi pendinginan dibandingkan dengan jenis serpentine Type.
Receiver dryer adalah salah satu komponen sistem AC (air conditioner) kendaraan. Pada umumnya receiver dryer memiliki dua fungsi utama. Fungsi receiver dryer adalah untuk menyaring kotoran yang ikut terbawa oleh freon atau refrigerant serta menyerap uap air. Hal ini berguna agar kotoran dan uap air tidak mengganggu kinerja dari sistem AC. Receiver dryer pada umumnya terletak diantara kondensor dan katup ekspansi. Oleh karena itu sebelum freon masuk ke katup ekspansi akan di filter terlebih dahulu oleh receiver dryer. Ada beberapa bagian atau komponen receiver dryer. Komponen receiver dryer seperti filter, dessicant atau silica gel, saluran masuk, dan saluran keluar. Namun pada beberapa jenis ada yang ditambahkan sight glass.
Cara kerja receiver dryer sebenarnya sangat sederhana. Dengan kata lain receiver dryer bekerja seperti filter oli, dan lain sebagainya. Freon atau refrigerant yang sudah ditekan akan mengalir melalui kondensor dan masuk ke receiver dryer. Ketika freon masuk, maka akan disaring oleh filter untuk membebaskan dari kotoran yang ikut terbawa. Sementara itu silica gel atau dessicant akan menyerap uap air yang ada didalam freon agar tidak membeku ketika masuk ke katup ekspansi. Fungsi dari komponen yang ada dalam receiver dryer adalah :
Merupakan komponen receiver dryer yang memiliki fungsi untuk menyaring kotoran-kotoran yang ikut terbawa oleh freon atau refrigerant. Kotoran ini dapat berasal dari gram-gram pada kompresor atau kotoran dari luar saat proses pengisian.
Dessicant atau silica gel, merupakan komponen receiver dryer yang memiliki fungsi untuk menyerap air yang ikut bersirkulasi bersama freon atau refrigerant. Air dapat berasal dari proses pemvakuuman yang kurang sehingga meninggalkan udara didalam saluran sistem AC.
Sight glass, merupakan komponen receiver dryer yang memiliki fungsi untuk melihat aliran freon atau refrigerant yang terdapat pada sistem AC. Namun tidak semua receiver dryer mempunyai sight glass. Pada beberapa tipe sight glass diletakkan pada pipa sambungan. Selain untuk melihat aliran refrigerant, sight glass juga dapat berfungsi untuk melihat jumlah freon atau refrigerant yang terdapat pada sistem AC. Apabila jumlah freon atau refrigerant sedikit maka akan menimbulkan banyak gelembung udara yang dapat merusak berbagai komponen yang terdapat pada sistem AC. Sementara itu apabila jumlah freon atau reefrigerant berlebihan, maka sight glass tidak akan menimbulkan gelembung udara. Pada kondisi freon yang terlalu penuh maka dapat menyebabkan tekanan pada sistem AC meningkat. Hal ini dapat merusak berbagai komponen terutama sambungan pipa. Oleh karena itu, pada proses pengisian harus pass yaitu sedikit gelembung.
Saluran masuk, merupakan salah satu komponen receiver dryer yang memiliki fungsi sebagai saluran masuk freon atau refrigerant.
Saluran keluar, merupakan salah satu komponen receiver dryer yang memiliki fungsi sebagai jalan keluar freon atau refrigerant yang sudah disaring dan diserap uap airnya.
Fusible plug, merupakan salah satu komponen receiver dryer yang memiliki fungsi sebagai pengaman kerja sistem AC. Apabila tekanan kerja sistem AC pada kendaraan terlalu tinggi maka fusible plug akan meleleh sehingga sistem AC akan berhenti bekerja. Melelehnya fusible plug diakibatkan oleh suhu tinggi yang timbul akibat tekanan yang terlalu tinggi sampai 95-100 derajat celcius.
Katup ekspansi merupakan sebuah komponen pada AC mobil yang memiliki fungsi mengubah Refrigerant atau freon dari cair menjadi gas. Pada proses ini tekanan cairan yang tinggi akan diturunkan dari ekspansi. Selain itu katup ekspansi juga memiliki beberapa fungsi lainnya seperti dibawah ini:
A. Mendinginkan Temperatur Refrigerant
Fungsi Expansion Valve pada AC mobil yang pertama adalah berperan dalam proses pendinginan temperatur refrigerant atau freon. Komponen ini akan membuat freon mengalami penurunan suhu, sehingga bisa disalurkan dan menyebar yang akan membuat udara di mobil terasa dingin. Katup ekspansi ini mampu menurunkan tekanan freon AC mobil hingga suhu -30 derajat Celcius. Hal ini berfungsi untuk mempersiapkan udara dingin sesuai dengan suhu yang disetel pada AC.
B. Mengatur Banyaknya Refrigerant Yang Masuk Ke Evaporator
Mengatur banyaknya freon yang akan disalurkan menuju Evaporator merupakan fungsi berikutnya dari katup ekspansi. Jumlah freon yang akan disalurkan ke evaporator ini akan disesuaikan dengan beban pendinginan AC. Katup ekspansi akan mengabutkan freon dalam jumlah yang bergantung pada sensor panas dalam komponen sensing tube. Apabila sensor panas ini derajatnya semakin tinggi, maka freon yang harus disalurkan oleh katup ekspansi ini harus semakin banyak jumlahnya.
C. Menurunkan Tekanan Refrigerant
Fungsi terakhir dari katup ekspansi ini adalah menurunkan tekanan yang ada pada freon. Proses produksi freon pada mulanya adalah berasal dari kompresor. Selanjutnya, komponen katup ekspansi ini bertugas untuk membantu dalam mengabutkan freon agar tekanan menurun. Pengabutan tekanan freon pada katup ekspansi ini bertujuan untuk membuat proses pendinginan yang akan dilakukan di evaporator menjadi lebih efektif. Selanjutnya, AC bisa menyebabkan udara dingin sesuai permintaan dan menyalurkan ke dalam ruangan.
Expansion valve mempunyai beberapa komponen yang akan mendukung kinerjanya. Setiap komponen yang ada di katup ekspansi ini saling berhubungan untuk mendukung kinerja AC. Berikut adalah beberapa komponen yang ada di dalam katup ekspansi pada AC.
Saluran Outlet
Komponen pertama yang ada di dalam katup ekspansi adalah saluran outlet. Fungsi dari komponen ini adalah menyalurkan freon untuk keluar dari katup ekspansi. Selanjutnya, freon yang dikeluarkan ini akan disalurkan untuk menuju ke evaporator.
Saluran Inlet
Saluran inlet merupakan komponen berikutnya pada katup ekspansi yang berfungsi untuk menghubungkan dengan receiver dryer. Inlet ini akan berfungsi sebagai saluran masuknya freon dari receiver dryer menuju katup ekspansi agar nantinya mengalami proses penekanan.
Diafragma
Komponen ini yang berfungsi untuk menjadi penerus panas. Saat panas sudah terdeteksi sensing tube, diafragma ini akan meneruskan panas dan membuat katup terbuka sesuai dengan kebutuhan. Cara kerja dari komponen ini adalah membuka pegas dan jarum dengan cara mendorongnya. Diafragma akan melengkung lebih dalam jika beban AC semakin besar, sehingga katup ekspansi ini bisa terbuka lebar dan maksimal.
Jarum dan Katup
Jarum dan katup adalah komponen dari ekspansi yang tidak bisa dipisahkan. Fungsi dari kedua komponen ini adalah mengatur jumlah freon yang akan disalurkan ke evaporator. Apabila katup semakin terbuka lebar, maka jumlah freon yang akan disalurkan oleh komponen ini semakin banyak. Cara kerjanya dalam mengatur jumlah freon yang akan disalurkan ke evaporator ini bergantung pada lebarnya katup pada saat itu. Lebarnya katup yang terbuka ini disesuaikan dengan permintaan pendinginan AC.
Heat Sensing Tube
Komponen heat sensing tube pada katup ekspansi ini adalah sebagai sensor temperatur pada saluran keluar evaporator. Heat sensing tube akan meneruskan panas untuk membuka membran sesuai dengan suhu yang diterima.
Pegas
Fungsi dari komponen pegas yang ada pada katup ekspansi adalah untuk mengembalikan posisi diafragma. Komponen yang satu ini akan membantu diafragma agar katup ekspansi bisa menutup dengan sempurna apabila dalam kondisi tidak bekerja.
Pipa Kapiler
Komponen terakhir pada katup ekspansi adalah pipa kapiler yang berfungsi untuk menyalurkan panas dari heat sensing tube ke membran. Besarnya panas yang disalurkan melalui pipa kapiler ini bergantung pada tekanan pada heat sensing tube.
Cara kerja dari katup ekspansi diawali dengan adanya freon yang mengalir pada receiver dryer ke komponen tersebut. Selanjutnya, heat sensing tube ini akan mendeteksi panas dari freon yang keluar melalui saluran outlet evaporator. Panas yang diterima oleh heat sensing tube ini akan disalurkan oleh pipa kapiler ke membran di dalam katup ekspansi. Membran ini akan melengkung dan mendorong jarum untuk melawan pegas guna membuka katup ekspansi berdasarkan pada tekanan dari panas yang disalurkan. Apabila expansion valve terbuka dalam kondisi yang lebar, maka dapat menyalurkan freon berjumlah banyak. Namun, apabila katup ekspansi ini hanya terbuka sedikit, maka freon yang disalurkan juga terbatas. Besarnya freon yang disalurkan ini bergantung pada beban AC.
Fungsi evaporator kebalikan dari condenser. Keadaan refrigeran sebelum expansion valve masih 100% cair. Segera setelah tekanan cairan turun, cairan mulai mendidih kembali sambil menyerap panas dari udara yang melewati sirip-sirip pendingin evaporator, dan mendinginkan udara. Seperti halnya condenser, evaporator konstruksinya sederhana tetapi merupakan komponen penting di dalam sistem pendingin. Konstruksi dan kondisi operasi evaporator berada di sisi temperatur rendah mempunyai efek yang besar efisiensi pendinginan. Pembekuan dan pembentukan es terjadi terutama pada sirip (fin) evaporator. Ketika udara hangat mengenai sirip-sirip evaporator dan menjadi dingin sampai di bawah temperatur pengembunan, uap air mengembun dan menempel pada sirip evaporator dalam bentuk tetesan air. Bila pada saat ini sirip telah menuju dingin sampai di bawah 0o C (32o F), air yang menempel dapat menjadi es. Bila hal ini terjadi efisiensi pemindahan panas pada evaporator akan turun, aliran udara yang melewati evaporator berkurang dan kemampuan pendingin menjadi rendah.
Blower AC mobil berfungsi untuk menghembuskan udara ke arah evaporator AC yang sedang bekerja sehingga suhu udara menjadi lebih dingin setelah melewati evaporator. Udara dingin yang keluar dari evaporator ini kemudian mengalir keluar menuju ruangan di dalam kendaraan melalui saluran udara dan kisi-kisi AC yang terdapat di dashboard mobil. Disaat AC dalam kondisi normal, udara yang dihembuskan oleh blower AC ini akan berhembus dan melewati evaporator. Ketika udara mengalir diantara kisi-kisi evaporator, suhu panas yang dibawa oleh udara ini akan diserap oleh freon di dalam evaporator AC sehingga suhunya menjadi dingin. Blower AC dipasang tepat di belakang evaporator AC yang semuanya terletak pada saluran udara (Air Duct) khusus AC. Pada umumnya, blower AC ini diparalel dengan magnetic clutch yang ada pada kompressor AC sehingga ketika AC mobil digunakan maka kipas akan berputar. Blower AC mobil terdiri dari 4 komponen saja, yaitu :
Kipas Blower berfungsi untuk menghembuskan udara menuju ke evaporator. Kipas blower ini berbentuk baling-baling yang di desain berbentuk tabung dan dipasangkan pada motor blower. Jadi ketika motor blower berputar, makakipas blower ikut berputar dan menghembuskan udara.
Motor blower berfungsi sebagai motor penggerak untuk memutar kipas blower. Motor blower ini bekerja seperti dinamo yang apabila diberi arus listrik ia akan berputar. Tegangan dan arus listrik yang masuk ke motor blower ini diatur oleh resistor blower sehingga kecepatan putar dari motor blower ini bisa diatur. Efeknya kita bisa merasakan hembusan udara Ac yang kencang, sedang ataupun pelan.
Resistor blower berfungsi untuk membatasi arus dan tegangan listrik yang masuk kedalam motor blower. Pembatasan arus listrik yang mengalir ini akan membuat kecepatan putar dari blower AC bisa berubah-ubah sesuai dengan besarnya resistansi yang digunakan. Semakin kecil nilai resistansinya maka putaran motor blower akan cepat. Begitu pula sebaliknya, jika resistansinya besar maka putaran motor blower akan melambat.
Blower Casing ini merupakan tempat kedudukan dari motor blower dan kipas blower. Umumnya terbuat dari bahan kaleng yang tebal agar mampu menahan beban kerja motor blwer. Untuk bentuknya, tentu disesuaikan dengan konstruksi AC yang digunakan
Pelumas kompresor diperlukan untuk melumasi bantalan bantalan serta bidang permukaan yang saling bergesekan Oleh karena pelumas pada kompresor ikut bersirkulasi dengan refrigerant, maka dibutuhkan oli khusus. Oli kompresor terdiri dari berbagai tingkatan dan jenis yang diolah sedemikian rupa sehingga menghindari timbulnya busa dan belerang. Selain itu oli kompresor sangat bergantung dengan jenis refrigerant yang digunakan dan secara spesifik dapat diuraikan :
Refrigerant R12 : digunakan pelumas mineral.
RefrigerantCFC 134a : digunakan PAG (Poly Alkylene Glycol) atau pelumas Ester.
Jumlah oli kompresor baik dalam keadaan kosong maupun sebagai tambahan karena penggantian komponen.
kosong (pemasangan baru) 100 cc
ganti receiver 20 cc
ganti condenser 40 – 50 cc
ganti evaporator 40 – 50 cc
Dalam kontrol panel, ada selektor saklar yang secara mekanis dan elektrik mengontrol pelat pengatur udara (damper) dan motor blower, serta kontrol temperatur, kecepatan blower, arah hembusan, dan kontrol AC.
Peralatan tambahan yang menunjang terlaksananya proses sistem pendinginan, dan juga merupakan peralatan pokok yang harus ada meskipun tidak termasuk komponen utama, adalah:
Pressure switch dipasang di antara receiver dan expansion valve. Fungsinya untuk mendeteksi bila tekanan pada sisi tekanan tinggi siklus refrigerant adalah tinggi dan mematikan swit magnetic clutch ketika keadaannya tidak normal, menyetop keria kompresor untuk mencegah kesulitan yang timbul dari komponen-komponen yang berhubungan dengan siklus refrigerant. Jika Tekanan di dalam siklus refrigerant terlalu tinggi, akan menyebabkan gangguan atau kerusakan pada berbagai komponen. Apabila dideteksi tekanannya terlalu tinggi, kira-kira 27 kg/cm2 (38 psi,2648 kpa) switch menjadi OFF. Dan magnetic clutch OFF dan kompresor berhenti berputar. Begitu juga ketika tekanan terlalu rendah, Bila jumlah refrigeran di dalam siklus berkurang banyak karena kebocoran dan lain-lain, tekanan refrigerant akan rendah. Pelumasan yang dihasilkan kompresor akan kurang dan bila kompresor bekerja terus akan menyebabkan keausan. Berkurangnnya refrigeran, tekanan akan turun sampai 2,1 kg/cm2 (30 psi, 206 kpa) atau lebih rendah menyebabkan pressure switch OFF. Hal ini akan menyebab kan magnetic clutch OFF dan kompresor berhenti berputar. Ada dua tipe pressure switch yang digunakan, yaitu tipe dual yang memakai satu switch untuk mendeteksi tekanan terlalu tinggi dan tekanan terlalu rendah dan tipe single dengan switch terpisah untuk switch tekanan tinggi dan switch tekanan rendah.
Untuk menghidari berkurangnya efek pendinginan yang disebabkan pembekuan air yang ada di fin pada evaporator yang terlalu dingin < 0 derajat Celcius, Sistem AC dipasang alat untuk pendeteksi suhu diruang kabin. Ada beberapa tipe alat yang biasa dipasang yaitu :
A. Tipe Thermistor
Thermistor adalah singkatan dari terminal resistor merupakan resistor tambahan yang akan memberikan resistant sesuai dengan kadar suhu dan temperature yang dibutuhkan. Jadinya, resistant akan bersifat tak tetap berdasarkan adanya suatu perubahan yang bersangkutan. Dapat dikatakan pula dalam fungsi sebagai sensor suhu dan temperatur yang ada pada evaporator dari AC mobil. Dengan posisi yang menempel pada evaporator itu, semakin mempermudah terminal resistor ini dalam bekerja. Tanpa ada sebuah thermistor AC mobil akan beresiko menjadikan evaporator dan juga AC beku karena bagian dari kompresor tak terhenti dan terus saja menyala.
Menjadikan suhu temperatur di Ac mobil bekerja dengan baik.
Akses on off pada AC mobil yang berfungsi dan dapat dihandle dengan mudah.
Mendukung kinerja dari evaporator agar AC mobil lebih fungsionalis.
Turut memberikan kinerja optimal pada AC kendaraan
Cara kerja thermistor AC mobil:
Thermistor memiliki nilai resistansi yang berubah-ubah tergantung suhu.
Saat suhu evaporator naik, resistansi thermistor akan turun.
ECU menerima sinyal perubahan resistansi dari thermistor.
ECU memerintahkan kompresor untuk mati atau hidup untuk menjaga suhu evaporator sesuai pengaturan.
B. Tipe Thermostat
Alat ini berfungsi memberikan sinyal kondisi temperatur kabin ke kopling magnet secara otomatis. Di dalam thermostat terdapat sensor yang akan mendeteksi suhu pada evaporator. Jika thermostat rusak, evaporator bisa membeku karena pemutus arus listrik tidak bekerja. Tanda-tanda kerusakannya antara lain keluarnya asap dari kisi-kisi AC serta adanya tetesan air seperti embun yang keluar dari evaporator. Thermostat juga berfungsi mengatur proses kerja kompresor AC. Pada thermostat terdapat tabung indera panas yang berisi gas yang sangat peka terhadap perubahan suhu. Tabung ini terpasang pada evaporator dibagian saluran angin keluar. Ketika suhu penguapan refrigeran cair di dalalm evaporator naik, gas di dalam tabung indera panas akan memuai dan mendorong alas diafragma ke atas. Dengan demikian, sakelar yang terhubung dengan magnetic clutch akan mendapat aliran listrik, sehingga kompresor bekerja. Sebaliknya, jika suhu pada saluran angin keluar di evaporator turun melewati batas normal, gas di dalam tabung indera panas akan menyusut. Alas diafragma yang sebelumnya terdorong oleh tekanan gas akan kembali ke bawah karena tarikan pegas, sehingga sakelar memutus arus listrik ke kopling magnet, akibatnya kompresor berhenti bekerja.
C. Tipe EPR (Evaporator Pressure Regulator)
EPR di pasangkan diantara Evaporator dan kompresor, Tipe ini mengatur jumlah Refrigerant yang mengalir dari evaporator ke kompresor, dan menjaga agar tekanannya tidak kurang dari 1,9 kg/cm2, sehingga akan menjaga temperatur fin eva porator tidak turun < 0 Derajat Celcius. Evaporator pressure regulator berfungsi untuk mempertahankan tekanan evaporasi di evaporator pada tekanan yang ditentukan. Alat ini akan membuka bila ada kenaikan tekanan pada sisi inletnya, yaitu pada saat tekanan evaporator mencapai nilai setting-nya. EPR dipasang pada suction line, setelah evaporator.
Peralatan ini berfungsi untuk menstabilkan putaran mesin melalui sensor pendeteksi RPM mesin yang dipasangkan pada arus primer ignition coil sehingga putaran idle mesin menjadi lebih baik dan tidak mudah mati. Prinsip kerja dari mekanis peralatan ini adalah ketika RPM mesin drop hingga mencapai batas minimum, akan menghentikan magnetic clutch, sehingga kompresor berhenti bekerja dan RPM mesin akan normal kembali.
Alat ini digunakan untuk meningkatkan RPM mesin dalam kondisi idle dan AC dalam kondisi menyala. Tanpa alat ini, mesin akan sangat berat karena beban mesin yang bertambah dan akan sering mati yang dapat mengganggu kenyamanan berkendara. Alat ini memanfaatkan Vacuum Switching Valve (VSV) serta sebuah Actuator untuk membuka Throttle pada mobil konvensional yang masih menggunakan karbulator. Sedangkan untuk mobil EFI, digunakan VSV yang dilengkapi diapraghma yang menyebabkan udara akan melalui surge tank, dan ECU akan menginjeksikan sejumlah tambahan bahan bakar sesuai dengan udara bypass, sehingga idling mesin akan meningkat.
VSV Mobil Konvensional (Karbulator)
VSV Mobil Injeksi
Alat ini digunakan untuk melindungi tali penggerak kompresor, yaitu pada saat kompresor mengalami kemacetan. Bila hal ini terjadi maka magnetic clutch dan VSV idle up akan off secara otomatis dan indikator lampu AC akan berkedip untuk memberitahukan kerusakan yang terjadi pada sistem pendingin
AC tipe airmix, dengan kompresor berputar pada beban penuh yang temperaturnya mencapai batas limit hingga terjadi pembekuan pada fin evaporator ( 3 Derajat Celcius), hal ini akan banyak menyerap tenaga mesin. Dengan menggunakan peralatan ini dan diset pada switch ekonomi akan menghemat banyak pemakaian karena kompresor akan off pada 10 Derajat Celcius temperatur fin bukan 3 Derajat Celcius seperti pada keadaan normal.
Terletak antara receifer dan expansion valve dan dipakai pada sistem pendingin tipe dual, dengan kata lain, Komponen ini dipakai untuk membagi aliran freon. Pengontrol temperatur ini bekerja dengan cara membuka dan menutup magnetic valve yang secara paralel akan bekerja membuka dan menutup siklus pendingin.