JARINGAN OTOT
JARINGAN OTOT
Jaringan otot terdiri dari serat-serat otot yang disebut miofibril. Mikrofilamen dan protein menyatu dan menghasilkan daya yang diperlukan untuk kontraksi sel, yang menghasilkan gerakan dalam organ tertentu dan fubuh secara keseiuruhan. Hampir semua sel otot berasal dari mesoderm, dan sel-sel ini mengalami diferensiasi terutama melalui suafu proses pemanjangan sel secara bertahap dengan sintesis protein myofibril secara bersamaan. Otot dapat bekerja secara aktif dengan cara kontraksi (memendek) relaksasi (memanjang), dengan bantuan protein aktin (filamen halus), protein miosin (filamen kasar), ATP dan Ca2+. Berikut susunan otot:
Gambar 1. struktur otot
Sumber: Freepik.com
Terdapat 3 jenis jaringan otot pada mamalia yang dapat dibedakan berdasarkan ciri morfologis dan fungsional serta struktur setiap jenis jaringan otot:
Otot lurik (otot rangka)
Otot rangka terdiri dari serabut otot yang merupakan sel multinuclear silindris yang sangat Panjang dengan diameter 10-100 µm yang mana otot lurik ini sering di sebut daging. inti sel yang banyak terbentuk akibat peleburan sel mesenkimal emrional yang disebut dengan mioblas. Inti lonjong yang Panjang umumnya terdapat di tepian sel di bawah membrane sel.
Ciri-ciri jaringan otot lurik adalah sebagai berikut:
Bentuk selnya silindris panjang dengan bagian ujung-ujungnya meruncing, tetapi agak membulat pada bagian yang berbatasan dengan tendon.
Jaringan otot lurik (otot rangka) tidak bercabang-cabang.
Selnya berukuran panjang 1 – 40 mm dan berdiameter 10 – 100 μm.
Memiliki banyak inti sel dengan bentuk silindris dan terletak di bagian pinggir.
Miofibril pada otot lurik terdiri atas filamen tipis dan filamen tebal yang sejajar dan tersusun berdampingan.
Filamen tipis terdiri atas tiga macam protein, yaitu aktin, troponin, dan tropomiosin. Dan Filamen tebal terdiri atas protein miosin.
Filamen aktin dan miosin saling tumpang tindih, serta tersusun menurut pola tertentu sehingga menghasilkan pandangan garis-garis seran lintang (lurik).
Garis terang disebut pita I (isotrop) dan garis gelap disebut pita A (anisotrop).
Setiap pola yang tersusun dari pita I dan pita A membentuk sarkomer, yaitu unit fungsional otot rangka karena mampu berkontraksi. Dengan demikian, satu miofibril tersusun dari banyak sarkomer yang berderet.
Aktivitas sel cepat, tetapi mudah lelah. Oleh karena itu, jaringan otot lurik tidak dapat berkontraksi dalam jangka waktu lama.
Kerja otot lurik dipengaruhi oleh otak, sehingga bersifat volunter, yaitu bekerja di bawah kesadaran dan dapat diperintah.
Memiliki banyak mitokondria berukuran besar dengan banyak sekat di dalamnya. Mitokondria terletak memanjang berderet-deret di sepanjang serabut, di bawah sarkolema, dan di antara miofibril.
Otot lurik melekat pada rangka dengan perantara tendon. Selain itu, otot lurik juga terdapat pada lidah dan bibir.
Gambar 2. Otot Lurik (Otot rangka)
Sumber: Junqueira,2011
2. Otot polos
Serabut otot polos merupakan sel panjang yang runcing tanpa garis melintang, dan setiap sel dibungkus oleh lamina basal dan jejaring serat retikular halus. Setiap sel memiliki satu inti di pusat pada bagian sel yang terlebar. Agar dapat berhimpit lebih erat, bagian sel yang sempit terletak berdampingan dengan bagian yang Sel otot polos memiliki sederet filamen intermedia ber ukuran 10 nm.lebar dari sel tetangga. Otot polos memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Bentuk sel seperti gelendong dengan kedua bagian ujungnya meruncing dan bagian tengahnya melebar.
Selnya berukuran panjang 20 – 200 μm dan berdiameter 5 – 10 μm. pada pembuluh darah kecil memiliki Panjang 20 µm dan 500 µm pada uterus di masa kehamilan.
Inti sel berjumlah satu, berbentuk oval, dan terletak di tengah sel.
Pada sel tidak terdapat pita terang dan pita gelap.
Aktivitas sel lambat, tetapi tidak mudah lelah. Oleh karena itu, otot polos mampu berkontraksi dalam jangka waktu yang lama.
Kerja otot polos dipengaruhi oleh sistem saraf otonom (saraf tak sadar), baik saraf simpatis maupun saraf parasimpatis. Oleh sebab itu, otot polos bersifat involunter, yaitu bekerja di luar kesadaran dan tidak dapat diperintah. Cara kerja saraf simpatis berlawanan dengan saraf parasimpatis. Misalnya pada lambung. Jika terjadi kontraksi pada otot lambung, saraf simpatis akan memperlambat kontraksi, sedangkan saraf parasimpatis akan mempercepat kontraksi.
Otot polos memiliki struktur yang lebih kecil daripada otot lurik.
Otot polos memiliki aktin, miosin, dan tropomiosin, tetapi tidak memiliki troponin. Selain itu, otot polos hanya memiliki sedikit mitokondria.
Otot polos dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
- Otot polos unit tunggal adalah otot polos yang terdiri dari ratusan sampai jutaan serabut yang berkontraksi secara keseluruhan sebagai suatu kesatuan. Contohnya, otot polos yang menyusun dinding organ dalam seperti usus, lambung, saluran empedu, ureter, uterus, dan pembuluh darah.
- Otot polos unit ganda adalah otot polos yang terdiri dari serabut otot yang berbeda-beda. Setiap serabut otot bekerja sendiri-sendiri tanpa bergantung dengan serabut otot lainnya. Jenis otot polos ini juga jarang menimbulkan kontraksi yang spontan. Contohnya, otot polos siliaris pada mata dan otot piloerektor pada rambut yang menyebabkan rambut berdiri karena rangsangan saraf simpatis.
Gambar 3. Otot Polos
Sumber: Junqueira,2011
3. Otot Jantung
Selama perkembangan embrio, sel-sel mesoderm bumbung jantung primitif tersusun berderet seperti rantai. Sel-sel otot jantung membentuk taut yang rumit di antara cabang-cabangnya yang terjulur. Sel otot jantung mengandung banyak mitokondria yang menemp ati 407' atau lebih volume sitoplasma yang mencerminkan kebutuhan akan metabolisme aerob dalam otot jantung secara terus menerus. Otot jantung memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Bentuk selnya silindris bercabang-cabang dengan percabangan yang saling bertautan. Pertemuan antarcabang pada jaringan otot jantung disebut sinsitium. Adanya sinsitium memungkinkan penyampaian implus saraf antara sel otot jantung satu dengan yang lain dapat berlangsung secara cepat. Otot jantung mempunyai diskus interkalaris, yaitu pertemuan dua sel yang tampak gelap jika dilihat dengan mikroskop. Bagian yang berada lebih longitudinal di setiap diskus memiliki berbagai taut celah, yang memungkinkan pertukaran ion secara kontinu di antara sel-sel yang bersebelahan.
Memiliki satu atau dua inti yang letaknya di bagian tengah sel.
Terdapat pita terang dan pita gelap seperti pada otot lurik. Pada otot jantung terdapat pigmen lipofusin, yaitu pigmen berbentuk butiran butiran berwarna kecokelatan yang mengandung bahan-bahan lemak. Selain pada sel otot jantung, pigmen lipofusin juga terdapat pada sel hati dan sel saraf.
Dapat melakukan kontraksi terus-menerus tanpa beristirahat. Hal ini dikarenakan otot jantung memiliki banyak mitokondria, mioglobin, dan menerima suplai darah yang mengandung oksigen dan nutrisi secara terusmenerus.
Kerja otot jantung dipengaruhi oleh saraf otonom sehingga bersifat involunter, yaitu bekerja di luar kesadaran dan tidak dapat diperintah.
Di dalam otot jantung terdapat serat Purkinje, yaitu serat otot jantung khusus yang mampu menghantar impuls dengan kecepatan lima kali lipat kecepatan hantaran serabut otot jantung. Serat Purkinje terletak di endokardium, yaitu lapisan dalam otot.
Otot jantung hanya terdapat pada organ jantung.
Gambar 4. Struktur Otot Jantung
Sumber: Junqueira,2011
Gambar 5. Otot Jantung
Sumber: Junqueira,2011
Kontraksi Jarigan Otot
Miosin pada jaringan otot aktif menggerakkan aktin dengan bantuan Ca2+ dan ATP. Kemudian,saat kontraks myosin akan menarik aktin sehingga pita I memendek dan zona H hilang. Saat relaksasi, miosin melepas aktin sehingga pita I kembali memanjang, zona H kembali muncul.
Regenerasi jaringan otot
Ketiga jenis otot dewasa memiliki potensi yang berbeda-beda dalam meregenerasi setelah terjadi cedera. Pada otot rangka, meskipun intinya tidak mampu mengalami mitosis, iaringan ini dapat mengalami regenerasi dengan keterbatasan. Sumber sel yang beregenerasi ialah populasi kecil sel satelit, yang berada di dalam lamina eksternal pada setiap serabut otot yang matur. Sel satelit merupakan mioblas inaktif yang menetap setelah diferensiasi otot terjadi. Setelah cedera atau rangsangan tertentu lainnya, sel satelit yang biasanya diam, menjadi aktif, berproliferasi, dan bergabung membentuk serabut otot rangka baru. Aktivitas sel satelit yang serupa diisyaratkan berperan pada perfumbuhan otot setelah latihan yang berat, suatu proses ketika sel-sel tersebut menyatu dengan serabut induknya unfuk menambah massa otot di luar penambahan yang terjadi melalui hipertrofi sel. Namun, kemampuan regenerasi otot rangka sangat terbatas setelah terjadinya trauma berat atau degenerasi otot.
Pada otot jantung tidak memiliki sel satelit dan hampir tidak memiliki kapasitas unfuk beregenerasi setelah awal masa kanak-kanak. Defek atau kerusakan (misalnya, infark) pada otot jantung umunya digantikan oleh proliferasi fibroblas dan pertumbuhan jaringan ikat, yang membentuk parut mio kardium. Otot polos, yang terdiri atas sel pipih mononuklear mampu memberikan respons regeneratif yang lebih aktif. Sedangkan Pada otot polos, setelah cedera sel-sel otot polos yang masih hidup mengalami mitosis dan menggantikan jaringan yang rusak. Perisit kontraktil dari dinding pembuluh darah kecil (lihat Bab 11) berperan pada perbaikan otot polos vaskular.