Museum Universitas Pendidikan Indonesia menyajikan bagaimana pendidikan dimasa yang akan datang, karena saat ini pendidikan menjadi bersifat forecasting atau ramalan.
Keberadaan Museum Pendidikan Nasional diharapkan mampu menjadi wahana pusat penelitian, serta sumber belajar dan pembelajaran.
Alamat: Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40154
Tema: Pendidikan sebagai alat pemersatu.
Pembangunan tempat ini menelan biaya Rp 45 miliar. Museum ini dibangun sebagai bentuk pelestarian universitas dan wisata budaya dan sejarah dalam bidang pendidikan. Tempat ini merupakan pusat penelitian, pembelajaran dan sumber belajar. Dengan adanya tempat ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan wawasan pendidikan. Dan merupakan destinasi budaya di Jawa Barat. Museum ini juga menjadi tempat sejarah pendidikan nasional.
Tempat ini memiliki lima tingkat. Banyak sekali sejarah tentang pendidikan di Indonesia, koleksi yang ada di museum ini kuno dan antik. Tempat ini bercerita tentang sejarah pendidikan indonesia, bahkan pengunjung juga bisa merasakan pendidikan di indonesia.
Lantai pertama merupakan ruang audio visual yang akan menjelaskan tempat ini. Ruangan ini merupakan ruang pameran non-permanen. Di ruangan ini terdapat pameran pendidikan mulai dari pendidikan prasejarah. Ruangan ini bercerita tentang perkembangan sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan agama.
Foto ini menampilkan diorama seragam sekolah. Manekin mengenakan berbagai seragam SD, SMP, dan SMA/SMK, mencerminkan standar pendidikan nasional. Pameran ini menunjukkan perkembangan sistem pendidikan melalui penggunaan seragam sebagai identitas sekolah.
Diorama ini menggambarkan suasana SD Inpres, program sekolah dasar era Presiden Soeharto untuk pemerataan pendidikan. Menampilkan siswa, guru, dan pejabat, diorama ini menunjukkan peran SD Inpres dalam meningkatkan akses pendidikan di Indonesia.
Foto ini menunjukkan garis waktu perkembangan kurikulum di Indonesia dari 1945 hingga 2013, yang dipamerkan di Museum UPI. Perubahan kurikulum bertujuan menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan zaman, mulai dari Rencana Pendidikan 1964, Kurikulum 1975, Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), hingga Kurikulum 2013 (K13). Setiap perubahan mencerminkan upaya meningkatkan kualitas pendidikan, dari sistem berbasis teori hingga pendekatan berbasis kompetensi dan karakter.
Di lantai kedua merupakan ruang perkembangan sejarah pendidikan di Indonesia dari masa ke masa hingga saat ini. Di ruang ini pengunjung bisa merasakan pendidikan pada masa penjajahan kolonial, masa pergerakan nasional, masa kemerdekaan dan reformasi masa lalu di Indonesia. Pengunjung bisa mengetahui perkembangan pendidikan di Indonesia. Koleksi formulir di tempat ini mulai dari konstruksi sekolah, metode belajar mengajar di kelas, peta konsep pendidikan, kurikulum hingga biaya sekolah. Di ruangan ini terdapat ruang perpustakaan, ruang penelitian hingga ruang pameran sementara.
Foto ini menampilkan deretan tokoh pendidikan Indonesia yang berjasa dalam perkembangan sistem pendidikan nasional. Foto-foto ini disertai keterangan tentang kontribusi masing-masing tokoh dalam dunia pendidikan. Mereka bisa mencakup pendidik, pemikir, dan pejabat yang berperan penting dalam kebijakan pendidikan di Indonesia.
Sedangkan lantai tiga diisi dengan sejarah pendidikan dan sejarah guru. Dari pendidikan zaman kolonial sampai sekarang. Pengunjung dapat melihat bagaimana kemajuan pengajaran guru. Di sini ada permainan yang menarik. Di dindingnya terdapat teka-teki berbentuk segitiga yang dapat disusun untuk digunakan sebagai pelajaran di sekolah sewaktu-waktu. Terdapat pula tujuh patung lilin yang menggambarkan pergantian guru dari zaman kolonial hingga saat ini.
Di lantai empat, pengunjung akan melihat sejarah Universitas Pendidikan Indonesia. Universitas ini telah berdiri sejak tahun 1954. Melihat masa depan universitas ini, ada sejarah berdirinya Isola yang menjadi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dan ada ruang pameran kontemporer. Ini sangat menarik.
Berikut merupakan beberapa pameran yangada di lantai tersebut:
Pena bulu angsa adalah alat tulis tradisional yang dibuat dari bulu burung besar, terutama angsa, kalkun, atau burung elang. Pena ini digunakan sejak abad ke-6 hingga abad ke-19 sebelum pena logam menjadi populer.
Foto ini menunjukkan naskah lontar, yaitu manuskrip kuno yang ditulis di atas lembaran daun lontar. Ini digunakan untuk mencatat pengetahuan hukum, sastra, ilmu pengetahuan, dan lainnya.
Foto ini menunjukkan diorama kelas zaman dahulu yang di pamerkan di UPI. Diorama seperti ini sangat penting untuk memahami perkembangan sistem pendidikan di Indonesia.
Berikut adalah beberapa tokoh pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia yang menjadi peran besar terhadap pendidikan nasional:
Ki Hajar Dewantara berasal dari Yogyakarta. Ia adalah pendiri Taman Siswa pada tahun 1922. Ia pejuang pendidikan bagi rakyat pribumi dan pencetus semboyan pendidikan: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Ing ngarsa sung tulada: Seorang pemimpin atau pendidik haru menjadi contoh yang baik bagi orang lain.
Ing madya mangun karsa: Saat berada di tengah-tengah masyarakat atau kelompok, seorang pemimpin harus mampu membangkitkan emangat dan motivasi.
Tut wuri handayani: Seorang pemimpin atau guru harus mendukung dan membimbing dari belakang agar orang lain bisa berkembang secara mandiri.
Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei, yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Kami sudah berusaha untuk menerapkan ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara ini, meskipun kadang-kadang ada tantangan dalam membuatnya konsisten. Ajaran-ajaran tersebut memberi arti yang sangat berharga untuk membangun hubungan yang lebih baik dan mendukung perkembangan diri orang lain.
R.A. Kartini berasal dari Jawa Tengah. Ia memperjuangkan pendidikan bagi perempuan pribumi melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.
R.A. Kartini menginspirasi pendirian sekolah untuk perempuan, seperti Sekolah Kartini oleh Yayasan Kartini di berbagai daerah.
R.A. Kartini lahir pada 21 April 1879. Hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Kartini setiap tanggal 21 April untuk mengenang perjuangannya dalam memperjuangkan pendidikan perempuan di Indonesia. Ia wafat pada 17 September 1904 pada usia 25 tahun beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya.
Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri pada tanggal 1904 di Bandung, yang khusus mendidik perempuan dalammembaca, menulis, dan keterampilan hidup.
Warisan Dewi Sartika adalah lembaga pendidikannya berkembang menjadi Sekolah Keutamaan Istri dan menjadidasar bagi pendidikan perempuan di Indonesia.
Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di Bandung, Jawa Barat, dan wafat pada 11 September 1947 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Sabak merupakan papan tulis kecil berbahan batu sabak (slate) yang biasanya diberi bingkai kayu. Sabak digunakan oleh siswa untuk menulis dengan grip (sejenis pensil dari batu atau logam lunak) dan dapat dihapus dengan kain basah. Sabak adalah media belajar yang efisien sebelum kertas menjadi lebih terjangkau.
Grip adalah alat tulis yang digunakan pada sabak, umumnya terbuat dari batu atau logam lunak. Grip lebih kecil dari kapur tulis dan tidak menghasilkan debu seperti kapur.
Museum UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) memiliki keunikan dengan arsitektur yang menggabungkan elemen modern dan tradisional. Desain bangunannya memanfaatkan material seperti kaca, besi, dan batu alam, serta ornamen yang mencerminkan budaya Indonesia. Museum ini dibuat dengan ruang yang terbuka dan efisien, menciptakan kenyamanan bagi pengunjung saat menikmati koleksi dan pameran.
Museum ini juga memiliki koleksi yang indah, berfokus pada sejarah pendidikan di Indonesia, dengan berbagai artefak dan dokumen penting. Penggunaan cahaya alami melalui jendela besar menambah suasana terang dan menyegarkan di dalam ruang pamer. Lokasinya yang asri di lingkungan UPI, dikelilingi taman hijau, memberikan kesan damai dan nyaman bagi pengunjung. Museum ini memadukan keindahan arsitektur dan nilai sejarah, menjadikannya tempat yang menarik dan unik untuk dikunjungi.
Dalam mengunjungi museum ini, kami dapat merasakan manfaatnya:
Museum ini memperkenalkan perjuangan tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara dan perjalanan sejarah pendidikan Indonesia, yang meningkatkan rasa bangga dan cinta tanah air. Pengunjung juga menyadari pentingnya pendidikan dalam kemajuan bangsa.
Melalui sejarah perjuangan pendidikan, pengunjung belajar tentang ketekunan dan kemandirian. Kegiatan di museum membantu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kesadaran untuk berkontribusi dalam pendidikan dan masyarakat.