Salah satu lambang yang pastinya sudah diketahui oleh banyak kalangan. Selain ditemukan di candi-candi Buddha, Rupaṁ selalu ada di tempat-tempat ibadah umat Buddha. Buddha Rupaṁ memiliki arti rupa Buddha yang merupakan lambang kesempurnaan, dan kebijaksanaan. Melalui Buddha Rupaṁ diharapkan umat Buddha dapat meneladani sifat-sifat agung Buddha, dalam pencapaian kesempurnaan dalam memusnahkan segala jenis penderitaan.
Merupakan suatu bangunan yang selain identik dengan Agama Buddha, juga memiliki nilai seni yang saat ini banyak dibangun di daerah-daerah wisata. Pada masa India Kuno, stupa merupakan bangunan sebagai tempat menyimpan relik (sisa kremasi) dari para makhluk suci termasuk Sang Buddha, yang kemudian menjadi objek pemujaan.
Merupakan lambang pemutaran roda Dhamma (Ajaran Buddha), yang juga merupakan simbol bahwa kehidupan terus berputar, layaknya roda kendaraan. Delapan jari-jari diartikan sebagai ajaran Jalan Tengah Buddha (Ariya Atthangika Magga) yang merupakan Jalan untuk mencapai Kebebasan, yakni Pengertian Benar (sammā-ditthi), Pikiran Benar (sammā-sankappa), Ucapan Benar (sammā-vācā), Perbuatan Benar (sammā-kammanta), Mata Pencaharian Benar (sammā-ajiva), Daya-upaya Benar (sammā-vāyāma), Perhatian Benar (sammā-sati), dan Konsentrasi Benar (sammā-samādhi).
Pohon Bodhi (Ficus religiosa), belum banyak yang tahu tentang pohon ini, yang walaupun di beberapa wilayah, telah ada penanaman pohon ini sebagai satu cara penghijauan. Karena daunnya yang rindang, memungkinkan lebih banyaknya produksi oksigen yang dihasilkan. Pohon ini merupakan lambang dalam Agama Buddha, karena pada awalnya merupakan tempat pencapaian ke-Buddha-an oleh Pertapa Sidharta Gautama. Maka, dari itu penamaannya juga menggunakan nama yang religius. Bodhi memiliki arti pencerahan (enlightenment), di mana pertapa Sidharta telah dapat melenyapkan sifat-sifat keduniawian, dan menjadi Buddha.
Dimulai dari gagasan Panitia Pertahanan Buddhis Sri Lanka (Buddhist Defence Committee) di tahun 1885, untuk membuat bendera yang dapat menjadi simbol dan lambang yang dapat diterima oleh semua aliran umat Buddha di dunia. Warna-warna pada bendera itu kemudian diambil dari warna aura tubuh Sang Buddha, terdiri dari: Warna biru berasal dari warna rambut Buddha melambangkan bakti atau pengabdian; kuning emas dari warna kulit Buddha melambangkan kebijaksanaan; merah tua dari warna darah Buddha melambang cinta kasih; putih dari warna tulang dan gigi Buddha melambang kesucian; jingga adalah warna yang diambil dari warna telapak tangan, kaki dan bibir Buddha yang melambangkan semangat; dan gabungan kelima warna melambangkan gabungan kelima faktor yang telah disebutkan di atas. Gabungan kelima warna tersebut dikenal dengan istilah “Prabhasvara”, yang berarti bersinar sangat terang atau cemerlang.