Zaman sudah berubah. Anak-anak hari ini hidup di era serba cepat, terbuka, dan penuh distraksi. Karena itu, cara mendidik mereka pun tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan lama yang serba menghukum, menekan, atau menakut-nakuti.
Di sinilah PBIS (Positive Behaviour Intervention & Support) menjadi sangat relevan. PBIS bukan sekadar metode disiplin, tetapi kerangka pendidikan berbasis disiplin positif yang fokus membangun karakter, hubungan yang sehat, dan iklim belajar yang kondusif.
PBIS (Positive Behaviour Intervention & Support) adalah pendekatan sistematis dalam pendidikan yang bertujuan untuk:
Membentuk perilaku positif siswa
Mencegah masalah perilaku sejak dini
Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung pembelajaran
PBIS tidak bertumpu pada hukuman, tetapi pada:
Pembiasaan nilai
Penguatan perilaku baik
Pendampingan yang konsisten
Singkatnya, PBIS membantu anak belajar disiplin dengan kesadaran, bukan karena takut.
Masih banyak yang salah paham. Disiplin positif sering dianggap terlalu lembek atau memanjakan anak. Padahal justru sebaliknya.
Disiplin positif itu tegas, tapi manusiawi.
Dalam PBIS, disiplin dipahami sebagai proses mendidik, bukan menghukum. Anak diajak untuk:
Memahami konsekuensi
Bertanggung jawab atas pilihan
Memperbaiki kesalahan
Ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam: mendidik dengan hikmah, keteladanan, dan kasih sayang.
PBIS menempatkan hubungan sebagai fondasi utama pendidikan. Anak akan lebih mudah diarahkan jika ia merasa:
Dihargai
Didengar
Dipahami
Dalam Islam, hubungan yang baik (ukhuwah dan adab) adalah pintu masuk keberhasilan pendidikan. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi murabbi—pendidik yang membimbing dengan hati.
Ketika hubungan kuat, koreksi tidak terasa sebagai hukuman, tetapi sebagai nasihat.
Lingkungan kelas yang positif membuat anak:
Lebih fokus belajar
Berani bertanya
Tidak takut salah
PBIS membantu guru menciptakan suasana kelas yang tertib tanpa tekanan berlebihan. Alhasil, energi siswa tidak habis untuk takut dimarahi, tapi tersalurkan untuk belajar dan berkembang.
Pembelajaran pun menjadi lebih efektif, bermakna, dan menyenangkan.
PBIS menanamkan nilai-nilai karakter melalui praktik sehari-hari, bukan ceramah semata. Nilai seperti:
Tanggung jawab
Disiplin
Kejujuran
Saling menghargai
Dilatih terus-menerus hingga menjadi kebiasaan.
Dalam perspektif Islam, karakter (akhlak) yang baik lahir dari pembiasaan yang dilandasi iman dan keikhlasan.
Jika dicermati, PBIS sejatinya sangat dekat dengan nilai-nilai Islam:
Mengedepankan niat baik
Menghindari kekerasan dan penghinaan
Mendidik dengan kasih sayang
Menumbuhkan kesadaran diri (muraqabah)
Disiplin dalam Islam bukan karena diawasi manusia, tetapi karena sadar Allah Maha Melihat.
Inilah mengapa PBIS sangat cocok diterapkan di sekolah Islam, terutama jika dipadukan dengan nilai tauhid dan keikhlasan.
Orang tua hari ini menghadapi tantangan nyata:
Anak mudah terpengaruh lingkungan
Sensitif secara emosional
Terpapar gawai dan media sosial sejak dini
PBIS membantu anak belajar:
Mengelola emosi
Mengambil keputusan yang tepat
Bertanggung jawab atas perilaku
Bukan dengan tekanan, tapi dengan pendampingan.
PBIS akan efektif jika:
Sekolah konsisten menerapkan nilai yang sama
Guru menjadi teladan
Orang tua mendukung dari rumah
Ketika rumah dan sekolah sejalan, anak mendapatkan pesan yang utuh tentang disiplin, adab, dan tanggung jawab.
PBIS bukan program sesaat, tapi investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter anak.
Dengan pendekatan disiplin positif, anak tidak hanya patuh hari ini, tetapi:
Memiliki kesadaran moral
Berakhlak baik
Siap menghadapi kehidupan dengan tanggung jawab
Sekolah yang menerapkan PBIS dengan landasan nilai Islam dan tauhid sedang menyiapkan generasi yang:
Tertib tanpa tertekan
Berani tanpa kasar
Taat dengan kesadaran
Karena tujuan pendidikan sejati bukan hanya mencetak anak pintar, tetapi anak yang berkarakter dan berakhlak mulia.
Semoga artikel ini menjadi rujukan dan penguat bagi orang tua dalam memahami pentingnya PBIS sebagai pendekatan disiplin positif di sekolah.