3.2.9. ASESMEN 2 : TANGGAPAN TEKS
NAMA : DWI OCTARIA, S.Pd.
KELAS : GPK 48
1. Jelaskan dan analisis peran strategi pengajaran evidence-informed dalam siklus belajar mengajar (400 kata atau 4 menit)
a. Pengertian Strategi Pengajaran Evidence-Informed Dalam Siklus Belajar Mengajar
Pengajaran Evidence-Informed adalah pengajaran yang menggunakan bukti eksternal yang kuat, membandingkan pengalaman masa lalu dengan pengalaman masa kini yang diuji oleh bukti eksternal dan menilai bukti tersebut untuk meningkatkan praktik pengajaran seniri” (Dierdorp, 2021,hlm.1).
Pendekatan pengajaran yang berbasis bukti, memanfaatkan penelitian pendidikan, data kelas, dan pengalaman guru untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran. Strategi ini memungkinkan guru untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi, relevan dan efektif guna meningkatkan hasil belajar siswa.
b. Peran penting Strategi Evidence-Informed dalam siklus belajar mengajar adalah sebagai berikut :
1) Perencanaan pembelajaran
Dalam membuat perencanaan pembelajaran guru menggunakan data berbasis bukti, dapat dengan cara membaca jurnal penelitian pendidikan atau menganalisis hasil asesmen sebelumnya untuk dapat memahami kebutuhan belajar siswa, gaya belajar, dan area yang membutuhkan pengembangan dan perbaikan. Evidence-Informed membantu memastikan bahwa metode pengajaran yang dipilih memiliki dasar ilmiah yang kuat, sehingga menningkatkan peluang keberhasilan saat pelaksanaan pembelajaran.
2) Implementasi Pembelajaran
Dalam pelakasanaan pembelajaran, guru dapat menggunakan teknik pengajaran yang terbukti efektif. Misalnya, metode retrieval practice (latihan mengingat kembali) untuk memperkuat daya ingat siswa atau spaced repetition (pengulangan terjadwal) yang telah diteliti efektif dalam meningkatkan retensi. Selain itu, pendekatan berbasis bukti seperti formative assessment dapat membantu guru mengukur ketercapaian tujuan belajar secara real time dan memberikan umpan balik.
3) Evaluasi dan Refleksi
Setelah pembelajaran, strategi Evidence-Informed membantu guru mengevaluasi efektivitas pengajaran dengan menggunkan data yang relevan, seperti hasil tes, observasi dan feedback siswa. Refleksi berbasis bukti memungkinkan guru untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan atau untuk siklus pembelajaran berikutnya.
4) Pengembangan Professional Guru
Melalui penerapan strategi ini, guru terdorong untuk terus belajar, seperti membaca literature ilmiah terbaru atau berpartisipasi dalam komunikasi praktik berbasis penelitian. Hal ini tidak hanya mneingkatkan kemampuan , tetapi juga membantu menyebarkan praktik-praktik terbaik di lingkungan pendidikan.
c. Kelebihan strategi pengajaran Evidence-Informed
Efektivitas : Strategi ini memastikan bahwa metode yang digunakan telah memiliki pengalaman penerapan dengan bukti keberhasilan dalam konteks yang serupa.
Relevansi : Membantu guru menyesuaikan strategi dengan kebutuhan spesifik siswa dan kondisi kelas.
Akuntabilitas : Guru dapat mempertanggung jawabkan pendekatan mereka berdasarkan data dan juga penelitian.
d. Tantangan Penggunaan Strategi Evidence-Informed
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempelejari dan menganalisis hasil penelitian dan juga bergantung pada kemampuan guru dalan mengintrepretasikan hasil penelitian untuk dapat digunakan dapalam perencanaan pembelajaran yang dibuatnya. Selain itu juga diperlukan dukungan dan pelatihan dan akses yang mudah kesumber daya ilmiah.
2. Pilihlah dua strategi pengajaran (dua strategi yang telah Anda terapkan dalam Aktivitas Topik 1 dan 2 akan lebih baik). Jelaskan dan nilai keefektifan strategi pengajaran tersebut (600 kata atau 6 menit)?
Strategi pengajaran yang telah saya terapkan dalam aktivutas 5 Topik 1 dan 2 adalah sebagai beriikut :
a. Strategi Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar mengajar yang bermanfaat dengan jalan mengelompokkan siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda kedalam kelompok-kelompok kecil. Menurut Johnson dan Johnson (dalam Mulyono Abdurahman, 1999:123) Aada empat elemen dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu:
a. Saling ketergantungan positif
b. Interaksi tatap muka
c. Akuntabilitas individual
d. Ketrampilan dalam menjalin hubungan interpersonal
Besar kelompok dalam pembelajaran kooperatif biasanya terdiri dari dua sampai enam anak. Menurut Mulyono Abdurahman (1999:125), mengatakan bahwa faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan besarnya kelompok belajar, yaitu: (1) kemampuan anak; (2) kesediaan bahan; (3) Ketersediaan waktu. Pengelompokan anak dalam pembelajaran kooperatif dilakukan secara heterogen, sehingga kelompok memilih anggota yang tergolong berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan ketrampilan sosial. Salah satu aspek penting pembelajaran kooperatif, disamping membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif, secara bersama membantu siswa dalam pembelajaran akademis mereka. Hal ini sesuai dengan penalitian Slavin alam bukunya Ibrahim, Muslimin, dkk, 2000:16. Simpulan dan hasil penilitian tersebut adalah “Dari 45 laporan, 35 diantaranya menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibanding dengan kelompok kontrol”. Hal tersebut menunjukkan pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman belajar individual.
Dari hasil penelitian Johnson dan Johnson dalam bukunya Nur, dkk, (2003:63) menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut :
Memudahkan siswa dalam melakukan penyesuaian
Mengembangkan siswa melakuakan penyesuaian soal
Memungkinkan pada siswa saling belajar mengenai sikap, ketrampilan, informasi, perilaku sosial dan pandangan
Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia
Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik
Meningkatkan motivasi belajar intrinsik
Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar
Meningkatkan hubungan positif antara siswa dengan gurdan personil sekolah
Meningkatkan padangan siswa terhadap guru yang bukan hanya pengajar tapi juga pendidik
b. Scaffolding
Scaffolding adalah metode pembelajaran dimana tingkat dukungan guru disesuaikan dengan kemampuan kognitif siswa. Dengan demikian, guru dapat menyesuaikan tingkat pengajaran dalam pelajaran sesuai dengan potensi masing-masing siswa. Teori scaffolding pertama kali diperkenalkan pada akhir tahun 1950-an oleh psikolog kognitif, Jerome Bruner, yang kemudian disebut Teori Bruner terinspirasi oleh pembelajaran berbantuan Lev Vygotsky, seorang psikolog Rusia yang berfokus pada studi perkembangan anak.
Secara singkat, pengertian scaffolding adalah rangkaian instruksi atau petunjuk yang diberikan seorang guru kepada siswa pada saat mereka mempelajari suatu pelajaran atau keterampilan. Scaffolding juga merupakan sinonim untuk teknik di mana subjek dibagi menjadi bagian-bagian kecil dan guru memberikan struktur pada setiap bagian.
Siswa yang mengalami kesulitan mempelajari suatu mata pelajaran menerima lebih banyak bimbingan belajar. Namun, seiring siswa mempelajari materi, guru mengurangi tingkat dukungan dan siswa menjadi mandiri dalam pembelajarannya.
Berikut adalah beberapa manfaat positif menggunakan metode scaffolding di kelas:
Menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan menerima murid.
Murid merasa nyaman dan bebas dalam mengemukakan pertanyaan dan mendukung teman sekelasnya dalam pembelajaran.
Tingkat stres murid berkurang.
Murid merasa terlibat dalam pembelajaran dan termotivasi untuk belajar.
Guru yang menggunakan metode mengajar Scaffolding menjadi lebih berperan sebagai mentor maupun fasilitator pembelajaran, ketimbang menjadi sumber pengetahuan utama.
Murid diberikan ruang untuk berperan aktif dalam pembelajaran.
Metode Scaffolding menarik minat siswa untuk terlibat dalam diskusi yang dinamis dan berarti.
Murid dapat memenuhi objektif pembelajaran.
Metode ini dapat menjadi identifikasi awal para siswa yang berbakat.
c. Kesimpulan
Strategi pembelajaran Kooperatif dan Scafolding memiliki keefektifan tersendiri dalam proses pembelajaran. Kooperatif learning yang saya terapkan cukup memberikan dampak yang signifikan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang saya terapkan. Terjadi kerjasama dan hubungan yang positif sesame anggota kelompok . dimana siswa yang lebih dalam hal pe,mahaman dapat membantu temannya yang masih memilikinkesulitan dalam memahami dan menyelesaikan tugas.
Begitupun dengan strategi pemberian bimbingan (scaffolding) secara bertahap pada proses pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman peserta didik, karena denganadanya bimbingan dapat membantu peserta didik yang mengalami kesulitan, serta mengurangi kebebasan peserta didik dalam mengerjakan tugas sehingga lebih fokus pada pemahaman yang dirasa sulit.
Referensi :
Angella Puspita Veronica, ‘Efektifitas Model Pembelajaran Kooperatif Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan laporan Keuangan Pada Siswa Kwelas X SMA Negerti 1 Groboga ‘, Skripsi Fak ultas Ilmu Sosial, Univrsitas Negeri Semarang, (2005)
Ashari, Nur Wahidin, Salwah, and Fitriani A, ‘Implementas Strategi Pembelajaran Scaffolding Melalui Lesson Study Pada Mata Kuliah Analisi Real’, Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 1 (2016), 25
Badriyah, Lailatul, Abdur Rahman, and Hery Susanto, ‘Analisis Kesalahan Dan Scaffolding Siswa Berkemampuan Rendah Dalam Menyelesaikan Operasi Tambah Kurang Bilangan Bulan’, Jurnal Pendidikan: Teori Penelitian Dan Pengembangan, 2 (2017), 50
Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA University Press.
Lie, Anita. 2003.Cooperatif Learning Mempraktikan Cooperatif Learning Di Ruangruang Kelas . Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Syafriani, Dewi. 2002. Pembelajaran “Cooperatif Learning” Alternatif Metode Dalam KBK. http://www.google.com. (12 Des. 2002).