1.1.A.9. AKSI NYATA - PENERAPAN MODUL 1.1 REFLEKSI FILOSOFIS
PENDIDIKAN NASIONAL KI HADJAR DEWANTARA
Model : 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)
Salam dan bahagia ibu/bapak guru hebat.
Setelah mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) Angkatan 9 pada modul 1.1 yang dimulai sejak pertengahan Agustus 2023 hingga hari ini, saya I Komang Adi Kusuma akan menyampaikan aksi nyata dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) dengan tema :
Aksi Nyata Merdeka Belajar dengan Menerapkan Pemikirian Ki Hadjar Dewantara dan Model Pembelajaran Project Based Learning Untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila “Mandiri”
Facts (Peristiwa)
Perasaan Selama Melakukan Perubahan di Kelas
Selama mengikuti pendidikan guru penggerak di modul 1.1 saya merasa pembelajaran yang saya lakukan sebelumnya hanya berfokus pada ketuntasan penilaian saja. Seharusnya saya lebih memahami karakteristik peserta didik dan melakukan penilaian selama proses pembelajaran dan tidak hanya berfokus pada hasil akhir pembelajaran. Banyak hal yang saya pelajari tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep-konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap pemikiran saya tentang Pendidikan. Filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara menyadarkan saya bahwa menjadi seorang pendidik bukan hanya memberikan materi pembelajaran dan hanya terfokus pada ketuntasan penilaian namun lebih penting menuntun pembelajaran dan memberikan teladan yang baik kepada peserta didik. Dengan mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, pembelajaran yang saya lakukan di kelas yaitu dapat menciptakan generasi yang memiliki kesadaran lingkungan seperti mengingatkan piket kelas untuk membersihkan kelas sebelum dan setelah pembelajaran, sedangkan keterampilan yang relevan pada SMK Perhotelan yaitu praktikum sesuai dengan etos kerja industri perhotelan.
Feeling (Perasaan)
Ide atau Gagasan Yang Timbul Sepanjang Proses Perubahan
Ide atau gagasan yang timbul selama proses perubahan adalah mengubah metode pembelajaran yang sebelumnya hanya berfokus pada ketuntasan penilaian menjadi lebih berfokus pada memahami karakteristik peserta didik dan memberikan keterampilan yang relevan pada SMK Perhotelan, dengan slogan “Santun dan Kompeten”. Melakukan penilaian selama pembelajaran dan tidak hanya berfokus pada hasil akhir pembelajaran. Menerapkan nilai-nilai mandiri, kreatif, dan kolaboratif agar kelak dapat memberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan di hotel tempatnya menginap.
Findings (Pembelajaran)
Aksi Nyata – Praktik Baik
Perencanaan
Sebelum mempraktikkan aksi nyata, terlebih dahulu saya melakukan perencanaan yaitu diskusi dengan teman sejawat dan juga membuat rencana pembelajaran.
Pelaksanaan
Tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan pada tahap ini saya melakukan apersepsi sebelum memulai pembelajaran. Apersepsi yang saya lakukan yang pertama adalah berdoa bersama dipimpin oleh siswa bergantian setiap pertemuan. Langkah selanjutnya adalah memeriksa kehadiran siswa memeriksa keadaan siswa dan kemudian saya akan memberikan pertanyaan pemantik untuk materi yang lalu dan mengaitkan dengan materi yang akan dibahas selanjutnya. Masih dalam tahap pelaksanaan, saya melakukan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dengan tekhnik role play dimana setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih “rekan kerja” sebagai partner dalam mempraktikkan Berkomunikasi Melalui Telepon.
Future (Penerapan)
Refleksi
Dari kegiatan pembelajaran tersebut selanjutnya saya melakukan refleksi untuk mengetahui apa saja tantangan dan solusi agar kegiatan pembelajaran berikutnya dapat berjalan dengan lebih baik lagi. Adapun tantangan yang saya hadapi adalah masih ada peserta didik yang tidak mau melakukan percakapan dalam mempraktikkan berkomunikasi melalui telepon dengan alasan tidak bisa Bahasa Inggris. Solusi yang saya berikan adalah melakukan bimbingan secara personal dan melatih mereka untuk berani tampil dengan cara melakukan praktik menggunakan Bahasa Indonesia terlebih dahulu dengan tujuan peserta didik dapat memahami alur praktikum tersebut.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Salam dan Bahagia ibu/bapak guru hebat.
Video aksi nyata ini dapat disaksikan selengkap pada link berikut : https://youtu.be/sSz4iNUSphY
Penulis : I Komang Adi Kusuma, SST.Par., M.Par. Guru SMK Negeri 2 Bangli Kecamatan Bangli Kab. Bangli (Calon Guru Penggerak Angkatan-9).
DAFTAR PUSTAKA :
Rafael, Simon P. 2022. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara Modul 1.1. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
SMKSANTOALOISIUS.SCH.ID, 30 Agustus 2023, Membentuk Karakter Peserta Didik, https://www.smksantoaloisius.sch.id/berita/detail/428759/membentuk-karakter-peserta-didik-dalam-pembelajaran-matematika-melalui-profil-pelajar-pancasila/.
PANDUANMENGAJAR.COM, 31 Agustus 2023, Rangkuman Pemikiran Filosofis Pendidikan Ki Hajar Dewantara, https://www.panduanmengajar.com/2023/05/rangkuman-pemikiran-filosofis.html
Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak
Salam dan bahagia ibu/bapak guru hebat.
Setelah menyelesaikan pembelajaran Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak pada Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) Angkatan 9, saya I Komang Adi Kusuma dari SMK Negeri 2 Bangli akan menampilkan aksi nyata yang telah saya lakukan. Selamat menyaksikan.
Penerapan ke depan (rencana)
Apa pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak ?
Pertama, saya mencari waktu beberapa menit setiap hari untuk merefleksikan tugas dan tanggung jawab saya sebagai Guru Penggerak. Kemudian, saya membuat daftar nilai-nilai inti yang ingin saya kembangkan dan cermati sejauh mana saya telah mengaplikasikannya sehari-hari. Selanjutnya, saya menentukan tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang relevan dengan peran saya sebagai Guru Penggerak. Setelah itu, saya mengidentifikasi dan memahami kekuatan saya sebagai Guru Penggerak, serta cara-cara saya untuk mengoptimalkannya. Saya melakukan evaluasi rutin terhadap kinerja saya dalam merancang dan mengimplementasikan program mentoring dan pembinaan, agar terus berkembang. Sebagai Guru Penggerak, saya meluangkan waktu untuk belajar dari pengalaman dan masukan orang lain dengan mendengarkan, membaca, atau mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan bidang saya. Selanjutnya, saya menjaga keseimbangan hidup saya dengan melakukan aktivitas fisik, beristirahat yang cukup, dan menjaga pola makan yang sehat. Manfaatkan teknologi dengan mengikuti webinar, menjelajahi sumber daya internet, atau mengikuti komunitas online yang relevan. Jangan ragu untuk meminta bantuan dan dukungan dari rekan kerja, keluarga, atau teman-teman terdekat saya dalam perjalanan pengembangan diri ini. Terakhir, tetaplah konsisten dalam menjalankan kegiatan pengembangan diri ini untuk menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak.
Refleksi sepanjang proses menjalankan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak :
Sebagai Guru Penggerak, tugas saya tidak hanya mengajar pelajaran di kelas, tetapi juga memainkan peran penting dalam membimbing siswa secara holistik. Saya bertanggung jawab untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan inspiratif bagi siswa. Selain itu, saya juga harus menjadi contoh yang baik bagi siswa dalam hal sikap dan nilai-nilai yang saya ajarkan. Saya harus mampu menginspirasi siswa untuk selalu berusaha dan tidak berhenti belajar. Dalam menjalankan peran ini, saya harus fleksibel dan selalu siap menghadapi tantangan serta beradaptasi dengan perubahan. Saya harus berkomunikasi dengan baik kepada siswa dan rekan kerja, agar tujuan dan program yang saya jalankan dapat tercapai. Tidak hanya itu, sebagai Guru Penggerak, saya juga harus mampu berkolaborasi dengan pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam upaya menjalankan tugas ini. Saya harus memastikan bahwa nilai-nilai yang saya ajarkan dapat diterapkan dan tercermin dalam kehidupan siswa sehari-hari.
Selama proses ini, saya menemukan kekuatan dalam melihat perubahan positif yang terjadi pada siswa-siswa saya. Namun, saya juga harus siap menghadapi rintangan dan tantangan yang akan datang dalam menjalankan peran ini. Dalam perjalanan ini, saya belajar bahwa menjadi Guru Penggerak bukanlah hal yang mudah, tetapi sangat bermakna dan memberikan dampak yang besar.
Perasaan saya setelah mempelajari nilai-nilai dan peran sebagai Guru Penggerak :
Saya merasa semangat dan termotivasi setelah mempelajari nilai-nilai yang harus dimiliki sebagai seorang Guru Penggerak. Proses pembelajaran ini membuat saya semakin menghargai peran saya sebagai agen perubahan dalam dunia pendidikan. Mengamalkan nilai-nilai Guru Penggerak membuat saya merasakan kepuasan yang tiada tara dalam membantu siswa mencapai potensinya. Saya merasa memiliki tanggung jawab besar sebagai Guru Penggerak untuk memberikan peluang yang setara bagi semua siswa. Memahami peran saya dalam membantu menciptakan perubahan positif di lingkungan sekolah membuat saya merasa berdaya. Mengimplementasikan nilai-nilai Guru Penggerak memberikan tujuan dan arah yang jelas dalam proses pengajaran saya. Saya bangga menjadi Guru Penggerak dan merasa memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk generasi mendatang. Pembelajaran ini membuat saya semakin menyadari betapa pentingnya peran pendidikan dalam menciptakan perubahan sosial. Saya merasa optimis dan yakin bahwa sebagai Guru Penggerak, saya dapat menginspirasi dan membantu siswa meraih keberhasilan.
Apa ide atau gagasan yang timbul, setelah mempelajari nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak :
Sebagai Guru Penggerak, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi pemimpin dalam perubahan pendidikan. Salah satu gagasan yang muncul adalah pentingnya membangun keterampilan sosial dan emosional siswa. Kita juga menyadari bahwa memperkuat hubungan antara guru, siswa, dan orang tua adalah kunci keberhasilan pendidikan. Ide lain yang muncul adalah mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Sebagai Guru Penggerak, kita juga harus menjadi model positif dan menginspirasi siswa untuk belajar dan tumbuh. Gagasan lainnya adalah pentingnya kolaborasi antar guru dalam mengembangkan program pembelajaran yang inovatif. Kita juga harus aktif dalam mencari peluang untuk meningkatkan diri dengan mengikuti pelatihan dan konferensi. Ide penting lainnya adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua siswa untuk belajar dan sukses. Kita perlu memperhatikan keberagaman budaya dalam kelas dan memastikan bahwa setiap siswa merasa dihargai. Gagasan terakhir adalah bahwa sebagai Guru Penggerak, kita harus berada di garis depan dalam mendorong perubahan positif dalam sistem pendidikan.
Pembelajaran apa saja yang dapat diambil dari nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak :
Sebagai seorang Guru Penggerak, saya memiliki kesempatan untuk menjadi inspirator bagi para siswa. Melalui peran saya, saya dapat memberikan motivasi kepada mereka untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Saya memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa mengembangkan potensi mereka yang terbaik. Nilai-nilai seperti keteladanan, pemberdayaan, dan kepedulian sangat penting dalam menjadi Guru Penggerak yang efektif. Saya harus menjadi contoh yang baik bagi siswa dalam hal integritas dan etika. Saya juga perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk merasa empowered dalam proses pembelajaran. Dengan memberikan mereka ruang untuk berkreasi dan bereksperimen, saya dapat membantu mereka menemukan minat dan bakat mereka sendiri. Sebagai Guru Penggerak, saya juga perlu memiliki kepekaan terhadap kebutuhan individu setiap siswa. Saya harus mampu merancang pembelajaran yang sesuai dengan keterampilan dan minat mereka. Dalam pemberian tugas, saya dapat memberikan tantangan yang menantang namun terjangkau bagi siswa. Saya juga perlu menjadi pendengar aktif yang baik dan membangun hubungan emosional yang baik dengan siswa. Saya bisa menjadi mentor bagi mereka dan memberikan bimbingan yang relevan dalam aspek akademik dan personal. Selain itu, sebagai Guru Penggerak, saya juga dapat mendorong siswa untuk berkolaborasi dan bekerja sama. Saya dapat mengorganisir proyek kelompok atau kegiatan yang dapat meningkatkan keterampilan kerja tim mereka. Saya harus menjadi sumber pengetahuan yang dapat diandalkan dan memastikan mereka mendapatkan pembelajaran yang berkualitas. Dalam mengevaluasi kinerja siswa, saya perlu memberikan umpan balik konstruktif dan memberdayakan mereka untuk meningkatkan diri. Saya juga perlu terus mengembangkan diri sebagai seorang pendidik dan mengikuti tren dan inovasi dalam dunia pendidikan. Dengan mempraktikkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak, saya dapat membuat dampak positif dalam kehidupan siswa.
Apa dampak (perubahan positif) yang paling dirasakan oleh diri saya setelah mempelajari nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak :
Setelah mempelajari nilai-nilai dan peran sebagai Guru Penggerak, saya merasakan dampak yang sangat positif dalam hidup saya. Saya merasa lebih percaya diri dalam mengajar dan memberi inspirasi kepada murid-murid saya. Saya mampu mengembangkan kemampuan komunikasi saya dengan murid-murid dan rekan kerja. Saya mengerti pentingnya memberikan pujian dan penghargaan kepada murid-murid agar mereka merasa termotivasi. Saya juga dapat lebih menghargai keragaman dalam lingkungan belajar, dan menciptakan ruang yang inklusif untuk semua murid. Saya melihat peningkatan dalam prestasi akademik dan perkembangan emosional murid-murid saya. Saya dapat berkolaborasi dengan guru-guru lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Saya merasa lebih terhubung dengan komunitas pendidikan yang lebih besar, dan mendapatkan sumber daya yang berharga. Saya dapat mengelola waktu dengan lebih efisien, sehingga saya dapat memberikan perhatian yang lebih baik kepada setiap murid. Saya merasakan kebahagiaan dan kepuasan yang besar ketika melihat kemajuan yang dicapai oleh murid-murid saya. Saya merasa lebih termotivasi dan bersemangat dalam peran saya sebagai Guru Penggerak, dan melihat diri saya sebagai pembawa perubahan positif di lingkungan belajar.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Salam dan bahagia ibu/bapak guru hebat.
Penulis : I Komang Adi Kusuma, SST.Par., M.Par. Guru SMK Negeri 2 Bangli Kecamatan Bangli Kab. Bangli (Calon Guru Penggerak Angkatan-9).
DAFTAR PUSTAKA :
Dharma, Aditya. 2022. Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak Modul 1.2. Jakarta : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Simak videonya pada link berikut : https://youtu.be/hx2rkNVDxeE
Hal yang penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif di lingkungan kelas atau sekolah adalah perlunya tindakan konsisten dan kolaboratif seluruh warga sekolah untuk mendukung tumbuhnya budaya positif. Budaya positif merupakan perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Budaya Positif di sekolah tidak dapat diciptakan secara instan, dalam penerapan budaya positif di sekolah diperlukan tuntunan dan tauladan dari seorang guru. Guru harus menjadi contoh yang baik sehingga murid dengan kesadaran sendiri akan mengikuti apa yang dilakukan guru.
Sedangkan dalam menangani siswa yang bermasalah, ada lima posisi kontrol guru. Saat ini saya lebih banyak di posisi guru sebagai teman, sebagai pemantau, & pembuat rasa bersalah. Ke depannya saya akan selalu berusaha untuk memposisikan diri sebagai manajer dengan menerapkan segitita restitusi.
Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan :
a. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
b. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
c. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka.
d. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
e. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
Ketiga aspek tersebut adalah :
a. Kesiapan belajar (readiness) murid
b. Minat murid
c. Profil belajar murid
Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera Bagi Kita Semua, Shalom, Om Swastiastu. Namo Buddhaya, Salam Kebajikan", saya I Komang Adi Kusuma, Calon Guru Penggerak Angkatan 9 Kab. Bangli, Provinsi Bali. Pada kesempatan ini saya akan menulis mengenai aksi nyata modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional. Aksi nyata ini sebagai refleksi diri setelah saya mempelajari modul 2.2 pada kegiatan Pendidikan Pendidikan Guru Penggerak (PPGP).
Dalam menulis aksi nyata ini saya menggunakan model 4F (Fact, Feeling, Findings, and Future) yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yakni : Peristiwa,Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan.
Peristiwa (Fact)
Pada modul 2.2 ini saya mulai mempelajari materi mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosional. Sesuai alur MERDEKA yang saya lakukan, pembelajaran modul 2.2 ini dimulai dengan mulai dari diri. Kami disuguhi materi dan video yang ada di Learning Management System (LMS) serta diberikan beberapa pertanyaan tentang pengalaman yang pernah kami alami yang berhubungan dengan tugas kami sebagai pendidik yang berkaitan dengan sosial dan emosional. Bagaimana kami menghadapi krisis tersebut? bagaimana kami bisa bangkit dari krisis tersebut? serta apa yang kami pelajari dari krisis tersebut? Kemudian kami disuguhi dengan eksplorasi konsep yang berisi materi-materi tentang kompetensi sosial emosional, pembelajarannya serta implementasinya di sekolah. Selain itu juga diselingi dengan tugas-tugas yang berisi refleksi dari tiap-tiap materi yang telah kami pelajari. Tujuan dari materi pembelajaran sosial emosional adalah memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri); menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri); merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial); dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu:
a. Kesadaran diri;
b. Manajemen diri;
c. Kesadaran sosial;
d. Keterampilan berelasi; dan
e. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Pembelajaran Sosial Emosional ini dapat diimplementasikan di kelas atau sekolah dengan 4 indikator yaitu :
a. Pembelajaran eksplisit;
b. Integrasi dalam pembelajaran guru dan kurikulum akademik;
c. Menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah; serta
d. Penguatan KSE pendidik dan tenaga kependidikan.
Perasaan (Feeling)
Saya bersyukur mendapat ilmu baru yang sangat luar biasa yang saya rasakan berpengaruh terhadap eksistensi saya menjalani profesi sebagai guru untuk selalu tidak berpuas diri. Modul 2.2 memang memberikan saya banyak ilmu mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosional. Dimana saya adalah seorang guru yang terkadang sulit dalam kontrol emosi ‘negatif’ seperti marah, khawatir, dan lain-lain. Di modul ini, saya mendapatkan hal yang luar biasa terkait ilmu-ilmu baru yang memacu saya lebih bersemangat dalam mengimplementasikan semua yang saya dapatkan. Forum diskusi selama sesi ruang kolaborasi membuat saya semakin paham mengenai penguasaan emosi dari pembelajaran sosial dan emosional ini. Saya harap dengan mempelajari ini, saya akan mampu mengontrol setiap emosi dalam diri saya yang tentunya berdampak kepada orang lain serta memberikan contoh kepada rekan sejawat dan pada murid-murid saya.
Pembelajaran (Findings)
Dalam modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional banyak ilmu baru yang bisa saya dapatkan. Dari modul ini saya mendapatkan pelajaran bahwa mengenali emosi diri sebelum melakukan setiap tindakan itu harus dilakukan, agar tindakan tersebut tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain mengenali emosi diri, kita juga dituntut untuk mampu mengelola emosi tersebut agar kita kembali ke keadaan semula yaitu dalam keadaan yang bahagia. Selain itu, pengalaman lainnya yang saya dapatkan di modul ini seperti kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Semua materi tersebut bertujuan untuk menciptakan hubungan yang baik dan positif sesama rekan kerja, murid, maupun dengan masyarakat di sekitar kita.
Beberapa kesimpulan dalam mempelajari modul ini antara lain:
Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan murid, pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai 5 Kompetensi Sosial dan Emosional.
5 Kompetensi Sosial Emosional di antaranya sebagai berikut :
a. Kesadaran diri (self awareness);
b. Pengelolaan diri (self management);
c. Kesadaran sosial (social awareness);
d. Kemampuan berinteraksi sosial (relationship skills);
e. Pengambilan keputusan bertanggung jawab (responsible decision-making).
Sehingga tujuan utama PSE itu sendiri adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh warga sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.
Penerapan (Future)
Dari pendalaman materi PSE pada modul 2.2 ini saya berencana untuk menerapkannya terlebih dahulu dalam lingkup kelas saya di sekolah seperti melakukan bernafas dengan kesadaran penuh sebelum memulai pembelajaran dengan teknik STOP. Teknik STOP merupakan teknik yang paling sederhana untuk berlatih mindfulness, yakni dengan menyadari nafas. Kita bisa gunakan Teknik STOP untuk berlatih menyadari nafas. STOP merupakan singkatan dari Stop, Take a deep breath, Observe dan Proceed. Mindfulness tak terbatas pada menyadari nafas saja. Namun, dalam setiap langkah maupun aktivitas kita, kita harus sadar betul dengan apa yang kita lakukan, yang kita rasakan, yang kita pikirkan dan kita ucapkan. kemudian juga mengintegrasikan kompetensi tersebut dalam pembelajaran saya seperti menerapkan kompetensi kesadaran sosial dalam perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan, kemudian menerapkan keterampilan berelasi pada saat melakukan refleksi ataupun memberikan umpan balik terhadap hasil kerja rekan sejawat maupun penjelasan guru dengan menggunakan kata-kata yang positif dan mudah dimengerti.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Salam dan bahagia ibu/bapak guru hebat.
Penulis : I Komang Adi Kusuma, SST.Par., M.Par. Guru SMK Negeri 2 Bangli Kecamatan Bangli Kab. Bangli (Calon Guru Penggerak Angkatan-9).
Daftar Pustaka :
Yo, Rusiati dkk. 2022. Pembelajaran Sosial dan Emosional. Modul 2.2. Jakarta : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Video Observasi Pembelajaran di Kelas : https://youtu.be/TUcNGf4NtGI