✍️ Jurnal Refleksi 2.1 - Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi
Modul 2 merefleksikan hasil dari kegiatan di LMS dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi Minggu ke-10 ini membahas materi pada Modul 2.1 bertemakan Pembelajaran Berdiferensiasi. Refleksi ini ditulis sebagai media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).
Peristiwa
Perjalanan mempelajari modul 2.1 merupakan kelanjutan dari modul sebelumnya yaitu modul 1. Kegiatan diawali dengan pre-test, Dengan soal Panjang sempat terkendala jaringan, hampir dalam mengerjaannya tidak cukup waktu. Pembelajaran menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata). Mulai dari diri merupakan awal untuk mempersiapkan diri dalam menerima pengetahuan baru pada modul 2.1, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi konsep pemikiran kita dari modul yang sudah dipelajari, diskusi dengan rekan CGP dalam ruang kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberi masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi, secara mandiri menyusun RPP berdiferensiasi diunggah di LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator, mendapat penguatan dari narasumber dalam elaborasi pemahaman, membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik pembelajaran berdiferensiasi yang akan dilaksanakan setelah pelaksanaan Penilaian Tengah Semester sesuai dengan RPP pada kelas XII MM2 yang sudah dibuat.
Perasaan
Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi membuat penasaran karena sebagai guru harus memberlakukan siswa sesuai dengan karakteristiknya. Selama ini hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga yang saya kejar adalah ketuntasan materi. Efek/ dampak yang ada mengabaikan bahwa ada banyak keragaman kebutuhan belajar murid dalam satu kelas. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai filosofi dari KHD tentang belajar adalah menuntun murid mencapai tujuan, dan tentunya guru tidak bisa memaksa masing-masing murid untuk melewati jalan yang sama dalam mencapai tujuannya, namun guru dituntut bisa memfasilitasi murid dengan berbagai jalan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan murid.
Pembelajaran
Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.
Penerapan
Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu dengan asesmen diagnostik non kognitif. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan pengetahuan baru, sehingga dalam prakteknya butuh proses dan terus belajar. Semoga dapat berkontribusi dalam transformasi pendidikan di Indonesia, murid menjadi aset yang kelak menjadi pemimpin bangsa.
✍️ Jurnal Refleksi 2.2 - Pembelajaran Sosial dan Emosional
Peristiwa : Pada modul-modul sebelumnya tetap menggunakan alur belajar yang disingkat dengan akronim MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata). Setelah alur belajar sampai pada Aksi Nyata, terlebih dahulu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Strategi Pembelajaran Sosial Emosional di kelas. PSE berbasis kesadaran penuh (Mindfulness sosial emotional learning) dan Well Being yang merupakan latihan kesadaran penuh dalam kondisi nyaman, sehat, dan bahagia. Dalam PSE terdapat 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yaitu; Kesadaran diri, Manajemen diri, Kesadaran sosial, Keterampilan relasi, dan Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab. Hal baik yang diperoleh dalam penerapan strategi Pembelajaran Sosial Emosional berbasis kesadaran penuh dan kondisi nyaman, sehat (mindfulness and well being) di kelas sangat menarik serta mendapatkan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya mencoba mempraktikkan latihan dengan berkesadaran penuh (mindfulness) yaitu STOP (StopBerhenti, Take e deep breathe- Tarik napas dalam, Observe- Amati, Proceed- Lanjutkan) dan pada saat lokakarya 3 tanggal 18 November 2023 juga kami praktikan bersama dengan peserta CGP lain yang dipandu oleh Pengajar Praktik.
Perasaan : Dalam minggu ini membuat saya lebih memahami PSE. Pengalaman dari teman CGP, Fasilitator serta Instruktur yang dibagikan saat tatap maya melalui forum gmeet yang ada di LMS membuat saya mendapat banyak inspirasi tentang penerapan KSE dikelas. Melalui proses pembelajaran ini juga, saya menyadari bahwa KSE sangat diperlukan oleh guru untuk melakukan berbagai kegiatan dalam proses pembelajaran serta sangat penting untuk mengoptimalkan potensi belajar murid yaitu dengan dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) penggabungan pembelajaran berdiferensiasi dan implementasi KSE dalam RPP tersebut.
Pembelajaran : Dengan mempelajari modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional ini, saya dapat membangun komunikasi dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Sehingga, saya akan mampu melaksanakan pembelajaran, kegiatan sekolah, dan dapat bertanggung jawab. Melalui KSE saya yakin Peserta Didik akan menjadi orang yang mampu menghadapi masalah, menemukan solusi atas masalahnya dan menjadi orang yang berkarakter baik. Pelajaran yang sangat berharga bagi saya, melalui PSE Alhamdulillah saya dapat mengendalikan emosi (kesadaran diri), saya lebih memahami kekuatan dan kelemahan dalam diri, serta saya mampu membangun kepercayaan diri. Saya juga harus mampu mengelola perasaan marah, benci, jengkel, pada murid saya dengan tingkahnya yang bermacam-macam (manajemen diri), karena saya paham tentang adanya perbedaan di antara peserta didik.
Penerapan : Pada penerapan PSE ini, saya berusaha menerapkan 5 Kompetensi Sosial Emosional kepada Peserta Didik melalui integrasi dalam pembelajaran di kelas berupa : 1. Peserta didik dan guru berdo'a sebelum kegiatan pembelajaran (Kesadaran diri) 2. Mengecek kehadiran dan mengkondisikan kelas agar bisa menyenangkan (Manajemen diri) 3. Mengingatkan kembali kesepakatan kelas (Kesadaran diri) 4. Mempraktik metode STOP (Mindsfulness) 5. Diskusi kelompok untuk menjawab pertantaan pada LKPD, dan prensentasikan hasil diskusi (Keterampilan berelasi) 6. Memberikan penilaian hasil diskusi dan presentasi menggunakan lembar penilaian observasi (Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab) 7. Melakukan refleksi kegiatan pembelajaran (Manajemen diri) 8. Berdo'a diakhir pembelajaran.
Dari kegiatan ini saya akan mencoba menerapakan untuk semua kelas yang saya ampu mata pelajarannya, harapan saya dari kegaitan ini peserta didik akan lebih meningkat pemahaman dan kesadaran dirinya untuk menggapai cita-cita yang meraka harapakan. Bagi rekan sejawat agar bersama-sama berkolaborasi dan komunikasi untuk perbaikan RPP yang direncakan dan agar Kompetensi Sosial Emosional bisa sama di praktik di kelas masing-masing.
✍️ Jurnal Refleksi 2.3 - Coaching Untuk Supervisi Akademik
Modul ini diajarkan melalui eksplorasi konsep yang dibagi menjadi 4 Sub Pembelajaran, yaitu:
Sub Pembelajaran 2.1: Konsep Coaching secara Umum dan dalam Konteks Pendidikan,
Sub Pembelajaran 2.2: Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching,
Sub Pembelajaran 2.3: Kompetensi Inti Coaching dan Alur Percakapan Coaching TIRTA,
Sub Pembelajaran 2.4: Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching.
Coaching adalah proses kolaborasi yang berorientasi pada solusi, hasil, dan sistematis. Dalam coaching, seorang coach membantu coachee untuk meningkatkan kinerja kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi. Selain itu, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan dengan coachee untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional melalui proses yang merangsang pemikiran dan kreativitas. Melalui tugas di Sub Pembelajaran, saya mendapatkan pengalaman berharga dalam memahami coaching. Tugas Ruang Kolaborasi, yang terdiri dari latihan dan praktik coaching, memberikan pengalaman menarik dalam memainkan peran sebagai coach dan coachee.
Feelings (Perasaan):
Modul 2.3 telah memberikan pencerahan yang luar biasa bagi perkembangan diri saya dalam dunia coaching dan supervisi akademik. Saya tidak hanya merasa senang, lega, dan termotivasi, tetapi juga merasa sangat yakin dan siap untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip coaching ke dalam praktik pendidikan di sekolah kami. Saya melihat coaching sebagai alat yang kuat untuk membantu kami sebagai pendidik menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul dalam perjalanan pendidikan. Selain itu, saya merasa semakin percaya diri dalam berinteraksi dengan rekan sejawat, menciptakan ruang kolaboratif yang memungkinkan kita saling mendukung, berbagi ide, dan tumbuh bersama sebagai komunitas pembelajaran yang kuat.
Saya juga merasa semakin termotivasi untuk mencari solusi kreatif dalam mengatasi permasalahan yang mungkin timbul di sekolah. Modul ini mengajarkan saya bahwa coaching bukan hanya tentang memberikan jawaban, tetapi juga tentang memungkinkan coachee (yang sedang dibimbing) untuk menemukan solusi mereka sendiri melalui pemikiran dan refleksi yang mendalam. Ini adalah pendekatan yang sangat memperkaya dan mendalamkan pengalaman pembelajaran kami sebagai pendidik, dan saya sangat bersemangat untuk menjalankannya dalam praktik sehari-hari.
Findings (Pembelajaran):
Saya mendapatkan banyak pembelajaran berharga dari materi Modul 2.3 ini. Supervisi akademik bertujuan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid dan untuk pengembangan kompetensi diri pendidik di sekolah. Dalam hubungan antar guru, seorang coach dapat membantu coachee menemukan kekuatan dalam proses pembelajaran. Pendekatan komunikasi coaching melibatkan dialog emansipatif dalam suasana kasih dan persaudaraan.
aradigma berpikir coaching melibatkan fokus pada pengembangan coachee, sikap terbuka, kesadaran diri, dan kemampuan melihat peluang masa depan. Prinsip coaching adalah "kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi." Kompetensi inti coaching mencakup kehadiran penuh, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot. Alur percakapan coaching TIRTA mencakup perencanaan, pemecahan masalah, refleksi, dan kalibrasi. Umpan balik coaching melibatkan pertanyaan reflektif dan penggunaan data yang valid. Supervisi akademik adalah rangkaian aktivitas yang berdampak langsung pada guru dan pembelajaran mereka di kelas. Dua paradigma utama dalam supervisi akademik adalah pengembangan kompetensi berkelanjutan dan optimalisasi potensi individu.
Future (Penerapan):
Setelah menyelesaikan Modul 2.3, saya merasa sangat termotivasi dan siap untuk mengaplikasikan kompetensi inti coaching dalam praktik sehari-hari saya sebagai pendidik. Pertama, saya bertekad untuk menjadi lebih hadir secara penuh dalam setiap percakapan coaching. Saya memahami pentingnya memberikan perhatian sepenuhnya kepada coachee, sehingga mereka merasa didengar dan dihargai. Selanjutnya, saya akan aktif dalam mendengarkan, memberikan ruang bagi coachee untuk berbicara, dan benar-benar mencerna apa yang mereka sampaikan. Saya percaya bahwa mendengarkan aktif adalah kunci untuk memahami kebutuhan dan tantangan coachee.
Selain itu, saya akan mengembangkan kemampuan saya dalam mengajukan pertanyaan yang relevan dan berbobot. Saya akan memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk merangsang pemikiran coachee, membantu mereka menggali solusi, dan mendorong refleksi yang lebih dalam. Saya juga akan memanfaatkan prinsip coaching, seperti kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi, dalam setiap interaksi saya dengan coachee. Saya yakin bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip coaching ini, saya dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berdampak positif bagi coachee.
Selanjutnya, saya akan mengimplementasikan rangkaian supervisi akademik yang mengadopsi paradigma berpikir coaching. Ini melibatkan pendekatan yang berpusat pada pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi individu. Saya akan menggunakan supervisi akademik ini sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya juga berkomitmen untuk terus mengasah kemampuan coaching saya melalui latihan dan praktek dengan rekan sejawat dan murid. Dengan demikian, saya dapat terus berkembang sebagai pendidik yang efektif dan mendukung pertumbuhan coachee saya.