MATERI
Etika komunikasi profesional adalah cara berkomunikasi yang sesuai dengan norma, nilai, dan budaya kerja, baik secara lisan, tulisan, maupun non-verbal, agar tercipta hubungan kerja yang efektif, santun, dan saling menghargai.
Etika komunikasi sangat penting karena:
Menghindari kesalahpahaman
Membangun hubungan kerja yang harmonis
Menjaga citra profesional individu dan organisasi
Mendukung tercapainya tujuan kerja
Ciri komunikasi lisan yang baik di tempat kerja:
Bahasa jelas, sopan, dan tidak terburu-buru
Memperhatikan lawan bicara
Bersikap terbuka terhadap kritik dan masukan
Menggunakan intonasi dan bahasa tubuh yang mendukung pesan
Prinsip komunikasi tertulis yang baik:
Bahasa jelas, singkat, dan terstruktur
Menggunakan subjek yang sesuai (email)
Menghindari singkatan tidak umum
Menyampaikan tujuan pesan secara langsung
Komunikasi efektif bersifat dua arah, yaitu:
Menyampaikan pesan
Mendengarkan tanggapan
Memberikan respon yang tepat
Mendengarkan aktif membantu memahami pesan dan mencegah konflik.
Dalam lingkungan kerja yang beragam:
Menghargai perbedaan budaya
Menyesuaikan cara berkomunikasi
Menghindari stereotip dan prasangka
Integritas adalah konsistensi antara nilai, perkataan, dan tindakan, yang mencakup kejujuran, disiplin, komitmen, dan tanggung jawab.
Kejujuran: menyampaikan fakta apa adanya
Disiplin: mematuhi aturan dan waktu kerja
Komitmen: konsisten terhadap tugas dan target
Tanggung jawab: menyelesaikan tugas sesuai standar
Integritas ditunjukkan melalui:
Mengakui kesalahan dan memperbaikinya
Menyelesaikan tugas tepat waktu
Melaporkan kendala kepada atasan
Menjaga kepercayaan tim
Menurunnya kepercayaan
Timbul konflik kerja
Produktivitas menurun
Reputasi pribadi dan organisasi rusak
Proaktif berarti mengambil inisiatif tanpa menunggu perintah, seperti:
Memulai pekerjaan lebih awal
Menawarkan bantuan pada rekan
Mengantisipasi masalah
Inovatif adalah kemampuan:
Mencari cara baru yang lebih efisien
Menggunakan teknologi
Mengembangkan ide kreatif dalam pekerjaan
Berorientasi hasil berarti:
Fokus pada pencapaian target
Menjaga kualitas pekerjaan
Mengevaluasi hasil kerja secara berkala
Membagi tugas sesuai kemampuan
Memberi dukungan kepada anggota tim
Melakukan evaluasi dan perbaikan
Kolaborasi efektif adalah kerja sama yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama.
Saling membantu
Menghargai perbedaan
Memberikan dukungan moral
Berpartisipasi dalam kegiatan sosial
Menjaga etika kerja di masyarakat
Menunjukkan sikap empati
Penerapan pelestarian lingkungan di tempat kerja:
Menghemat energi
Mengelola limbah dengan baik
Menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab
Norma kerja adalah pedoman perilaku dan standar kerja yang harus dipatuhi oleh semua karyawan.
Tujuan K3LH:
Mencegah kecelakaan kerja
Menjaga kesehatan pekerja
Menciptakan lingkungan kerja yang aman
Contoh penerapan K3LH:
Menggunakan APD
Mengidentifikasi risiko
Melaporkan kecelakaan kerja
POS berfungsi untuk:
Menjaga konsistensi kerja
Meningkatkan efisiensi
Mengurangi kesalahan kerja
Setiap karyawan wajib:
Mematuhi aturan
Mengikuti pelatihan
Melaporkan pelanggaran atau risiko
(TP 6)
Prosedur Operasional Standar (POS) adalah pedoman tertulis yang berisi langkah-langkah kerja teknis dan sistematis untuk memastikan pekerjaan dilakukan aman, konsisten, efisien, dan sesuai standar.
Tujuan utama POS di tempat kerja adalah:
Menstandarisasi proses kerja
Mengurangi kesalahan kerja
Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja
Meningkatkan kualitas dan konsistensi hasil kerja
POS disusun berdasarkan prinsip:
Keselamatan kerja
Konsistensi
Efisiensi
Kepastian langkah kerja
POS bukan memberikan fleksibilitas tanpa batas, tetapi mengatur cara kerja yang benar.
Sebelum mempraktikkan POS, pekerja wajib:
Membaca POS dengan teliti
Memahami urutan langkah teknis
Mengetahui alat dan bahan yang digunakan
Memahami risiko kerja dan prosedur keselamatan
Langkah teknis adalah tahapan rinci yang harus dilakukan secara berurutan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai standar.
Contoh langkah teknis:
Pemeriksaan kondisi fisik alat
Pengujian fungsi alat
Pelaksanaan pekerjaan
Pelaporan hasil kerja
Jika terdapat langkah POS yang sulit dipahami:
Bertanya kepada supervisor atau ahli
Tidak mengabaikan langkah tersebut
Tidak mengubah prosedur tanpa izin
POS dievaluasi dengan cara:
Membandingkan hasil kerja dengan standar
Menganalisis efektivitas langkah teknis
Mengajukan revisi kepada pihak berwenang bila tidak relevan
(TP 7)
Kompetensi teknis adalah keterampilan khusus yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai standar industri.
POS berfungsi sebagai:
Pedoman langkah kerja
Standar kualitas hasil
Acuan keselamatan kerja
Kompetensi teknis memastikan POS dapat diterapkan dengan benar.
Sebelum memulai pekerjaan:
Membaca dan memahami prosedur teknis
Menyiapkan alat dan bahan sesuai standar
Memastikan kondisi kerja aman
Pekerjaan dikatakan efektif jika:
Hasil sesuai standar
Waktu dan sumber daya efisien
Tingkat kesesuaian minimal 85%
Jika tidak tercapai, wajib dilakukan evaluasi.
Evaluasi dilakukan dengan:
Membandingkan hasil kerja dengan standar
Mengidentifikasi kesalahan
Mengulang pekerjaan bila perlu
Supervisor berperan:
Mengawasi penerapan POS
Memberi arahan teknis
Memberikan umpan balik perbaikan
(TP 8)
Kompetensi teknis baru diperlukan untuk:
Menyesuaikan perkembangan teknologi
Meningkatkan produktivitas
Membuka peluang pengembangan karier
Tahapan belajar kompetensi baru:
Mencari informasi dasar
Mengikuti pelatihan atau pembelajaran
Praktik langsung
Evaluasi hasil kerja
Pendekatan terbaik adalah:
Pelatihan formal
Praktik langsung
Pendampingan mentor
Keberhasilan kompetensi baru diukur dari:
Dampak terhadap kualitas kerja
Efisiensi dan produktivitas
Kesesuaian dengan standar kerja
(TP 9)
Kompetensi yang belum tuntas harus:
Tetap dipelajari
Diterapkan secara bertahap
Didampingi mentor bila diperlukan
Belajar mandiri melatih:
Kemandirian
Problem solving
Bimbingan membantu:
Mengurangi kesalahan
Mempercepat penguasaan keterampilan
Memahami standar kerja
Mempraktikkan di tempat kerja
Menerima umpan balik
Melakukan perbaikan
Keberhasilan diukur melalui:
Evaluasi hasil kerja
Pencapaian standar minimal
Konsistensi penerapan prosedur
(TP 10)
Analisis usaha adalah proses mengkaji data dan informasi usaha untuk menghasilkan rekomendasi yang tepat.
Identifikasi masalah atau peluang
Pengumpulan data relevan
Analisis data
Penyusunan rekomendasi
Penyajian laporan
Laporan yang baik memuat:
Data
Analisis
Rekomendasi
Data harus:
Bersumber jelas
Akurat
Dapat dipertanggungjawabkan
Presentasi yang efektif:
Runtut dan jelas
Didukung grafik dan tabel
Menggunakan bahasa sederhana
Presentasi bertujuan:
Membantu audiens memahami hasil analisis
Menyampaikan rekomendasi usaha
Mendukung pengambilan keputusan