Kegiatan Calon Guru Penggerak
Selamat Datang di Halaman Kegiatan Calon Guru Penggerak Angkatan 11
ABDUL WAHAB-KOTA TEGAL
Forum Diskusi dengan memberikan perspektif refleksi kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara.
Dalam forum diskusi virtual, Fasilitator memfasilitasi diskusi bagaimana kami memahami pemikiran filosofis KHD untuk melatih kita untuk lebih saksama memaknai dan menghayati pemikiran KHD dalam menuntun kekuatan kodrat anak dan bagaimana penerapannya pada konteks lokal sosial budaya di daerah Anda.
Pada saat diskusi virtual kami diberikan pertanyaan reflektif terkait pemahaman Anda mengenai pemikiran filosofis KHD. Pertanyaan pemantik berikut dapat Anda renungkan sebelum sesi dimulai:
Apa makna kata ‘menuntun’ dalam proses pendidikan anak bagi saya?
Jawaban : Menuntun adalah mendampingi dan mengantar anak ke sebuah tujuan dengan bimbingan. berfikir kritis, anak melakukan refleksi dengan komunikasi yang kreatif dan inovatif.
Bagaimana kata “menuntun” saya maknai dalam konteks sosial budaya di daerah saya? Apa dapat saya lakukan untuk mewujudkan pendidikan anak yang relevan dengan konteks sosial budaya di daerah saya?
Jawaban : Menurut pemikiran saya, “menuntun” dalam konteks sosial budaya berarti membimbing, memfasilitasi, dan mengarahkan seseorang agar dapat mengembangkan potensi dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Ini mencakup nilai-nilai luhur budaya, norma-norma sosial, dan etika yang dijunjung tinggi dalam masyarakat di daerah kita.
Mengapa pendidikan murid (anak) perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?
Jawaban : Dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, kita dapat membentuk Pendidikan yang holistic dan relevan dengan kebutuhan anak-anak. Mari Bersama-sama menciptakan generasi yang siap menghadapi masa depan dengan baik !
Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?
Jawaban : Relevansi pemikiran KHD "pendidikan yang berhamba/berpihak pada anak yakni pendidikan harusnya berpusat pada peserta didik. Tentunya hal itu harus berpusat pada pola pemikiran peserta didik bukan dilihat sebagai objek namun dijadikan sebagai subjek.