Kompetensi dasar
Menganalisis dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris) dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini.
Tujuan Pembelajaran :
Melalui kegiatan literasi, peserta didik dapat menganalisis dampak pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Melalui kegiatan diskusi online, peserta didik dapat menghubungkan dampak pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini.
Melalui kegiatan pembuatan produk dalam bentuk artikel sederhana, peserta didik mampu menalar dampak pendidikan pada masa penjajahan bangsa Eropa dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini.
Petunjuk Pembelaran :
Peserta didik mengetahui tujuan pembelajaran
Peserta didik mencermati peta konsep untuk mengetahui pemetaan materi pembelajaran ini.
Peserta didik menyimak materi yang ada di bahan ajar ini dan diharapkan mampu mengembangkan materi tersebut melalui sumber internet/sumber belajar online, buku yang relevan, youtube, dan sumber-sumber relevan lainnya.
Peserta didik mengikuti pembelajaran daring (synchronus dan asynchronus) sesuai petunjuk guru.
Peserta didik mengerjakan latihan soal untuk menguji pemahaman materi ini
Lain sekarang, lain dulu. Mari kita tengok 75 tahun lalu saat Indonesia belum merdeka dan masih berada dalam dekapan Belanda. Pernahkah kamu berfikir bagaimanakah asal mula lahirnya pendidikan di Indonesia, munculnya pendidikan di Indonesia tidak lepas dari dampak adanya kolonialisme di Indonesia.
Pendidikan di Indonesia terus berkembang Pendidikan mulai dianggap penting saat kebijakan Politik Etis dilakukan oleh pemerintah kolonial. Perhatian pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan dikarenakan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor swasta dan pemerintahan. Sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah menganut sistem pendidikan barat dan hanya bisa dimasuki oleh kalangan bangsawan. Usaha –usaha yang dilakukan oleh kolonial Belanda dalam bidang pendidikan tidak lain adalah untuk keuntungan pemerintahan Belanda, yaitu menghasilkan pegawai administrasi Belanda yang murah, terampil, dan terdidik. Selain itu Pemerintah Belanda menyusun kurikulum pendidikannya sendiri, akibatnya perkembangan pendidikan dan pengajaran di Indonesia sampai abad ke–19 menunjukkan kecenderungan Politik dan Kebudayaan. Tidak semua masyarakat mendapatkan pendidikan, masyarakat yang mempunyai jabatan lah yang dapat merasakan pendidikan, seperti keturunan raja, keturunan bangsawan, pengusaha kaya, dan yang lainnya.
Beberapa contoh sekolah yang didirikan pada masa awal pemerintah kolonial Belanda, antara lain :
Eurospeesch Lagere School (ELS)
Europeesch Lagere School (ELS) merupakan sekolah dasar pada masa kolonial Hindia Belanda. Sekolah ini diperuntukkan bagi keturunan Belanda, Eropa, dan rakyat Indonesia dari golongan terpandang. ELS menerapkan lama studi sekitar tujuh tahun dengan materi pembelajaran menggunakan bahasa Belanda. ELS pertama kali didirikan pada tahun 1817 hanya untuk warga Belanda. Semenjak politik etis dicetuskan pada tahun 1903, rakyat Indonesia dapat menimba ilmu di ELS. Setelah adanya HIS dan HCS, akhirnya ELS hanya diperuntukkan untuk orang keturunan Belanda.
Hollandsch Inlandsche School (HIS)
Hampir sama dengan ELS, HIS merupakan sekolah yang mempunyai jenjang sama dengan sekolah dasar. Pertama kali didirikan pada tahun 1914, sekolah ini memiliki masa studi tujuh tahun. Sekolah ini diperuntukkan bagi rakyat Indonesia keturunan bangsawan dan keturunan tokoh terkemuka. Pengantar bahasa yang digunakan adalah bahasa Belanda.
Hollandsch Chineesche School (HCS)
Sekolah ini pertama didirikan pada 1908. Sekolah ini didirikan oleh kolonial untuk anak keturunan Tionghoa yang berada di Hindia Belanda. Masa studi tujuh tahun dengan pengantar bahasa Belanda. Sekolah ini bertaraf sama dengan sekolah dasar masa kini.
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
Sekolah ini setara dengan sekolah menengat pertama. Bahasa Belanda merupakan pengantar yang digunakan dalam MULO. Jenjang studi sekolah di MULO terbagi menjadi dua bagian. Tiga tahun untuk lulusan ELS dan empat tahun selain lulusan ELS karena ada masa persiapan satu tahun.
Algemeene Middelbare School (AMS)
AMS merupakan sekolah pendidikan menengah umum pada masa Hindia Belanda. Tingkatannya di atas MULO dengan masa studi tiga tahun. Bahasa pengantar yang digunakan menggunakan bahasa Belanda.
Hoogere Burgerschool (HBS)
HBS merupakan lanjutan tingkat pertama untuk orang belanda, Eropa, Tionghoa, dan rakyat Indonesia yang terpandang. Masa studinya adalah lima tahun dan menggunakan bahasa Belanda dalam proses belajar mengajar. Melalui pendidikan HBS selama lima tahun setelah HIS atau ELS, akan lebih pendek menempuh pendidikan dasar dan menengah daripada melalui MULO dan AMS. Biasanya, anak yang masuk HBS adalah dengan intelektual yang tinggi.
Schakel School
Schakel School merupakan sekolah rakyat yang berada di daerah dengan masa studi lima tahun. Lulusan dari sekolah ini disamakan dengan lulusan HIS. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Belanda. Biasanya, Schakel School merupakan lanjutan dari sekolah rakyat yang berada di desa dengan masa studi 2-3 tahun.
School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen (STOVIA)
STOVIA merupakan sekolah pendidikan dokter pada masa Hindia Belanda yang diperuntukkan untuk membentuk dokter dari kalangan pribumi. Sekolah ini merupakan lanjutan dari MULO dengan masa studi sekitar tujuh tahun. Akhirnya, sekolah ini mengalami perkembangan hingga saat ini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Meskipun tidak semua rakyat Indonesia dapat sekolah, tetapi keberadaan sekolah telah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Adanya sekolah di Indonesia mengakibatkan munculnya kaum terpelajar yang akan membawa pada kesadaran nasionalisme. Kaum terpelajar inilah yang mendorong rakyat Indonesia akan pentingnya kesadaran untuk menjadi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Hal tersebut menjadi momen kunci dalam perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan.
Berdasarkan uraian di atas, perkembangan imperialisme dan kolonialisme juga memberikan dampak dalam bidang pendidikan. Adapun dampak yang dimaksud sebagai berikut.
Munculnya golongan-golongan terpelajar di Indonesia
Bangsa Indonesia bisa membaca dan menulis sehingga dapat menjadi tenaga-tenaga kerja di perusahaan Belanda
Bangsa Indonesia menjadi tahu perkembangan yang terjadi di dunia luar.
Sekolah pertama yang didirikan pemerintah Belanda di Bali adalah Tweede Klasse School pada 1875 yang berlokasi di Singaraja. Hal ini berkaitan dengan dijadikannya Singaraja menjadi Ibukota keresidenan Bali dan Lombok pada 1882 (Ardika, 2015: 226). Setelah Belanda menguasai secara keseluruhan barulah diadakan penataan administrasi pemerintahan dan pembangunan sekolah-sekolah. Pada 914 dibuka sekolah untuk pribumi Tweede Klasse School di berbagai daerah di Bali Utara. Pada tahun yang sama, untuk mendapatkan tenaga terdidik professional dan bisa berbahasa Belanda, didirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Singaraja, di Denpasar HIS didirikan pada 1918, dan di Klungkung pada 1929 (Ardika, 2015: 469-471). Pada awalnya Belanda memberikan prioritas pendidikan pada golongan triwangsa sedangkan golongan jaba kurang mendapat perhatian.
Dalam realitanya di lingkungan nasyarakat Bali masih terikat dengan tata lokacara yaitu aturan yang harus dituruti oleh kedua golongan yang berkaitan dengan adat istiadat maupun pergaulan sehari-hari. Golongan triwangsa tidak dapat menerima sepenuhnya kebijakan Belanda karena triwangsa masih fanatik berpandangan terhadap adat-istiadat yang berlaku (Ardika, 2015: 470). Berdasarkan berbagai keterangan tentang Bali Utara di atas, maka jelaslah bahwa pola pikir masyarakat Bali Utara sudah mulai berkembang menuju kepada apa yang terjadi selanjutnya dalam tindakan berkeseniannya, terutama dalam berkarawitan. Hal ini berkaitan dengan apa yang dilihat, dirasakan, dan yang dikerjakannya terutama yang bersentuhan dengan dunia luar (Belanda) sangat berbekas dalam kegiatan berkeseniannya.
RANGKUMAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang pernah terjajah oleh negara lain. Letak Indonesia yang strategis dan kekayaan alam Indonesia menyebabkan Indonesia menjadi negara yang layak dilirik oleh negara-negara lain untuk dieksploitasi. Rakyat pribumi pada saat itu mengalami kehidupan yang sulit dengan adanya tentara asing yang memperlakukan mereka sewenang-wenang. Kekejaman pemerintahan Belanda masih membekas hingga sekarang.
Sampai sekarang pun, pengaruh dari kolonialisme masih ada. Baik dalam unsur pemerintahan, unsur ekonomi, maupun budaya, pengaruh negara Belanda bercampur dengan Indonesia. Tidak seluruh pengaruh tersebut bersifat negatif. Ada beberapa pengaruh dari masa penjajahan Belanda yang cenderung menguntungkan bagi Indonesia.
Perkembangan imperialisme dan kolonialisme juga memberikan dampak dalam bidang pendidikan. Adapun dampak yang dimaksud sebagai berikut.
Munculnya golongan-golongan terpelajar di Indonesia
Bangsa Indonesia bisa membaca dan menulis sehingga dapat menjadi tenaga-tenaga kerja di perusahaan Belanda
Bangsa Indonesia menjadi tahu perkembangan yang terjadi di dunia luar.
LATIHAN SOAL
Sebutkan dampak kolonialisme di bidang pendidikan di Indonesia!
Bagaimana dampak kolonialisme bidang pendidikan di Bali yang dapat dirasakan hingga saat ini?
Bagaimana cara pihak kolonial dalam memperoleh tenaga pendidik yang profesional ?
Daftar Pustaka
Dharma Putra, I.B.G. 2021. Metafora Konseptual Kasta dalam Masyarakat Bali: Kajian Linguistik Kognitif. Jurnal. Diterbitkan. Universitas Pendidikan Ganesha: Singaraja.
Harisuprihanto, L. 2022. Sejarah Indonesia Untuk Kelas XI Semester Gasal. Surakarta: CV Grahadi
Muhajir, A. 2012. Membongkar Kesalahpahaman tentang Kasta di Bali. Media. Diterbitkan. https://balebengong.id/kesalahpahaman-kasta-di-bali/ diunduh pada 14 Agustus 2022
Santosa, H. 2019. Kajian Historis Seni Pertunjukan Bali dan Peluangnya dalam Memasuki Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal. Diterbitkan. Program Studi Seni Kerawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institute Seni Indonesia Dharma: Denpasar
Sulistiyowati, A. 2020. Modul Pembelajaran SMA Sejarah Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Direktorat Sekolah Menengah Atas: Jakarta