Minggu, 05 Juni 2022
Segelas Kopi Toraja menemaniku mereung.
Aku telah menyelesaikan Modul 1.1 pada Program Guru Penggerak, walaupun hanya sedikit saja isinya yang saya pahami dan lebih banyak yang belum saya pahami. Namun materi pada Modul tersebut telah memberikan banyak pencerahan kepada saya tentang peranan saya sebagai seorang pendidik. Dulu saya menganggap bahwa saya sudah melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang pendidik yang baik. Namun menyelami pemaparan materi baik dari instruktur, guru pengajar, diskusi dengan sesama CGP, maupun membaca berbagai materi pada modul tersebut telah memberikan berbagai sudut pandang baru kepada saya tentang peranan saya sebagai seorang pendidik. Guru seharusnya menjadi penuntun yang baik bahkan menghamba kepada para muridnya, namun saya menyadari diri saya sebelumnya bahwa kadangkala saya menempatkan diri saya sebagai sosok yang justru menjadi bos yang harus diikuti oleh para murid saya, saya menganggap bahwa mereka seharusnya tunduk pada kemauan saya, namun ternyata itu adalah sebuah kekeliruan, setidaknya menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara. Saya juga terlalu pelit untuk berbagi ide dengan rekan-rekan guru yang lain, mereka seharusnya sudah tahu dan harusnya tahu, itu menurut pendapatku. Aku belum sadar akan kekuatan kolaborasi, walaupun aku sudah tahu secara teori.
Seruput dulu kopinya agar nikmat.
Ruang kolaborasi CGP, menjadi momen bagi saya untuk mengerti dan memahami kekuatan kolaborasi. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap setiap permasalahan, dan setiap orang punya solusi yang unik terhadap masalah tersebut. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi dengan berkolaborasi setidaknya memberikan lebih banyak pilihan untuk menyelesaikan suatu permasalahn secara bersama-sama dengan sudut pandang dan solusi masing-masing, yang seharusnya menjadi lebih mudah.
Pendidik adalah penuntun bagi muridnya, untuk mengembangkan segala kodrat yang ada pada anak untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sebagai manusia. Namun kadangkala saya justru melepaskan mereka untuk menjelajahi jalan-jalan menuju impian mereka, yang tentu saja dapat membuat mereka kehilangan arah bahkan membuat mereka tersesat dan hilang dalam pencarian jati diri mereka. Ah, guru apa aku ini?
Aku bertanya pada diriku, apakah murid yang aku bimbing telah menemukan kebahagiaan? Setidaknya sedikit kebahagiaan? Apakah tutur salam dari mereka bukan sekedar upaya untuk membuat diri mereka aman? Setidaknya sebelum mereka lari menghindari saya sebagai sebuah ancaman?
Aku terlalu gampang menyalahkan mereka apabila mereka melakukan suatu pelanggaran, namun aku lupa bahwa mungkin saja letak salahnya adalah pada diriku.
Hmmm, seruput lagi kopinya hingga tetes terakhir.
Semoga pemikiran-pemikiran dan semangat Ki Hadjar Dewantara dapat merasuk ke dalam jiwa pendidik saya, dan semoga Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menjadi seorang penuntun yang baik, setidaknya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Semoga kedepannya aku bisa menyelami dunia dan jiwa-jiwa murid saya dan menulari mereka dengan kebaikan yang sedikit aku miliki, menjadi panutan, menjadi motivator, dan penjadi penyemangat bagi mereka dalam mengembangkan segala potensi mereka untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Semoga Tuhan menuntun saya menjadi hamba atau pelayan bagi murid-murid saya dan mengabaikan angkuhnya diriku. Semoga mereka menjadi murid yang berbudi pekerti, selaras antara pikiran, perasaan, kemauan, semoga mereka menjadi lebih baik dan lebih bahagia dari aku.
Salam dan bahagia