Budaya Positif
Budaya Positif
Salam dan Bahagia, Pendidikan guru penggerak sangat familiar di dunia Pendidikan saat ini. Saya salah satu guru yang beruntung dapat mengikuti PGP pada tahun 2022 Angkatan 5 Kabupaten Malang. Kali ini saya ingin berbagi tentang apa yang baru saja saya pelajari dalam Pendidikan Guru Penggerak pada modul 1.4 yakni Budaya Positif.
Pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dpat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya” (dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20), maka guru perlu membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat.
Jika kita mengacu pada dasar negara kita yaitu, Pancasila, maka pendidikan karakter diharapkan dapat mengembangkan nilai-nilai pelajar pancasila yang Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Kreatif, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis dan Mandiri. Pendidika Karakter.yang menyiapkan murid menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri.
Untuk mengembangkan pendidikan karakter salah satunya dikembangkan budaya positif di lingkungan sekolah. Budaya positif yang dikembangkan di sekolah berisi kebiasaan yang diyakini bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasaan positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk pada diri murid.
Untuk memulai dalam perjuangan mewujudkan budaya positif, terlebih dahulu kita perlu merubah cara pandang kita dalam melihat dunia.
Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991) mengatakan bahwa,
“..bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau perilaku
Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah
kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana Anda berpikir
tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek
tertentu tentang realitas”
Mari kita lihat dalam tabel di bawah ini perbedaan antara paradigma stimulus respon dan teori control.
Menurut pendapat teori kontrol bahwa kita tidak bisa mengontrol murid kita, maka perlu sebuah cara agar murid memiliki motivasi intrinsik untuk melakukan hal-hal baik yang harus dia lakukan. Salah satunya adalah menanamkan disiplin pada anak.
Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa:
“dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun
disiplin itu bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan
sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan
self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian
itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.
(Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan
Kelima, 2013, Halaman 470)
Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universaldan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Motivasi intrinsik yang jangka waktunya lebih panjang, karena berdiri dalam nilai-nilai atau aliran atau ajaran yang diyakini oleh diri. Sementara terdapat motivasi lain yaitu motivasi ekstrinsik yang datang dari luar. Seperti motivasi untuk menghindari ketidaknyamanan/ hukuman dan juga motivasi untuk mendapatkan pujian / penghargaan yang tidak bertahan lama.
Cara melaksanakan disiplin positif yang memunculkan motivasi intrinsik dengan Restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen;
2004)
Salah satu hal penting dalam restitusi adalah mempelajari kebutuhan dasar manusia. Jika kita mengetahui kebutuhan dasar manusia, akan lebih mudah untuk menganalisis tindakan yang dilakukan anak. Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi kebutuhan dasar kita. Anak melakukan kesalahan karena ada kebutuhan yang tidak didapat.
Restitusi bertujuan; mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses.
Menstabilkan identitas = kita bisa menyelesaikan hal ini, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan
Validasi tindakan yang salah (semua perilaku memiliki alasan = mengapa kamu melakukan hal itu?
Menanyakan keyakinan (kita semua memiliki motivasi internal) apa nilai-nilai yang telah kita sepakati?
Pada pembelajaran Disiplin dan Nilai-nilai Kebajikan Universal, kita telah mempelajari tentang nilai-nilai kebajikan yang dapat menjadi landasan kita dalam membuat suatu keyakinan sekolah atau menentukan visi dan misi atau tujuan dari sebuah institusi/sekolah. dalam penentuan visi sebuah institusi/sekolah kita terlebih dahulu perlu menentukan nilai-nilai kebajikan apa yang terpenting bagi institusi tersebut agar dapat mencapai tujuan mulia yang dicita-citakan. Nilai-nilai kebajikan menekankan pada keyakinan seseorang akan lebih memotivasi seseorang dari dalam.
Pada Aksi nyata Modul 1.4 tentang Budaya Positif saya mengimplementasikan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif di lingkungan kelas yaitu membuat keyakinan kelas serta membagikan pemahaman dan pengalaman dalam menerapkannya kepada rekan-rekan. Pada Aksi nyata pertama tentang mengimplementasikan budaya positif dilingkungan kelas saya awali membuat rancangan aksi nyata (Video 1.1)
Pembuatan keyakinan kelas ini sebeneranya sudah kami buat pada awal masuk tahun ajaran baru 2022/2023. Kemudian keyakinan kelas ini kami perkuat setelah belajar Modul 1.4 tentang Disiplin Positif, dari modul tersebut kami banyak mendapatkan wawasan sehingga terpacu untuk melaksanakan keyakinan kelas di kelas V SD Negeri 1 Karanganyar. Adapun kegiatan implementasi keyakinan kelas dapat dilohat pada video aksi nyata di bawah ini yang tergabung dalam kegiatan aksi nyata 2 berbagi pengalaman dengan rekan sejawat.
AKSI NYATA 2
Berbagi pengalaman ke rekan sejawat
Pada Aksi nyata kedua berbagi pengalaman penerapan disiplin positif dikelas V , kami bersama-sama mengadakan kegiatan sharing guru SD Negeri 1 Karanganyar yang dilaksanakan pada hari Sabtu sepulang sekolah. Tujuan dari kegiatan sharing ini adalah berbagi pengalaman serta mendapatkan umpan balik dari keyakinan yang telah di buat di kelas V dan dapat ditiru oleh semua guru di sekolah sehingga tercipta disiplin positif di sekolah. Untuk Lebih jelasnya bapak/ibu bisa melihat pada tayangan berikut : ( Video 1.2)
Terimakasih banyak atas perhatianya , tentunya masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dalam menerapkan budaya positif di sekolah.