Calon Guru Penggerak Angkatan 8 Kabupaten Cilacap
Mewujudkan merdeka belajar dan Profil Pelajar Pancasila di lingkungan sekolah berawal dari usaha untuk menerapkan budaya positif kepada warga dan lingkungan sekolah. Berawal dari guru menginternalisasi profil pelajar pancasila, menerapkan peran dan nilai guru, menganalisis kondisi dengan Inquri Apresiatif serta metode BAGJA nya dan menanamkan budaya atau disiplin positif kepada murid. Maka diperlukan usaha berkesinambungan dari guru dan lingkungan sekolah untuk menampakkan atau memberikan panutan akan budaya positif kepada siswa.
Modul 1.1.
Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan artinya menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sementara itu pengajaran merupakan bagian dari pendidikan, yaitu memberikan ilmu yang berfaedah untuk bekal kehidupan anak, baik secara lahir maupun batin.
Sejatinya pendidikan itu tidak dapat mengubah kodrat seorang anak, tetapi melalui pendidikan, kodrat itu dapat diarahkan untuk menuju kepada perilaku yang positif, sehingga anak dapat mencapai kebahagiaan dalam kehidupannya, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Pendidikan utama seorang anak adalah berasal dari keluarga, karena di dalam keluargalah seorang anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan individu lainnya. Untuk itu, perilaku anak juga seringkali dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya.
Anak yang tumbuh dan berkembang dari keluarga yang santun, akan cenderung berperilaku santun, anak yang tumbuh dalam keluarga yang religius juga cenderung berperilaku religius, demikian juga sebaliknya. Untuk itu, keteladanan dalam pendidikan akan sangat berdampak pada tumbuh kembangnya anak.
Dalam dunia pendidikan, sekolah merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan, karena di sini akan terjadi pertukaran kebudayaan baik berupa norma, ilmu pengetahuan maupun teknologi.
Seorang guru hendaknya berperan untuk menuntun atau membimbing agar murid dapat menyaring kebudayaan yang sesuai dengan akar budaya bangsa, norma agama dan juga norma kemasyarakatan. Namun, perlu diingat bahwa dalam mendidik, kita perlu mempertimbangkan kodrta alam dan juga kodrat zaman setiap anak. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentukan lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama.
Terkait dengan kodrat alam, anak yang berasal dari daerah pegunungan tentu memiliki karakter sosial yang berbeda dengan anak yang berasal dari daerah pesisir. Kodrat alam ini juga berkaitan dengan bakat dan kekuatan bawaan dari anak yang tentu berbeda-beda, sehingga dalam penangannya tentu juga berbeda. Sementara terkait dengan kodrat zaman, bahwa kebutuhan anak untuk setiap zaman pasti berbeda. Mendidik anak di era tahun 90 an, jelas berbeda dengan mendidik anak di jaman digital saat. ini.
Tahun 90 an, seorang guru mungkin cukup menggunakan buku dan papan tulis sebagai sumber dan media pembelajaran di kelas, namun saat ini, murid akan lebih tertarik dengan pembelajaran yang menggunakan media visual digital, yang mendukung terwujudnya kecakapan anak abad 21. Demikian juga konten atau isi pengetahuan yang dibutuhkan anak dari masa ke masa tentujuga mengalami perubahan.
Seorang Guru perannya bukan hanya mengajarkan materi pelajaran di kelas, namun lebih dari pada itu. Ki Hajar Dewantara menjelaskan peran guru melalui Trilogi Pendidikan, yaitu :
Ing Ngarso Sung Tulodho, seorang guru harus mampu menjadi pemimpin dan memberikan teladan bagi murid-muridnya. Sebuah keteladanan akan jauh lebih membekas dibandingkan dengan seribu teori yang guru berikan.
Ing Madyo Mangun Karso, seorang guru harus dapat menjadi motivator dengan memberikan semangat dan dukungan kepada murid-muridnya, Seorang guru juga hendaknya dapat membangun kerjasama dengan murid dan terus belajar serta berinovasi dalam mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada murid.
Tutwuri Handayani, Seorang guru harus mampu memberikan dorongan dan motivasi kepada murid-muridnya. Yakinkan bahwa setiap murid memiliki potensi dan bakatnya masing-masing serta bimbing mereka untuk dapat mengembangkan potensi itu.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara lainnya yang tak kalah penting adalah tentang asas pendidikan yang dikenal dengan "Asas Trikon" yaitu Kontinuitas, Konsentris, dan Konvergensi. Kontinuitas artinya pendidikan harus hirarkis dan berkesinambungan.
Untuk mencapai tujuan, maka kita harus terus bergarak maju, namun tanpa melupakan sejarah dan akar budaya bangsa Indonesia. Konsentris artinya bahwa dalam pendidikan kita harus menyadari perbedaan bakat dan karakter setiap anak.
Maka biarkan anak tumbuh dan berkembang sesuai bakatnya. Sebagai guru kita hanya dapat membimbing dan memastikan bahwa bakat dan karakter anak dapat berkembang dengan baik. Konvergensi artinya pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia dan memperkuat nila-nilai kemanusiaan, sehingga anak dapat tumbuh menjadi manusia yang memiliki kebijaksanaan.
Vidio Aksi Nyata Modul 1.1 "Renungan Pelepasan Siswa - Siswi Kelas 6 SDN Welahan 01"
Modul 1.2.
Nilai dan Peran Guru Penggerak
Rangkuman Modul 1.2. Guru Penggerak: Profil Pelajar Pancasila, Nilai, dan Peran, Diagram Identitas Gunung Es menyoroti pelajar Pancasila merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan punya karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar Pancasila terbangun oleh 6 dimensi, yakni:
1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia
2. Mandiri
3. Bergotong-royong
4. Berkebinekaan global
5. Bernalar kritis
6. Kreatif.
Guru penggerak mempunyai peran yang merupakan ringkasan 4 kompetensi guru penggerak. Ada 5 peran guru penggerak, yakni:
1. Menjadi pemimpin pembelajaran:
Guru Penggerak diharap berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada siswa, dengan memperhatikan segenap aspek pembelajaran yang mendukung tumbuh-kembang siswa.
2. Menggerakkan Komunitas Praktisi:
Seorang Guru Penggerak mesti memiliki partisipasi aktif di dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru, baik di sekolah ataupun di wilayahnya.
3. Menjadi Coach bagi Guru lain
Ini terkait pengembangan pembelajaran di sekolah: Guru Penggerak harus mampu mendeteksi aspek-aspek yang bisa ditingkatkan dari rekan sejawatnya, cakap merefleksikan hasil pengalamannya sendiri serta guru lain guna dijadikan poin peningkatan untuk pembelajaran, dan bisa memantau perkembangan dari rekan guru lain tersebut.
4. Mendorong kolaborasi antar guru:
Guru penggerak membuka ruang diskusi positif dan kolaborasi di antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
5. Mewujudkan kepemimpinan murid: Seorang guru pengerak membantu para siswa untuk mandiri dalam belajar, bisa memunculkan motivasi siswa untuk belajar, serta mendidik karakter siswa di sekolah.
Jadi nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru penggerak, yakni: Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid.
Mandiri artinya seorang Guru Penggerak selalu bisa mendorong diri sendiri untuk melakukan aksi dan mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada dirinya.
Guru Penggerak yang mandiri, bisa memunculkan motivasi dalam dirinya sendiri untuk membuat perubahan baik di lingkungan sekitarnya atau pada diri sendiri. Seorang guru penggerak termotivasi untuk mengembangkan diri tanpa menunggu pelatihan atau ditugaskan oleh dinas atau sekolah.
Ada 2 hal yang bisa dilakukan guna menguatkan nilai mandiri pada guru penggerak, yakni:
Menentukan tujuan perubahan yang mau dicapai dan dampak dari pencapaian itu.
Merayakan keberhasilan setiap capaian, sehingga termotivasi mencapai tujuan berikutnya.
Seorang Guru Penggerak selalu bisa merefleksikan dan memaknai pengalaman yang terjadi di sekelilingnya, baik yang terjadi atas dirinya sendiri maupun pihak lain.
Seorang Guru Penggerak memiliki nilai reflektif mau membuka diri pada pengalaman yang baru dilalui, lalu melakukan evaluasi pada hal yang sudah baik, serta hal yang perlu dikembangkan.
Adapun beberapa model refleksi yang dapat diterapkan, diantaranya:
Model Refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan ke Depan)
Model refleksi ialah model pertanyaan yang bisa dipakai guna memaknai pengalaman yang telah pernah dirasakan sebelumnya. Keempat langkahnya yakni:
Peristiwa (Facts): Deskripsi obyektif berdasar pengalaman nyata yang sudah dialami.
Perasaan (Feelings): Menjelaskan hal yang dirasakan sekarang sesudah melaksanakan proses tersebut.
Pembelajaran (Findings): Menjelaskan hal paling konkret yang bisa diambil sebagai pembelajaran dan mungkin sudah membawa makna baru.
Penerapan ke depan (Future): Menjelaskan hal yang bisa segera diterapkan sebagai individu.
3. Kolaboratif
Kolaboratif memiliki arti seorang Guru Penggerak bisa selalu membangun hubungan kerja yang positif terhadap seluruh pihak pemangku kepentingan yang ada di sekolah ataupun di luar sekolah guna mencapai tujuan pembelajaran.
Guru Penggerak yang menjiwai nilai kolaboratif bisa membangun rasa kepercayaan dan rasa hormat antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya, dan mengakui dan mengelola perbedaan peran dari masing-masing pemangku kepentingan sekolah dalam mencapai tujuan bersama.
Inovatif memiliki arti seorang Guru Penggerak bisa selalu memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi atau permasalahan tertentu.
Nilai inovatif sangat mendukung keterbukaan para Guru Penggerak pada gagasan serta ide lain yang muncul dari luar dirinya guna memecahkan masalah, mencari informasi lain yang bisa mendukung prosesnya.
Sudut pandang orang lain yang dapat membantu dirinya dalam menemukan inspirasi pemecahan masalah ataupun mengambil keputusan, hingga akhirnya bisa menemukan solusi/aksi nyata untuk mengatasi permasalahan.
Berpihak pada murid artinya seorang Guru Penggerak selalu bergerak dengan mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama. Sebagai Guru Penggerak, pedoman perilaku yang utama ialah mengutamakan keberpihakan pada murid.
Dokumentasi Aksi Nyata Modul 1.2 dapat dilihat melalui link https://youtu.be/I-SG6hRu3cg
AKSI NYATA MODUL 1.4
BUDAYA POSITIF DI SDN WELAHAN 01 MELALUI KEGIATAN DESIMINASI
Oleh : Titin Alfiah, S.Pd.SD
Calon Guru Penggerak Angkatan 8
A. Latar Belakang
Budaya positif di sekolah ialah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan - kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu pembelajaran di sekolah harus dapat membawa murid memperoleh kebahagiaan setinggi-tingginya melalui merdeka belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan membangun budaya positif.
Budaya positif di sekolah dapat dibangun dengan membentuk keyakinan kelas dan menerapkan segitiga restitusi. Dengan adanya keyakinan kelas yang disusun Bersama antara guru dan murid, maka semua akan mengupayakan untuk menjalankannya sebagai Langkah awal membangun budaya positif di sekolah. Dan dengan penerapan segitiga restitusi dapat membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka.
B. Tujuan
1. Menumbuhkan nilai - nilai Profil pelajar pancasila pada diri peserta didik dalam proses pembelajaran
2. Menumbuhkan budaya positif dengan menanamkan nilai kebajikan dan keyakinan kelas yang sudah di buat
3. Memahami konsep posisi control sebagai pendidik
4. Memahami konsep kebutuhan dasar manusia
5. Memahami penerapan segitiga restitusi
6. Meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri murid untuk mengemukakan pendapat mengenai gambaran kelas yang diinginkan
7. Menumbuhkan motivasi intrinsik murid
8. Mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid
9. Menumbuhkan budi pekerti yang baik
10. Mengajarkan murid mencari solusi dari suatu permasalahan
C. Tolok Ukur
1. Murid mampu membuat kesepakatan dan keyakinan kelas sesuai dengan nilai - nilai Profil Pelajar Pancasila
2. Murid mampu menjalankan kesepakatan yang telah dibuat dengan penuh tanggung jawab
3. Murid mampu menentukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya
4. Murid mampu menunjukkan perubahan perilaku sebagai pembelajaran atas masalah yang pernah dihadapinya
5. Murid dan guru mampu melaksanakan budaya positif secara konsisten
D. Linimasa Tindakan
Meminta izin kepada Kepala Sekolah untuk melakukan desiminasi budaya positif.
Melakukan kegiatan desiminasi kepada warga sekolah terkait Filosofi KHD, budaya positif, dan segitiga restitusi.
Menjelaskan pengertian dan manfaat keyakinan kelas
Praktik keyakinan kelas di kelas 4
Memahami segitiga restitusi melalui alur teks narasi dan vidio demonstrasi kontekstual modul 1.4
Menerapkan keyakinan dan restitusi secara berkelanjutan dan konsisten
E. Dukungan yang Dibutuhkan
Kerja sama Orang tua di rumah sebagai lingkungan pertama untuk menerapkan budaya positif murid
Warga sekolah sebagai teladan dalam menerapkan budaya posistif di lingkungan sekolah
Sarana dan prasarana yang mendukung untuk menumbuhkan budaya positif di sekolah
Kerjasama Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan untuk dapat Bersama-sama berupaya konsisten dalam menerapkan budaya positif
F. Deskripsi Aksi Nyata
Langkah pertama yang saya lakukan adalah menyampaikan rencana Diseminasi Budaya Positif. Selanjutnya saya mempersiapkan kegiatan diseminasi yang meliputi, materi dalam bentuk power point, undangan, daftar hadir, dan lain – lain. Sasaran Diseminasi Budaya Positif ini adalah Bapak Ibu Guru, Tenaga Pendidik dan Kependidikan SDN Welahan 01 sejumlah 11 orang dan dihadiri oleh Bapak Kepala SDN Welahan 01.
Kegiatan Diseminasi Budaya Positif dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Juli 2023 dan dihadiri oleh kepala sekolah dan seluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menyampaikan bahwa Diseminasi Budaya Positif merupakan kegiatan berbagi praktik baik yang dilakukan oleh CGP SDN Welahan 01 Angkatan 8, yang harapannya dapat mewarnai budaya baru di SDN Welahan 01. Peserta desiminasi antusias menyimak materi hingga seluruh materi selesai.
G. Hasil
Rangkaian kegiatan Aksi Nyata pada Kegiatan Diseminasi Budaya Positif yang dilakukan menghasilkan pemahaman dari pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah mengenai Filosofi KHD, implementasi Budaya Positif di sekolah, dan Segitiga restitusi. Sehingga akan tercipta pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan serta berpihak pada murid.
H. Pembelajaran yang Didapat dari Aksi Nyata
Hal yang saya dapatkan dalam kegiatan Diseminasi Budaya Positif adalah wujud kolaborasi. Kami bekerja sama dan berkolaborasi untuk dapat melaksanakan kegiatan diseminasi ini, yang harapan ke depannya kami juga dapat berkolaborasi dengan semua stakeholder sekolah untuk terus dapat mengimplementasikan Budaya Positif di SDN Welahan 01. Seluruh warga sekolah harus terus berkolaborasi dalam mewujudkan budaya positif sebagai prakarsa perubahan dalam menguatkan karakter positif dalam mencetak generasi yang berjiwa Profil Pelajar Pancasila
I. RENCANA PERBAIKAN
Rencana saya ke depan akan terus berinovasi dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada siswa demi dapat “menuntun” siswa agar dapat berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Serta berupaya terus dapat mengimplementasikan Budaya Positif di sekolah melalui keyakinan kelas
J. DOKUMENTASI KEGIATAN MEMBUAT KEYAKINAN KELAS
Dokumentasi Kegiata Diseminasi Budaya Positif di SDN Welahan 01 dapat dilihat melalui link https://youtu.be/25qmJ3olby4
Dokumen Aksi Nyata Budaya Positif_Pdf