JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 6
By FAIZAH CGP ANGKATAN 9
Assalamualaikum Wr Wb...
Salam guru penggerak , Tergerak-bergerak-menggerakan
Saya akan merefleksikan kegiatan Lokakarya 6 CGP Angkatan 9 Kabupaten Bangka Barat dengan Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)
Model ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Model 4F ini dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan).
1. PERISTIWA
Pada hari sabtu tanggal 30 Maret 2024, saya mengikuti kegiatan lokakarya yang ke-6 yaitu di SMKN 1 Mentok Kabupaten Bangka Barat. Kegiatan lokakarya dimulai dari pukul 08.00 sampai dengan 14.00 WIB dengan waktu istirahat satu kali yaitu pada pukul 12.00 dan masuk kembali pukul 13.00. Dalam lokakarya ini kami berdiskusi tentang pengelolaan program yang berdampak positif pada murid dan sejauh mana posisi diri CGP setelah mengikuti program pendidikan guru penggerak.
Pada lokakarya ini saya focus dengan program yang sudah saya rancang melalui tahapan BAGJA yaitu Khatam Al Qurán. Program ini merupakan program kokurikuler yang akan dikembangkan di sekolah saya.
2. PERASAAN
Pada kegiatan lokakarya yang ke-6 perasaan saya sangat senang, bersemangat, dan yang paling menarik adalah adanya rasa penasaran dalam diri saya. Pada saat itu saya ingin sekali mendengarkan paparan program sekolah dari para CGP yang mereka rancang dengan memanfaatkan asset sekolah. Dari paparan yang disampaikan para CGP, saya dapat mengambil hal positif untuk diterapkan di sekolah saya.
Kami para CGP dengan bimbingan dari Pengajar Praktik semakin faham bagaimana dalam merancang program sekolah yang dapat mengoptimalkan asset sekolah dan melibatkan murid secara aktif, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, dan sampai dengan kegiatan refleksi.
3. PELAJARAN
Dari kegiatan lokakarya 6 banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa saya ambil, diantaranya adalah saya lebih memahami tentang bagaimana mengelola program yang berdampak positif pada murid. Selain itu saya juga mampu mengukur diri, sudah sejauh mana dan apa saja yang sudah saya lakukan selama mengikuti program pendidikan guru penggerak ini. Dengan begitu maka saya dapat mengetahui perubahan-perubahan apa saja yang ada dalam diri saya setelah mengikuti program pendidikan guru penggerak ini.
4. PENERAPAN
Hal penting yang akan saya terapkan untuk menjalankan program ini adalah saya akan melakukan kolaborasi dengan seluruh warga sekolah, memanfaatkan kekuatan sumber daya/asset yang dimiliki sekolah, serta melibatkan murid secara aktif dengan mempertimbangkan suara, pilihan, dan kepemilikan. Dalam setiap tahapan B-A-G-J-A, saya akan melibatkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid untuk mewujudkan student agency.
Langkah-langkah yang saya lalui tidak lain untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid sesuai dengan bakat dan minat mereka masing-masing sehingga murid benar-benar akan merasakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang.
Semoga Bermanfaat,Salam dan Bahagia Ibu Bapak Hebat...
JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 5
PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK
POSITIF PADA MURID
By FAIZAH CGP ANGKATAN 9
Adapun tujuan belajar lokakarya 5 adalah:
Calon Guru Penggerak mampu memahami data yang diperoleh dalam tahap B (Buat pertanyaan) dan A (Ambil pelajaran) untuk menjadi informasi dalaam merancang fase Gali mimpi;
Calon guru penggerak dapat menentukan aktor-aktor yang akan dilibatkan dalam fase gali mimpi sekaligus menyusun strategi pelibatan aktor tersebut;
Calon guru penggerak dapat mulai membuat prencanaan program bagian judul program atau kegiatan, latar belakang dan tujuan program.
Dalam jurnal refleksi yang saya buat, saya mengadopsi Model 4F yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu :facts, feelings, findings, dan feelings.
1. Facts (peristiwa)
Mentok, Hari Sabtu,16 Maret 2024, saya mengikuti kegiatan lokakarya 5 untuk Calon Guru Penggerak angkatan 9, Kabupaten Bangka Barat dilaksanakan di SMKN 1 Mentok. Jumlah peserta mencapai 38 orang CGP, kemudian dibagi menjadi 3 kelas, setiap kelas akan dipandu oleh pendamping 2-3 orang . Kegiatan lokakarya dilaksanakan setelah pendampingan CGP di sekolah masing –masing. Pada lokakarya 5 ini kami membahas mengenai kolaborasi dalam pengelolaan program yang berpihak pada murid. Dalam kegiatan ini saya bersama cgp lainnya melakukan diskusi tentang pembuatan program yang akan diterapkan di sekolah. Kemudian masing-masing CGP akan memberikan masukan dan komentar terhadap program yang dibuat oleh CGP lainnya, dari masukkan tersebut CGP kemudian melakukan revisi dari program tersebut. Pembuatan program tersebut menjabarkan B(Buat pertanyaan) dan A (Ambil Pelajaran). Selanjutnya kami melakukan presentasi.
2. Feelings(perasaan)
Saat mengikuti kegiatan lokakarya 5 ini perasaan saya sangat senang dan antusias. Saya bisa berkenalan dengan rekan-rekan CGp hebat yang berasal dari ssekolah-sekolah di selurh kabupaten Bangka Barat. Pada lokakarya 5 ini, kami banyak melakukan diskusi dengan beda kelompok sehingga dapat menambah teman dan pengalaman serta ilmu baru bagi saya. Hal ini membuat saya merasa senang dan antuasian mengikuti lokakarya 5 ini.
3. Findings (pembelajaran)
Saya mengikuti kegiatan lokakarya 5 ini banyak sekali pembelajaran yang saya ambil, diantaranya saya lebih bisa memahami penjabaran BAGJA dalam proses yang akan saya lakukan di sekolah tempat saya mengajar. Selain itu banyak bertukar ide/gagasan dengan rekan CGP lain terkait masukan dan saran terhadap program yang sudah saya susun.
4. Future (penerapan)
Semoga dengan adanya lokakarya 5 yang memfasilitasi para CGP untuk menyusun alur BAGJA mampu menghasilkan sebuah program yang berdampak positif pada murid. Melalui kolaobrasi dengan warga sekolah. Diharapkan CGP mampu mengembangkan strategi yang dituangkan pada alur BAGJA agar tujuan program dapat berjalan dan tercapai dengan efektif dan efisien.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.3
PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK
POSITIF PADA MURID
By FAIZAH CGP ANGKATAN 9
AssalamualaIkum warahmatullahi wabarakatuh
Pada penulisan refleksi dwi mingguan kali ini tentang Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif pada Murid, saya menuliskan jurnal dengan model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). Model ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Ada empat bagian yang akan saya tuliskan dalam refleksi ini.
1. Fact (Peristiwa)
Modul 3.3 merupakan modul terakhir dari kegiatan pendidikan dan pelatihan calon guru penggerak Angkatan 9 ini. Sama seperti modul sebelumnya, kegiatan pembelajaran pada materi modul 3.3 ini juga dilakukan dalam waktu dua minggu. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 27 Maret 2024. Modul 3.3 berisikan materi tentang menyusun sebuah program yang berdampak positif pada murid, cara menumbuhkan student agency (kepemimpinan murid) dengan suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid, lingkungan yang mendukung tumbuh kembang kepemimpinan murid, serta pentingnya melibatkan komunitas untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. Setelah mempelajari modul ini saya berusaha untuk mempelajari, memahami dan melaksanakan materi modul 3.3 ini dengan maksimal dan berusaha memberikan yang terbaik. Meskipun demikian dalam modul 3.3 ini masih terdapat beberapa materi masih belum saya mengerti dan pahami, terutama tentang lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya murid di sekolah saya.
Pada saat ruang kolaborasi, saya berusaha mendengarkan dengan focus dan berusaha untuk menggali informasi dengan fasilitator yaitu Ibu Siti Asiyah, S. Pd.SD serta dengan teman-teman CGP lainnya melalui tanya jawab. Saat sesi ruang kolaborasi kedua, kami dibagi menjadi tiga kelompok dan diminta untuk membuat sebuah program yang berdampak pada murid. Program yang direncanakan ini juga melihat aset yang dimiliki oleh sekolah serta mampu menumbuhkan kepemimpinan murid dengan melibatkan suara, pilihan, dan kepemilikian. Saat masuk alur demonstrasi kontekstual tanggal 7-8 Maret 2024, kami diminta untuk membuat sebuah program secara individu. Program ini nantinya yang akan dipraktikkan dalam aksi nyata di akhir modul 3.3.
Hambatan yang saya alami dalam mempelajari modul 3.3 ini antara lain, saya masih belum memahami materi. Namun setelah mendapatkan penguatan dari fasilitator dan instruktur, saya dapat memahami materi tersebut dengan baik.
2. Feelings (Perasaan)
Saya merasa sangat bahagia dan antusias serta bersemangat ketika mengikuti pembelajaran dalam modul ini. Selain materinya yang sangat menarik dan menantang, modul ini juga merupakan modul terakhir yang harus saya pelajari. Artinya, saya harus bersiap untuk mengimplementasikannya di kelas atau di sekolah saya. Selain itu, saya juga merasa senang karena banyak ilmu-ilmu dan pengetahuan baru yang saya peroleh selama mengikuti kegiatan PGP ini.
Saya juga merasa senang dan tertarik ketika pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak saya dan saya merefeksikan pada bagian mulai dari diri dapat terjawab dengan baik dan jelas. Ada hal menarik yang terjadi pada pembelajaran di modul ini, yaitu saat saya harus menyelesaikan tugas demonstrasi kontekstual. Dalam tugas ini, CGP diminta untuk membuat sebuah program secara mandiri. Perasaan senang sekali ketika saya dapat merancang sebuah program dan melibatkan murid didalamnya.
3. Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran yang saya dapatkan setelah mempelajari modul ini sebagai berikut, yaitu pada saat saya menyusun sebuah program sebaiknya kita melihat aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah. Pentingnya melibatkan murid sebagai mitra dalam penyusunan, baik pada saat murid memberikan suara, pilihan dan kepemilikandalam pelaksanaan, dan evaluasi program, baik dapat dilibatkan dengan memberikan kesempatan mereka untuk berpendapat (suara) adn menentukan pilihannya sehingga mereka akan merasa memiliki dan merasakan manfaat dari program yang akan dikembangkan.
Yang perlu dikembangkan oleh guru di sekolah adalah pentingnya menciptakan lingkungan yang positif dalam menumbuhkan student agency. Pentingnya dukungan dari semua pihak/komunitas dalam menumbuhkan kepemimpinan murid. Prakarsa perubahan yang akan dilakukan dapat menggunakan Tahapan BAGJA dengan menambahkan unsur suara, pilihan, dan kepemilikan murid.
Dalam proses pembelajaran modul ini, tentunya saya juga memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru. Pengalaman saya dalam merancang sebuah program yang melibatkan murid dan mengimplementasikannya dengan tahapan BAGJA merupakan hal baru bagi saya. Modul 3.3 ini dalam menjadikan murid sebagai Student Agency.
4. Future (Penerapan)
Dalam modul ini saya ingin dapat melaksanakan program yang telah saya rancang dengan murid tersebut. Harapannya program ini dapat menumbuhkan kepemimpinan murid dan mewujudkan karakter profil pelajar pancasila. Dan saya juga akan menyebarkan pengetahuan dan pengalaman saya dalam menyusun program yang berdampak positif pada murid ini pada rekan-rekan sejawat.
Bergerak, Tergerak , dan Menggerakkan
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
1. Facts (Peristiwa)
Modul 3.2 dengan materi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Perjalanan mempelajari modul 3.2 merupakan kelanjutan dari modul sebelumnya yaitu modul 3.1. Pada modul sebelumnya Pembelajaran menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata).
Dimulai pada tanggal 15 Februari 2024 kegiatan pertama adalah "mulai dari diri". Pada kegiatan ini, CGP diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bertujuan untuk mengaktifkan ulang pengetahuan awal Anda tentang ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sekolah.
Kemudian memasuki alur kedua yaitu eksplorasi konsep pada tanggal 16 Februari 2024, pada alur eksplorasi konsep calon guru penggerak belajar secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam forum LMS, calon guru penggerak juga diminta untuk mendalami materi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Disini kami mempelajari sekolah sebagai ekosistem, Pendekatan berbasis kekurangan dan pendekatan berbasis kekuatan/aset, pendekatan ABCD (Asset Based Community Development), karakteristik komunitas yang sehat dan komunitas, pengalaman rapat dan mendiskusikan murid. Disini juga kami mempelajari kasus 1 dan kasus 2 tentang kegiatan rapat guru membahas perpisahan siswa yang lulus sekolah di sebuah sekolah dasar. Kami diajak untuk melakukan analisa mengenai suasana rapat tersebut.
Kemudian kami Memasuki alur ketiga yaitu ruang kolaborasi. Fasilitator kami yaitu Ibu Siti Asiyah, membagi beberapa kelompok dan saya bersama 3 rekan saya yaitu Ibu Heny dan ibu Desmalia yang tergabung dalam kelompok 2.
Selanjutnya kami melakukan kegiatan Vicon di aplikasi Gmeet dengan melakukan diskusi kelompok. Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama dilakukan pada tanggal 19 Februari 2024, Ruang Kolaborasi pertama kami melakukan diskusi untuk membahas kekuatan/aset sumber daya yang dimiliki di sekolah daerah kami. Pada Ruang kolaborasi kedua yang dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2024 kami melakukan diskusi kelompok dengan mempresentasikan hasil tugas kelompok kami. Selanjutnya hasil tugas kelompok kami unggah di LMS sebagai tugas Ruang Kolaborasi.
Alur yang keempat yaitu demontrasi kontekstual kami ditugaskan untuk menganalisis video di LMS tentang visi dan prakarsa perubahan, mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masing-masing tahapan BAGJA, mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran, dan menganalisis modal utama yang dapat dimanfaatkan. Tugas ini harus kami unggah di LMS dan berakhir pada tanggal 21 Februari 2024 dalam bentuk tulisan ataupun video.
Alur yang kelima adalah Eloborasi pemahaman yang diawali dengan membuat pertanyaan. Selanjutnya pada tanggal 26 Februari 2024 kami seluruh CGP mengiktui Vicon Elaborasi Pemahaman materi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya.
Dan yang terakhir yaitu alur yang keenam adalah koneksi antar materi mengaitkan materi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dengan materi yang telah didapatkan pada modul sebelumnya. Alur terakhir dari alur merdeka adalah aksi nyata.
Pada aksi nyata ini calon guru penggerak diminta untuk melakukan aksi nyata dengan mengidentifikasikan sumber daya sebagai aset/kekuatan yang dimiliki sekolah. Identifikasi sumber daya sekolah dilakukan secara kolaboratif agar semua warga sekolah dapat bersama-sama mengetahui dan memanfaatkannya untuk peningkatan kualitas pendidikan. Hasil dan proses pemetaan secara kolaboratif dapat dilaporkan dalam bentuk yang sesuai dengan kreativitas CGP, misalnya berupa foto atau video, dan lainnya.
2. Feelings (Perasaan)
Perasaan sebelum mempelajari modul 3.1 ini saya berpikir kekurangan dan masalah yang ada di kelas dan di sekolah dan saya berpikir bahwa aset yang ada di sekolah hanya berupa sarana dan prasana terutama potensi murid yang kurang pengelolaan sebagai sumber daya sekolah.
Setelah mempelajari Modul 3.2 ini ternyata terdapat 7 aset sebagai kekuatan utama dalam peningkatan mutu pendidikan sekolah dan pembelajaran di kelas dengan melakukan pendekatan berbasis aset sebagai sumber daya untuk mencapai visi dan misi sekolah dan nasional. Saya sangat senang dan bersyukur dapat mempelajari sumber daya di sekolah sebagai aset/kekuatan sehingga menambah pemahaman saya dalam mengelolanya sehingga bermanfaat dalam pembelajaran di kelas dan di sekolah.
3. Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran yang saya peroleh dalam modul ini yaitu kami diajak untuk mengingat dan menulis tentang ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sekolah. Sekolah sebagai sebuah ekosistem terdiri dari faktor biotik yaitu kepala sekolah, pengawas, guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua, komite, masyarakat, dan dinas terkait. Sedangkan faktor abiotik terdiri atas keuangan, gedung/sarana dan lingkungan alam. Dalam pengelolaan sumber daya dapat dilakukan dengan 2 pendekatan, yaitu pendekatan berbasis kekurangan (Defisit Based Approach) dan pendekatan berbasis aset/kekuatan (Asset Based Approach).
Selain itu pengelolaan sumber daya yang ada di sekolahnya juga dapat menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset-Based Community Development/ABCD). Karakter komunitas yang sehat yaitu: memperaktikkan dialog, menumbuhkan komitmen, membangun koneksi, mengenal dirinya sendiri, membentuk masa depan, bertindak dengan obsesi ide dan peluang, merangkul perubahan dan bertanggung jawab, dan menghasilkan kepemimpinan. Aset-aset dalam sekolah/komunitas, terdiri dari 7 macam, yaitu : modal manusia, modal sosial, modal politik, modal agama dan budaya, modal fisik, modal lingkungan/alam, dan modal finansial.
4. Future (Penerapan)
Rencana kedepannya dalam penerapan di kelas dan di sekolah bahwa sebagai pemimpin saya harus mengelola 7 aset utama sebagai kekuatan dalam meningkatan mutu pendidikan sekolah dengan menggunakan pendekatan berbasis kekuatan/aset dan pendekatan berbasis kekurangan. Saya memandang guru sebagai aset manusia yang utama dalam melaksanakan pembelajaran harus berinovasi dan memperkaya diri dalam mengelola sumber daya di kelas dan di sekolah agar tercipta pendidikan yang berpihak pada murid.
Menuntun segala kodrat yang ada pada anak, memberdayakan nilai dan peran guru, membuat visi perubahan, menciptakan budaya positif, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional agar pengambilan keputusan tepat, melakukan coach dan supervisi akademik, pengambilan keputusan yang berbasis nilai kebajikan dapat dilakukan jika pengelolaan sumber daya dapat dijalankan dengan sungguh-sungguh.
JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN
TUGAS MODUL 3.1
Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai - Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan ridhonyalah saya diberi kesempatan untuk mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak Angakatn 9 Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Seperti biasa kami melakukan pembelajaran secara online dan offline. Banyak sekali pembelajaran yang saya peroleh dan banyak juga tugas yang saya kerjakan dan dikumpul sesuai waktu yang di tentukan melalui LMS dari modul 1 sampai modul 3.
Tak terasa saya sudah menyelesaikan modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai - Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin dimana merupakan modul awal dari paket modul 3 ini. Sama seperti modul sebelumnya disetiap akhir pembelajaran , saya harus melakukan refleksi pembelajaran yang sudah saya peroleh dari modul ini. Di sini saya akan meyampaikan hasil refleksi saya dengan menggunakan model 4F atau 4P yaitu Facts ( Peristiwa ), Filling ( Perasaan), Findings ( Pembelajaran ) dan Future ( Penerapan ).
1. Facts ( Peristiwa )
Sebelum memasuki pembelajaran modul 3.1 terlebih dahulu di awali dengan melakukan pre - test yaitu tepatnya tanggal 1 Februari 2024 yang berjumlah 20 soal. Selanjutnya sama seperti modul sebelumnya pembelajaran dilakukan dengan alur MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep,Ruang Kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi Pemahaman , Koneksi antar materi dan Aksi nyata ).
Tahap pertama mulai dari diri yaitu kegiatan ini dimulai dengan menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan pengambilan keputusan berbasis nilai - nilai kebajikan sebagai pemimpin. Kemudian melakukan survey dengan dihadirkan satu kasus dan melakukan analisa secara mandiri jika menjadi seorang kepala sekolah.
Tahap kedua yaitu Eksplorasi Konsep. Dimana CGP secara mandiri melakukan pembelajaran dan mendalami semua materi modul 3.1 yang ada di LMS. Di sini CGP mempelajari kasus dilema etika dan bujukan moral. Dibagian akhir dari eksplorasi terdapat forum diskusi dimana para CGP melakukan analisa terhadap kasus yang ada di LMS
Tahap ketiga yaitu Ruang Kolaborasi. Di Ruang Kolaborasi CGP dibagi menjadi beberapa kelompok, dan saya masuk pada Kelompok 3 yang beranggotakan Ibu Heny Wulan Sari dan Bapak Bakhtiar Ibrahim. Pembelajaran dilakukan secara online melalui Gmeet yang di pandu oleh fasilisator kami Ibu Siti Asiyah. Kami menganalisa sebuah kasus dari permasalahan yang di ambil dari sekolah Pak Bakhtiar Ibrahim. Dan keesokan harinya kami melakukan presentasi atas hasil diskusi kami.
Tahap keempat yaitu Demonstrasi Kontekstual. Kami ditugaskan untuk mewawancarai 2 -3 kepala sekolah mengenai praktik pengambilan keputusan dalam kasus dilema etika yang terjadi di sekolah mereka. Disini CGP melakukan wawancara dan membuat narasi serta analisis refleksi. Tugas Dekon dikumpul sampai batas akhir 14 Februari 2024.
Tahap kelima adalah Elaborasi Pemahaman yang di awali dengan membuat pertanyaan. Kemudian tanggal 13 Februari 2024 CGP mengikuti Vcon Elaborasi Pemahaman dengan instruktur Ibu Nur Dianinda Apriyani untuk lebih memahami mengenai pengambilan keputusan berbasis nilai - nilai kebajikan sebagai pemimpin.
Dokumentasi Elaborasi Pemahaman
Tahap keenam yaitu koneksi antar materi, mengaitkan materi pengambilan keputusan berbasis nilai - nilai kebajikan sebagai pemimpin dengan materi pada modul sebelumnya.
2. Filling ( Perasaan )
Perasaan saya setelah mempelajari modul 3.1 adalah sangat bersyukur, karena banyak pemahaman baru yang saya peroleh dalam mengambil suatu keputusan. Dan saya merasa tertantang untuk menerapakan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan jika saya mengalami dilema etika di kehidupan saya. Pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif aman dan nyaman bagi semua stekholder sekolah.
3. Finding ( Pembelajaran )
Pembelajaran yang saya peroleh dari modul 3.1 ini adalah bahwa dalam pengambilan suatu keputusan haruslah berdasarkan nilai - nilai kebajikan, berpihak pada muird dan dipertanggung jawabkan. Kemudian kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu apa permasalahan yang dihadapi apakah dilema etika atau bujukan moral. Penerapan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai langkah awal untuk menentukan apakah masalah tersebut dilema etika atau bujukan moral. Dimana dilema etika itu adalah situasi keduanya benar dan bujukan moral itu situasi benar atau salah. Apabila sebuah kasus sudah dipahami sebagai pelanggarn hukum, maka langkah - langkah pengambilan keputusan tidak perlu dilanjutkan karena sudah melewati uji legal ( hukum ) yang menyatakan kasus tersebut adalah benar lawan salah ( bujukan moral)
4. Future ( Penerapan )
Dengan pemahaman dan pengetahuan yang saya peroleh dimateri modul 3.1 ini, saya akan mulai menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan , 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan jika saya dihadapkan dengan permasalahan situasi dilema etika. Dan saya akan berbagi pengalaman dengan rekan sejawat saya mengenai langkah - lagkah pengambilan keputusan ini. Agar nantinya kami dapat mengambil keputusan sesuai dengan nilai - nilai kebajikan universal dapat dipertanggung jawabkan dan semuanya berpihak pada murid.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Saya akan menceritakan tentang hasil refleksi saya mengenai modul 2.3 "Coaching untuk Supervisi Akademik" yang sudah saya pelajari. Saya merefleksikan modul ini dengan menggunakan modul refleksi 4F/4P. Kegiatan refleksi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan penerapan saya dari modul 2.3 ini. Berikut hasil refleksi saya yang tertuang pada model refleksi 4F/4P.
1. Facts/Peristiwa
Kegiatan Modul 2.3 diawali dengan berselancar di LMS yaitu dimulai dari diri. Pembelajaran ini dimulai pada hari Senin, 17 November 2023. Alur mulai dari diri diawali dengan menjawab lima pertanyaan reflektif mengenai kegiatan observasi atau supervisi yang pernah dilaksanakan. Kemudian, saya menjawab dua pertanyaan mengenai harapan saya tentang modul 2.3 ini. Tahapan selanjutnya yaitu kegiatan eksplorasi konsep. Tahapan eksplorasi konsep ini, merupakan tahapan dimana saya mengeksplor sendiri materi-materi mengenai coaching. Ada empat bagian pada eksplorasi konsep ini, dimana disetiap bagiannya terdapat beberapa kotak serta beberapa video yang saya pelajari yaitu :
· Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan
· Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching
· Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching
· Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching
Pada bagian terakhir eksplorasi konsep, saya berdiskusi bersama rekan CGP lainnya untuk memberikan pernyataan mengenai keterkaitan keterampilan coaching dengan supervisi akademik. Pada hari Jumat, 24 Nopember 2023 kegiatan ruang kolaborasi latihan sesi 1. Pada ruang kolaborasi yang pertama bersama fasilitator Ibu Siti Asiyah, S.Pd.SD, saya mendapatkan pemahaman mengenai coaching ini, setelah itu saya dibagi kelompok dan melakukan latihan coaching bersama kelompok, selanjutnya saya bersama rekan CGP saya melakukan simulasi coaching secara bergantian melalui Gmeet. Tahapan selanjutnya adalah ruang kolaborasi praktek sesi 2 pada hari senin, 27 Nopember 2023 saya bersama rekan CGP yang sudah ditentukan oleh fasilitator melakukan praktek coaching dimana hasil praktek coaching ini akan di unggah sebagai hasil dari tugas ruang kolaborasi praktek sesi 2. Setelah kegiatan ruang kolaborasi, saya memasuki tahapan demonstrasi kontekstual. Pada tahapan ini, saya bersama 3 rekan CGP lainnya melakukan simulasi coaching secara daring.
Pada kegiatan ini, saya bersama rekan saya bergantian peran menjadi coach, coachee, dan superviser. Kegiatan simulasi ini dilaksanakan melalui daring dan direkam untuk kemudian rekamannya diunggah ke LMS sebagai tugas demonstrasi konstektual. Kegiatan selanjutnya yaitu elaborasi pemahaman bersama instruktur Ibu Harlina. Pada kegiatan ini saya mendapatkan banyak pengetahuan, pemahaman mengenai coaching. Selanjutnya tahap koneksi antar materi. Pada kegiatan ini saya membuat koneksi materi mengenai modul yang dipelajari dengan pengalaman serta materi lainnya. Tahapan terakhir adalah aksi nyata. Kegiatan aksi nyata rencananya saya akan melaksanakan kegiatan coaching bersama salah satu rekan guru di sekolah.
2. Feelings/Perasaan
Perasaan saya ketika mempelajari Modul 2.3 ini saya merasa senang, optimis, terantang dan termotivasi untuk melakukan coaching ini untuk perencanaan, untuk mencari solusi dalam berbagai permasalahan yang saya hadapi mauapun yang dihadapai rekan sejawat di sekolah, untuk berefleksi, dan untuk kalibrasi. Saya merasa senang karena mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang baru mengenai coaching. Saya juga merasa senang karena bisa melakukan simulasi coaching bersama rekan CGP lainnya.
3. Findings/Pembelajaran
Hal yang bermanfaat yang saya dapatkan pada modul ini adalah mengenai supervisi akademik yang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan coaching. Pada pelaksanaan coaching ini harus didasarkan prinsip dan kompetensi coaching. Coaching juga bisa dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran kepada murid untuk menggali potensi yang dimiliki oleh murid.
Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai "bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. " Berbagai tugas dalam Sub Pembelajaran memberikan pengalaman yang berharga bagi saya dalam memahami coaching.
Paradigma berpikir coaching terdiri dari fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, mampu melihat peluang baru dan masa depan. Prinsip coaching yaitu "kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi". Kompetensi Inti Coaching meliputi kehadiran penuh/presence, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA : Percakapan untuk perencanaan, Percakapan untuk pemecahan masalah, Percakapan untuk berefleksi, Percakapan untuk kalibrasi.
4. Future/Penerapan
Setelah mempelajari modu1 2.3. saya bertekad untuk mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching, presence, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching. Membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi. Memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching. Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching.
Secara keseluruhan rangkaian kegiatan pembelajaran modul 2.3 tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik ini, membuat saya bersemangat untuk terus berpacu melakukan perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan kompetensi diri. Untuk itu saya telah merancang tindakan aksi nyata penerapan praktik Coaching yang didasari oleh keinginan untuk melakukan praktik baik di lingkungan sekolah. Harapan saya dengan penerapan praktik Coaching di lingkungan sekolah bersama rekan sejawat dan warga sekolah lainnya, dapat mewujudkan pribadi yang mandiri dan dapat membantu murid untuk menuntun segala kekuatan kodratnya yang ada pada dirinya. Dengan praktik Coaching juga membantu murid untuk mampu hidup sebagai individu dan bagian masyarakat yang mampu menggali dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, serta menuntun murid untuk memperoleh kemerdekaan belajar di sekolah.
Demikianlah Jurnal Dwi Mingguan saya terkait modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Saya akan menceritakan tentang hasil refleksi saya mengenai modul 2.3 "Coaching untuk Supervisi Akademik" yang sudah saya pelajari. Saya merefleksikan modul ini dengan menggunakan modul refleksi 4F/4P. Kegiatan refleksi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan penerapan saya dari modul 2.3 ini. Berikut hasil refleksi saya yang tertuang pada model refleksi 4F/4P.
1. Facts/Peristiwa
Kegiatan Modul 2.3 diawali dengan berselancar di LMS yaitu dimulai dari diri. Pembelajaran ini dimulai pada hari Senin, 17 November 2023. Alur mulai dari diri diawali dengan menjawab lima pertanyaan reflektif mengenai kegiatan observasi atau supervisi yang pernah dilaksanakan. Kemudian, saya menjawab dua pertanyaan mengenai harapan saya tentang modul 2.3 ini. Tahapan selanjutnya yaitu kegiatan eksplorasi konsep. Tahapan eksplorasi konsep ini, merupakan tahapan dimana saya mengeksplor sendiri materi-materi mengenai coaching. Ada empat bagian pada eksplorasi konsep ini, dimana disetiap bagiannya terdapat beberapa kotak serta beberapa video yang saya pelajari yaitu :
· Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan
· Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching
· Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching
· Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching
Pada bagian terakhir eksplorasi konsep, saya berdiskusi bersama rekan CGP lainnya untuk memberikan pernyataan mengenai keterkaitan keterampilan coaching dengan supervisi akademik. Pada hari Jumat, 24 Nopember 2023 kegiatan ruang kolaborasi latihan sesi 1. Pada ruang kolaborasi yang pertama bersama fasilitator Ibu Siti Asiyah, S.Pd.SD, saya mendapatkan pemahaman mengenai coaching ini, setelah itu saya dibagi kelompok dan melakukan latihan coaching bersama kelompok, selanjutnya saya bersama rekan CGP saya melakukan simulasi coaching secara bergantian melalui Gmeet. Tahapan selanjutnya adalah ruang kolaborasi praktek sesi 2 pada hari senin, 27 Nopember 2023 saya bersama rekan CGP yang sudah ditentukan oleh fasilitator melakukan praktek coaching dimana hasil praktek coaching ini akan di unggah sebagai hasil dari tugas ruang kolaborasi praktek sesi 2. Setelah kegiatan ruang kolaborasi, saya memasuki tahapan demonstrasi kontekstual. Pada tahapan ini, saya bersama 3 rekan CGP lainnya melakukan simulasi coaching secara daring.
Pada kegiatan ini, saya bersama rekan saya bergantian peran menjadi coach, coachee, dan superviser. Kegiatan simulasi ini dilaksanakan melalui daring dan direkam untuk kemudian rekamannya diunggah ke LMS sebagai tugas demonstrasi konstektual. Kegiatan selanjutnya yaitu elaborasi pemahaman bersama instruktur Ibu Harlina. Pada kegiatan ini saya mendapatkan banyak pengetahuan, pemahaman mengenai coaching. Selanjutnya tahap koneksi antar materi. Pada kegiatan ini saya membuat koneksi materi mengenai modul yang dipelajari dengan pengalaman serta materi lainnya. Tahapan terakhir adalah aksi nyata. Kegiatan aksi nyata rencananya saya akan melaksanakan kegiatan coaching bersama salah satu rekan guru di sekolah.
2. Feelings/Perasaan
Perasaan saya ketika mempelajari Modul 2.3 ini saya merasa senang, optimis, terantang dan termotivasi untuk melakukan coaching ini untuk perencanaan, untuk mencari solusi dalam berbagai permasalahan yang saya hadapi mauapun yang dihadapai rekan sejawat di sekolah, untuk berefleksi, dan untuk kalibrasi. Saya merasa senang karena mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang baru mengenai coaching. Saya juga merasa senang karena bisa melakukan simulasi coaching bersama rekan CGP lainnya.
3. Findings/Pembelajaran
Hal yang bermanfaat yang saya dapatkan pada modul ini adalah mengenai supervisi akademik yang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan coaching. Pada pelaksanaan coaching ini harus didasarkan prinsip dan kompetensi coaching. Coaching juga bisa dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran kepada murid untuk menggali potensi yang dimiliki oleh murid.
Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai "bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. " Berbagai tugas dalam Sub Pembelajaran memberikan pengalaman yang berharga bagi saya dalam memahami coaching.
Paradigma berpikir coaching terdiri dari fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, mampu melihat peluang baru dan masa depan. Prinsip coaching yaitu "kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi". Kompetensi Inti Coaching meliputi kehadiran penuh/presence, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA : Percakapan untuk perencanaan, Percakapan untuk pemecahan masalah, Percakapan untuk berefleksi, Percakapan untuk kalibrasi.
4. Future/Penerapan
Setelah mempelajari modu1 2.3. saya bertekad untuk mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching, presence, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching. Membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi. Memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching. Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching.
Secara keseluruhan rangkaian kegiatan pembelajaran modul 2.3 tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik ini, membuat saya bersemangat untuk terus berpacu melakukan perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan kompetensi diri. Untuk itu saya telah merancang tindakan aksi nyata penerapan praktik Coaching yang didasari oleh keinginan untuk melakukan praktik baik di lingkungan sekolah. Harapan saya dengan penerapan praktik Coaching di lingkungan sekolah bersama rekan sejawat dan warga sekolah lainnya, dapat mewujudkan pribadi yang mandiri dan dapat membantu murid untuk menuntun segala kekuatan kodratnya yang ada pada dirinya. Dengan praktik Coaching juga membantu murid untuk mampu hidup sebagai individu dan bagian masyarakat yang mampu menggali dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, serta menuntun murid untuk memperoleh kemerdekaan belajar di sekolah.
Demikianlah Jurnal Dwi Mingguan saya terkait modul 2.3 tentang Coaching untuk Supervisi Akademik.
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan
Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional
Pada modul ini kami mempelajari tentang well-being (kesejahteraan psikologis) apa pentingnya, apa revelansinya pada kegiatan pembelajaran kita dewasa ini, bagaimana caranya, bagaimana implementasinya dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, dan lain sebagainya.
Dan lebih paktisnya kami belajar tentang bagaimana menghadirkan mindfulness ditengah-tengah warga sekolah secara konsisten. Kami juga mempelajari dan praktik implementasi penguatan KSE (kompetensi sosial emosional) bagi keseluruhan warga sekolah dengan menghadirkan PSE (pembelajaran sosial emosional), baik melalui pembelajaran eksplisit, integrasi ke dalam kurikulum, dan lain sebagainya.
Kali ini saya akan sharing pengalaman pada jurnal refleksi dwi mingguan modul 2.2 yaitu tentang Pembelajaran Sosial Emosional dengan model refleksi 4F (Fact, Feeling, Finding, Future) konsep dari Robert Greenaway.
Model ini lalu diadaptasi kedalam bahasa Indonesia menjadi 4P yaitu: Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Sehingga, kemudian yang kami jadikan pertanyaan pemantik dalam membuat refleksi ini adalah :
1. Apa yang kami (CGP) lihat dalam proses tersebut? (Peristiwa)
2. Apa yang kami (CGP) rasakan sehubungan dengan proses yang Anda alami? (Perasaan)
3. Apa hal yang bermanfaat dari proses tersebut? (Pembelajaran)
4. Apa umpan balik yang kami (CGP) dapatkan? (Pembelajaran)
5. Apa yang ingin kami (CGP) perbaiki atau tingkatkan, agar ini berdampak lebih luas? (Penerapan)
1. Fact (fakta)
Sesuai tahapan MERDEKA yang dilaksanakan, pembelajaran Modul 2.2 ini dimulai dengan mulai dari diri, kami disuguhi materi dan video yang ada di LMS serta diberikan beberapa pertanyaan tentang pengalaman yang pernah kami alami yang berhubungan dengan tugas kami sebagai pendidik yang berkaitan dengan sosial dan emosional. Bagaimana kami mengahadapi krisis tersebut, bagaimana kami bisa bangkit dari krisis tersebut, serta apa yang kami pelajari dari krisis tersebut. Kemudian kami disuguhi dengan eksplorasi konsep yang berisi materi-materi tentang Kompetensi Sosial Emosional, Pembelajarannya serta Implementasinya di sekolah. Selain itu juga diselingi dengan tugas-tugas yang berisi refleksi dari tiap-tiap materi yang telah kami pelajari. Dengan mempelajari Pembelajaran Sosial Emosional ini diharapkan agar :
· Kami dapat menjelaskan urgensi Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.
· Dapat menjelaskan konsep Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
· Dapat mendemonstrasikan pemahaman tentang konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar pengembangan 5 kompetensi sosial emosional (KSE).
· Dapat menjelaskan bagaimana implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah melalui 4 indikator, yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan pembelajaran sosial emosional pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah.
Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran Sosial Emosional ini dapat diimplementasikan di kelas atau sekolah dengan 4 indikator yaitu, pembelajaran eksplisit, integrasi dalam pembelajaran guru dan kuirkulum akademik, melalui proses menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah, serta penguatan KSE Tenaga pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Untuk menambah pemahaman kami dalam mendalami modul tentang pembelajaran berdifernsiasi, kami juga melakukan tatap maya dengan fasilitator dalam ruang kolaborasi yang terbagi atas 2 sesi, yaitu sesi diskusi dan sesi presentasi. Pada hari selasa tanggal 28 Februari 2023, Bapak Muhtarom, M.Pd selaku fasilitator kami memberikan pemantapan tentang modul pembelajaran sosial emosional yang kemudian kami diminta untuk melakukan diskusi dengan menaganalisis tentang implementasi KSE. Pada hari berikutnya, 1 Maret 2023 kami melakukan presentasi hasil dari diskusi kelompok yang sudah kami kerjakan.
2. Feeling (perasaan)
Selama kurang lebih dua minggu mempelajari modul 2.2 ini, banyak sekali hal yang dirasakan. senang, sedih, bahagia, semua bercampur aduk dengan keinginan dan tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan Program Guru. Banyak sekali perasaan yang timbul dari diri saya, seperti perasaan senang, karena bertambah lagi ilmu saya terutama bagaimana tentang bagaimana saya mampu mengenali emosi yang sedang saya rasan serta bagaimana saya mampu mengelola emosi tersebut agar tidak melakukan tindakan yang mungkin akan berdampak negatif bagi murid saya. Karena ketidakmampuan saya mengelola emosi tersebut, murid saya yang akan menerima akibatnya. Selama ini saya merasa, apapun perasaan yang sedang saya rasakan itu tidak akan mempengaruhi diri saya ataupun orang lain dalam pelaksanaan tugas saya sebagai guru.
Selain itu, perasaan cemas juga sedikit mengahampiri saya setelah mempelajari modul ini, saya cemas jika saya tidak mampu memahami perasaan murid saya. Dan perasaan yang sedang dialami mereka tentunya akan berpengaruh terhadap proses melaksanakan dan menerima pelajaran. Saya tidak ingin, ketidakmampuan saya memahami perasaan mereka, akan mengurangi kualitas hasil dari pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Sebenarnya sebelum mempelajari modul 2.2 rata-rata CGP sudah menerapkan pembelajaran Sosial Emosional di sekolahnya masing-masing, namun memang belum spesifik dan belum mengerti istilah pembelajaran sosial emosional, dan bagaimana mengatur pembelajaran sosial emosional tersebut dengan baik.
Banyak ilmu Pengetahuan yang saya dapatkan selama menjalani proses ini, bagaimana menjadi guru yang seharusnya dapat memanjemen sosial emosional, bagaimana menerapkan pembelajaran sosial emosional di sekolah.
3. Finding (pembelajaran)
Dalam modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional banyak ilmu baru yang bisa saya dapatkan. Dari modul ini saya mendapatkan pelajaran bahwa mengenali emosi diri sebelum melakukan setiap tindakan itu harus, agar tindakan tersebut tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain mengenali emosi diri, kita juga dituntut untuk mampu mengelola emosi tersebut agar kita kembali ke keadaan semula yaitu dalam keadaan yang bahagia. Selain itu, banyak lagi ilmu yang saya dapatkan di modul ini seperti kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Semua materi tersebut bertujuan untuk menciptakan hubungan yang baik dan positif dengan sesama rekan kerja, dengan murid maupun dengan masyarakat disekitar kita.
Beberapa kesimpulan dalam mempelajari modul ini antara lain:
Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai 5 Kompetensi Sosial dan Emosional.
5 Kompetensi Sosial Emosianal diantaranya sebagai berikut :
1. Kesadaran Diri (Self Awareness),
2. Pengelolaan Diri (Self Management),
3. Kesadaran Sosial (Social Awareness),
4. Kemampuan Berinteraksi Sosial (Relationship Skills),
5. Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making).
Kompetensi sosial emosional ini juga dapat diterapkan di kelas maupun disekolah. Penerapan PSE di kelas bisa dilakukan dengan pembelajaran secara eksplisit maupun terintegrasi dalam proses belajar guru dan kurikulum akademik. Juga dapat dilakukan dengan membentuk iklim kelas dan budaya sekolah serta dengan melakukan penguatan pada Tenaga pendidik maupun tenaga kepedidikan.
Implementasi PSE dengan pengajaran eksplisit memastikan murid memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan, melatih, dan berefleksi tentang kompetensi sosial dan emosional dengan cara yang sesuai dan terbuka dengan keragaman budaya. Pengajaran eksplisit KSE dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Pendidik dapat menggunakan berbagai proyek, acara atau kegiatan sekolah yang rutin untuk mengajarkan kompetensi sosial dan emosional secara eksplisit.
Untuk mengintegrasikan KSE dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik, tujuan Kompetensi Sosial Emosional dapat diintegrasikan ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, serta musik, seni, dan pendidikan jasmani.
Indikator ketiga dalam implementasi pembelajaran sosial dan emosional adalah menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah. Lingkungan yang memprioritaskan kualitas relasi antara guru dan murid adalah salah satu indikator utama dalam penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah. Kualitas relasi guru dan murid yang tercermin dalam sikap saling percaya akan berdampak pada ketertarikan dan keterlibatan murid dalam pembelajaran. Sikap saling percaya akan menumbuhkan perasaan aman dan nyaman bagi murid dalam mengekspresikan dirinya. murid-murid akan lebih berani bertanya, mencari tahu, berpendapat, mencoba, berkolaborasi sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dirinya secara lebih optimal. Selain kualitas relasi guru dan murid, lingkungan kelas yang aman dan positif juga dapat diciptakan melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang dapat merangkul keberagaman dan perbedaan, melibatkan murid, dan menumbuhkan optimisme.
Adapun tujuan utama PSE itu sendiri adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.
4. Future (penerapan)
Dari pendalaman materi PSE pada modul 2.2 ini saya berencana untuk menerapkannya terlebih dahulu dalam lingkup kelas saya disekolah seperti melakukan Bernafas dengan kesadaran penuh sebelum memulai pembelajaran dengan teknik STOP, kemudian juga mengintegrasikan kompetensi tersebut dalam pembelajaran saya seperti menerapkan kompetensi kesadaran sosial dalam kegiatan diskusi di kelas, kemudian menerapkan keterampilan berelasi pada saat melakukan refleksi ataupun memberikan umpan balik terhadap hasil kerja teman maupun penjelasan guru dengan menggunakan kata-kata yang positif dan mudah dimengerti.
Inilah sedikit hasil refleksi dwi mingguan saya pada modul 2.2 tentang pembelajaran sosial dan emosional pendidikan guru penggerak angkatan 9.
Salam guru penggerak dan salam bahagia selalu.
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4 Budaya Positif
By Faizah
1. Peristiwa (Facts)
Kegiatan modul 1.4 ini dimulai pada tanggal 29 September 2023 yaitu Mulai dari diri, di sini saya diminta membuat catatan dan pertanyaan tentang kasus atau persoalan yang diberikan dalam LMS. Pada tanggal 2 Oktober 2023 materi masuk pada eksplorasi konsep. Kegiatan ini dilakukan secara mandiri. Materinya sangat banyak yaitu disiplin positif dan nilai-nilai kebajikan universal, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Restitusi ,Lima Posisi Kontrol, Restitusi - Segitiga Restitusi. Pada tanggal 04-05 Oktober 2023 masuk pada kegiatan eksplorasi konsep pada forum diskusi. Dan di sini CGP memahami konsep budaya positif dan saling berdiskusi dengan CGP lain. Saling memberi masukan dan penguatan serta saling menanggapi. Pada tanggal 6 Oktober 2023 bersama fasilitator di ruang kolaborasi -- Vicon Sesi 1. Fasilitator membimbing dan mendampingi kami untuk diskusi dalam kelompok kecil. Saya berada pada kelompok 3, dengan dua orang teman lainnya yaitu Bu Nurish dan Pak Bakhtiar. Masalah yang dibahas adalah 4 kasus masalah murid di sekolah. Kami menjawab pertanyaan-pertayaan sehubungan dengan kasus yang terjadi yang dihubungkan dengan materi dalam budaya positif. Pada tanggal 9 Oktober 2023, kegiatannya kolaborasi ruang diskusi ruang -- Vicon Sesi 2 dengan agenda presentasi hasil tugas kelompok. Di sini masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya kemudian kelompok lain menanggapi dan memberikan masukan terhadap tugas kelompok lainnya. Setelah presentasi tugas kelompok semakin sempurna untuk diunggah ke LMS pada sesi unggah tugas ruang kolaborasi. Selanjutnya pada tanggal 10 Oktober 2023 jadwal untuk Demonstrasi Kontekstual. Yang dilakukan disini, saya diminta mempraktikkan segitiga restitusi untuk masalah atau kasus yang dilakukan murid di sekolah. Praktiknya saya diminta membuat skenario singkat dan memerankan kasus tersebut bersama siswa. Saat itu saya merestitusi siswa yang terlambat hadir ke sekolah dan makan dikelas ketika pembelajaran, dan saya menyelesaikan kasus itu dengan segitiga restitusi. Pada tanggal 13 Oktober 2023 kegiatannya Elaborasi pemahaman bersama instruktur Edi Susanto di google meeting. Instruktur menjelaskan secara jelas materi budaya positif sehingga materi itu makin dipahami oleh CGP. Setelah itu saya sebagai CGP diminta menjelaskan hubungan budaya positif dengan materi 1.1, 1.2.dan 1.3 pada sesi koneksi antar materi. Saya membuat koneksi antar materi ini dalam bentuk presentasi dan saya upload ke google drive. Link dari youtube tersebut saya kirim ke LMS, selain itu kami juga diminta untuk membuat Rancangan Tindakan Aksi Nyata dengan format yang telah disediakan dan dikumpulkan juga di LMS. Selanjutnya kegiatan terakhir dari modul 1.4 ini adalah aksi nyata. CGP diberi waktu hingga tanggal 30 Oktober 2023.
Hal baik yang saya alami dalam pembelajaran modul 1.4, saya memahami materi tentang budaya positif dan saya langsung menerapkan segitiga restitusi dalam menangani kasus siswa. Dan saya berusaha untuk mengerjakan tugas-tugas dan mengumpulkannya tepat waktu.
2. Perasaan. (Feelings)
Selama pembelajaran berlangsung, saya merasa senang dan tertarik karena materinya sangat bagus dan dekat sekali dengan tugas saya sebagai seorang guru. dan dengan berdiskusi kelompok, saya juga semakin paham mengenai materi budaya positif.
Saya sangat bersyukur bisa mengikuti Pelatihan Guru Penggerak ini karena dengan demikian saya tahu tentang budaya positif ini. Ilmu yang sangat berharga bagi saya untuk modal saya dalam mendidik murid di sekolah dan juga mendidik anak-anak saya di rumah.
3. Pembelajaran (Findings)
Pembelajaran yang dapat saya petik dari kegiatan pada modul 1.4 ini adalah saya mengetahui bahwa untuk menciptkan budaya positif di sekolah sangat dituntut kerja sama dan kekompakan serta keselarasan dari semua pihak di sekolah. Budaya Positif tidak bisa diciptakan oleh satu orang saja. Harus ada Kerjasama dari semua pihak di sekolah termasuk orang tua siswa dan masyarakat. Kerja sama yang baik dari semua unsur akan memudahkan terciptanya budaya positif dan juga terbentuknya Profil Pelajar Pancasila di kalangan murid. Penerapan posisi kontrol juga menjadi perhatian bagi saya, Yang dulu saya memposisikan diri pada posisi control pemantau dan penghukum sekarang belajar berada diposisi control manager dalam penyelesaian permasalahan murid dengan menerapkan segitiga restitusi.
4. Penerapan. (Future)
Saya akan menerapkan ilmu budaya positif ini di sekolah, supaya lebih tercapainya keinginan saya ini, materi ini harus saya imbaskan kepada teman sejawat saya di sekolah karena untuk mewujudkan budaya positif ini tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja. Pengimbasan ini sangat penting agar tercipta kerjasama yang baik dengan seluruh warga sekolah yang tentunya lebih memudahkan saya sebagai calon guru penggerak dalam menerapkan budaya positif ini di sekolah. Semoga dalam penerapannya selalu diberi kemudahan oleh Allah SWT. Perubahan yang saya rasakan adalah saya merasa harus tergerak, bergerak dan menggerakkan orang-orang yang ada di sekitar saya untuk segera mengetahui materi yang saya dapatkan ini. Hal yang akan saya lakukan untuk melakukan perubahan yang positif dengan lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik, menggunakan posisi kontrol sebagai manager dalam menangani kasus siswa, menerapkan segitiga restitusi dan selalu menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif disekolah dengan berkolaborasi dengan warga sekolah dan berbagai pemangku kepentingan, meskipun hal tersebut memerlukan waktu yang tidak sebentar karena melakukan perubahan yang sudah menjadi kebiasaan tidak lah mudah. Tapi kita harus bergerak menuju perubahan yang lebih baik.
Sekian dan Terima Kasih, Salam Guru Penggerak, Salam Guru Heba