Menteri Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Deep Learning bukanlah kurikulum baru, melainkan metode pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan baik dalam Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka . Ini berarti sekolah tidak mengubah kurikulum, tetapi mengubah cara belajar agar lebih bermakna.
Menurut Mu’ti, pendekatan ini didasarkan pada tiga prinsip kunci—Mindful, Meaningful, dan Joyful:
1. Mindful Learning (Belajar dengan kesadaran penuh): Menghargai setiap individu dan memberi ruang unik bagi masing-masing murid dalam proses belajar .
2. Meaningful Learning (Belajar bermakna): Hubungkan materi pelajaran dengan pengalaman dan nilai kehidupan nyata agar pembelajaran terasa penting dan berguna .
3. Joyful Learning (Belajar dengan kegembiraan): Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memotivasi siswa untuk aktif dan bersemangat belajar .
Untuk menjalankan Deep Learning di SD, beberapa langkah dianjurkan:
Guru merancang pembelajaran autentik, misalnya cerita dan proyek nyata yang melibatkan siswa aktif, bukan hanya ceramah.
Kolaborasi dengan orang tua dan komunitas, mewujudkan kemitraan belajar, memperkaya pengalaman siswa di luar sekolah .
Ruang belajar fleksibel, baik virtual maupun fisik, memfasilitasi kerja kelompok, refleksi, eksplorasi, dan berbagi ide antar siswa .
Pemahaman Materi Fokus pada inti dan makna, bukan hafalan.
Kreativitas & Kolaborasi Siswa diberi ruang untuk berpikir kreatif dan bekerja sama.
Kemandirian Belajar Anak berpartisipasi aktif dalam proses belajar.
Pembelajaran Inklusif Menghargai perbedaan kemampuan tiap siswa.
Pendekatan Deep Learning yang diperkenalkan Mendikdasmen merupakan langkah strategis memperkuat metode pembelajaran di SD tanpa mengganti kurikulum. Dengan prinsip Mindful, Meaningful, dan Joyful, siswa diajak memahami materi secara mendalam, kontekstual, dan menyenangkan. Lewat model integratif dan kolaboratif, pendidikan diharapkan lebih relevan, efektif, dan humanis—siap membentuk generasi Indonesia yang cerdas, kritis, dan penuh semangat belajar.