BAB 1
WARAHAN
WARAHAN
BAB 1 WARAHAN
Warahan yaitu jenis sastra yang berbentuk cerita menghibur dan berisi pesan moral atau amanat tertentu.
Warahan adalah salah satu jenis sastra Lampung berupa cerita yang berbentuk prosa. Masyarakat etnik Lampung mempunyai banyak cerita yang berbentuk prosa. Cerita itu dapat digolongkan menjadi enam jenis yakni epos, fabel, legenda, mite, dan cerita yang semata mata berdasarkan fiksi (Sanusi, 2014:121). Kantor Bahasa Provinsi Lampung (20016: 8) membagi cerita rakyat menjadi tiga, yaitu mite, legenda dan dongeng. Warahan memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. peneliti membatasi unsur instrinsik warahan menjadi 6 (enam) yakni tema, penokohan, latar/ seting, alur, konflik, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik peneliti membatasi pada pandangan hidup/latar belakang pengarang yakni unsur piil pesenggiri yang ada di masyarakat Lampung meliputi juluk adek, nengah nyampogh, sakai sambayan, dan nemui nyimah.
Pada awalnya, jenis sastra ini muncul sebagai sastra lisan karena pada jaman dahulu belum ditemukan alat tulis. Sebagai suatu bentuk sastra, warahan memuat ide, gagasan, atau pendapat yang berisi nilai-nilai moral atau nilai kemanusiaan yang positif untuk dihayati dan diamalkan sehingga diharapkan dapat terbentuk kepribadian manusia yang lebih baik dalam konteks kehidupan bermasyarakat.
Warahan biasanya dilakukan pada saat sedang bekerja, seperti memetik cengkih atau menuai padi. Pada zaman dahulu, warahan dibawakan oleh orangtua ataupun kakek nenek dengan dikelilingi anak cucunya. Cerita rakyat berbentuk warahan ini, antara lain Radin Jambat, Anak Dalom, dan Sanghakhuk. Isi wawaghahan yang berbentuk dongeng, hikayat, epos, atau mitos ini bersifat mendidik dan menyadarkan semua orang agar berbuat baik.
Melalui warahan seseorang akan mempelajari tentang hal-hal, situasi, dan tempat-tempat yang mungkin belum pernah dijumpai sebelumnya. Kemampuan memahami warahan merupakan kemampuan yang perlu dimiliki oleh para siswa karena warahan berisi ide, gagasan, atau pendapat pengarang kepada para pembaca. Warahan umumnya berisi nilai-nilai yang bermanfaat bagi perkembangan siswa. Dengan memahami amanat yang terdapat dalam warahan, kepribadian siswa yang lebih baik dapat terbentuk.
Ciri-ciri warahan:
Irama yang menyertai cerita tersebut
Sifatnya liris (dipengaruhi pribadi dan emosi si pembawa cerita)
Warahan merupakan bagian dari sastra, menurut Effendi (2011: 5) dalam wujudnya, karya sastra mempunyai dua aspek penting, yakni isi dan bentuk. Aspek isi adalah tentang pengalaman hidup manusia, sedangkan aspek bentuk adalah hal-hal yang menyangkut cara penyampaian, cara pengarang memanfaatkan bahasa untuk mewadahi karya sastra. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bentuk dari warahan dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan cara penyampaiannya yakni dengan cara mewarah/bercerita melalui lisan dan melalui tulisan berupa teks warahan/ cerita yang telah dituangkan pada tulisan. Berdasrkan bentuknya peneliti menggolongkan teks drama sebagai bagian dari warahan, oleh karena itu materi yang dikembangkan pada produk ppenelitian ini adalah teks drama dan teks dongeng rakyat yang merupakan salah satu jenis dari warahan.
Warahan yaitu jenis sastra yang berbentuk cerita menghibur dan berisi pesan moral atau amanat tertentu.
Warahan adalah salah satu jenis sastra Lampung berupa cerita yang berbentuk prosa. Masyarakat etnik Lampung mempunyai banyak cerita yang berbentuk prosa. Cerita itu dapat digolongkan menjadi enam jenis yakni epos, fabel, legenda, mite, dan cerita yang semata mata berdasarkan fiksi (Sanusi, 2014:121). Kantor Bahasa Provinsi Lampung (20016: 8) membagi cerita rakyat menjadi tiga, yaitu mite, legenda dan dongeng. Warahan memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. peneliti membatasi unsur instrinsik warahan menjadi 6 (enam) yakni tema, penokohan, latar/ seting, alur, konflik, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik peneliti membatasi pada pandangan hidup/latar belakang pengarang yakni unsur piil pesenggiri yang ada di masyarakat Lampung meliputi juluk adek, nengah nyampogh, sakai sambayan, dan nemui nyimah.
Pada awalnya, jenis sastra ini muncul sebagai sastra lisan karena pada jaman dahulu belum ditemukan alat tulis. Sebagai suatu bentuk sastra, warahan memuat ide, gagasan, atau pendapat yang berisi nilai-nilai moral atau nilai kemanusiaan yang positif untuk dihayati dan diamalkan sehingga diharapkan dapat terbentuk kepribadian manusia yang lebih baik dalam konteks kehidupan bermasyarakat.
Warahan biasanya dilakukan pada saat sedang bekerja, seperti memetik cengkih atau menuai padi. Pada zaman dahulu, warahan dibawakan oleh orangtua ataupun kakek nenek dengan dikelilingi anak cucunya. Cerita rakyat berbentuk warahan ini, antara lain Radin Jambat, Anak Dalom, dan Sanghakhuk. Isi wawaghahan yang berbentuk dongeng, hikayat, epos, atau mitos ini bersifat mendidik dan menyadarkan semua orang agar berbuat baik.
Melalui warahan seseorang akan mempelajari tentang hal-hal, situasi, dan tempat-tempat yang mungkin belum pernah dijumpai sebelumnya. Kemampuan memahami warahan merupakan kemampuan yang perlu dimiliki oleh para siswa karena warahan berisi ide, gagasan, atau pendapat pengarang kepada para pembaca. Warahan umumnya berisi nilai-nilai yang bermanfaat bagi perkembangan siswa. Dengan memahami amanat yang terdapat dalam warahan, kepribadian siswa yang lebih baik dapat terbentuk.
Ciri-ciri warahan:
Irama yang menyertai cerita tersebut
Sifatnya liris (dipengaruhi pribadi dan emosi si pembawa cerita)
Warahan merupakan bagian dari sastra, menurut Effendi (2011: 5) dalam wujudnya, karya sastra mempunyai dua aspek penting, yakni isi dan bentuk. Aspek isi adalah tentang pengalaman hidup manusia, sedangkan aspek bentuk adalah hal-hal yang menyangkut cara penyampaian, cara pengarang memanfaatkan bahasa untuk mewadahi karya sastra. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bentuk dari warahan dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan cara penyampaiannya yakni dengan cara mewarah/bercerita melalui lisan dan melalui tulisan berupa teks warahan/ cerita yang telah dituangkan pada tulisan. Berdasrkan bentuknya peneliti menggolongkan teks drama sebagai bagian dari warahan, oleh karena itu materi yang dikembangkan pada produk ppenelitian ini adalah teks drama dan teks dongeng rakyat yang merupakan salah satu jenis dari warahan.