Menebarkan Virus Menulis
OPINI
Author : Lilik Subekti M.Pd.Kons
Other Published : -
OPINI
Author : Lilik Subekti M.Pd.Kons
Other Published : -
Ada salah satu tagline yang sangat akrab di masyarakat, jika disebutkan tagline ‘Mengatasi Masalah Tanpa Masalah’, hampir dipastikan semua orang tahu itu miliknya pegadaian. Ada juga yang mungkin belum sefamilier tagline tersebut, yakni ‘The World in Your Hands’, miliknya Telkom. Tagline yang tepat, mampu menyedot ketertarikan masyarakat.
Fenomena minat baca berdasarkan hasil survey UNESCO tahun 2012 bahwa minat baca orang Indonesia 0,001%, artinya setiap 1000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Menurut Abdul Khak Kepala Balai Bahasa Bandung, bahwa minat menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan minat baca. Salah satu faktornya adalah bahwa menulis itu butuh energi yang lebih ketimbang membaca karena kegiatan aktif, butuh fokus, butuh konsentrasi lebih.
Namun ketika membaca kalimat dari Cahyadi Takariawan ‘Agar Menulis Semudah Bernafas’. Menulis itu, tidak perlu berpikir bagaimana cara menulis, tidak perlu berpikir huruf apa yang akan ditulis dan tidak perlu berpikir sistematika penulisannya. Semua mengalir begitu saja, Semudah bernafas. Seperti terhipnotis rangkaian kalimat tersebut, kucoba ingin mempraktekkannya. Langsung kubuka laptop, kumulai saja untuk menulis. Hal yang paling mudah untuk ditulis adalah menuangkan apa yang dialami. Ternyata betul... mengalir saja huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat. Walaupun pada awalnya dapat satu paragraf sudah tidak mampu melanjutkan. Mencoba untuk melanjutkan paragraf berikutnya, serasa tidak nyambung antar kedua paragraf tersebut. “Tapi lumayan, aku sudah memulai”, kukatakan pada laptopku. Sampai akhirnya aku penasaran, mengapa ada orang yang mampu menulis dengan mudahnya, memilih kata-kata indah, merangkai kalimat dengan eloknya. Apakah karena bakat? Ah... tidak!! Bukankah ketika aku baru masuk sekolah, membaca dan menulis adalah pelajaran yang paling awal diberikan. Bahkan sampai pada jenjang-jenjang berikutnya tetap ada materi tersebut. Lalu, dimanakah kesulitannya?
Sebuah caption “you don’t write because you want to say something, you write because you have something to say”. Menulis, karena kita mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Apa yang dilihat, bisa ditulis, apa yang dilakukan bisa ditulis. Tulis yang dekat dengan kita.Jadilah tulisan-tulisan sederhana yang belum memuat kata-kata indah, belum ada bahasa sastra yang biasa keluar dari para sastrawan. Berpikir sederhana saja, yang penting apa yang kita tulis tersampaikan maksudnya, syukur-syukur bisa menginspirasi. Kesederhanaan maksud ini justru mampu membangkitkan keberanian menulis. Uji nyali pertama ketika harus disampaikan pada publik. Dibaca banyak orang, perlu kekuatan dan menjadi sebuah tantangan. Untung banyak support, itupun masih belum seberani yang diperkirakan. Akhirnya ada pesan sponsor, “Mbak, pak, bu, masukannya diinbox atau dijapri saja ya?” (Bagi yang tersentil, jangan mesam-mesem sendiri ya?!).Nampaknya kemampuan yang minim ini, menjadi kekuatan besar. Mencoba apapun ditulis, dikirim pada tentor maupun pada mereka yang lebih pengalaman. Support demi support semakin menguatkan.
Virus menulis harus segera ditularkan. Pengalaman belajar ini juga harus disampaikan pada anak didik. Agar mereka mempunyai sense yang tinggi dalam menulis. Ah... ternyata anak-anak jauh lebih hebat nyalinya, sangat percaya diri. Bersyukur, tulisan-tulisan yang dikirimkan cukup banyak, bahkan ada yang sudah berani disampaikan pada publik mealui media sosial. Semoga pustaka kita akan semakin berwarna dari tulisan-tulisan mereka. Tagline ‘Menulis Semudah Bernafas’, sangat berbahasa karena mampu menyebarkan virus menulis yang dasyat. Membuat orang ketagihan dalam menulis.
Penulis : Lilik Subekti
Penyunting : Lilik Subekti
Biodata Penulis :
Kepala SMPN 2 Glagah
Ketua MGBK Banyuwangi
Ketua PGRI Banyuwangi
Ketua 2 IKI Jatim
Ketua Yayasan Salimah Banyuwangi
OPINI
Author : Achmad Fikri Fitrananda S.IIP
Other Published : Membaca yang Tak Tertulis di Balik Pandemi Corona (hipwee.com)
"Jane corona iki onok tenan ta?"
Tuturan khas Jawa Timur diatas hanyalah satu dari sekian banyak ungkapan bahasa daerah untuk corona, yang tanpa sengaja saya jumpai di salah satu sudut desa di Kabupaten Banyuwangi. Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan diksi hits-jaksel, maka ungkapan tersebut menjadi seperti ini: “sebenernya nih corona beneran ada ga sih anjir?”.
Tanpa bermaksud mensimplifikasi, asumsi yang terbangun dari proses pemaknaan singkat di kepala saya adalah, pertama si penutur sedang berusaha mempertanyakan keabsahan berbagai informasi mengenai wabah virus corona dengan segenap regulasi dan pelarangan yang direpresikan dari hulu hingga ke hilir. Bukan sekedar mempertanyakan, kedua, si penutur terkesan meragukan infografis yang menyajikan angka ODP, PDP, Positif, hingga total kematian akibat corona, meski fluktuasinya kian meningkat tajam dari hari ke hari.
Si penutur juga tampak sangat terheran-heran, mengapa aturan social & pshycal distancing yang disiarkan Pak Yuri (jubir pemerintah untuk covid-19) begitu massif tersiar hingga ke lapisan akar rumput. Bandingkan, misalnya saja dengan instruksi presiden mengenai program PKH (Program Keluarga harapan) harus tepat sasaran, yang pada kenyataannya banyak orang ber-uang juga dapat jatah kok. Sungguh jauh panggang dari api. Tapi corona berbeda.
Aturan diberlakukan secara gebyah uyah. Tak ada lagi istilah pusat, daerah, atau pelosok desa. Semua dipaksa tunduk terhadap instruksi. Kali ini set by design nya adalah entah bagaimanapun caranya, panggang harus presisi di atas api. Dari sini saja terlihat bahwa isu corona ini sungguh fakta empiris yang tak biasa. Di pelosok desa, warung kopi mbok ijah dilarang buka, sholat jumat ditiadakan, penyelenggara hajat nikahan yang ngeyel bahkan dihadiahi dresscode biru khas tahanan. Hey Bung, di pelosok desa ini bahkan tak ada satupun ODP. Jane corona iki onok tenan ta?
Lalu, justifikasi macam apa yang coba anda tuduhkan kepada si penutur di atas? Jika terburu melayangkan negative labelling, berarti anda sedang berada di seberang jalan sambil menikmati nyanyian bully-ing bersama koloni sumbu pendek anda lainnya. Begitulah memang budaya masyarakat kita, yang coba mengafirmasi racun post-modernisasi. Maka menjauhlah, karena ketika irrasionalitas telah menjangkiti pikiran, anda tak akan pernah nyaman menjadikan naskah ini sebagai koleksi bacaan.
Terus terang saja, sebagai pengagum neo-marxian, saya ingin membawa alur pembahasan kali ini menggunakan paradigma kritis-transformatif, yang menurut Goerge Ritzer, salah satu utilitas teori kritis adalah mengkritik kebudayaan yang dianggap hanya menghancurkan otentisitas kemanusiaan. Hal ini penting sebagai langkah interpretasi realitas sosial. Terlebih ketika dihadapkan dengan belenggu pandemi corona beserta serangkaian instruksi #dirumahsaja yang represif nan hegemonik.
Baiklah, untuk memulai pembacaan transformatif kali ini, saya akan meminjam prespektif Rolland Barthes, bahwa teks bukan suatu objek yang tetap, ia selalu berada ditengah-tengah interaksi dengan teks lain, Barthes menyebutnya dengan intertektualitas. Secara semiotik, istilah intertekstual bahkan merujuk pada arti yang lebih luas, dimana kebudayaan, poitik, ekonomi, dll. turut andil menjadi bagian dari ‘teks lain’ yang memiliki keterkaitan. Ya, saya akan mengajak anda semua untuk membaca ‘teks lain’ yang tidak tertulis.
Asumsi teoretis di atas bisa saja dituduh terlalu kiri. Tetapi perlu anda ketahui, di sudut kanan, Syeikh M Nursamad Kamba dalam antologi singkatnya di laman caknun.com berujar “Kanjeng nabi diperintahkan membaca, padahal tak ada naskah tertulis saat itu. Tetapi yang jelas pembacaan naskah tak tertulis menghantarkan beliau pada kegemaran berkhalwat, merenung, dan merasakan kehadiran tuhan”. Maka candradimuka mana lagi yang kau dustakan?
Setelah cukup panjang bermain-main di ruang ontologi dan epistemologi, tak lengkap rasanya jika naskah ini tidak memberikan suguhan aksiologi. Ini tentang bagaimana mengungkap ‘teks lain’ yang beredar disekitar si penutur. Asumsi awal yang bisa saya berikan adalah, dibalik narasi ‘jane corona iki onok tenan ta?’ terdapat suatu kondisi masyarakat desa yang sangat survive di tengah musim pandemi. Para akademisi menyebutnya dengan konsepsi rural community.
Bagaimana tidak, di tengah isu lock down yang secara ekonomi berimbas pada pengurangan tenaga kerja, masyarakat desa yang cenderung agraris masih menikmati hasil panennya seperti biasa. Anjuran work form home tak berlaku bagi mereka. Hal lain dari cara hidup pak Tani yang juga krusial ditengah pandemi adalah penggunaan sistem lumbung padi sebagai upaya ketahanan pangan keluarga. Pak Tani akan menyimpan sebagian hasil panennya untuk jatah makan keluarga hingga tiba musim panen yang akan datang.
Logika semacam ini jelas sangat berbeda dengan prespektif konsumerisme yang banyak dianut masyarakat saat ini, dimana uang bukan lagi nilai tukar untuk memenuhi kebutuhan. Melainkan uang tersebutlah kehidupan sekarang ini. Seolah-olah segalanya bisa dilakukan dengan uang. Tak heran ketika corona mewabah, fenomena panic buying terjadi dimana-mana. Hal ini sekali lagi menunjukkan bagaimana pak Tani sebagai representasi masyarakat desa jauh lebih berdaulat.
Kehidupan masyarakat desa tak melulu soal bertani. Yang juga menarik ditengah pandemi, adalah mekanisme survival pak Guru. Saat mas menteri menginstruksikan pembelajaran secara daring, pernahkah terpikir bagaimana nasib pendidikan di desa? Tak semua siswa di desa melek teknologi, terkoneksi internet, dan memahami peggunaan aplikasi.
Tapi pahlawan tanpa tanda jasa tetap menjajakan jasanya demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Berbekal masker seadanya, pak Guru dan bu Guru di desa mengantarkan soal-soal latihan kerumah siswa. Tak cukup di sini, masih ada ‘teks lain’ yang beredar di sekitar si penutur. Sebuah penelitian mengungkap tiga terminologi khas masyarakat desa yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari, yakni sambatan, rewang, & jimpitan.
Sambatan adalah budaya mendengarkan keluh kesah antar masyarakat. Sedangkan rewang adalah memberikan bantuan baik secara moril maupun materiil kepada tetangga yang membutuhkan. Yang terakhir adalah jimpitan, yakni sumbangan sukarela yang digalang untuk menjamin kehidupan si fakir & miskin. Dari paparan singkat tersebut, masyarakat desa tak perlu menunggu posting di instagram atau membuat open donasi di change.org hanya untuk membantu tetangga mereka yang kelaparan akibat corona.
Maka pembaca yang budiman, saya tidak berharap apapun selain anda mencoba memainkan intertekstualitas anda sendiri, kemudian berupaya menemukan si penutur, teks utama, dan teks lain anda sendiri. Sederhana saja, paling tidak agar kita semua tetap memanusiakan manusia di tengah pandemi corona yang melanda. Karena di luar sana, masih sangat banyak teks istimewa layaknya: ‘jane corona iki onok tenan ta?’
Penulis : Achmad Fikri Fitrananda
Penyunting : Tim Editor Hipwee.com
Biodata Penulis :
Pustakawan SMPN 2 Glagah
Staff millenial Komnasdik Jatim
Founder Literate Millenial Movement
CERPEN
Author : Fitri Dwi Wahyuni S.Pd
Other Published : -
Susi tersenyum begitu lebar, hatinya sedang berbahagia karena hari ini dirinya resmi menjadi sepasang kekasih dengan Agus. Pemuda yang telah mengisi hari-harinya selama 19 tahun ini. Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan setapak demi setapak pinggiran sawah. Di desa ini, desa Temurejo tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan bersama mulai dari taman kanak-kanak hingga dewasa. Keduanya hidup bertetangga dan menghabiskan hampir separuh hidup mereka juga untuk sebuah kebersamaan.
Susi hidup bersama ayah, ibu, dan kedua adiknya. Ayahnya bekerja sebagai seorang petani dengan lahan sawah yang ada dimana-mana. Hidupnya serba berkecukupan, berbanding terbalik dengan Agus. Agus tinggal berdua dengan ibunya yang hanya berprofesi sebagai penjual kue-kue tradisional. Ayahnya sudah meninggal sejak Agus lahir.
Pada suatu hari, Susi dan Agus melanjutkan kuliah mereka ke kota. Agus dapat berkuliah karena mendapatkan beasiswa penuh. Agus kuliah di kota Jember, sedangkan Susi melanjutkan kuliah di Surabaya. Hubungan mereka tetap berjalan baik, saling mengirim surat untuk menanyakan kabar dan keadaan masing - masing. Mereka saling menjaga hati dan perasaan masing-masing selama masa kuliah berlangsung.
Hingga pada suatu hari, ayah Susi yang mengetahui tentang hubungan anaknya dan Agus memutuskan untuk memisahkan hubungan mereka dengan cara menjodohkan Susi dengan anak sahabatnya dahulu. Setelah kelulusan kuliah, Susi dan Agus pulang ke kampung halamannya. Agus telah merencanakan untuk melamar Susi dan menikahinya setelah mendapatkan pekerjaan tetap dan keadaan ekonominya membaik.
“Dik, mas bukan orang kaya dan bukan pula pemilik sawah yang luas seperti bapakmu. Mas hanya ingin mengikatmu dahulu, nanti setelah mas sukses dan keadaan ekonomi lebih baik mas janji akan segera menikahimu.” Ungkap Agus dengan penuh pengharapan di setiap kata yang diucapkan.
“Mas janji akan berusaha keras agar cepat-cepat menjadi orang sukses dan bisa segera nikahin kamu. Gimana dik? Apakah sampean[1] mau menerima lamaran mas ini? Kita sudah hidup bersama mulai dari kecil hingga sedewasa ini, mas yakin kita sama-sama saling mengerti sikap masing-masing.” Tambah Agus lagi berusaha meyakinkan Susi.
Dengan mata berkaca-kaca dan hembusan nafas yang berat, Susi menjawab lamaran dari Agus. “Maaf mas, aku ndak bisa nerima lamaran mas dari mas. Susi akan menikah dengan pria lain yang dipilihkan bapak untuk Susi, anaknya sahabat bapak dulu. Dia seorang pengusaha besar di Surabaya. Besok pagi Susi sekeluarga berangkat ke Surabaya untuk membicarakan pernikahan Susi, dan rencananya bapak juga mengajak kami untuk menetap di sana.” Jawab Susi dengan suara serak dan berlinangan air mata. Susi pun segera berlari meninggalkan Agus yang masih mematung di tempatnya berdiri.
Hari berganti minggu, dan minggu berganti menjadi bulan-bulan. Agus tetap termenung memikirkan Susi. Merasakan luka di hatinya yang terasa kian perih setelah mendengar kabar pernikahan Susi dan suaminya di kota. Kemarin saat perjalanan pulang mengajar dari sekolah, Agus mendengar berita dari salah satu tetangga yang sahabat dekat ibu dari Susi, bahwa ayah Susi sengaja menjodohkan Susi dengan orang lain setelah mengetahui bahwa mereka berdua punya hubungan khusus.
“Kalau ndak salah, itu gara-gara wetonnya sampean dan nduk[2] Susi ndak mathuk[3] Gus. Sampean kan wetonnya Selasa Pahing dan nduk Susi Kamis Wage. Wage sama Pahing itu memang ndak boleh sampek menikah mas, kalo tetap dipaksa nikah ya bisa kena sial terus hidupnya. Selain itu juga pengennya punya mantu yang kaya gitu mas.” Begitu kata-kata tetangga yang berhasil membuat hati Agus semakin terluka.
“Jadi hanya karena weton, hanya karena weton aku jadi kehilangan gadisku? Apalah artinya kisah hidupku bersamanya selama ini kalau hanya untuk ditinggalkan begitu saja tanpa usaha.” Keluh Agus dalam batinnya.
Semenjak mengetahui tentang kebenaran itu, Agus mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan sedikit demi sedikit mulai megurangi rasa sakit hatinya terhadap Susi dan keluarganya. Baginya saat ini, mencari uang demi kebahagiaan ibu dan memperbaiki ekonomi keluarganya adalah hal utama yang harus dilakukan. Namun meskipun telah berhasil menghapus rasa sakit hatinya, tidak sedikitpun berubah perasaannya kepada Susi yang sekarang telah menjadi istri orang, dan mungkin bahkan sudah melupakannya.
Banyak gadis-gadis desa yang dengan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Agus, dan tidak sedikit pula ibu-ibu yang berusaha menjodohkan Agus dengan putri mereka. Namun hanya senyuman yang diberikan Agus sebagai jawaban atas perlakuan mereka. Bagi Agus, tidak ada kata cinta lagi dalam kamus hidupnya.
“Sampai kapan kamu mau jadi lancing[4] terus le[5]? Ibuk ini ndak tega liat kamu terus-terusan sendiri, masak lelaki mapan gak nikah-nikah? Ini sudah tiga tahun Susi pergi ninggalin kamu le. Mau sampek kapan mikirin dia terus?” Tanya ibu Agus saat mereka sedang duduk sore hari di pekarangan rumah.
Dengan senyuman tenang Agus menjawab pertanyaan ibunya. “Sampai datang jodohnya Agus buk, umur juga masih 27 tahun buk. Masih muda banget ini, Agus juga udah ndak mikiri Susi lagi ibuk. Agus sudah ikhlas buk.”
“Yasudah le, ibuk percaya sama kamu. Semua keputusan ada di tanganmu, ibuk Cuma bisa ndungo[6] semoga kamu diberi jodoh secepatnya.” Jawab ibu Agus dengan penuh harapan yang hanya mampu ditanggapi dengan senyuman masam oleh Agus.
Hingga pada suatu hari setelah genap 4 tahun pernikahannya, Susi pulang kembali ke kampungnya seorang diri. Banyak yang berubah dari penampilannya, Susi yang sekarang menjadi lebih cantik dan bersih. Dandanannya juga terlihat seperti orang kota pada umumnya. Dia pulang setelah resmi bercerai dengan suaminya 4 bulan yang lalu. Susi sangat ingin bertemu dengan Agus. Selama ini hanya Agus yang benar-benar dia cintai. Susi tersenyum setelah melihat rumah agus yang kelihatan kokoh dan bangunannya terlihat jauh lebih baik dari 4 tahun lalu. Susi percaya bahwa Agus telah mampu bekerja keras dan meningkatkan keadaan ekonomi keluarganya.
Setelah beberapa hari berada di rumahnya yang dulu, Susi berkunjung ke rumah tetangga yang dulunya adalah sahabat dari ibunya. Dari sana akhirnya Susi mengetahui bahwa Agus belum menikah, dan tekad awal Susi untuk pulang bertemu dengan Agus semakin kuat. Sore harinya, Susi sengaja menunggu Agus pulang mengajar di depan rumahnya. Jantungnya berdetak lebih cepat karena gugup untuk bertemu dengan Agus lagi, lelaki yang dicintainya dan juga telah disakitinya dulu.
“Mas Agus, apa kabar?” Tanya Susi disertai dengan senyum gugupnya.
Sempat mematung sejenak, namun segera Agus membalas senyuman Susi. “Loh, dek Susi kapan datang? Alhamdulillah kabar baik, sampean sendiri bagaimana?” Sapa Agus berbasa-basi. Ada gejolak kerinduan yang besar di hatinya.
“Sudah dari seminggu yang lalu mas. Mas, bisakah nanti malam kita bertemu? Ada hal penting yang mau saya sampaikan kepada mas Agus.” Susi bertanya dengan suara yang terdengar agak gemetar, takut dengan reaksi yang akan diberikan Agus.
Agus akhirnya menyetujui ajakan Susi, dia memilih berbicara dengan Susi di rumah Susi sendiri. Selepas isya Agus berjanji akan berkunjung. Susi berdandan agar kelihatan anggun di depan Agus nanti, dia bertekad akan menyampaikan maksud dan keinginannya malam ini juga. Tidak ingin untuk membuang-buang waktu lagi. Hatinya sudah tersiksa selama 2 tahun terkahir, dan tidak ingin lagi untuk menunda-nunda kebahagiaan di depan mata. Susi sangat yakin bahwa Agus masih menyimpan perasaan untuknya, terlihat jelas dari tatapan mata Agus saat memandangnya. Dengan penuh senyuman, Susi menyambut kedatangan Agus di rumahnya.
“Sudah lama ya mas kita tidak bertemu. Mas tetap tidak berubah.” Susi memulai percakapan di antara mereka.
“Iya dik benar, sudah 4 tahun lamanya. Benarkah demikian?” Ada jeda sejenak sebelum Agus kembali melanjutkan pertanyannya. “Suaminya sampean di mana dik? Apa ndak ikut?” Tanya Agus dengan mata seolah-oalah mencari keberadaan suami Susi.
“Maafkan aku mas, maafkan aku dulu sudah menyakiti hatimu.” Dengan punggung bergetar dan isakan tangis yang pilu Susi tidak menjawab pertanyaan Agus.
Sempat bingung sejenak dengan reaksi yang diberikan oleh Susi, namun tidak berlangsung lama dan mengalirlah cerita hidup Susi. Setelah menikah 2 tahun lamanya, ia tak kunjung mempunyai anak. Dan setelah dibawa ke dokter, diketahuilah bahwa suami Susi mandul. Sejak saat itu rumah tangganya berantakan. Suaminya mulai sering pulang malam, bahkan tak jarang pulang dini hari dengan alasan lembur di kantor. Setelah diselidiki oleh Susi, ternyata suaminya mabuk-mabukan dan suka berganti-ganti pasangan dengan wanita di club malam.
Susi yang ingin rumah tangganya kembali harmonis berusaha menasehati suaminya, namun malah perlakuan dan cacian kasar yang keluar dari mulut suaminya. Hingga akhirnya Susi menyerah dan memutuskan untuk menggugat cerai sang suami. Agus yang mendengar cerita tersebut merasa simpati dengan keadaan Susi.
“Aku ingin kembali bersamamu mas, hanya kamu yang bisa dengan tulus mencintaiku. Aku menyesal telah menyakiti hatimu dulu. Tolong mas aku mohon kembalilah padaku, hidupku sudah berantakan, hanya kamu yang dapat membuatku tersenyum kembali.” Pernyataan Susi menyentak Agus dari lamunannya.
Tidak tega melihat air mata Susi, bagaimanapun juga perasaannya pada Susi tidak berubah hingga saat ini. Berfikir sejenak, Agus kemudian menjawab disertai dengan senyumannya. “Maaf dik, aku tidak bisa. Aku sudah bertunangan dengan teman kerjaku mengajar, dan rencananya kami akan segera menikah.” Kata Agus sambil menunjukkan cincin di jari manis tangan kanannya.
“Aku menyayangimu, tapi hanya sebagai orang yang pernah ada di hidupku. Bukan lagi sebagai orang yang aku cintai, karena bagiku percuma ada cinta jika tidak ada pengorbanan dan usaha untuk mempertahankan. Aku permisi pulang.” Agus kemudian berdiri dan meninggalkan Susi yang bersimbah air mata dan memegangi dadanya yang terasa sesak.
“Maaf dik, aku memang masih sangat mencintaimu. Tapi bagiku, sekali dikhianati maka pantang bagiku untuk bersatu lagi. Harga diri jauh lebih penting daripada untuk sekedar cinta yang tak ada pengorbanan dan usaha yang berarti.” Kata Agus dalam hati sambil terus berjalan menjauh dari pekarangan rumah Susi. Biarlah dia menanti sendiri jalan hidupnya. Menanti jodoh yang masih disembunyikan Allah darinya.
Sambil memegangi cincin di jari manis tangan kanannya, Agus tersenyum. “Tidak sia-sia aku meminjam cincin ini tadi.” Cincin batu akik yang dipinjam dari temannya mengajar. Ukurannya kebesaran sehingga harus dipakai di tangan kanan. Cincin yang diakui sebagai cincin pertunangannya di depan Susi.
[1] Kami, atau anda dalam bahasa Jawa halus
[2] Sebutan panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa
[3] Cocok, tepat dalam bahasa Jawa
[4] Bujangan, sebutan untuk laki-laki yang belum menikah
[5] Panggilan untuk anak laki-laki dalam bahasa Jawa
[6] Berdo’a
Penulis : Fitri Dwi Wahyuni
Penyunting : Fitri Dwi Wahyuni
Biodata Penulis :
Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Glagah
CERPEN
Author : Suhartatik M.Pd
Other Published : -
”Hore….. hore… hore.. aku menang….., aku menang…., aku menang…… “ teriak Rozi sambil clingak clinguk berlarian mencari emaknya yang sedang menyiangi rumput di halaman rumah.” Kau memang layak Juara Nak, karana kau darah seorang penulis yang layu kurang air” ucap wanita paruh baya yang berdara Palembang ini, saat menyambut larian kecil Si Rozi, sambil menghujani ciuman bertubi - tubi pada anaknya yang masih berseragam biru putih. “ mana hasil pengumumanya, coba emak ingin melihatnya, jangan -jangan kau salah mengeja nama mu” ledek emaknya. Sambil mencermati selembar kertas yang di kirim oleh panitia sayembara melalui jasa pengiriman JNT.” Waaaooooo… kau benar – benar juara , dan ini adalah kado terindah buat bapak mu yg kebetulan hari ini adalah ulang tahunya bapak” tutur emak pada putra semata wayangnya.
“ nah sekarang bapak di mana Mak “ Tanya Rozi dengan nada girang Tanpa di sadari oleh Rozi, saat mereka asyik mencumbui lembar kertas pengumuman sayembara bersama emaknya, seseorang yang berperawakan tinggi dempal ini mengendap- endap mendekati mereka berdua, sehingga saat Rozi membalikan badan hendak mencari bapaknya, lelaki dingin kata ini pun menyambutnya dengan pelukan kemerdekan penuh kehangatan bak bala tentara menang berperang.” Kau sudah menaklukan tingginya gunung es Nak”bisik lirih lelaki itu pada buah hatinya.
Sebelum embun menetes pada bumi, Pak Pardi yang tak lain adalah bapak Rozi ,saat menyruput kopi hangat buatan istri tercintanya, beliau sembari membuka chat dari salah satu akun yang lagi trending dan familiar di era sekarang, sebut saja WAG atau whatshap group. “ ada beberapa pesan yang menggelitik yang dikirim oleh teman - temanya terkait dengan event- event yang di gelar di negeri ini untuk memeriahkan hari ulang tahun yang ke -75 kemerdekaan Republic Indonesia , ada lomba membaca puisi secara virtual, ada lomba karaoke dengan mengirim video, dan masih banyak lagi lainya, Sayembara menulis cerpen untuk umum…..” adalah salah satu list dalam daftar kegiatan lomba tersebut. saat membaca pesan singkat itu, pikiran Pak Pardi langsung membolang pada putranya semata wayang, dia berhasyrat anak nya bisa meneruskan hobby bapak nya, Pak Pardi adalah salah satu guru di yayasan berbaju merah di kota itu, beliau mempunyai hobby yang terpendam yaitu menulis, walau belum ada buku nya yg terbit ber ISBN karena alasan mahalnya biaya naik cetak, beliau masih sering menulis, beberapa modul dan file tulisanya mengonggrok di file laptop jadulnya.
Lelaki dingin kata ini mempunyai filosofi yang amat syarat makna, “ menulis adalah bukti sejarah bahwa kita pernah ada, setidaknya anak cucu kita akan mengenang kita dari tulisan yang pernah kita torehkan, berdasarkan pengalaman pahit yang ia dapatkan, saat masuk di kelas , beliau menugaskan kepada siswanya untuk menulis sejarah silsilah keluarga minimal 7 turunan, mereka rerata tidak bisa “ pak saya gak hafal nama kakeh saya, kalau nama -nama wali songo saya hafal pak sampai pada anakcucunya “ debat salah satu siswanya.nah dari situ lah maka Pak Pardi sedikitk memaksakan kehendaknya kepada si Rozi untuk mengikuti sayembara menulis cerpen, awalnya putra semata wayang nya menolak dengan alasan tidak bisa merangkai kata atau kalimat yang indah timpalnya. Berkat kegigihan Pak Pardi dan kelembutan hati seorang emak dalam memberikan stimulus, akhirnya Rozi pun menuruti kehendak orang tuanya,
Keesokan hari saat menjelang bibir pagi, seusai anggota keluarga itu menjalankan ritual subuh dan membaca ayat -ayat alquran, dengan membawa selembar kertas yang berisi sketsa penulisan cerpen Pak Pardi mendekati putranya yang sedang berselancar di dunia instagram, , dengan bahasa yg simple ,beliau memberi gambaran tentang menulis cerpen agar mudah untuk mengembangkan menjadi paragraph yang utuh, maka Rozi pun segera membalikakn kertas pemberian bapaknya kemudian mencoret coret membuat kerangka karangan cerpen sesuai dengan judul yang ia inginkan. Karena selama Pandemi covid -19 atau orang umum menyebutnya CORONA, sehingga rutinitas Pak Pardi sering di lakukan dari rumah atau BDR/WFH( bekerja dari rumah / work from home) dengan demikian maka Pak Pardi bisa membimbing putranya untuk menulis kerangka cerpen. Tidak sedikit kesulitan yang ia hadapi dalam membimbing putranya, bahkan sesekali putranya mengeluh dengan dalih, “ pak saya tidak punya bakat menulis “ tuturnya. Sang emak pun turut berkontribusi dalam upaya keikut sertaan putranya mengikuti lomba tersebut, alih alih si emak menggunkan jurus Bahasa kasih saying pada anaknya.
Kita ketahui bersama bahwa ada beberapa bahasa kasih sayang yang harus di fahami oleh semua anggota keluarga, baik anatra emak dan bapak, maupun emak dan anak dengan demikian maka keharmonisan keluarga akan terjaga, salah satu bahasa kasih sayangan seorang ayah/ bapak adalah pelayanan yang prima, sedang bahasa kasih saying seorang ibu / emak adalag berupa pujian, bahasa kasih sayang seorang anak adalah hadiah, walau tdk semua orang sama dalam memerlukan bahasa kasih sayaing. Nah alih alih si Emak pun ikut andil dalam propaganda keikut sertaan lomba, si emak menggunakan jurus pamungkasnya, “yaitu akan memberi hadiah berupa liburan ke rumah nenek dengan naik pesawat jikaa adik ikut lomba, baik menang maupun kalah “ tandas emakya.
Jika Pak pardi mau, mereka bisa menuliskan cerpen tanpa harus melibarkan kan anaknya, tinggal kasih embel embel “ penulis Irfak Khikmatur Rozi” beres bukan ? namun hal itu tidak ia lakukan karena dia tidak ingin mengebiri imajinasi anaknya, dia memeberika kemerdekaan berekspresi dalam menuangkan iimajinasi liarnya, sehingga kelak akan menjadi penulis yang hebat , itu harapanya, ia tahu anak semata wayang nya sebenarnya memeiliki kemampuan verbal yang tinggi, namun belum terbias di tuangkan dalam bahasa tulis, ghal iiterbukti pada saat keggiattan osis, ddalam sambutan ketua OSIS Rozi mampu mendeskripsikan dan menarasikan program program kegiatan dalam satu tahun di era kepengurusanya dengan runut dan bahasa yang efektif, dan masih sering lagi dijumpai saat anaknya berkomunukasi dengan teman -temnaya ketika belajar kelompok di rumahnya, dari pengamatan itulah Pak Pardi dan Bu suhar bersikukuh untuk membidik anaknya menjadi penulis, melatih dan membimbing dengan sabar tanpa harus menjadikan anaknya menjadi dirinya, maka ushanya yang di awali dengan penolakan yang keras pun berhasil mereka taklukan .
“ sudah kau kirim naskah mu Nak? “ Tanya leaki yang penuh wibawa ini, “ Sampun (sudah) Pak, tinggal nunggu pengumuman” jawab Rozi singkat,”syukurlah, semoga usahamu tidak sia –sia.”timpal Pak Pardi.
“Andai saat ini bukan musim corona, kemungkinkan kecil si Rozi akan bisa menaklukan gunung es dan berhadiah emas ini, karena pembelajaran di sekolah tidak cukup waktu untuk mewujudkan sebuah impian tanpa campurtangan dari keluarga. Dengan analogi yang demikian dan mengacu pada bakat yang dimiliki oleh anaknya, maka Pak Pardi bersama keluarga pun sepakat akan mendampingi belajar sang buah hati lebih inten agar bisa tumbuh menjadi generasi yang madani dan berakhlakul karimah.
Penulis : Suhartatik M.Pd
Penyunting : Suhartatik M.Pd
Biodata Penulis :
Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Glagah
Dosen Universitas Terbuka
Pegiat Literasi