Program pendidikan yang mengintegrasikan materi kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga ke dalam kurikulum dan kegiatan sekolah (mulok, BK, ekskul), bertujuan membentuk siswa melek isu kependudukan, berwawasan masa depan, dan mampu mengambil keputusan cerdas untuk kehidupan sejahtera, melalui Pojok Kependudukan, kegiatan GenRe, dan integrasi lintas mata pelajaran, didukung BKKBN, Dinas Pendidikan, sekolah, guru, serta siswa sendiri, menciptakan generasi muda berkualitas.
Sekolah Siaga Kependudukan adalah sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga (PKKBPK) ke dalam beberapa mata pelajaran,Sekolah Siaga Kependudukan (SSK ) merupakan upaya memberikan wawasan kepada peserta didik agar mengetahui permasalahan kependudukan di sekitar lingkungan mereka.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2020 penduduk Indonesia berjumlah 270,20 juta jiwa. Dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk sebelumnya ( 2010 ), jumlah penduduk Indonesia bertambah 32,56 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk selama 2010- 2020 tercatat 1,25 persen / tahun.
Pada tataran dunia, jumlah penduduk Indonesia menduduki empat besar, setelah urutan terbesarnya Tiongkok, India, Amerika Serikat. Problem kependudukan di Indonesia berkisar pada distribusi penduduk yang terkonsentrasi di Jawa, yang angkanya lebih dari 60 persen, pertumbuhan penduduk yang masih di atas 1 persen yang akan menimbulkan berbagai problem terutama masalah supply dan demand tenaga kerja, yang didalamnya akan muncul problem kesempatan kerja, pengangguran terutama pengangguran terdidik.
Besarnya jumlah penduduk Indonesia tentu menimbulkan berbagai masalah, tidak saja masalah yang terkait dengan kuantitas penduduk yang akan berdampak langsung pada masalah ketersediaan pangan, perumahan, eksploitasi sumber daya alam, dan lain- lain, namun juga masalah yang terkait dengan kualitas penduduk, seperti masalah pendidikan, kesehatan, pendapatan, dan lain- lain.
Begitu banyaknya masalah kependudukan di Indonesia mengharuskan diupayakannya berbagai cara pengendalikannya, salah satunya adalah dengan hadirnya Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), yaitu sekolah yang mengimplementasikan pendidikan kependudukan pada program-program pendidikan, baik dalam program Intrakurikuler maupun Ekstrakurikuler. Dipilihnya sekolah, salah satu alasannya karena sekolah merupakan agen perubahan (agent of change). Dengan sasaran siswa, diharapkan tumbuh ‘sense kependudukan’ sejak dini. SSK ini terkait dengan ‘Genre’ yaitu gerakan berencana dan PIK- R yaitu Pusat Informasi dan Konseling Remaja yang sudah digulirkan lebih dulu.
Berita yang lagi santer pada saat ini Indonesia memasuki fenomena kependudukan bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif 15 sampai dengan 64 tahun proporsinya lebih dari 50 persen, dibandingkan dengan kelompok usia non produktif 0 sampai dengan14 tahun dan di atas 65 tahun.
Fenomena kependudukan bonus demografi tersebut harus disiapkan dan diantisipasi dari mulai sekarang, diantaranya dengan membentuk generasi SMA Negeri 2 Sumatera Barat yang berkualitas, supaya mampu bersaing di berbagai bidang dan membawa keberkahan, bukan menjadi bencana bagi lingkungan.
Dikatakan pula, dalam memasuki era bonus demografi, dengan pendidikan kependudukan kepada generasi muda terutama kepeda peserta didik SMA Negeri 2 Sumatera Barat, dapat menyadarkan generasi muda dan peserta didik SMA Negeri 2 Sumatera Barat tentang melimpahnya tenaga kerja pada era sekarang.
Disamping itu, juga dapat mendorong generasi muda dan peserta didik SMA Negeri 2 Sumatera Barat, untuk senantiasa berupaya optimal menumbuhkan dan mengembangkan potensi dirinya masing-masing. Maksud dan tujuannya supaya dapat menjadi generasi penerus yang berkualitas, serta memiliki pemahaman, sikap dan perilaku yang baik, serta pengetahuan dan wawasan tentang kependudukan dan KB, termasuk permukiman dan sanitasi, serta waktu atau usia menikah.