XI F 2
Cerpen~ 1#
Bel Pulang Terakhir
Bel sekolah berbunyi untuk terakhir kalinya hari itu, menandakan akhir dari jam pelajaran. Maya buru-buru memasukkan bukunya ke dalam tas, tapi kali ini, dia tidak langsung pergi seperti biasanya. Dia tetap duduk diam, menatap ruang kelas yang mulai kosong.
“Kamu nggak pulang?” tanya Raka, sahabatnya, yang berdiri di ambang pintu.
Maya tersenyum tipis. “Cuma... mau menikmati suasana sebentar. Hari ini hari terakhir kita sebagai siswa SMA.”
Raka menghela napas dan melangkah masuk. “Iya, aneh rasanya.”
Tiga tahun mereka habiskan di kelas ini—tertawa, stres karena ujian, diam-diam makan di jam pelajaran. Rasanya tidak nyata bahwa mulai besok, tempat ini tak lagi menjadi milik mereka.
Maya mengusap permukaan meja kayu, di mana dia pernah menggambar coretan kecil saat bosan. “Menurutmu, kita masih akan berteman setelah ini?” tanyanya pelan.
Raka tak langsung menjawab. Dia menatap langit senja di luar jendela, warnanya jingga lembut. “Aku ingin percaya begitu,” katanya akhirnya. “Tapi walaupun hidup membawa kita ke jalan yang berbeda, kenangan ini akan selalu ada.”
Maya mengangguk, menahan air mata. Bel terakhir telah berbunyi, tapi kisah mereka bukanlah berakhir—hanya berubah.
Saat mereka berjalan keluar bersama, Maya berbisik pelan, “Selamat tinggal, sekolah. Terima kasih untuk segalanya.”
Cerpen~ 2#
Hadiah Terindah
Hujan rintik-rintik membasahi atap rumah saat Dita duduk di ruang tamu, menatap kue ulang tahun kecil di meja. Lilin angka "12" sudah siap dinyalakan, tapi suasana terasa sepi.
Ayah masih di luar kota untuk bekerja. Ibu sibuk dengan pesanan jahitan. Kakak baru pulang kuliah dan langsung masuk kamar. Dita menghela napas, merasa ulang tahunnya tahun ini biasa saja.
Tiba-tiba, listrik padam. Ruangan menjadi gelap.
"Duh, mati lampu," gumamnya.
Namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki. Lalu, cahaya lilin muncul dari dapur. Ibu, ayah, dan kakaknya datang membawa kue lain, lebih besar, dengan lilin yang sudah menyala.
"Selamat ulang tahun, Dita!" seru mereka bersamaan.
Mata Dita membulat. “Ayah pulang?”
Ayah tersenyum dan mengusap kepalanya. “Tentu. Mana mungkin aku melewatkan ulang tahun putri kecilku?”
Dita menahan haru. Ternyata, meski sibuk, keluarganya tetap mengingat hari istimewanya.
Ia tersenyum lebar. Kali ini, bukan kue atau hadiah yang paling berarti, tapi kebersamaan dengan orang-orang yang ia cintai. Itulah hadiah terindah.
Cerpen~ 3#
Janji Sahabat
Senja mulai turun saat Adit duduk di ayunan taman, menunggu seseorang. Sudah lima tahun berlalu sejak terakhir kali ia bertemu Raka, sahabat kecilnya. Dulu, mereka selalu bermain di taman ini, berjanji akan tetap berteman selamanya.
Tapi waktu berjalan, dan Raka harus pindah ke kota lain. Kontak mereka sempat terputus. Hingga kemarin, sebuah pesan masuk ke ponsel Adit: "Besok sore, di taman biasa."
Adit menunggu dengan cemas. Apa Raka masih ingat janji mereka? Apa dia masih sama seperti dulu?
Tak lama, seseorang berdiri di depan Adit. Seorang pemuda dengan senyum yang masih sama seperti lima tahun lalu.
"Adit!"
Adit bangkit berdiri, terkejut sekaligus bahagia. "Raka!"
Tanpa pikir panjang, mereka berpelukan sebentar, lalu tertawa.
"Kau benar-benar datang," kata Adit.
"Tentu saja. Sahabat sejati nggak pernah lupa janji, kan?" jawab Raka.
Senja menemani mereka yang kembali berbagi cerita. Waktu boleh berlalu, jarak boleh memisahkan, tapi persahabatan sejati akan selalu menemukan jalannya kembali. Seperti janji mereka.