Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, tenggat waktu yang menumpuk, dan paparan layar digital yang seakan tiada henti, stres telah menjadi "penyakit" umum bagi masyarakat saat ini. Untuk mengatasinya, banyak orang mencari berbagai metode pelarian, mulai dari liburan mewah hingga retret meditasi. Namun, tahukah Anda bahwa salah satu terapi pereda stres yang paling efektif dan terjangkau sebenarnya ada di halaman rumah Anda sendiri?
Berkebun atau aktivitas menanam kini semakin diakui oleh dunia medis dan psikologi sebagai bentuk terapi alami yang ampuh. Berikut adalah alasan mengapa menanam dapat menjadi penangkal stres yang luar biasa.
Berkebun pada dasarnya adalah praktik mindfulness (kesadaran penuh) yang aktif. Ketika Anda sedang memindahkan bibit, menyiram tanaman, atau mencabut gulma, otak dipaksa untuk melepaskan kekhawatiran tentang masa lalu atau masa depan, dan sepenuhnya berlabuh pada "saat ini".
Pekerjaan yang repetitif dan ritmis dalam berkebun memberikan waktu bagi pikiran untuk melambat dan beristirahat dari overthinking. Selain itu, merawat makhluk hidup lain dan melihatnya tumbuh memberikan kepuasan emosional yang mendalam (sense of accomplishment), yang secara langsung meningkatkan suasana hati dan harga diri.
Manusia memiliki insting biologis yang terhubung dengan alam, sebuah konsep yang dikenal sebagai Biophilia. Berada di dalam ruangan tertutup selama berhari-hari dapat memicu kelelahan mental. Sebaliknya, menyentuh tanah, merasakan tekstur daun, dan mencium aroma khas bumi setelah disiram air (petrichor) dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yang bertanggung jawab atas respons istirahat dan relaksasi tubuh.
Interaksi fisik dengan tanah juga melibatkan pelepasan hormon bahagia. Secara spesifik, tanah mengandung mikrob alami bernama Mycobacterium vaccae. Saat kita berkebun dan tidak sengaja menghirup atau bersentuhan dengan bakteri ramah ini, mikrob tersebut merangsang otak untuk memproduksi serotonin, yaitu neurotransmiter yang berfungsi mengatur suasana hati dan menekan kecemasan.
Klaim bahwa berkebun dapat mengurangi stres bukanlah sekadar sugesti, melainkan didukung oleh berbagai literatur sains. Berbagai studi telah membandingkan efektivitas berkebun dengan aktivitas relaksasi lainnya.
Salah satu penelitian klasik yang diterbitkan dalam Journal of Health Psychology meneliti dua kelompok orang yang baru saja menyelesaikan tugas yang sangat memicu stres. Kelompok pertama diminta membaca buku di dalam ruangan selama 30 menit, sedangkan kelompok kedua diminta berkebun di luar ruangan selama 30 menit. Hasilnya, meskipun kedua aktivitas tersebut menurunkan stres, kelompok yang berkebun mengalami penurunan kadar kortisol (hormon stres) yang jauh lebih signifikan dan melaporkan pemulihan mood yang lebih positif dibandingkan kelompok pembaca.
Lebih jauh lagi, cabang terapi khusus bernama Horticultural Therapy (Terapi Hortikultura) kini secara resmi digunakan di berbagai rumah sakit dan pusat rehabilitasi untuk membantu pemulihan pasien dari trauma, depresi, dan kelelahan mental.
Untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai landasan ilmiah dari manfaat berkebun bagi kesehatan mental, berikut adalah beberapa sumber literasi yang kredibel:
Penelitian tentang Berkebun dan Penurunan Hormon Kortisol:
National Center for Biotechnology Information (NCBI) / Journal of Health Psychology: Studi oleh Van den Berg dan Custers yang membuktikan bahwa berkebun lebih efektif menurunkan stres pasca-tugas dibandingkan membaca. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20522508/
Pengaruh Mikrob Tanah terhadap Serotonin Otak:
Discover Magazine: Artikel sains populer yang membahas bagaimana bakteri Mycobacterium vaccae di dalam tanah bekerja selayaknya antidepresan alami. https://www.discovermagazine.com/mind/is-dirt-the-new-prozac
Pengenalan Terapi Hortikultura:
American Horticultural Therapy Association (AHTA): Lembaga yang mendedikasikan diri pada penggunaan tanaman dan aktivitas berkebun sebagai instrumen terapi klinis dan psikologis. https://www.ahta.org/about-horticultural-therapy