Pentingnya Pendidikan Seks Bagi

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Kadang kala kita tidak menyadari bahwa terapi yang diberikan kepada ABK sering kali lebih terfokus pada kemampuan berbicara, menulis, belajar dan bersosialisasi. Padahal pendidikan seks juga harus diajarkan kepada ABK sejak dini. Pendidikan seks mencakup hal-hal seperti pemberian pemahaman tentang perkembangan fisik dan hormonal seorang anak serta memahami berbagai batasan sosial yang ada di masyarakat. Masa pubertas yang dialami ABK terkadang datang lebih awal atau bahkan lebih lambat dibandingkan dengan anak pada umumnya.

Dalam memberikan pendidikan seks pada ABK sebaiknya anak mengenali bagian tubuh dirinya sendiri dan jangan pernah mengeksplorasi tubuh orang lain. Selain itu, orang tua harus waspada dalam memberikan pemahaman mengenai perubahan fisik yang terjadi. Orang tua perlu kreatif untuk menyusun “social story” yang mudah dimengerti oleh anak. Orang tua pun harus sabar mengajarkan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilihat saat sedang berkomunikasi, anak memahami mana yang termasuk sentuhan Oke dan mana yang tidak, serta anak diajarkan mengenai “social circle”, misal anak diberitahu siapa saja yang boleh mendapatkan pelukan dan ciuman.

Orang tua harus memiliki kesadaran bahwa masalah seksual kini semakin eksis, sehingga orang tua jangan hanya terpaku pada mind setting masyarakat mengenai pendidikan formal saja.

Pendidikan seks harus dimulai sejak dini, karena jika tidak, maka ada kemungkinan anak akan mendapatkan banyak masalah seperti memiliki kebiasaan suka memegang alat kelamin, suka memegang payudara orang lain, melakukan perilaku seksual yang tidak pantas di muka umum ataupun masalah lainnya.

Perlu kita sadari bahwa kebanyakan ABK memiliki stabilitas emosi yang kurang baik (labil). Dibutuhkan usaha, waktu, tenaga, kesabaran dan kreativitas agar anak mampu memahaminya. Untuk itu orang tua perlu lebih berperan untuk memberikan pendidikan berdasarkan tingkat pemahaman anak (secara bertahap) dan dengan kata-kata positif, membuat rekayasa suasana agar anak lebih paham, memiliki aturan-aturan khusus yang disepakati dalam keluarga serta menggunakan kekuatan reward dan bukan kekuatan hukuman.

Penulis: Christiana Young

(Pengurus Yayasan Anak Mandiri Banten)