Sejarah Air Terjun Silio-lio dan Sampuran Widuri: Jejak Alam dari Desa Bangun Rejo
Di balik hijaunya perbukitan Desa Dolok Merawan, tersimpan cerita panjang tentang air terjun yang menjadi bagian penting dari sejarah dan kehidupan masyarakat sekitar, "Air Terjun Silio-lio" dari Dusun V Bangun Rejo dan "Sampuran Widuri" dari Dusun IV.
Menurut penuturan Pak Ribut, selaku Kepala Dusun V yang telah lama tinggal dan merawat sejarah daerah ini, kawasan Bangun Rejo dulunya merupakan bagian dari Dolok Hilir (Kebun Nanas), yang secara administratif pernah masuk dalam wilayah Kabupaten Serdang Bedagai. Namun sejak tahun 2025, wilayah ini resmi bergabung ke Kabupaten Simalungun.
"Nama Silio-lio sendiri berasal dari bahasa Simalungun," kata Pak Ribut. "Artinya air bersih. Dahulu, airnya sangat deras, jernih, dan menjadi sumber kehidupan warga." Air terjun ini dulunya bahkan berada di bawah jembatan rel kereta api tua, menghubungkan jejak sejarah dengan infrastruktur kolonial yang pernah ada di kawasan tersebut.
Sejarah menyebutkan bahwa kawasan ini adalah bagian dari kerajaan Baja Lingge, dengan kepemilikan tanah oleh Tuan Baja Lingge, seorang tokoh adat Simalungun. “Waktu itu, kita masih sangat bergantung pada alam. 'Bangun' berarti pembangunan, dan 'Rejo' artinya ramai. Desa ini dibebaskan pada tahun 1975 oleh Gubernur melalui surat agraria,” lanjutnya.
Menurut Pak Ribut, terdapat tujuh air terjun di wilayah Dolok Merawan, dan Sampuran Widuri adalah yang paling besar. “Kalau Silio-lio itu mata air. Tapi kalau Sampuran Widuri, sayangnya itu air limbah sekarang,” ucapnya dengan nada kecewa.
Namun cerita indah itu tak bertahan lama. Seiring waktu, pembangunan rumah yang tidak terkendali menyebabkan debit air Silio-lio menyusut drastis. “Dulu deras kali airnya. Sekarang... tinggal sedikit. Banyak rumah yang dibangun sembarangan,” katanya. Jalan menuju lokasi pun semakin sulit diakses, menyebabkan Silio-lio berhenti beroperasi sejak tahun 1990-an. "Terakhir berfungsi ya tahun segitu. Sekarang jalannya pun tak terurus."
Tahun 1978–1979, seorang polisi yang juga tetua masyarakat, Pak Parjak, membangun tangkahan bernama Padas, mengawali usaha pelestarian lokasi ini secara mandiri oleh warga. “Sayangnya sekarang masyarakat kurang peduli,” tambah Pak Ribut. Meski dana hibah BUMDes sempat dialokasikan untuk pembangunan akses jalan sepanjang 1,3 km menuju Silio-lio, proyek itu tak membuahkan hasil. “Desember 2024 kita coba bangun lagi setelah kejadian tragis itu, tapi tak ada dukungan dari warga. Sia-sia.” Tragedi yang dimaksud adalah kasus pembunuhan seorang anak sekolah pada tahun 2024 yang terjadi di sekitar lokasi air terjun. "Anak itu pacaran, katanya dibunuh karena cemburu. Sejak saat itu, masyarakat makin takut datang ke Silio-lio."
Kini, kedua air terjun itu tidak memiliki tiket masuk. Namun permasalahan baru muncul dari perilaku sebagian warga. “Masyarakat bandel, banyak yang ambil untung sendiri, rebutan lahan parkir, buang sampah sembarangan. Tak ada yang mau rawat sama-sama.”
Luas wilayah yang mencapai 250 hektar, Dusun V Bangun Rejo yang dulunya berada di Dolok Hilir Blok 26, memiliki potensi wisata yang luar biasa. Tapi tanpa kesadaran kolektif dan perawatan yang baik, sejarah dan keindahan alam seperti Silio-lio dan Sampuran Widuri bisa saja hanya tinggal cerita.
Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?
Mari kita jaga alam yang telah Tuhan anugerah kan kepada kita untuk tetap menjaga keseimbangan di bumi kita tercinta.