Khasiat
Berikut manfaat sambiloto untuk kesehatan tubuh.
Menurunkan Kadar Gula Darah Tubuh. Berdasarkan banyak penelitian, sambiloto dapat menurunkan kadar gula dalam darah dengan cara meningkatkan penggunaan gula pada otot tubuh. Selain itu, antioksidan dalam sambiloto dapat mencegah kerusakan sel beta pankreas penghasil insulin, yaitu hormon yang meregulasi kadar gula dalam darah (Saputra, 2021).
Meningkatkan Sistem Imun Tubuh. Sambiloto dapat meningkatkan jumlah sel darah putih dan antibodi bagi tubuh sehingga menaikkan pertahanan tubuh dalam menghadapi berbagai penyakit. Selain itu, sambiloto juga membantu menghambat pertumbuhan virus dan bakteri sehingga dapat mencegah dan mengobati infeksi (Churiyah et al., 2015; Rajanna et al., 2021).
Mencegah Hipertensi. Kandungan flavonoid dan fenolik dalam sambiloto memiliki aktivitas vasodilatasi, yaitu pelebaran pembuluh darah dalam tubuh. Hal ini dapat membantu memperlancar peredaran darah dan menurunkan tekanan darah tubuh (Trilestari et al., 2015)
Melindungi Saluran Pencernaan. Studi menyatakan bahwa sambiloto dapat meningkatkan pH lambung dan produksi mukosa dalam lambung sehingga dapat melindungi tubuh dari asam lambung. Sambiloto juga mampu membantu mengatasi ulkus peptik yang diakibatkan oleh obat-obatan seperti aspirin (HMPC (Commitee on Herbal Medicinal Products), 2014).
Kandungan
Tanaman herbal ini memiliki kandungan antivirus, anti peradangan, dan antioksidan dari beberapa zat ini:
Andrografolid. Ini adalah komponen utama sambiloto pada semua bagian tanaman. Senyawa ini bersifat analgesik, antidiabetes, antioksidan, dan antikanker.
Tanin. Senyawa ini termasuk ke dalam kategori polifenol pada daun dan kulit batang sambiloto.
Flavonoid. Zat ini bekerja sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas dalam tubuh.
Terpenoid. Senyawa ini bersifat antiviral, antibakteri, antiinflamasi, dan antikanker.
Saponin. Bersifat antioksidan, antimikroba, antivirus, dan antikanker.
Cara mengolah
Resep Racikan Jamu Sambiloto
Bahan
Sambiloto kering 10 gram
Daun Kumis Kucing 30 gram
Batang Brotowali 1 jari
Air 3 gelas
Langkah Memuat
Cuci bersih semua bahan
Rebus seluruh bahan hingga tersisa setengahnya
Saring rebusan sehingga didapatkan airnya saja
Tunggu hingga dingin atau masukkan rebusan ke dalam kulkas sehingga dapat mengurangi rasa pahit sambiloto
Racikan jamu sambiloto siap diminum
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013)
Cara budidaya
Perbanyakan tanaman sambiloto dapat dilakukan dengan stek dan biji.
Biji disemai dalam persemaian atau langsung pada polybag.
Bibit dipilih dari tanaman yang sehat serta tidak terserang hama dan penyakit.
Perbanyakan yang sering dilakukan adalah melalui bibit, karena bibit yang dihasilkan banyak, tekniknya sederhana dan mudah,
kekurangan perbanyakan menggunakan biji membutuhkan waktu yang lebih lama dan pertumbuhan bibit cenderung tidak seragam.
Dengan pemeliharaan seintensif mungkin sampai siap dipindahkan kelapangan atau siap dijual sekitar 2bulan setelah biji disemai. Selama pembibitan, bidang semai sebaiknya jangan tergenang air agar biji yang disemai tidak busuk (Syukur dan hernani, 2001).
Teknik budidaya tanaman sambiloto yaitu :
Bahan Tanaman. Tanaman sambiloto umumnya diperbanyak secara generatif, dengan menggunakan biji, meskipun dapat pula diperbanyak melalui stek. Perbanyakan tanaman melalui biji harus memperhatikan beberapa hal antara lain tingkat kemasakan biji.
Pembenihan. Pembenihan dari biji, dilakukan dengan cara merendam biji terlebih dahulu selama 24 jam dan kemudian dikeringkan sebelum disemaikan. Perkecambahan akan terjadi 7 hari kemudian, yakni setelah mempunyai 5 helai daun. Benih siap dipindahkan ke polibag kecil dengan media tanam campuran dari tanah, pasir dan pupuk kandang. Benih siap dipindah ke lapang setelah 21 hari. Benih dapat pula diperoleh dari setek, yang diambil dari 3 ruas pucuk tanaman yang sudah berumur 1 tahun. Benih setek siap ditanam di lapangan setelah berumur 15 hari. Benih dari setek umumnya akan lebih cepat berbunga dibandingkan benih dari biji. Pada saat di persemaian, benih
Pengolahan tanah. Pengolahan tanah dilakukan agar diperoleh tanah yang gembur dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam ± 30 cm. Tanah hendaknya dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk. Saluran drainase harus diperhatikan, terutama pada lahan yang datar jangan sampai terjadi genangan (drainase kurang baik). Pembuatan dan pemeliharaan drainase dimaksudkan untuk menghindari berkembangnya penyakit tanaman.
Penanaman. Untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang maksimal, jarak tanam yang dianjurkan adalah 40 x 50 cm, atau 30 x 40 cm, disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah. Penanaman dapat dilakukan pada bedengan maupun guludan, yang disesuaikan dengan kondisi lahan.
Penanaman di polybag. Selain ditanam di lapangan, dalam skala kecil sambiloto dapat pula ditanam di polibag besar, sedang maupun kecil sesuai kebutuhan. Media tanam yang dipakai dapat berupa campuran tanah dengan pupuk organik ditambah pula scam dengan perbandingan 3:1. Penanaman di polybag memiliki produktivitas lebih rendah daripada ditanam di lapangan.
Pemupukan. Pemupukan yang dianjurkan meliputi pupuk kandang, Urea, SP-36 dan KCl. Pupuk kandang diberikan seminggu sebelum tanam. Dosis pupuk kandang anjuran berkisar antara 10-20 ton/ha, disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah. Pada tanah yang miskin dan kurang gembur, dianjurkan untuk memberikan pupuk kandang lebih banyak. Dosis pupuk buatan yang dianjurkan adalah 100-200 kg Urea, 150 kg SP-36, 100-200 kg KCl per hektar. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam, sedang Urea diberikan dua kali, yakni pada umur 1 dan 2 bulan setelah tanam, masing-masing setengah dosis.
Pengendalian hama dan penyakit. Hama dan penyakit yang ditemukan menyerang pertanaman sambiloto adalah hama ulat/larva, pengendalian dilakukan secara fisik, mekanik yaitu dengan mengumpulkan ulat dan larva, lalu dimusnahkan atau dibakar. Penyakit yang biasa menyerang ialah Jamur patogen (sclerotum), menyebabkan tanaman layu. Gejala serangan terjadi kelayuan pada beberapa cabang, kemudian daun menjadi kuning kemerahan, serangan kemudian menyebar ke seluruh cabang sehingga kering dan berguguran. Pada serangan lanjut, terlihat adanya benang- benang putih meliputi permukaan batang dan cabang. Untuk menghindari serangan lebih banyak, tanaman yang terserang dimusnahkan beserta akarnya
Sumber :