Kecerobohan yang Berbuah Manis

Sofia Mahardianingtyas

Instagram : mahardiansofia

Ketika manusia berencana namun Allah yang berkuasa Saya memang deadliner. Saya memang hampir selalu terlambat dalam keseharian saya: datang ke kuliah, kerja, antar anak sekolah, dll. Tapi, sebenarnya saya selalu mencari tahu dan menyusun rencana perjalanan dengan sedetil-detilnya. Bahasa para ekonom: demi efisiensi. Yap! Begitupun dengan short trip ke Eropa ini.

Ini tentang perjalanan pulang ke tanah air. Semua orang dan bahkan diri saya sendiri pun sejujurnya merasa janggal dengan rute pulang. Ngapain yah dari Berlin terus ke Swiss balik Jerman lagi ke Frankfurt terbang lagi ke Madrid untuk terbang lagi ke London menuju Singapura baru ke Indonesia. Saya sih keukeuh karena kebetulan untuk rute begini ada 2 poin plus: harganya murah utk one way route: under 5jt IDR, dan lebih banyak negara yang bisa saya kunjungi dengan modal visa Schengen. Pas ya ndilalah Madrid baru menang kaaan.. Wah makin antusias deh. Suamiku, pas tau rencana rute yg agak ngawur itu kelihatannya sudah agak gimana gitu.. haha. Tapi akhirnya dilepas juga sayanya.

Kenapa harus ada Frankfurt? Satu, saya mau ketemu Siska, temen kuliah D3 STAN yang sedang kuliah disini bersama suami dan anaknya. Meskipun qodarullah kami gak bisa ketemu, Siska mendadak harus pulang ke Solo. Dua, saya ingin tahu lebih banyak kehidupan kota-kota di Jerman. Berlin sudah, Tubingen, Reutlingen, Freiburg, Stuttgart, udah dilewatin semua, kurang rasanya tanpa mampir Frankfurt. Lalu, siang itu setelah turun dari kereta cepat Swiss-Jerman namanya ICE, 3 jam saja, di Frankfurt Flughafen (airport) saya baru baca notif pesawat saya ke Madrid delay dua jam. Oke! Sepertinya ini pertanda, habis cek-in dan serahin koper, saya mau keluar bandara sebentar karena masih ada sekitar 3 jam sebelum boarding... Lumayan lah bisa cari masjid (ceritanya, saya lagi rindu masjid, apalagi ini Ramadhan) dan beli oleh-oleh apa gitu mumpung koper masih ada longgarnya.

Lalu, berhubung koneksi internet cuma ngandelin WiFi, setelah keluar dari bandara naik tram, di situlah petualangan bermula. Bukannya menemukan masjid yang tadinya cuma jarak 1 stasiun dari Flughafen, saya malah nyasar. Di stasiun itu saya nanya malah gak pada paham bahasa Inggris. oke! Yowes Aku ngasal aja lagi naik kereta wong beli tiket udh bebas kemana aja sepuasnya seharian, dan ternyata rute yang saya naikin justru menjauh dari pusat kota Frankfurt: menuju Weisbaden, melintasi sungai Rhein. Makin lama makin sepi. Mulai kuatir.

Lalu, saya turun di sebuah stasiun. Mencoba kembali ke arah Flughafen. Tak datang-datang keretanya, oh no. Jadwal online sedang terganggu. Setengah jam kereta arah sebaliknya tak kunjung tiba barulah saya berfikir beberapa menit mencoba memahami sebuah tabel berbahasa Jerman, saya simpulkan bahwa saat wiken begini, jadwal kereta tram direduksi banyak sekali. Selain jalur yang saya naikin tadi, bisa alternatif naik jurusan lain dan transit di stasiun utama kota Frankfurt: Hauptbanhoff. Oke. Itu dia datang, naiklah saya.

Lalu, 3 stasiun kereta melaju ke arah pusat kota, tiba-tiba saya lihat ada kaligrafi asma Allah: ITU DIA MASJIIIID. bergegas setengah meloncat saya turun dari tram yang terkenal tepat waktu itu. Lalu dengan sumringah, yeayy kan saya tadi keluar bandara mau cari masjid. Lumayan lah minimal bisa sholat dua rakaat. Dan pas udah sampe sana, sedikit bimbang Karena ini masjid Ahmadiyah. Entah apakah sama dengan Ahmadiyah yang kontroversial di Indonesia. Dan setelahnya saya baru ingat waduh, terus gimana sekarang balik ke bandara?

Kembali nanya orang. Mana yg lebih cepet, transit di pusat kota apa balik ke Weisbaden dan naik jurusan yang seharusnya. Mereka bingung. Saya memilih yang manapun yang datang duluan. Oke! Fix. Dan sayapun pada akhirnya telat. Sepanjang jalan sudah mengikhlaskan tiket "murah" itu sia-sia. Gapapa wes. Tapi, koper yang udah diserahin gimana? Disitu baju-baju kesukaan saya walaupun kotor. Dan ada sepatu kulit hak tinggi punya Rista. Auff, kalau terpaksa, baiklah akan diikhlaskan juga.

45 menit sebelum jadwal terbang, saya sampai di bandara Frankfurt. Lari-lari dengan sebuah koper cabin size, ransel dan tas kecil isi dokumen paspor dan tiket. Imigrasi cepat sekali, namun jarak dari stasiun sampai ke gate itu lumayan, dan pengendaliannya berlapis-lapis. Sudah lari-lari tapi butuh 10 menit untuk sampai di gate keberangkatan. Gak cuma saya, beberapa orang pun lari-lari. Setibanya disana, close. Udah ganti jadwal buat flight yang lain. Wajah sedikit kecewa sekaligus bingung, seorg pramugari maskapai yang seharusnya saya naiki bertanya, mau kemana? Madrid. Oh no. Kamu sudah ditinggal; tapi kan masih 35 menit lagi take off. Udah gak bisa, gate mu udh tutup (oke. Indonesia banget!! Masih mencoba ngrayu... Wkwkwkwk)

Lho, koper saya gimana, kebawa ke Madrid dong? No! It's still in this airport. Ask my colleague in check in counter.

Saya melangkah pelan-pelan menyadari apa yg terjadi. Sembari browsing next flight or train to Madrid, or even new ticket directly from Frankfurt to Jakarta. Di counter cek in, sepi. Ada seorang staf maskapai. Dia menolak layani saya. Katanya besok pagi saja jam 5. What? Terus gue kemana. Akhirnya, pecah! Kirim kabar ke suami, ditelpon lalu menangis.

Awalnya sedikit sebal sama saya. Begitu sepertinya. Kemudian, telepon ditutup dan beberapa menit telpon lagi: sudah kamu ga usah mikir macem-macem tenangkan diri beli makan dulu ya, nanti maghnya kumat. Tiket diurus besok pagi aja. Kami semua merindukan bunda begitu sabda mas Zaky suami saya.

Lalu saya teringat Siska sempat berkabar bahwa walaupun dia di solo tapi saya boleh mampir kalau perlu. Dan oke, beberapa menit kemudian suami Siska menjemput saya di Frankfurt Hauptbanhoff, sudah tengah malam. Khawatir kalo sendirian. Saya pun dipersilahkan menginap di flat Siska, dan ada juga teman yang lain, namun Karena sudah larut saya tak sempat berkenalan. Yang jelas, di rumah Siska saya disambut baik, bisa makan Indomie jumbo, nasi dan lauk yang khas Indonesia bahkan khas Jawa. MasyaAllah.... Terima kasih Siska dan suami. Tidur pun lelap sekali malam itu. Ketika pagi, berlanjutlah saya memikirkan solusi kepulangan: visa Schengen besok udah expired!

Selamat pagi Frankfurt. Begini rupanya terbukti sudah beberapa keinginan saya yang sempat terlintas begitu saja, rupanya menjadi nyata. Saya benar-benar menginap di rumah Siska. Beberapa jam tertidur di sofa, barulah saya sempat baca WA. Rupanya, ibu di Jakarta sudah tahu bahwa saya ketinggalan pesawat. Tadinya gak ngabarin Karena takut bikin kuatir. Oke. Sekalian kalo gitu, saya kabar-kabar sama kakak adik bahwa sedang hunting tiket. Btw... ini hari ultah anak sulungku, yang berapa hari lalu menangis tersedu minta bunda cepat pulang dari Jerman. Maaf nak, pelukan selamat ultah ditunda sehari ya mas Haqi.

Mencoba Traveloka, Skyscanner, Trip.com, Wego, tiket.com.... akhirnya saya putuskan membeli sebuah tiket. Gak pake mampir Madrid. Secepat mungkin sampe Jakarta, dengan harga yang masuk budget tentunya. Tak dinyana, saat proses pembayaran yang biasanya lancar-lancar saja, kali ini muncul notifikasi: insufficient fund. Astaghfirullah, pasti karena belum bayar tagihan CC bulan lalu. Oke. Meluncur ke BRI mobile. Unfortunately, gangguan entah kenapa. Mungkin Karena saya aksesnya dari luar negeri. Mulailah drama pontang panting bayar tiket dengan hubungi kakak adek semuanya. setengah jam, suamiku berhasil bayar tagihan CC lewat Tokopedia. Namun, ketika booking lagi, CC tak kunjung bisa dipake. What's so wrooooong.... Duh.

Mulailah skema nyobain pake CC kakak, debit card bbrp dicoba, sampe ibu pun mau turun tangan setor uang lewat kantor cabang di BRI dekat rumah. Maaf ibu, kakak adek, merepotkan semua. Hampir dua jam panik padahal jadwal target terbang makin dekat. Dan koper satu lagi nyangkut entah dimana. Akhirnya, suami pinjam CC temannya. Huhu.. makasih banyak.. Fix, sudah punya tiket pulang. Meskipun sampe Jakarta-nya mundur 6 jam. Better lah daripada rencana cadangan mampir Bangkok atau Kairo dulu. Haduh kok sempet-sempetnya mikir mau mampir mbolang lagi. Dasar tukang ngluyur.

13.30 waktu frankfurt, setelah beberapa kalimat penjelasan, petugas wanita maskapai SV tersenyum dan meyakinkan saya bahwa koper saya tidak hilang. Dia aman di sistem security-nya bandara. Dan akan ikut terbang sampai Jakarta. Lalu dicetaklah boarding pass saya. Sontak, kemecer rasanya. Hingga saya terduduk di kursi tunggu di antara puluhan orang berbahasa entah Arab atau Turkish

14.15 waktu Frankfurt

20 langkah menuju gate Saudi Airlines, saya bergabung dengan beberapa orang pria dalam mushola, sholat Dzuhur jama ashar. Denger adzan dan suasana dalam musola bandara itu, adem maknyes. Segala kekaguman tentang ganteng cantiknya kota dan fisik orang Eropa mulai tergantikan dengan pengingat, di manapun saya adalah muslimah. Ini rumah ibadah kami, ini pedoman kami, ini agama kami. Saya, muslim. Baik di Indonesia sebagai mayoritas ataupun di Eropa sebagai minoritas. Di manapun itu adalah bumi ciptaan Allah.

22.53 pesawat Saudi Airlines mendarat sempurna di bandara King Abdul Aziz Jeddah setelah setengah jam tanpa henti jamaah umroh dari Jerman itu memuji-muji.

"Labbaik allahumma labbaik.. labbaika laaa syarika laka labbaik. Innal hamdan wanikmata, laka walmulk laa syariikalak".

Awalnya saya diam sembari buka laptop nyicil ngerjain tugas. Lama-lama sayup-sayup saya turut larut dalam bacaan itu. Mengenang Desember 2016. Tapi kali ini, mereka lebih syahdu mungkin Karena lebih banyak rombongannya.

Roda pesawat menyentuh tanah. Mereka bertakbir Allahu akbar!!! Salah seorang bahkan bertepuk tangan. Ya Allah, saya terharu dan menangis. Assalamualaikum Saudi Arabia.

20 detik sebelum dipersilahkan berdiri, saya pun merobek kertas dan menuliskan sesuatu. Sebaris kalimat doa. Saya serahkan pada seorang jamaah wanita yang sempat ngobrol. Anak kami sama-sama tiga, 2 lelaki 1 perempuan. Ya ukhti. Please read my prayer when you arrived in Ka'bah, Makkah. Dia tersenyum manis. Syukron.

Dan disinilah saya sekarang. Lounge Alfursan bandara Jeddah bersama seorang teman baru kenal yang naik rute yang sama. Alhamdulillah diajak masuk lounge. Bisa duduk nyaman di sofa, toilet yg (ALhamdulillah akhirnya ada spreyer, bukan tisu doaaang), mushola, makanan dan jajanan prasmanan buat sahur, dan satu lagi: Air zamzam! (Harus bawa pulang niiih sebotol buat suami dan anak-anak)

Ini bukan pembelaan atas kecerobohan saya. Tapi, meskipun gak tau persisnya, saya sudah feeling saat meninggalkan bandara, bahwa niat saya mencari masjid akan dinilai oleh Allah. Dan inilah yang saya peroleh: mampir Jeddah, nitip doa pada jamaah umroh, pesawat yang jelas tanpa kececer-cecer dan lounge yang nyaman untuk sekitar 5 jam. Kata suami, uang bisa dicari lagi, tapi yg lebih berharga saya segera pulang untuk semua orang tersayang.

Seperti doa yang sempat terselip tadi, semoga Allah memanggil saya kesini, ke Ka'bah (lagi) tidak hanya ke Jeddah, bersama suami dan anak-anak. dengan berkah Ramadhan di negeri kanjeng nabi SAW ini, ya Allah panggil kami ya Allah. Aamiin allahumma aamiin.

Jeddah, 29 mei 2018

01.52 waktu Arab Saudi, menunggu connecting flight ke Jakarta 2 jam lagi.