Webinar Applied Agriculture Series 4 “Perkembangan Hama dan Penyakit Penting Tanaman Pertanian di Sulawesi Selatan”
25 November 2021
Lokasi: Webinar (Politani Pangkep)
Webinar Applied Agriculture Series 4 “Perkembangan Hama dan Penyakit Penting Tanaman Pertanian di Sulawesi Selatan”
25 November 2021
Lokasi: Webinar (Politani Pangkep)
Kegiatan webinar Applied Agriculture 4 dilaksanakan oleh mahasiswa TPTH sebagai Panitia dan Peserta. Kegiatan ini dengan tema “Perkembangan Hama dan Penyakit Penting Tanaman Pertanian di Sulawesi Selatan”. Mahasiswa yang bertindak sebagai Moderator adalah Asdar (Mahasiswa Prodi PPK angkatan 34) dan Elvira (Prodi BTP angkatan 34) sebagai Master of Ceremony (MC).
Produk kebun yang aman dan berdaya saing untuk dikonsumsi sudah menjadi kebutuhan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya tuntutan gaya hidup sehat dan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan aman. Demikian juga memasuki pasar ekspor membutuhkan produk berkualitas tinggi yang aman untuk dikonsumsi. Dirjen Hortikultura menjelaskan bahwa Dirjen Hortikultura mendukung produksi sayuran, buah-buahan dan tanaman obat yang sehat dan ramah lingkungan. Untuk pasar lokal tentunya kami mengupayakan kualitas yang tinggi dan aman dikonsumsi dengan harga yang terjangkau oleh konsumen. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, penerapan sistem pertanian ekologis pada sistem hortikultura merupakan upaya yang tepat. Dalam pertanian organik, tidak hanya pestisida sintetik yang digunakan untuk mengendalikan hama tanaman (OPT). Jadi ada pupuk yang bisa dibuat sendiri, jadi lebih murah, terjangkau dan sehat untuk ekosistem pertanian. Ini sering terjadi di bawah instruksi Menteri Pertanian.
Perlakuan OPT dapat dilakukan secara preventif sejak awal pengolahan tanah. Yaitu dengan menambahkan pupuk organik dan mikroba yang berguna sebagai pengurai dan antagonis dalam melawan hama dan penyakit. Implementasi pertanian ekologis tentunya membutuhkan dukungan terhadap pertanian yang ramah lingkungan, terutama dalam kaitannya dengan hama. Agens Pengendali Hayati (APH) merupakan alternatif dari pestisida sintetik. Jenis APH dapat berperan sebagai entomopatogen, antagonis dan insektisida tanaman. PHT mendorong petani untuk mengembangkan klinik PHT yang terintegrasi dengan pertanian organik oleh petani tingkat daerah penghasil APH tingkat petani. Selain itu, klinik PHT juga berfungsi sebagai wadah pertemuan dan diskusi para petani. Tujuannya untuk memecahkan berbagai masalah yang berkaitan dengan proses bercocok tanam di lahan petani.
Klinik PHT telah dilaksanakan di salah satu daerah di Sulawesi Selatan tepatnya di Desa Bontotangnga, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, kegiatan ini sangat kondusif untuk produksi APH dan eksis. Narasumber memproduksi berbagai jenis APH Trichodema Murni, Trichocompos, Pseudomonas fluorescens, Plant Grow-Promoting Rhizobacteria (PGPR), Insektisida Hayati. Selain itu, Perseroan juga memproduksi berbagai pupuk organik, termasuk pupuk organik cair yang berbahan dasar kotoran hewan. Produk APH dari kliniknya banyak digunakan petani sebagai pengganti pestisida sintetik. Dari segi finansial relatif lebih murah dan ramah lingkungan, selain itu produk ini aman untuk dikonsumsi dan relatif lebih lama dalam penyimpanan. Untuk mendorong kemajuan dan keberlangsungan klinik PHT, Unit Pelaksana Teknis Daerah Badan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BTPPH) Provinsi Sulawesi Selatan juga akan berperan melalui pendampingan dan pembinaan teknis.
Secara khusus, penerapan fasilitas fasilitasi pertanian ekologis dan memberikan saran dan dukungan dalam mendirikan klinik IPM dan mengelola APH, terutama dalam menyediakan elemen dan memantau kualitas APH yang mereka hasilkan. Kliniknya membuat APH dan pupuk organik yang ia hasilkan menjadi sosial dengan menyebarkannya di kebunnya atau di kelompoknya untuk menjadi contoh bagi petani lainnya. Permintaan daerah pedesaan juga menyangkut budidaya tanaman sayuran organik. Direktur Hortikultura menyatakan dukungannya terhadap pengembangan APH. Dalam hal pengendalian hama dalam kebijakan perlindungan taman, teknik pengendalian ekologis harus digunakan. Antara lain penggunaan APH dan pestisida atau insektisida OPT spesifik lokasi. Untuk mengembangkan APH perlu dilakukan penguatan kelembagaan pertanian, misalnya melalui klinik PHT, dan Dirjen Hortikultura akan terus memberikan dukungan berupa sarana dan bimbingan teknis.