ADVERTISEMENT
Kejanggalan Motor MBG
Sebenarnya Ada Dugaan Markup di Motor MBG, di Alibaba Ada Motor Mirip Dengan Motor Listrik MBG, Harganya 8-10 Juta, Tapi Disebut Harga Motor MBG 40 Juta Lebih Lho!
Rabu, 15 April 2026 - 20:49 WIB
Motor yang diduga mirip (Aset: Alibaba)
Motor listrik untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan karena disebut mirip dengan produk China, motor trail listrik EMMO JVX GT dikaitkan dengan Kollter ES1-X PRO yang harganya jauh lebih murah. Dilihat dari laman marketplace Alibaba, Kollter ES1-X PRO dibanderol Rp 10 jutaan untuk pembelian satu unit, dan Rp 8 jutaan jika membeli dua unit.
Mobil Listrik MBG (Aset: EMMO)
ADVERTISEMENT
Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik) Hendro Sutono mengatakan bahwa praktik rebranding dari produk white label China memang sudah jamak terjadi, motor buatan China diproduksi tanpa merek lalu di-branding oleh perusahaan lain. "Praktik umum," kata Hendro, menambahkan bahwa motor listrik lokal murni rancang bangun Indonesia antara lain GESITS, MAKA, dan QUEST.
Artinya, banyak motor listrik di Indonesia yang merupakan hasil rebranding dari motor listrik white label China, meski beberapa sudah mulai diproduksi lokal. "Tapi kemudian ada beberapa yang mulai diproduksi lokal, ada komponen yang mulai dibuat lokal dari produksi rangka, body, velg," jelas Hendro.
Hendro mengatakan harga di platform business-to-business (B2B) seperti Alibaba yang hanya Rp 8 jutaan adalah harga pabrik eksportir China, dalam kondisi Free on Board (FOB) atau Ex Works (EXW). Artinya harga tersebut belum termasuk ongkos pengiriman ke Indonesia, asuransi kargo, dan kewajiban perpajakan yang berlaku.
"Mari kita hitung dengan angka, ambil asumsi harga pabrik China Rp 10 juta per unit, begitu barang keluar dari pelabuhan China menuju Indonesia, ongkos freight dan asuransi internasional untuk kargo sebesar ini bisa menambah 5-10%, nilai Cost, Insurance, Freight (CIF) sudah menjadi sekitar Rp 10,5-11 juta," kata Hendro dalam tulisannya.
ADVERTISEMENT
Di atas nilai CIF itu, importir yang menggunakan Angka Pengenal Importir (API) wajib membayar Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 2,5% dari nilai impor, ditambah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor sebesar 12% dari nilai pabean. Belum termasuk bea masuk yang tarifnya bervariasi tergantung kode Harmonized System (HS Code) dan perjanjian dagang yang berlaku.
Setelah kewajiban impor selesai, barang tersebut belum sampai ke pabrik perakitan lokal, masih ada biaya pengangkutan domestik dari pelabuhan ke gudang, biaya pengurusan dokumen, dan biaya logistik. "Di pabrik Indonesia, komponen-komponen itu kemudian dirakit, upah tenaga kerja, listrik, air, sewa atau depresiasi bangunan, biaya quality control, pengujian, sertifikasi, semua menambah lapisan biaya di atas harga komponen impor tadi," jelas Hendro.
Ditambah lagi margin distributor, menurut Hendro pihak distributor memiliki biaya operasional, kewajiban pajak badan, dan margin keuntungan yang sah secara hukum. "Ketika semua lapisan itu dijumlahkan, motor yang komponen dasarnya bernilai Rp 10 juta di platform China sangat mungkin tiba di tangan konsumen Indonesia dengan harga Rp 40 juta lebih, bahkan tanpa ada satu sen pun yang di-mark-up secara tidak wajar," katanya.
Hendro menjelaskan bahwa produsen kendaraan khususnya motor listrik China pada umumnya beroperasi layaknya penjahit, mereka tidak menjual produk melainkan kapasitas produksi. "Platform seperti Alibaba adalah etalase Original Equipment Manufacturer (OEM) dan Original Design Manufacturer (ODM) yang menawarkan platform dasar dengan harga minimum," ujarnya.
Spesifikasi sesungguhnya seperti kapasitas baterai, kualitas sel, rating motor, standar pengkabelan, sistem pengereman, hingga standar uji keselamatan sepenuhnya ditentukan oleh pemesan. Hendro menambahkan bahwa harga Rp 8 juta yang terpampang di Alibaba mungkin menggunakan sel baterai kelas terendah dengan garansi tiga bulan, motor 1.000 watt tanpa proteksi termal, dan rangka tanpa uji beban.
"Ini bukan pembelaan untuk Emmo, ini adalah cara kerja industri manufaktur global yang sudah berlangsung puluhan tahun, sepatu yang dijual di mal seharga Rp 800 ribu dan sepatu Rp 80 ribu di pasar bisa saja keluar dari pabrik yang sama di Jawa Tengah, bedanya ada di spesifikasi bahan, standar jahitan, dan kontrol kualitas yang dipesan oleh merek masing-masing," kata Hendro.
Sebagai informasi tambahan, motor listrik MBG diketahui punya banderol Rp 42 juta, Kepala BGN Dadan Hindayana mengungkap bahwa harga motor listrik itu didapat dengan banderol lebih murah dari harga pasaran. "Harga pasaran Rp 52 juta, kita beli kalau nggak salah Rp 42 juta, di bawah harga pasaran," jelas Dadan.