ADVERTISEMENT
ITB Minta Maaf
Usai Lagu 'Erika' yang dinilai melecehkan perempuan, ITB Minta Maaf KAerna lagu itu dibawa oleh OSD yang dibawah ITB.
Refy Arianto, Dewi Lestari, Ade Kurniawan
Kamis, 16 April 2026 - 20:49 WIB
Kata Kata yang melecehkan perempuan (Aset: X/ iPoopBased)
ADVERTISEMENT
Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi sorotan setelah beredarnya potongan video penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) dari Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB, dalam video tersebut mahasiswa membawakan lagu berjudul "Erika" yang dinilai mengandung lirik bernuansa pelecehan terhadap perempuan. OSD merupakan unit kegiatan di bawah HMT-ITB yang telah berdiri sejak 1970-an, sementara lagu "Erika" diketahui dibuat pada 1980-an.
Setelah video tersebut viral, HMT-ITB menyampaikan permintaan maaf kepada publik melalui pernyataan resmi di situs web ITB. "Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik, kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan," tulis pernyataan resmi.
HMT-ITB juga menegaskan bahwa penampilan lagu tersebut merupakan kelalaian karena tidak menyesuaikan dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan. "Kami dengan tegas mengakui bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik dan organisasi kemahasiswaan," sambung pernyataan itu.
Sebagai tindak lanjut, pihak ITB berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menurunkan (take down) konten video dan audio dari kanal resmi HMT-ITB. Termasuk video lama yang kembali beredar di masyarakat, agar tidak menimbulkan keresahan lebih lanjut.
Dalam pernyataan resmi, HMT-ITB menyebut telah melakukan evaluasi internal secara komprehensif terhadap konten, pelaksanaan, serta pengawasan kegiatan. "Kami melakukan evaluasi internal secara komprehensif terhadap konten, pelaksanaan, serta pengawasan kegiatan atas lagu terkait dan lagu yang mengandung unsur serupa," tulis pernyataan itu.
ADVERTISEMENT
Secara terpisah, ITB melalui Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Nurlaela Arief, menegaskan komitmen kampus dalam membangun lingkungan akademik yang aman dan bermartabat. "Menyikapi beredarnya konten yang menimbulkan keresahan publik, ITB memandang peristiwa ini sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya kampus yang menjunjung etika," ujarnya.
Nurlaela menambahkan bahwa HMT-ITB telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kegiatan organisasi. "Sebagai tindak lanjut, HMT-ITB telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menurunkan konten video dan audio dari kanal resmi organisasi serta akun-akun terafiliasi," ungkapnya.
ITB juga menegaskan akan memperkuat pembinaan mahasiswa melalui kampanye etika dan literasi media sosial. Kampanye ini menekankan pentingnya sikap sopan, hormat, tanggung jawab, dan kedewasaan mahasiswa dalam berpenampilan maupun berkomunikasi di lingkungan akademik.
Selain itu, ITB mengembangkan kampanye literasi media sosial yang mendorong mahasiswa untuk bersikap kritis, santun, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Langkah ini dilakukan untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.
Dalam upaya pencegahan, ITB juga membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK), satgas ini berperan dalam sosialisasi, pencegahan, serta menyediakan kanal pelaporan bagi warga kampus. Dengan adanya satgas ini, ITB berupaya menghadirkan ekosistem pendidikan yang aman dan bermartabat.
"Melalui penguatan etika, pembinaan karakter, serta sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang terus diperkuat, ITB berupaya menghadirkan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sehat secara sosial, kuat secara etika, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan," pungkas Nurlaela.