Makro
Makro
Makro yang dipengaruhi pemerintah kini hadir dikanal toroida.
Scroll ke bawah untuk membaca berita
PDB Kita, Tekor Atau Rekor?
BPS Mengklaim angka pertembuhan ekonomi di Indonesia.
Ade Kurniawan - Kamis, 7 Mei 2026 - 20:53 WIB
PDB Kita, Tekor Atau Rekor? (Aset: Dere/ toroida)
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Badan Pusat Statistik merilis angka pertumbuhan ekonomi pada periode Januari-Maret tahun ini mencapai 5,61 persen secara tahunan, dengan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan angka pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun ini menjadi yang tertinggi sejak 2021.
Motor utama pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 adalah konsumsi masyarakat, dengan BPS menilai belanja rumah tangga memiliki andil 54,36 persen dan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen secara tahunan, sementara faktor pendorong terbesar kedua adalah pembentukan modal tetap bruto atau investasi dengan andil 28,29 persen yang tumbuh 5,96 persen pada periode tersebut.
Beberapa penyebab kenaikan konsumsi rumah tangga pada awal tahun ini tercatat dalam publikasi BPS, di antaranya meningkatnya kegiatan wisata selama liburan serta belanja restoran dan hotel terutama pada Ramadan dan Idul Fitri, dengan hari raya juga memicu belanja transportasi yang terlihat dari meningkatnya jumlah penumpang kereta, kapal, dan pesawat.
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Untuk PMTB atau investasi, BPS menyebutkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada subkomponen kendaraan bermotor dengan kenaikan 12,39 persen, sementara subkomponen mesin dan perlengkapan tumbuh 10,78 persen yang didorong kenaikan impor barang modal jenis mesin serta belanja pemerintah untuk peralatan dan mesin, dengan pertumbuhan PMTB yang sejalan dengan peningkatan realisasi investasi 7,22 persen.
Namun kenyataan ini, menurut para ekonom dan analis, kontras dengan apa yang terjadi di lapangan, karena sepanjang tahun ini rumah tangga dan dunia usaha mengeluhkan melemahnya daya beli serta kenaikan harga barang sehingga mereka mengerem belanja, dan akibat kondisi tersebut asosiasi pengusaha menyatakan para pebisnis mengerem perluasan usaha dan urung menambah jumlah tenaga kerja.
Fenomena lesunya konsumsi tercermin pada Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia, di mana pada Maret 2026 indeks tersebut berada di level 122,9 basis point, merosot dibandingkan indeks pada Januari 2026 yang berada di angka 127 basis point, dengan naik-turunnya indeks ini mencerminkan tingkat optimisme dan pesimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta prospek enam bulan ke depan.
Kelesuan industri juga tergambar pada data indeks manajer pembelian atau PMI yang dirilis S&P Global, yang menyebutkan PMI Indonesia turun dari 53,8 pada Februari menjadi 50,1 pada Maret 2026 yang mencerminkan penurunan tingkat ekspansi, dengan penyebabnya antara lain kenaikan biaya energi yang memberatkan beban operasi perusahaan dan lesunya daya beli konsumen, sehingga kontrasnya angka yang diklaim BPS dengan pandangan para analis memunculkan pertanyaan tentang kebenaran tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut.
- Komentar