Scroll ke bawah untuk membaca berita
Scroll ke bawah untuk membaca berita
4 Jurnalis diculik Israel
Total ada 4 Jurnalis yang diculik Israel, terdiri dari dua jurnalis Republika satu jurnalis TEMPO dan satu jurnalis iNews
Selasa, 19 Mei 2026 - 13:32 WIB
4 Jurnalis diculik Israel (Global Sumut Flotilla)
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Ketegangan di kawasan Mediterania Timur kembali meningkat setelah militer Israel mencegat kapal-kapal misi kemanusiaan yang tengah berlayar menuju Jalur Gaza, dan menahan sejumlah aktivis internasional yang berada di dalamnya. Insiden ini terjadi pada Senin (18/5/2026), ketika kapal-kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) dicegat di perairan sekitar Siprus, Mediterania Timur.
Dalam insiden tersebut, sembilan warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan turut menjadi korban penahanan saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026. Dari sembilan WNI tersebut, empat di antaranya merupakan jurnalis media nasional, termasuk dua jurnalis Republika yakni Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody), satu jurnalis Tempo, dan satu jurnalis iNews.
Pilihan Editor: Oh, Hati Hati Trump!
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Wakil Pimpinan Redaksi Republika, Stevy Maradona, mengungkapkan bahwa sejak sekitar pukul tiga hingga empat dini hari, baik Abeng maupun Ody telah mengonfirmasi bahwa mereka sudah berada di perairan internasional. "Jadi dari tim Global Sumud Flotilla internasionalnya bilang kalau sudah di perairan internasional di Laut Mediterania, itu besar kemungkinan kapal Israel bisa intercept lebih cepat," kata Stevy.
Sekitar pukul 11.00 WIB, kapal yang ditumpangi Abeng memunculkan peringatan adanya kapal perang yang melintas di dekat mereka. Kemudian pada pukul 14.00 WIB, Abeng mengirimkan video SOS yang berisi narasi bahwa ia berada dalam posisi ditahan otoritas Israel, dan meminta pemerintah untuk membebaskannya.
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Video SOS tersebut merupakan video protokol yang memang harus dibuat oleh para peserta atau penumpang GSF dalam menghadapi situasi rawan. "Oke, Abengnya sudah kirim video SOS bahwa ada kemungkinan, karena sudah melihat ada perahu mendekat maupun apa, jadi dia kirim video SOS. Jadi memang ada protokolnya yang sudah dilatih dari Global Sumud Flotilla Internasional," kata Stevy.
Stevy menyatakan bahwa pihaknya belum menerima video SOS dari Ody maupun dari jurnalis lain bernama Andre dan tiga orang lainnya. "Yang kita tunggu justru yang dari Ody, sama yang dari Andre, sama yang dari tiga orang lagi, karena sampai sekarang kita belum dapat video SOS-nya mereka," ucap Stevy.
Berdasarkan informasi sementara, dari sembilan WNI tersebut, lima orang dikonfirmasi telah ditangkap dan berada di dua kapal berbeda, yakni Kapal Borales dan Osgurluk. Sementara empat delegasi lainnya disebut masih berada dalam pelayaran menggunakan Kapal Zapyro dan Kasr-1.
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Di jaringan grup WhatsApp para peserta GSF, beredar pesan agar semua pihak mengambil sikap untuk memastikan keselamatan mereka. "Contact your embassies, consulate, elected officials, and governments. Demand urgent intervention to protect the participants, crew, and volunteers. Confirm their safety, secure legal and consular access, and uphold their rights," kata Stevy membacakan pesan dari grup tersebut.
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia menyatakan kecaman keras atas tindakan militer Israel tersebut. "Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," kata Jubir Kemlu, Yvonne Mewengkang.
Kemlu mendata ada 10 kapal yang ditangkap, antara lain Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Kemlu mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional.
Saat ini, Kemlu berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Aman untuk menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan para WNI. "Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat," tutup Yvonne.
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta juga mengecam tindakan Israel yang disebut menangkap sekitar 100 aktivis dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza, termasuk dua jurnalis Republika. "Saya mengecam ulah Israel ini. Saya mendukung pemerintah RI lebih tegas untuk mendesak DK PBB dan AS melobi Israel agar membebaskan para aktivis dan jurnalis Republika tersebut," kata Sukamta.
Ketua Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI, Sudarnoto Abdul Hakim, turut mengecam keras peristiwa tersebut. "Atas nama MUI saya ingin menegaskan bahwa tindakan Israel yang menghalangi langkah kemanusiaan melalui kapal Sumud Flotilla termasuk penculikan wartawan Republika yang ikut serta dalam misi ini adalah tindakan yang memalukan," kata Sudarnoto. ●
- Komentar