Ekopol (Ekonomi Politik)
Ekopol (Ekonomi Politik)
Info Ekonomi yang berdasarkan politik.
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Pola Klarifikasi
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa Klarifikasi Soal Pernyataannya Mau Pajaki Selat Malaka Karena Malu Usai Singapura dan Malaysia Kompak Tolak Ide Purbaya, Sungguh Terlihat Pola Klarifikasi dan Ini Berlaku Untuk Semua Pejabat.
Ade Kurniawan - Sabtu, 25 April 2026 - 19:26 WIB
Pola Klarifikasi (Aset: Dere/ toroida, Dewi Lestari/ toroida)
Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai ide memajaki kapal yang melewati Selat Malaka mendapat penolakan dari Singapura dan Malaysia, ide tersebut merujuk pada skema yang diterapkan Iran di Selat Hormuz.
Purbaya menjelaskan Indonesia sejatinya memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dan energi global, namun hal ini tidak dimanfaatkan untuk meraup keuntungan dari pematokan harga ketika kapal akan melewati jalur strategis di Selat Malaka.
Purbaya menyebut jika skema di Selat Hormuz diterapkan di Selat Malaka, Indonesia bisa memperoleh tambahan pemasukan yang cukup besar, pendapatan itu bisa dibagi untuk tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
"Kapal lewat Selat Malaka gak kita charge ya, sekarang Iran meng-charge kapal lewat Selat Hormuz, kalau kita bagi tiga Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan kan," ujar Purbaya saat acara Simposium PT SMI di Hotel Ayana, Jakarta, Rabu (22/4).
Purbaya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (27/3/2026). (Aset: Dewi Lestari/toroida)
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Respons Singapura
Singapura menolak wacana Indonesia untuk mengenakan pajak bagi kapal yang melintas di Selat Malaka, kedua negara menegaskan jalur pelayaran tersebut harus tetap bebas dilalui tanpa pungutan apapun.
Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan hak transit merupakan prinsip yang berlaku untuk semua pihak dan tidak boleh dibatasi, pernyataan itu disampaikan dalam sebuah wawancara di acara CNBC di Singapura, dikutip pada Jumat (24/4).
"Hak transit dijamin untuk semua orang. Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk menutup, mencegat, atau mengenakan tarif di wilayah sekitar kami," kata Balakrishnan.
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Respons Malaysia Juga Sama
Tidak Hanya Singapura Malaysia Juga Menolak Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menilai keputusan terkait Selat Malaka tidak bisa diambil sepihak, ia menekankan negara-negara di kawasan selama ini mengedepankan pendekatan berbasis konsensus dalam menjaga keamanan maritim.
Menurut Mohamad Hasan, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Thailand sudah memiliki kerja sama yang kuat termasuk patroli bersama untuk menjaga keamanan jalur pelayaran, karena itu setiap kebijakan baru harus disepakati bersama sejalan dengan prinsip konsensus yang dijunjung di kawasan ASEAN.
Purbaya di Acara Media Briefing di BPPK Purnawan Kampus, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026). (Aset: Dewi Lestari/toroida)
Scroll ke bawah untuk membaca berita
Purbaya Klarifikasi
Purbaya kemudian mengklarifikasi pernyataannya terkait ide pengenaan pajak terhadap kapal yang melintasi perairan Selat Malaka, ia mengatakan pernyataan itu tidak serius.
"Jadi itu konteksnya bukan konteks serius. Kita belum pernah merencanakan (informasi itu) untuk mengutip," kata Purbaya dalam Media Briefing di BPPK Purnawarman Kampus, Jakarta Selatan, Jumat (24/4). "Kan saya dulu bekas Deputi Menteri bagian Menko Maritim yang dulu maritim dan energi. Jadi saya tahu betul peraturannya," imbuhnya.
Purbaya menjelaskan karena Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS), pemerintah tidak bisa menarik biaya dari kapal yang melintas, hal ini karena ada prinsip freedom of navigation atau kebebasan navigasi yang harus dihormati. Meski begitu, pemerintah tetap bisa mencari manfaat ekonomi dengan menyediakan berbagai layanan untuk kapal yang lewat tanpa melanggar aturan internasional.
- Komentar