ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Metana vs Co₂
Apakah Anda Tahu Bahwa Sampah Yang Anda Buang Sekarang Berdampak Besar? Sampah Anda Bisa Menjadi Dalang Global Warming atau Pemanasan Global.
Oleh Dewi Lestari, Dewasta, Refy Arianto, Ade Kurniawan
1 Mei 2026 | 19:01 WIB
Metana dan Gas Lainnya. (Aset: wikipedia.org)
ADVERTISEMENT
1. Ancaman Tersembunyi di Balik Tumpukan Sampah
Di balik tumpukan sampah yang menggunung di tempat pembuangan akhir (TPA), tersembunyi ancaman serius yang jarang disadari masyarakat, yaitu gas metana (CH₄). Gas ini dihasilkan dari proses pembusukan limbah organik dalam kondisi anaerob atau tanpa oksigen, sehingga keberadaannya tidak terlihat secara kasat mata namun menyimpan potensi bahaya yang sangat besar.
Meski tidak terlihat, metana memiliki potensi ledakan yang sangat tinggi dan berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Oleh karena itu, gas metana sering dijuluki sebagai "bom waktu" dari tumpukan sampah yang sewaktu-waktu dapat memicu bencana besar jika tidak ditangani dengan tepat.
ADVERTISEMENT
2. Apa Itu Gas Metana?
Gas metana adalah senyawa hidrokarbon yang dapat terbentuk secara alami maupun melalui aktivitas manusia, termasuk pengelolaan sampah. Dalam konteks TPA, metana terbentuk ketika sampah organik seperti sisa makanan, daun, atau kertas membusuk di lingkungan yang minim oksigen melalui proses yang disebut degradasi anaerob.
Menurut United States Environmental Protection Agency (EPA), gas metana memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO₂) dalam jangka waktu 100 tahun. Hal ini berarti meskipun jumlah metana lebih kecil dibandingkan CO₂, dampak pemanasan yang ditimbulkannya jauh lebih dahsyat dan mengkhawatirkan.
3. Sumber Gas Metana dari Sampah
Gas metana dari TPA dihasilkan terutama oleh limbah organik yang tidak dikelola dengan baik, meliputi sisa makanan dan dapur rumah tangga, sampah taman dan daun-daunan, limbah industri makanan, serta kertas dan karton basah. Keempat jenis limbah tersebut menjadi bahan bakar utama bagi proses pembentukan metana yang berlangsung secara perlahan namun terus-menerus.
Di TPA terbuka atau open dumping, tumpukan sampah dibiarkan menumpuk tanpa pemilahan dan tanpa perlakuan khusus, sehingga gas metana yang dihasilkan dapat merembes ke permukaan tanah atau tertahan dalam kantong gas di bawah tumpukan. Kondisi ini sangat berbahaya karena gas yang terperangkap sewaktu-waktu dapat meledak jika terkena percikan api sekecil apapun.
ADVERTISEMENT
4. Metana sebagai Ancaman Ledakan dan Kebakaran
Kasus-kasus ledakan TPA akibat akumulasi metana sudah sering terjadi di berbagai negara, salah satunya tragedi TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, pada tahun 2005. Ketika itu, longsoran sampah disertai ledakan metana menewaskan lebih dari 140 jiwa dan menghancurkan dua kampung yang berada di sekitar lokasi TPA.
Ledakan terjadi karena gas metana yang terperangkap di dalam tumpukan sampah mencapai konsentrasi tinggi dan hanya membutuhkan percikan api kecil untuk memicu kebakaran besar. Dalam skala 100 tahun, satu ton metana menyebabkan pemanasan sekitar 28 kali lebih besar dibandingkan satu ton CO₂, menjadikannya salah satu gas rumah kaca paling berbahaya di dunia.
ADVERTISEMENT
5. Bantargebang: TPA Penghasil Metana Terbesar Kedua di Dunia
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bantargebang di Bekasi menempati posisi kedua sebagai lokasi sektor limbah dengan emisi gas metana terbesar di dunia, berdasarkan laporan terbaru Institut Emmett di Fakultas Hukum UCLA. Bantargebang menguarkan emisi metana sekitar 6,3 ton per jam, hanya kalah dari TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina, yang menghasilkan 7,6 ton metana per jam.
Data emisi metana ini diperoleh melalui satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025. Laporan berjudul Spotlight on the Top Methane Plumes in 2025: Landfills menegaskan bahwa TPA yang mengeluarkan 5 ton metana per jam selama setahun setara dampak pemanasannya dengan satu juta kendaraan SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 500 megawatt.
ADVERTISEMENT
6. Kapasitas Bantargebang yang Kian Melampaui Batas
Daya tampung fisik TPA Bantargebang akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional, mengingat beban hariannya yang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota dan kabupaten di Jakarta. Volume sampah yang masuk ke Bantargebang terus meningkat signifikan dari 5.653 ton per hari pada tahun 2014 hingga mencapai 7.734 ton per hari pada tahun 2024.
Secara administratif, operasional TPA Bantargebang tersisa hingga tahun 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama antara Pemprov Jakarta dengan Pemerintah Kota Bekasi yang menerima dana hibah sebesar Rp365 miliar per tahun dari APBD Jakarta. Pemerintah Provinsi Jakarta terus berupaya mengurangi beban TPST Bantargebang dengan mencegah sebanyak mungkin sampah berakhir di lokasi tersebut melalui berbagai program pengelolaan sampah terpadu.
Sampah Menumpuk di TPST Bantar Gebang, Kamis (12/2/2026). (Aset: KCM)
7. Langkah Nyata untuk Mencegah Bencana Metana
Gas metana bukan sekadar isu lingkungan, melainkan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu apabila kebiasaan buruk masyarakat tidak segera diubah, terutama perilaku membuang sampah sembarangan yang menjadi penyumbang terbesar volume sampah di TPA. Selain itu, beralih secara perlahan dari kendaraan berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik juga dapat berkontribusi dalam menekan emisi gas rumah kaca secara keseluruhan.
Langkah yang paling efektif dan dapat dimulai dari diri sendiri adalah menerapkan gerakan 3R, yaitu Reduce (mengurangi), Recycle (mendaur ulang), dan Reuse (menggunakan kembali), serta membuang sampah pada tempatnya sebagai budaya sehari-hari. Jadilah contoh yang baik di lingkungan sekitar, karena gerakan positif yang dimulai dari satu orang akan menular dan diikuti oleh orang-orang di sekitarnya, menciptakan efek FOMO yang bermakna demi kelestarian bumi. ●
Sumber: EPA, Institut Emmett UCLA, Carbon Mapper, Tempo.co
Artikel Ini Bagian dari MPIDMedia, Sesungguhnya Jurnalis toroida membuat artikel ini untuk MPIDMedia.
- Komentar