Candi Pari (Wikipedia, 2023)
Candi Pari (Wikipedia, 2023)
Pernahkah kamu membayangkan ada peninggalan Kerajaan Majapahit yang berdiri megah tidak jauh dari pusat semburan lumpur Lapindo? Itulah Candi Pari, sebuah candi bata merah yang menyimpan kisah peradaban masa lampau di Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Candi ini pertama kali ditemukan kembali pada masa kolonial Belanda, tepatnya pada 16 Oktober 1906, dan berdasarkan angka tahun 1293 Saka (1371 M) yang tertera di atas pintu gerbang, candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Terbuat dari bata merah dengan bagian pintu dan ambang atas dari batu andesit, Candi Pari berukuran sekitar 16,86 meter panjang, 14,10 meter lebar, dan 13,40 meter tinggi.
Bentuknya unik karena tidak terlalu tinggi, cenderung lebar, dan menampilkan arsitektur bercorak lokal Jawa dengan pengaruh budaya Campa (Vietnam/Kamboja) yang memperlihatkan hubungan lintas wilayah Asia Tenggara pada masa itu.
Pada masa lalu, Candi Pari diduga digunakan sebagai tempat pemujaan atau pendharmaan, kemungkinan untuk menghormati tokoh penting atau sebagai bagian dari ritual pertanian. Kini, fungsinya telah berubah menjadi objek wisata sejarah, situs edukatif, dan simbol pelestarian budaya. Candi ini juga menjadi sumber pembelajaran di sekolah-sekolah melalui pendekatan etnopedagogi, mengenalkan anak-anak pada warisan budaya lokal sejak dini. Letaknya yang hanya sekitar 2 kilometer dari lokasi semburan lumpur Lapindo membuat Candi Pari juga menjadi bagian dari narasi kontemporer Sidoarjo.
Candi Pari dibangun dari batu bata merah, bukan batu alam seperti candi pada umumnya, yang merupakan ciri khas peninggalan Majapahit di daerah tersebut.
Bentuk bangunannya yang persegi empat tidak seperti candi lain di Jawa Timur, melainkan menunjukkan pengaruh arsitektur Kamboja dan Vietnam.
Candi ini didirikan untuk menghormati Joko Pandelegan, seorang petani yang berhasil menanam padi dengan hasil melimpah.
Candi Pari memiliki candi kembar bernama Candi Sumur, yang dibangun untuk mengenang istrinya, Nyai Lorowalang.