Karet merah (Ficus elastica) merupakan spesies pohon yang termasuk ke dalam famili Moraceae atau suku ara-araan. Tumbuhan ini berasal dari bioma tropis basah dan memiliki wilayah persebaran alami yang membentang dari Nepal, China bagian barat (Yunnan), hingga kawasan Malesia bagian barat. Di Indonesia, Ficus elastica dikenal dengan berbagai nama lokal, seperti rambung di Sumatra, kajai di wilayah Minangkabau, serta ki karet di daerah Sunda. Nama ilmiah Ficus elastica pertama kali dideskripsikan dan dipublikasikan oleh ahli botani William Roxburgh pada tahun 1819 (plantamor.com).
Nama Lokal : Karet merah atau karet kebo
Nama Latin : Ficus elastica
Ordo : Urticales
Famili : Moracease
Genus : Ficus
Karakter Umum
Ficus elastica merupakan pohon berkayu yang memiliki pertumbuhan tegak dengan tajuk rapat. Daunnya tunggal, berukuran besar, tebal, dan mengilap dengan warna hijau tua pada daun dewasa serta merah kemerahan pada daun muda. Tumbuhan ini menghasilkan getah putih (lateks), memiliki sistem akar kuat dengan kemampuan membentuk akar udara, serta mampu tumbuh baik pada wilayah tropis dengan kelembapan tinggi.
Akar: Akar tunggang dan akar earial (akar udara) berwarna coklat.
Batang: Tegak, bentuk bulat, , permukaan kulit kasar, warna coklat tua dan pola percabangannya simpodial ( dimana tunas terminal berhenti tumbuh dan pertumbuhan tunas selanjutnya dilanjutkan oleh tunas lateral/samping sehingga batang utama sulit dibedakan dengan cabangnya)
Daun: Tunggal berseling, bentuk lonjong, tepi rata, ujung dan pangkal meruncing, panjang 15–20 cm, lebar 8–15 cm, bertangkai pendek, pertulangan menyirip, permukaan halus.
Bunga: Tunggal, berkelamin satu, kelopak berwarna hijau bentuk mangkuk, benang sari berwana putih panjang ± 7 mm, kepala sari berwarna hitam bentuk bulat, putik panjang 1–2 cm, kepala putik bulat, hitam, mahkota bentuk pita, halus, kuning. Seperti ciri khas genus Ficus lainnya, bunga pohon Karet hias memerlukan tawon dari spesies tertentu untuk penyerbukan dalam hubungan simbiosis. Karena hubungan ini, tanaman ini tidak menghasilkan bunga berwarna-warni atau bunga-bunga yang harum untuk menarik penyerbuk lainnya.
Buah: Buni, bulat, diameter 1–2 cm, hijau kehitaman. Buahnya kecil, kuning-hijau oval ukuran sekitar 1 sentimeter damhampir tidak bisa dimakan; berisi banyak benih.
Biji: Bulat, warna putih.
Ciri khas lainnya yaitu dibandingkan Ficus lainnya, Ficus elastica memiliki ciri khas berupa daun besar, tebal, kaku, dan mengilap seperti kulit, dengan daun muda berwarna merah marun yang muncul dari seludang kemerahan. Tumbuhan ini juga menghasilkan getah putih (lateks) yang melimpah serta memiliki batang tegak dengan tajuk rapat.
Ficus elastica berasal dari kawasan tropis Asia dan tersebar alami mulai dari Nepal, India bagian timur, Myanmar, hingga wilayah Malesia barat. Tumbuhan ini umumnya tumbuh pada hutan tropis lembap, dataran rendah hingga ketinggian sekitar 500 mdpl, dengan kondisi tanah subur, kaya humus, dan memiliki drainase yang baik. Saat ini, Ficus elastica banyak dibudidayakan di berbagai wilayah tropis sebagai tanaman hias, peneduh, dan penghijauan perkotaan.
Tanaman hias indoor dan lanskap : dimanfaatkan karena bentuk daun besar, mengilap, dan variasi warna daun yang menarik (ornamental plant).
Pohon peneduh perkotaan : digunakan pada taman, halaman luas, dan area hijau karena tajuknya rapat serta mampu memberikan naungan.
Sumber lateks alami : getah putihnya mengandung karet alami yang dahulu dimanfaatkan sebagai bahan baku karet sebelum tergantikan oleh Hevea brasiliensis.
Penyerap karbon dan pengendali iklim mikro : tajuk lebat membantu menyerap CO₂, menurunkan suhu lingkungan, dan meningkatkan kelembapan udara.
Konservasi tanah : sistem akar yang kuat membantu memperkuat struktur tanah dan mengurangi risiko erosi.
Penyedia habitat satwa : tajuk, batang, dan akar udaranya menjadi tempat berlindung bagi burung kecil, serangga, serta organisme epifit.
Pengobatan tradisional : getah dan daun Ficus elastica digunakan secara tradisional untuk membantu mengatasi beberapa gangguan seperti bisul dan nyeri sendi (penggunaan perlu memperhatikan sifat iritatif lateks).