Beringin atau waringin (Ficus benjamina L.) merupakan tumbuhan berbentuk pohon yang termasuk dalam famili Moraceae atau suku ara-araan. Spesies ini berasal dari kawasan bioma beriklim tropis basah, terutama wilayah Asia tropis dan subtropis hingga Australia bagian utara. Di Indonesia, tumbuhan beringin memiliki berbagai sebutan lokal, seperti caringin di daerah Sunda dan wringin di daerah Jawa. Nama ilmiah Ficus benjamina pertama kali dipublikasikan oleh ahli botani Carolus Linnaeus dalam karya Species Plantarum pada tahun 1767 (plantamor.com).
Nama Lokal : Beringin
Nama Latin : Ficus benjamina
Ordo : Urticales
Famili : Moracease
Genus : Ficus
Karakter Umum
Beringin (Ficus benjamina L.) merupakan pohon berkayu dari famili Moraceae yang dikenal memiliki tajuk lebar, akar gantung, serta umur hidup yang panjang. Spesies ini banyak dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, konservasi tanah dan air, serta memiliki nilai ekologis yang tinggi karena buahnya menjadi sumber pakan berbagai satwa.
Akar bertipe tunggang dengan sistem perakaran kuat dan dalam, dilengkapi akar gantung yang berkembang menjadi akar penopang setelah mencapai tanah.
Batang silindris, bertekstur kasar, bercabang simpodial, berdiameter dapat mencapai ±2 m, dengan tinggi pohon sekitar 15–25 m atau lebih.
Daun tunggal, tersusun berseling, berbentuk oval hingga elips, ujung meruncing, pangkal tumpul, bertulang menyirip, berwarna hijau mengilap.
Bunga majemuk tersembunyi di dalam reseptakel (syconium), tumbuh pada ketiak daun, berwarna hijau kekuningan.
Buah berupa buah semu (fig), berbentuk bulat, berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi merah hingga jingga ketika masak, menjadi sumber pakan berbagai satwa.
Biji berukuran sangat kecil, banyak, dan tersebar di dalam buah semu.
Ciri khas lain dari Ficus benjamina memiliki ciri khas berupa akar gantung yang tumbuh dari batang dan cabang, kemudian berkembang menjadi akar penopang setelah mencapai tanah.
Tumbuh pada hutan hujan tropis, dataran rendah hingga pegunungan sekitar 600 mdpl, terutama di daerah dengan curah hujan tinggi dan dekat sumber air. Beringin tersebar luas di seluruh Indonesia serta kawasan Asia tropis, Australia bagian utara, Malaysia, hingga beberapa wilayah Pasifik.
Sebagai pohon peneduh dan tanaman penghijauan.
Membantu menjaga kestabilan tanah serta mengurangi risiko erosi dan longsor.
Meningkatkan infiltrasi air dan mendukung kelestarian mata air.
Menyerap karbon serta memperbaiki kualitas udara.
Buahnya menjadi sumber pakan bagi berbagai jenis burung dan satwa liar.
Daun, kulit batang, dan akar dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional.
Memiliki nilai budaya, estetika, dan sering ditanam di ruang terbuka hijau serta kawasan publik.
Pohon beringin sering dianggap sebagai tempat yang angker atau dihuni makhluk halus karena ukurannya yang besar, rindang, dan berumur tua.
Di Yogyakarta terdapat mitos Beringin Kembar di Alun-Alun Selatan, di mana seseorang yang berhasil berjalan lurus di antara kedua pohon dengan mata tertutup dipercaya akan memperoleh keberuntungan atau harapannya terkabul (Tradisi Masangin).
Masyarakat di beberapa daerah percaya bahwa menebang pohon beringin dapat mendatangkan kesialan.
Terdapat pula kepercayaan bahwa bergelantungan pada akar gantung beringin dapat menjadi simbol seseorang yang akan selalu bergantung pada orang lain.