Ficus altissima merupakan spesies pohon dari famili Moraceae (suku ara-araan) yang berasal dari bioma tropis basah dengan persebaran alami meliputi wilayah Tiongkok bagian selatan hingga kawasan tropis Asia. Di Indonesia, spesies ini dikenal sebagai waringin daun besar dan waringin cempedak di Maluku. Spesies ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh botanis Carl Ludwig Blume pada tahun 1825 (plantamor.com).
Nama Lokal : Jerakah
Nama Latin : Ficus altissima
Ordo : Urticales
Famili : Moracease
Genus : Ficus
Karakter Umum
Ficus altissima merupakan pohon berukuran besar yang dapat mencapai tinggi hingga sekitar 40 m. Spesies ini memiliki habitus hemi-epifit maupun terestrial. Pada fase awal pertumbuhan, tumbuhan dapat hidup sebagai epifit dengan membentuk akar udara yang kemudian mencapai tanah dan berkembang menjadi pohon mandiri. Ranting muda memiliki permukaan berambut sangat halus berwarna keputihan hingga akhirnya menjadi gundul pada ranting dewasa.
Akar: Memiliki akar udara yang khas pada fase hemi-epifit, kemudian berkembang menjadi akar penunjang yang kuat dan menyebar saat tumbuh sebagai pohon dewasa.
Batang: Pohon besar dengan batang berkayu, bertekstur licin, ranting muda berambut halus putih yang kemudian menjadi gundul. Dapat tumbuh hingga ±40 m.
Daun: Daun tunggal tersusun spiral, bertekstur seperti kulit, berbentuk menjorong hingga lonjong atau membundar telur. Ukuran daun mencapai panjang 10–22(–38) cm dan lebar 6–13(–24) cm, dengan ujung melancip pendek, permukaan gundul, dan tulang daun menyirip.
Bunga: Bunga berkembang di dalam struktur sikonium khas genus Ficus, berukuran kecil dan tersembunyi, dengan proses penyerbukan dibantu oleh tawon ara (fig wasp).
Buah: Buah berupa sikonium berbentuk menjorong, muncul tunggal atau berpasangan pada ketiak daun, berukuran sekitar 1–1,5 cm, berwarna hijau saat muda dan berubah merah ketika matang.
Ciri khas lain dari Ficus altissima adalah kemampuannya membentuk akar udara yang menggantung dari cabang atau batang, yang berfungsi untuk menopang pertumbuhan serta meningkatkan penyerapan unsur hara. Karakter morfologi tersebut menjadikan spesies ini mudah dikenali sebagai salah satu jenis beringin dengan tajuk luas dan struktur pohon yang khas.
Habitat: Tumbuh pada hutan tropis basah, baik di dataran rendah maupun daerah pegunungan dengan ketinggian hingga ±1.700 m dpl. Spesies ini dapat hidup sebagai hemi-epifit maupun terestrial pada berbagai kondisi lingkungan.
Sebaran: Memiliki persebaran alami di kawasan Asia tropis, meliputi India, Tiongkok, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Di Indonesia ditemukan di wilayah Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Spesies ini termasuk tumbuhan asli dengan status penetap tambahan.
Tanaman peneduh: Memiliki tajuk yang luas dan rimbun sehingga banyak dimanfaatkan sebagai pohon peneduh di ruang terbuka.
Tanaman hias: Bentuk daun yang menarik, terutama varietas dengan variegasi kuning, menjadikannya populer sebagai tanaman ornamental indoor maupun outdoor.
Konservasi dan ekologi: Berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan sebagai penyedia habitat dan sumber pakan bagi berbagai organisme, termasuk satwa pemakan buah.
Penyimpan karbon: Ukuran pohon yang besar memungkinkan Ficus altissima berperan dalam penyerapan karbon dan peningkatan kualitas lingkungan.
Penghijauan: Dimanfaatkan dalam kegiatan penghijauan dan lanskap karena sifatnya yang tahan terhadap berbagai kondisi tropis.