Taruna Siaga Bencana (TAGANA) adalah sebuah organisasi sosial (Orsos) yang bergerak di bidang penang-gulangan bencana alam dan bencana sosial berbasis masyarakat,
Sejak pembentukannya di Lembang Jawa Barat oleh perwakilan dari 33 provinsi, kemudian dideklarasikan di hadapan Dirjen Bantuan Sosial mewakili Menteri Sosial RI, menyatakan bahwa ; “Pada Hari Rabu, 24 Maret 2004 di Lembang Jawa Barat, dideklarasikan berdirinya sebuah organisasi yang bergerak di bidang penanggulangan bencana alam dan bencana sosial” yang bernama : TARUNA SIAGA BENCANA (TAGANA).
Organisasi besutan Bapak ANDI HANINDITO yang kala itu masih menjabat sebagai Kasubdit Bantuan Bencana Alam Departemen Sosial RI dan berlanjut dengan pelaksanaan Jambore Penanggulangan Bencana dan Gelar Akbar Kesetiakawanan Sosial Nasional yang berlangsung di Cibubur tanggal 19 s/d 23 Desember 2004.
TAGANA yang latar belakang pembentukannya dilandasi lahirnya Undang-Undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana mandat konstitusi, dimana Departemen Sosial tidak lagi memiliki Kanwil dan Kandep Sosial di masing-masing provinsi, bergesernya peran para Pekerja Sosial Kecamatan (PSK) dan pupusnya perhatian Tenaga Penanggulangan Bencana yang sudah berpengalaman, seperti;
Tim Reaksi Cepat (TRC), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tim Penanggulangan Bencana di masing-masing Kantor wilayah.
Sementara fenomena bencana alam yang makin kompleks, dan luasnya jangkuan wilayah Negara Indonesia serta kesadaran masyarakat terhadap bencana, menuntut terbentuknya tenaga terlatih bidang kebencanaan dari kalangan muda yang disebut : Taruna Siaga Bencana (TAGANA).
Pemikiran cerdas yang di tunjang anggaran APBN, Kementerian Sosial terus melakukan perekrutan personil di masing-masing provinsi. Organisasi relawan ini, adalah insan sosial yang memiliki pemahaman yang sama tentang konsep penanggulangan bencana berbasis masyarakat, baik pada posisi prabencana, tanggap darurat maupun pasca bencana.
Selain itu, untuk tetap bisa menggelorakan pengabdian, setiap tahunnya, dilakukan Jambore dengan berbagai varian lomba yang menghadirkan utusan dari seluruh provinsi se-Indonesia. Dalam perkembangannya kemudian di masing-masing Dinas Sosial Provinsi/Kab/Kota melalui anggaran APBD melaksanakan pelatihan TAGANA di wilayahnya masing masing dengan motto, One Command, One Rule dan One Corps.
Kehadiran TAGANA di persada Nusantara merupakan sebuah kekuatan relawan yang dimiliki Kementerian Sosial RI untuk menjadikan mereka sebagai tenaga siap pakai dan diharapkan mampu mengurangi resiko bencana, dengan membangun kesiapsiagaan di masing-masing provinsi/lokasi bencana serta membangun ketahanan masyarakat dan kelembagaan pada masa krisis dan memulihkan dampak bencana secara fisik maupun psikologis.
Di awal pembentukan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) oleh para dekralator utusan 33 provinsi didukung dengan pertemuan dan pemantapan dari Para Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial (Banjamsos) telah dirumuskan tujuan luhur dari terbentuknya TAGANA di persada Nusantara ini.
Ditandaskan, maksud dari kehadiran TAGANA adalah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, membangun partisipasi dan kemitraan dari berbagai pihak, mendorong semangat kegotongroyongan, kesetiakawanan dan kedermawanan serta menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Sekedar kilas balik dalam pembentukan TAGANA di Lembang-Jawa Barat tersebut, masih terngiang instruksi Bapak Andi Hanindito kepada para peserta bahwa hari ini, kami baru bisa memberikan baju kaos berwarna putih, untuk digunakan sementara, sembari beliau bersama timnya terus berfikir melengkapi seluruh perangkat TAGANA mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, termasuk kendaraan operasional yang dapat dipergunakan oleh TAGANA bilamana terjadi kondisi kebencanaan. Dan benarlah ucapan beliau, selama masa pertumbuhan TAGANA dari tahun ke tahun terus meningkat. “Teks Deklarasi” telah dikumandangkan dengan suara yang menggema di seantero Hotel Grand Lembang-Jawa Barat, deklarasi tersebut dibaca kan dihadapan para petinggi Kementerian Sosial, maka mulai saat itu tanggal 24 Maret 2004 resmilah terbentuknya TAGANA di Indonesia untuk selama-lamanya .
Direktur Bantuan Sosial saat itu dijabat Alm.Drs. Poernomo Sidik, selalu mewanti-wanti kepada seluruh anggota TAGANA untuk senantiasa menjaga nama baik dan kehormatan TAGANA, “Kehormatan TAGANA ada di tangan Anda”.dan Kehormatan TAGANA adalah Harga Mati demi Bangsa dan Negara Indonesia.
TAGANA adalah relawan sejati yang telah mewakafkan dirinya untuk kepentingan pertolongan terhadap korban bencana alam dan bencana sosial, akan terus memberikan pengabdiannya secara konsisten di gelanggang penanganan bencana di Indonesia yang akan selalu memberikan nama yang harum di Persada ibu Pertiwi.
Kemajuan pembinaan TAGANA di masing-masing provinsi terus berfluktuasi tergantung dari peran dan kreasi dari masing-masing Kepala Bidang Banjamsos di daerah, ada beberapa provinsi yang membuat Diklat TAGANA menggunakan APBD, ada yang menambah dana tali asih yang diserahkan setiap enam bulan sekali, ada pula yang membuatkan Asuransi TAGANA dan berbagai aktifitas lainnya sesuai dengan kondisi daerah bahkan sudah ada provinsi yang mengembangkan anggota TAGANA dengan spesialisasi pengetahuan seperti pada program Psikososial dan Tagana khusus.
Terhadap kepengurusan, sebagian ada yang menggunakan nama lembaga dengan sebutan, Forum TAGANA, ada Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) ada pula yang masih menggunakan Koordinator dan Organisasi Regional Kota.
Namun ada hal yang membuat kita menjadi mafhum, perkembangan dan pertemuan rutin melahirkan gelar baru, Bapak Andi Hanidito disebut Panglima Besar, Kabid Banjamsos Palembang Drs. Iwan Sumarwan yang akrab disapa Bung Marwan di Sumatera Selatan bergelar Panglima Kawasan Barat danDrs.H.Syakhruddin.DN,M.Si di sapa dengan gelar Panglima Kawasan Timur. Gelar dan julukan ini, semata-mata hanya untuk sapaan keakraban belaka, sehingga menunjukkan betapa solidnya pembinaan dan serasinya koordinasi antara Kementerian Sosial di Salemba Raya 28 Jakarta dengan rekan-rekan yang tersebar pada 33 provinsi di bawah bendera otonomi daerah. Keinginan dari arus bawah di kalangan anggota TAGANA sudah menjadi sebuah “Ikon”yang tak lekang oleh panas danj tak lapuk karena hujan.
Namun kita juga harus menundukkan kepala sejenak dan mengenang mereka yang harus menyabung nyawa disaat menolong tetangga Mbah Marijan…., Gunung Merapi menghamburkan hawa panas, beberapa anggota TAGANA dengan seragam biru-biru harus berhadapan dengan maut, tebalnya hawa panas yang menerpa tubuhnya, sehingga para pejuang kemanusiaan ini terjerembab ke tanah dan menghembuskan nafas terakhir dalam upaya menolong dan membantu para tetangga Mbah Marijan yang terlambat meninggalkan rumahnya.
Para pejuang kemanusiaan itu gugur bersama ganasnya awan panas Merapi,Innalillahi waiina ilahi rajiun. Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Indonesia dalam perkembangannya kemudian, melaksanakan Jambore di Bandung dibawah kepemimpinan Direktur Drs. Moch. Helmy dengan nuansa kearifan lokal, dimana TAGANA selain ikut Jambore juga menghadirkan kesenian daerah dan pakaian adat dari masing-masing kontingen.
Belum berhenti sampai di situ, di Kawasan Asia Tenggara. TAGANA pun terus berkiprah, melalui kepemimpinan Bapak Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Dirjen Perlinjamsos), DR. Ir. A.Zaenal Dulung, M.Sc menggelar pertemuan akbar untuk pertama kalinya di kawasan Asia Tenggara.
Tim pelaksana dibawah kendali Direktur Korban Bencana Alam (PSKBA) BapakDrs. Margowiyono, M.Si terus memantau perkembangan di lapangan dan Koordinasi Sdr. Iyan Kusmadiana,M.Si (Kasubdit Tanggap Darurat) melaksanakan aktifitas Jambore ASEN+3 di Bumi Sriwijaya Palembang Sumatera Selatan dengan sukses.
Hingga pada tahun 2012 terbitlah Peraturan Mentri Sosial Republik Indonesia Yang menjadi Dasar Hukum (Yuridis Formal) yang menjadi dasar acuan Organisasi di dalam kiprahnya.