Inilah alasan mengapa menjaga lisan sangat penting!
Penulis: Abdul Ghofur
Lisan adalah anugerah dari Allah SWT yang sangat luar biasa. Sebagai salah satu indera manusia, amat penting bagi seseorang agar menjaga lisannya. Lisan adalah perantara makhluk seperti manusia untuk dapat berbicara. Dengan lisan, perasaan manusia yang terpendam dalam lubuk hati mereka akan dapat tersalurkan dan didengar oleh khalayak apabila berbentuk suara lisan. Yuk simak alasan mengapa menjaga lisan sangatlah penting bagi kita!
Katakanlah yang benar
Sebagai orang yang mengaku beriman, tentunya kita wajib mendengar apa yang menjadi pedoman kita sebagai seorang muslim. Dalam al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.
Al-Aḥzāb [33]:70
Hindarilah perkataan yang tidak berfaedah
Setelah mengatakan hal yang benar, kita perlu memahami bahwa Allah telah mengingatkan kita agar menghindari perkataan yang tidak ada manfaatnya, apalagi hanya sekedar mencari legitimasi, pengakuan dari orang-orang dengan niatan tertentu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ
“Orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,”
Al-Mu'minūn [23]:3
Tidak semua yang kita dengar perlu kita ucapkan
Kita banyak mendengar. Setiap hari mungkin kita dapat mendengar beribu kata yang masuk ke telinga kita. Namun, ingatlah!tidak semua dari yang kita dengar perlu kita bicarakan. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits No.7, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كَفَي بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah bagi seseorang dianggap sebagai pembohong, jika ia mengatakan setiap apa yang didengarnya”
Dari keterangan hadits tersebut, alangkah pentingnya menyaring, memilah, dan memilih apa yang hendak kita ucapkan. Maka dalam sebuah bait hikmah diterangkan:
اِذَا تَـمَّ عَقْلُ الْمَرْءِ قَلَّ كَلاَمُهُ ۞ وَاَيْقِنْ بِحُمْقِ الْمَرْءِ اِنْ كَانَ مُكْثِرًا
“Bila sempurna akal seseorang maka sedikit bicaranya, dan yakinlah akan bodohnya seorang jika ia itu memperbanyak (bicara).”
يَمُوْتُ الفَتَى مِنْ عَثْرَةٍ مِنْ لِّسَـانِهِ ۞ وَلَيسَ يَمُوتُ الْمَرْءِ مِنْ عَثْرَةِ الرِّجْلِ
“Pemuda bisa mati sebab tergelincir lisannya, tapi tidak mati karena tergelincir kakinya”
Lisan orang yang beriman adalah lisan yang terkendali
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan Shahih Muslim hadits no.32 dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Manakah orang-orang islam yang paling baik?” Beliau bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“yaitu seseorang yang orang-orang muslim selamat dari lisannya(ucapannya) dan tangannya(perbuatannya) yang menyakiti.”
Ya, salah satu tanda bahwa kamu seorang muslim yang memiliki keutamaan, keistimewaan yaitu ketika orang-orang di sekitarmu merasa aman dari apa yang keluar dari lisanmu. dengan kata lain, apa yang kamu ucapkan tidak menyakiti hati mereka. Ingat! lisan lebih tajam daripada mata pisau.
Doktor Mahir Yasin Al-Fahl dalam bukunya mengatakan:” Sungguh barang siapa dapat menjaga lisannya, maka akan sedikit kesalahannya”. Imam an-Nawawi menjelaskan, hendaknya seorang mukallaf menjaga lisannya dari semua pembicaraan kecuali pembicaraan yang memang benar-benar tampak maslahatnya. Sehingga menurut beliau, sewaktu-waktu sama antara berucap atau tidak dalam hal maslahatnya, maka sunnah menahannya(tidak membicarakannya). Alasannya, karena pembicaraan yang mubah pun terkadang dapat mengarah pada sesuatu yang haram atau makruh.
Demikian, sedikit bacaan terkait pentingnya menjaga lisan. Semoga Allah senantiasa menuntun lisan kita dalam berucap, menjaga lisan kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat, dan memudahkan lisan kita untuk berkata yang baik dan positif. Sehingga kita diringankan hisabnya terutama lisan kelak. Amiin...
Wallahu A’lamu bisshowab.
Referensi:
Kitab Shahih Al-Muslim, Imam Muslim
Kitab Riyadhu ash-Sholihin, Imam an-Nawawi
Kitab Al-Arba’in an-Nawawiyah, Imam an-Nawawi
Kitab Hirmatul Muslim ala al-Muslim, Mahir Yasin al-Fahl
Kitab Alala Tanalu al-Ilma, Maktabah Muhammad bin Ahmad Nabhan wa Auladuhu Surabaya
Senin, 29 September 2025
Pahami dengan benar hukum membaca bismillah sebelum membaca Al-Qur’an!
Penulis: Abdul Ghofur
Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam. Al-Qur’an berisi kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril secara mutawatir atau berangsur-angsur. Tidak seperti kitab suci yang sebelumnya, Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur agar dapat menjawab berbagai masalah yang muncul kala itu. Meskipun demikian, bukan berarti Al-Qur’an sudah tidak relevan, sampai kapanpun Al-Qur’an akan relevan meskipun zaman berubah. Untuk itu, dalam membaca Al-Qur’an tidak boleh sembarangan. Ada hukum dan adab yang perlu diketahui sebelum membaca Al-Qur’an salah satunya membaca bismillah. Lantas, Bagaimana sih hukum membaca bismillah sebelum membaca Al-Qur’an? Berikut ini hukum membaca bismillah sebelum membaca Al-Qur’an:
1. Wajib
Membaca bismillah di permulaan surat Al-Fatihah adalah wajib. Hal ini dikarenakan bismillah termasuk bagian dari surat Al-Fatihah menurut pendapat Imam Syafi’i.
2. Sunnah
Membaca bismillah di permulaan semua surat dari Al-Qur’an kecuali Surat Al-Fatihah dan Surat Bara’ah (At-Taubah) adalah sunnah. Selain itu,
3. Haram
Membaca bismillah di permulaan surat Bara’ah (At-Taubah) adalah haram menurut pendapatnya Ibnu Hajar.
4. Boleh
Membaca bismillah diperbolehkan (jawaz) di tengah-tengah Surat Bara’ah (At-Taubah). Maksudnya, ketika seseorang membaca al-Qur’an dan mulai membacanya di tengah-tengah surat Bara’ah (At-Taubah) boleh diawali dengan membaca bismillah terlebih dahulu dan boleh tidak. Akan tetapi, menurut pendapat yang lebih utama, lebih baik tidak diawali bismillah dalam membaca Surat Bara’ah (At-Taubah) ini.
Demikianlah, hukum membaca bismillah ketika membaca al-Qur’an. Semoga kita senantiasa dapat membaca al-Qur’an setiap hari dengan haq dan dapat mengambil ibrah yang ada di dalamnya. Amiin...Ya Rabbal ‘Aalamiin....
Wallahu A’lamu bisshowab.
Referensi:
1) Kitab Faidhu al-Barakat fi Sab’i al-Qira’aat, Kyai Haji Arwani bin Muhammad Amin
2) Kitab Risalat al-Qurra’ wa al-Huffaadz fi Gharaa’ib al-Qira’at wa al-Alfaadz, Kyai Umar bin Baidhawi
3) Kitab Faidhu al-Asaani ‘ala Hirzi al-Amaani wa Wajhi at-Tahaani, Kyai Haji Sya’roni Ahmadi
Ahad, 7 September 2025
"Inilah Tiga Kekuatan Yang Dianugerahkan Oleh Allah Kepada Manusia"
Penulis: Abdul Ghofur
Manusia adalah satu dari banyaknya makhluk yang diciptakan oleh Allah Jalla Wa Azza. Ketahuilah, Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” {QS. At-Tīn [95]:4}
Dari bentuk yang sebaik-baiknya itu, manusia juga dibekali kekuatan-kekuatan untuk mendukung aktifitasnya ketika hidup di dunia. Lantas apa saja sih kekuatan-kekuatan yang Allah berikan kepada manusia?
Pertama, Kekuatan aqliyah
Kekuatan aqliyah adalah kekuatan akal yang mana dengan akal, manusia dapat berpikir. Dengan kekuatan berpikir, manusia dapat membedakan mana yang hak mana yang batil. Mana yang baik mana yang buruk. Namun demikian, seyogyanya kekuatan akal ini perlu dibimbing dengan syari’at. Kenapa? Sebab akal manusia sangat terbatas. Tidak semua bisa dipikir oleh akal manusia.
Kekuatan akal jika tidak dibimbing syari’at, maka yang muncul adalah pemikiran iblis (menentang Allah), kesombongan dan sifat-sifat buruk yang lain. Adapun jika dibimbing dengan syari’at, maka yang muncul adalah kecerdasan seperti Nabi. Artinya akal akan cenderung pada sikap dan nilai yang kebaikan atau positif. Kenapa kekuatan akal penting? Akal adalah satu pembeda yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Jika manusia tidak memiliki aqliyah maka yang muncul adalah kebodohan.
Kedua, kekuatan ghadhabiyah
Kekuatan ghadhabiyah adalah kekuatan emosional yang mana dengan emosional, manusia dapat membela haknya. Seseorang yang tidak punya emosional maka jadi penakut. Ketahuilah, kekuatan emosional ini harus dikendalikan karena jika tidak dikendalikan maka seseorang akan kalah dengan emosinya sendiri sehingga muncul perbuatan yang merugikan dirinya sendiri.
Kekuatan emosional juga perlu dibimbing dengan syari’at. Kenapa? Sebab jika tidak dibimbing dengan syar’at, maka yang muncul adalah perbuatan yang ngawur, seenak kemauan sendiri tanpa berpikir dampak yang ditimbulkannya. Namun, jika dibimbing dengan syari’at, seseorang akan menjadi pribadi yang pemberani. Sikap pemberani inilah pertengahan antara sikap ngawur dan sikap penakut.
Ketiga, kekuatan syahwaniyah
Kekuatan syahwaniyah adalah kekuatan perasaan senang, suka, dan cinta yang mana dengan kekuatan ini, manusia dapat tertarik dengan lawan jenisnya, ada rasa senang terhadap sesuatu, butuh sesuatu seperti makan, fashion, dan lain-lain.
Kekuatan syahwaniyah ini juga perlu dibimbing dengan syari’at. Kenapa? Sebab jika tidak dibimbing dengan syari’at, seseorang akan menjadi budak nafsunya sendiri. Nafsunya akan mengendalikan dirinya sehingga muncul sifat hewan dalam pribadinya. Adapun jika dibimbing dengan syari’at, maka seseorang akan bersikap qanaah, bersyukur, zuhud, dan sebagainya.
Demikian, tiga kekuatan yang diberikan oleh Allah Jalla Wa Azza kepada Manusia. Semoga kita termasuk pribadi yang bersyukur, dapat mengelola tiga kekuatan tersebut dengan sebaik-baiknya dan tergolong golongan orang-orang sholih yang beruntung di dunia dan di akhirat.
Kamis, 28 Agustus 2025
“Yang Semestinya Wajib dipahami Seorang Anak”
Penulis: Abdul Ghofur
Ada anak maka ada orang tua sebagai kodrat anak lahir tidak lepas dari orang tuanya kecuali orang-orang Istimewa seperti Nabi Adam as, Hawa, dan Nabi Isa as. Kalimat pertama yang saya tulis itu pula yang ingin saya bahas di tulisan singkat ini. Tentunya, ada batas etis antara anak dengan orang tuanya dan sebaliknya. Batas etis ini saya lebih senang menyebutnya “adab”. Ya, adab sebuah kata yang mungkin sering kita dengar sehari-hari namun dalam kenyataannya agak sulit ditemui di zaman sekarang ini.
Bagaimana adab seorang anak kepada Orang tuanya?
Perlu diingat, anak punya beberapa hak untuk dipenuhi oleh orang tuanya sekaligus punya kewajiban berbakti kepada orangtuanya. Orang tua punya kewajiban memenuhi hak anaknya sekaligus punya hak dihormati oleh anaknya. Perlu digaris bawahi bahwa seorang anak tidak perlu dengan kasar menuntut hak-haknya kepada orang tuanya terlebih jika ia belum melaksanakan kewajibannya sebagai anak. Sangat disayangkan, jika seorang anak menuntut hak-haknya tapi ia lalai akan kewajibannya sebagai anak terhadap orang tuanya. Saya ingat betul, sepatah kata orang-orang sepuh terdahulu yang mengatakan “Sejelek-jeleknya orang tua itu ibarat pakaian (gombal; dalam Bahasa Jawa) basah, meskipun jelek tetap terpakai”. Maksudnya, sejelek apapun kondisi orang tuamu itu masih tetap punya andil atas keberhasilanmu. Kalau orang tuamu saja tidak kamu hormati, lantas kehormatan apa yang pantas kamu banggakan.
Berbuat benar yang tidak dibarengi adab sama halnya kosong, bahkan buruk.
Mohon ijin saya menggambarkan anak sebagai “kita”. Bukan berarti saya dan anda sebagai pembaca melakukan hal yang tidak baik, akan tetapi saya mencoba membuat contoh yang lebih mengena. Ya, Saya coba mulai bagian ini dari “pandai-pandailah berperilaku dengan dilandasi ilmu dan akhlak”. Saya ambil contoh:
Jika disuatu kesempatan, kita membawa sebungkus buah apel di dalam kantong plastik. Kemudian ibu kita meminta satu dari buah apel tersebut dengan mengatakan “nak, lemparkanlah satu apel yang kamu bawa itu kepada ibu!” apa yang akan lakukan?
Jika yang kamu lakukan selanjutnya yaitu kamu melemparkannya, mungkin itu kamu anggap benar berdasar permintaan ibu yang mengatakan untuk melemparkannya namun itu jelas-jelas keliru. Kok bisa? Karena jika kamu benar-benar melemparkannya itu jelas kelakuan bodoh dan tidak beradab. Ingatlah, Kebenaran yang tidak disertai dengan adab sama halnya kosong, tidak ada apa-apanya bahkan bagian terburuknya bisa jadi biadab. Dalam konteks ini, akhlak lebih didahulukan!
Contoh lain:
Suatu kali kamu punya makanan enak yang menurutmu, ibumu suka dengan makanan itu. Kemudian, kamu memanggil ibumu, “Buk, sini buk, ini ada makanan kesukaan ibu, ambil sini”. Apakah yang kamu lakukan benar?
Mungkin menurutmu itu benar dengan anggapan “Yang butuh ya, yang kemari” atau kamu merasa “Aku sudah memberi, masak harus mengantarkannya juga?”
Nah, jika yang kamu lakukan selanjutnya adalah menyuruh ibumu mengambilnya maka tidak ada pahala yang kamu dapat akan tetapi malah dosa. Sebab ada indikasi “menyakiti hati ibumu, merepotkannya, menyusahkannya” apalagi bila ibumu sedang punya keterbatasan. Sungguh, sesuatu yang tidak sebanding apabila disandingkan antara pahala dari makanan yang kamu berikan kepada ibumu dengan dosa yang kamu tanggung sebab merepotkan dan menyusahkan ibumu dalam mengambil makanan itu.
Naudzubillah min dzalik. Semoga kita termasuk anak yang berbakti kepada Orang tua kita. Amiin…
Senin, 11 Agustus 2025
Kirimkan tulisan terbaikmu lewat DM akun Instagram kami!