oleh Tim Humas SMA Kristen 1 Surakarta | 15 Oktober 2026
SURAKARTA -- Kesehatan mental remaja kini menjadi perhatian serius di dunia pendidikan. Sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan ramah kesehatan mental, SMA Kristen 1 Surakarta bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan Puskesmas Kratonan menyelenggarakan sosialisasi mengenai Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP).
Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah ini menghadirkan dua narasumber dari Puskesmas Kratonan, yaitu dr. Arifa dan dr. Yulia. Acara ini diikuti dengan penuh antusias oleh para siswa-siswi yang tampak tekun menyimak pemaparan materi.
Memahami Pentingnya P3LP di Lingkungan Sekolah
Dalam penyampaian materinya, dr. Arifa dan dr. Yulia menjelaskan bahwa sama halnya dengan cedera fisik yang memerlukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), gangguan atau krisis emosional juga membutuhkan penanganan awal melalui Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP).
P3LP bertujuan untuk memberikan dukungan emosional awal kepada individu yang sedang mengalami situasi stres berat, krisis, atau trauma, sehingga mencegah dampak psikologis yang lebih berat.
"Siswa diajak untuk mengenali tanda-tanda awal ketika teman sebaya mengalami tekanan mental atau perubahan emosi yang signifikan, serta bagaimana memberikan respons empati yang tepat tanpa menghakimi," terang dr. Arifa.
Sesi Interaktif dan Simulasi Pertolongan Sebaya
Tak hanya mendengarkan materi, para siswa juga diajak terlibat aktif dalam sesi diskusi dan simulasi. Beberapa perwakilan siswa maju ke depan untuk mempraktikkan langsung skenario pendampingan teman sebaya (peer support) ketika menghadapi situasi krisis emosional.
Melalui simulasi ini, para siswa belajar tiga prinsip utama P3LP, yaitu:
1. Lihat (Look): Memperhatikan tanda-tanda kecemasan atau perubahan perilaku pada teman.
2. Dengar (Listen): Menjadi pendengar yang aktif dan penuh empati tanpa langsung memberikan penilaian.
3. Hubungkan (Link): Membantu menghubungkan teman yang membutuhkan kepada pihak profesional atau guru BK/wali kelas jika diperlukan.
Komitmen Sekolah untuk Kesejahteraan Siswa
Pihak sekolah mengapresiasi sinergi antara Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Puskesmas Kratonan, dan SMA Kristen 1 Surakarta dalam mendukung kesejahteraan holistik para siswa. Melalui edukasi P3LP ini, diharapkan para siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki ketahanan emosional (emotional resilience) yang kuat serta kepedulian yang tinggi terhadap sesama di lingkungan sekolah.SURAKARTA — Kesehatan mental remaja kini menjadi perhatian serius di dunia pendidikan. Sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan ramah kesehatan mental, SMA Kristen 1 Surakarta bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan Puskesmas Kratonan menyelenggarakan sosialisasi mengenai Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP).
Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah ini menghadirkan dua narasumber dari Puskesmas Kratonan, yaitu dr. Arifa dan dr. Yulia. Acara ini diikuti dengan penuh antusias oleh para siswa-siswi yang tampak tekun menyimak pemaparan materi.
Memahami Pentingnya P3LP di Lingkungan Sekolah
Dalam penyampaian materinya, dr. Arifa dan dr. Yulia menjelaskan bahwa sama halnya dengan cedera fisik yang memerlukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), gangguan atau krisis emosional juga membutuhkan penanganan awal melalui Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP).
P3LP bertujuan untuk memberikan dukungan emosional awal kepada individu yang sedang mengalami situasi stres berat, krisis, atau trauma, sehingga mencegah dampak psikologis yang lebih berat.
"Siswa diajak untuk mengenali tanda-tanda awal ketika teman sebaya mengalami tekanan mental atau perubahan emosi yang signifikan, serta bagaimana memberikan respons empati yang tepat tanpa menghakimi," terang dr. Arifa.
Sesi Interaktif dan Simulasi Pertolongan Sebaya
Tak hanya mendengarkan materi, para siswa juga diajak terlibat aktif dalam sesi diskusi dan simulasi. Beberapa perwakilan siswa maju ke depan untuk mempraktikkan langsung skenario pendampingan teman sebaya (peer support) ketika menghadapi situasi krisis emosional.
Melalui simulasi ini, para siswa belajar tiga prinsip utama P3LP, yaitu:
1. Lihat (Look): Memperhatikan tanda-tanda kecemasan atau perubahan perilaku pada teman.
2. Dengar (Listen): Menjadi pendengar yang aktif dan penuh empati tanpa langsung memberikan penilaian.
3. Hubungkan (Link): Membantu menghubungkan teman yang membutuhkan kepada pihak profesional atau guru BK / wali kelas jika diperlukan.
Komitmen Sekolah untuk Kesejahteraan Siswa
Pihak sekolah mengapresiasi sinergi antara Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Puskesmas Kratonan, dan SMA Kristen 1 Surakarta dalam mendukung kesejahteraan holistik para siswa. Melalui edukasi P3LP ini, diharapkan para siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki ketahanan emosional (emotional resilience) yang kuat serta kepedulian yang tinggi terhadap sesama di lingkungan sekolah.