Bencana menjadi momok yang tak kunjung usai. Ia lahir dari gejolak fenomena alam, nonalam, maupun dinamika sosial yang semakin memperlemah pertahanan masyarakat. Kita sering kali disuguhi berita besar tentang bencana berskala luas (mega disaster), lengkap dengan perhatian negara, bantuan dari segala penjuru, bahkan dukungan internasional. Akan tetapi, di balik sorotan tersebut, terdapat jenis bencana lain yang kerap luput dari perhatian, yaitu bencana berskala kecil (micro disaster).
Bencana kecil ini muncul perlahan akibat kerusakan lingkungan dan lemahnya manajemen pembangunan. Kehadirannya tidak tampak secara langsung, bersifat kumulatif, serta paling sering menimpa kelompok rentan. Fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk slow violence yang dampaknya perlahan terasa dalam jangka panjang. Situasi demikian menuntut adanya manajemen krisis bencana yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis, melainkan juga menumbuhkan jiwa prososial sebagai kekuatan komunitas. Melalui perilaku prososial, setiap individu dalam komunitas dapat saling menguatkan, memberikan dukungan, dan bersinergi sehingga rantai krisis berulang yang dialami selama bertahun-tahun dapat diputus.
Sinergi Tangkas Bencana Hadir sebagai jejak perjalanan menuju Indonesia Emas Tangguh Bencana 2045, membangun sinergitas wilayah komunitas rentan untuk tumbuh resilien menghadapi situasi krisis dalam sektor kebencanaan baik secara fisik, psikologis, sosial dan spiritual.Â