Pasca-Kemerdekaan Indonesia, terjadi peristiwa kelam yang menyelimuti sejarah Indonesia, yakni masa bersiap. Masa bersiap merupakan masa yang merujuk pada periode konflik dan kekacauan yang berlangsung di Indonesia pada tahun 1945 hingga 1946. Periode ini ditandai oleh pertempuran dan perang saudara antara berbagai kelompok yang berusaha mengisi kekosongan kekuasaan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.
Masa ini dinamai "bersiap", sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang berarti "bersiap-siap" atau "siap", sebagai simbol dari kesiapan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya dari penjajahan asing. Masa Bersiap menjadi titik awal dari apa yang kemudian dikenal sebagai Perang Kemerdekaan Indonesia, konflik antara Indonesia dan Belanda yang berlangsung hingga tahun 1949, yang berakhir dengan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia. Penggunaan istilah “bersiap” tampaknya dipersoalkan oleh sejumlah sejarawan, yang mana tidaklah tepat menggunakan istilah tersebut karena berkesan rasis. Istilah “bersiap” lebih akrab dengan Belanda, sedangkan di Indonesia lebih mengenalnya dengan sebutan agresi Belanda. Kemudian, Rosihan Anwar di dalam bukunya Napak tilas ke Belanda: 60 tahun perjalanan wartawan KMB 1949 (2021: 41), menyatakan,
"Masa itu dikenal sebagai masa perjuangan: Bersiap. Belanda menamakannya Bersiap-periode. Bila malam telah tiba, rakyat di gang dan lorong kecil waktu mendengar aba-aba teriakan 'siaapp' lalu mengambil tempat di balik barikade rintangan dengan bersenjata bambu runcing, golok, satu, dua senjata api, seperti pistol, menantikan kedatangan serdadu-serdadu Nica-Belanda yang lewat. Bentrokan senjata terjadi. Korban berjatuhan di kedua belah pihak.”
Perlu diakui bahwa periode ini merupakan masa kelam bangsa Indonesia, yang mana sudah memakan korban dengan perkirakan antara 3.500-20.000 jiwa, mencakup orang-orang Belanda dan keturunannya, serta komunitas Tionghoa, Jawa, dan Maluku. Masa bersiap telah memakan banyak korban, ada yang disiksa dan diperkosa, bahkan dibunuh. Perdana Menteri Sjahrir pun turut menjadi target pembunuhan kala itu. Isu rasial di Indonesia kala itu pun banyak ditemukan, hal ini juga diaminkan oleh Sutan Sjahrir sebagaimana yang ditulis di bukunya Perjuangan Kita,
"Kebencian terhadap orang Indo, Ambon, dan Menado hanya dapat diartikan oleh luar negeri, bahwa kesadaran kebangsaan kita di antara rakyat banyak terbukti masih sangat tipis atau belum ada sama sekali.”
Adanya peristiwa kelam ini tentu jarang—bahkan tidak pernah—diajarkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia, kita lebih sering mempelajari betapa menyedihkannya negeri kita dijajah oleh bangsa-bangsa asing, seperti Belanda, Jepang, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam realitasnya, periode kelam ini pun turut mewarnai sejarah yang terjadi di Tanah Air kita tercinta.