ECOLOGICAL & ETHNOGRAPHIC RESEARCH FOR rungan CONSERVATION

INTEGRATING ECOLOGICAL & ETHNOGRAPHIC RESEARCH TO DEVELOP EFFECTIVE CONSERVATION IN THE THREATENED RUNGAN LANDSCAPE

INTEGRASI PENELITIAN EKOLOGIS & ETNOGRAFIS UNTUK MENGEMBANGKAN KONSERVASI EFEKTIF PADA BENTANG ALAM RUNGAN

A RESEARCH SYMPOSIUM & TRAINING WORKSHOP PRESENTED BY: THE BORNEO NATURE FOUNDATION & UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA

In collaboration with Exeter, Cornell, Rutgers & Brunel Universities

Supported by the British Academy & American Institute for Indonesian Studies

SIMPOSIUM DAN LOKAKARYA PELATIHAN OLEH: THE BORNEO NATURE FOUNDATION & UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA

Bekerjasama dengan para universitas Exeter, Rutgers, Cornell & Brunel

Didukung oleh British Academy & American Institute for Indonesian Studies

BACKGROUND

The tropical forests of Borneo belong to one of the biologically richest and most imperiled biodiversity hotspots on Earth. These habitats have experienced rapid and extensive destruction and degradation from human activities, including drainage, fire, logging, mining, and industrial agriculture. As a result, Indonesia exhibited the greatest global increase in deforestation during the 21st century. A significant challenge for conservation research is to develop cost-efficient methods to detect and monitor the responses of ecological communities to anthropogenic change, while also assessing the efficacy of conservation interventions. One potential solution is to identify and study indicator species that can be easily monitored and whose populations reflect or predict the condition of their habitats.

Beyond understanding the ecological consequences of human-driven change, effective conservation policy requires in-depth comprehension of how and why stakeholder decisions are made. In recognizing that conservation problems are as much about both people as nature, conservation research has necessarily become interdisciplinary, integrating both natural and social sciences. Strong collaboration among scientists and local stakeholders enables not only more socially just but also more ecologically effective conservation. Indeed, research indicates that stakeholder engagement at the initiation and throughout conservation programs that synthesizes their knowledge and values in decision-making can lead to improved outcomes.

Our collaborative program targets the Rungan landscape in Central Kalimantan, Indonesia, a 135,000-ha area comprising diverse primary and secondary habitats within a matrix of logging, agriculture, and mining. Despite housing an incredibly rich fauna – including all five Bornean wildcats and nine primates –the majority of this unprotected area is designated for conversion to oil-palm and wood-pulp plantations. This landscape offers a unique opportunity to study the influence of ecological and anthropogenic factors on species distribution and density, providing critical information to aid in the protection and management of endangered wildlife. Furthermore, indigenous Dayak Ngaju communities inhabit small villages along the Rungan and Kahayan Rivers, whose livelihoods include small-scale mining, fishing, farming, and collecting non-timber forest products. The challenge is to develop a conservation plan that incorporates their perspectives, values, and needs and supports sustainable exploitation of environmental resources.

This program is part of a Borneo Nature Foundation (BNF) initiative to protect the Rungan landscape, inspired by biodiversity surveys conducted by BNF and Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMP) that highlighted the importance of this region for biodiversity conservation. Our collaboration of natural and social scientists, conservation practitioners, and local community members at the University of Exeter, Rutgers University, Cornell Lab of Ornithology, Brunel University, BNF, UMP, and the Mungku Baru community aims to undertake long-term ecological and anthropological research to support wildlife conservation and promote human well-being in the threatened Rungan landscape.

This event aims to strengthen, expand, and promote the findings of this program and further our collaborative research through a research symposium and training workshops. We seek to disseminate our research findings more widely with key stakeholders and, by inviting scholars working in other topical areas, we hope this will lead to new collaborations that will complement and expand our research. Our goals are to foster multilateral relationships among scientists, practitioners, and community members, build research capacity, and advance a discussion about how to collaboratively shape conservation in the Rungan landscape that synthesizes local stakeholders’ knowledge and values in decision-making.


LATAR BELAKANG

Hutan tropis Borneo termasuk salah satu dari sekian lokasi keanekaragaman hayati dengan kekayaan biologis terbesar dan sangat terancam bahaya di dunia. Habitat yang ada di dalamnya mengalami kerusakan yang pesat dan besar akibat kegiatan manusia, termasuk kekeringan, kebakaran, pembalakan liar, pertambangan, dan perkebunan industri. Akibatnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang menunjukkan kenaikan deforestasi yang terbesar secara global selama kurun abad 21. Tantangan terbesar dalam melakukan penelitian konservasi di tempat ini adalah dalam mengembangkan metode yang ramah biaya untuk mendeteksi dan memantau tanggapan masyarakat ekologis terhadap perubahan antropogenis, selain juga mengkaji sejauh mana efikasi dari intervensi konservasi yang dilakukan. Salah satu jalan keluar yang mungkin dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dan mempelajari spesies-spesies indikator yang mudah terpantau dan populasi yang mana yang merefleksikan atau menjadi tolok ukur prediksi terhadap kondisi habitatnya.

Lebih dari sekedar pemahaman akan konsekuensi ekologis dari perubahan akibat perbuatan manusia, kebijakan konservasi yang efektif membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana dan mengapa keputusan-keputusan dibuat oleh para pemangku kepentingan. Dengan memahami bahwa masalah konservasi tidak hanya tentang manusia tetapi juga tentang alam itu sendiri, maka penelitian konservasi secara otomatis menjadi interdisipliner, sebuah integrasi antara disiplin ilmu sosial dan juga ilmu alam. Kerjasama yang kuat antar para ilmuwan dan pemangku kepentingan setempat tidak hanya menumbuhkan konservasi secara sosial tetapi juga konservasi yang efektif secara ekologis. Terbukti bahwa penelitian yang mencerminkan adanya keterlibatan para pihak terkait dalam kegiatan awal dan dalam program konservasi secara keseluruhan yang menyelaraskan pengetahuan dan nilai-nilai pengambilan keputusan dapat membawa pada hasil yang lebih baik.

Program kerjasama ini menargetkan bentang alam Rungan yang ada di Kalimantan Tengah, Indonesia, dengan luas sebesar 135.000 ha meliputi habitat-habitat primer dan sekunder yang terbagi atas matriks logging, pertanian dan pertambangan. Meskipun area ini menjadi rumah bagi kekayaan fauna yang melimpah – termasuk lima jenis kucing liar Borneo dan sembilan jenis primata – sebagian besar wilayah yang belum terlindungi ini sudah ditetapkan untuk konversi perkebunan kelapa sawit dan perkebunan kayu industri. Bentang alam ini menawarkan peluang yang unik sebagai tempat untuk melakukan studi pengaruh faktor-faktor ekologis dan antropogenis terhadap distribusi dan kepadatan spesies, yang menjadi sumber informasi yang penting untuk mendampingi perlindungan dan pengelolaan satwa liar yang terancam punah. Lebih jauh lagi, masyarakat asli Dayak Ngaju di wilayah ini menghuni desa-desa kecil di sepanjang sungai Rungan dan Kahayan, dan mata pencaharian mereka umumnya pertambangan rakyat, nelayan, bertani, dan mengumpulkan hasil hutan non-kayu dan. Tantangannya adalah untuk mengembangkan suatu rencana konservasi yang bisa memadukan perspektif, nilai dan kebutuhan serta dukungan yang bisa diberikan dalam mendukung ekstraksi sumberdaya lingkungan yang berkelanjutan.

Program ini merupakan inisiatif untuk melindungi bentang alam Rungan, terinspirasi dari survei keanekaragaman hayati yang dilakukan oleh Borneo Nature Foundation (BNF) dan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMP), yang menyoroti pentingnya wilayah ini bagi konservasi keanekaragaman hayati. Kerjasama ini melibatkan sejumlah ilmuwan alam dan sosial, pratisi konservasi dan kelompok masyarakat dari University of Exeter, Rutgers University, Cornell Lab of Ornithology, Brunel University, BNF, UMP, serta masyarakat Mungku Baru, dengan tujuan untuk melakukan penelitian ekologis dan antropologis jangka panjang dalam rangka mendukung konservasi satwa liar serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di bentang alam Rungan yang terancam bahaya lingkungan.

Kegiatan ini bermaksud untuk memperkuat, memperluas dan menyebarluaskan temuan dari program yang dilakukan dan juga dari penelitian kolaboratif kami melalui simposium penelitian dan rangkaian lokakarya pelatihan. Kami ingin memperkenalkan temuan dari penelitian ini secara lebih luas kepada para pemangku kepentingan, dan dengan cara mengundang para akademisi yang juga bekerja di daerah tropis di wilayah lain, kami berharap bisa menjalin kerjasama baru yang bisa melengkapi dan memperluas penelitian ini. Sasaran akhirnya adalah untuk memperkuat hubungan multilateral antar para ilmuwan, praktisi dan masyarakat, untuk membangun kapasitas penelitian, dan membuka diskusi tentang bagaimana merancang konservasi yang kolaboratif dalam bentang alam Rungan yang menyelaraskan pengetahuan dan nilai-nilai yang dipegang pihak lokal ke dalam pengambilan keputusan.

OBJECTIVES:

  1. Disseminate preliminary findings from current collaborative research and conservation in the Mungku Baru Education Forest (KHDTK) and Rungan landscape to draw research and conservation attention to the area
  2. Provide training and capacity-building for local and international students, scholars, and practitioners
  3. Identify future research and conservation priorities and funding schemes
  4. Expand international collaborations between Indonesian, UK, and US scholars to promote high-impact, multi-disciplinary conservation research in the Rungan landscape across the natural and social sciences

TUJUAN:

  1. Menyebarluaskan temuan dari penelitian dan konservasi kolaboratif yang dilakukan di Hutan Pendidikan Mungku Baru (KHDTK) dan bengang alam Rungan dalam rangka menarik perhatian terhadap penelitian dan konservasi di wilayah ini
  2. Membuka kesempatan untuk pelatihan dan penguatan kapasitas bagi mahasiswa lokal dan internasional, para akademisi dan praktisi
  3. Mengidentifikasi prioritas-prioritas untuk penelitian dan konservasi selanjutnya
  4. Memperluas kerjasama internasional antara para akademisi Indonesia, Inggris dan Amerika dalam memperkenalkan penelitian konservasi multi-disipliner yang berdampak luas di bentang alam Rungan kepada dunia ilmu pengetahuan alam dan sosial