Memasuki Galeri Pertama akan disuguhi 3 panel yang masing-masing panel menjelaskan perjalanan sejarah atau timeline mulai perseteruan bangsa barat hingga masa gelap Surakarta.
Pada Galeri Kedua ada 3 lukisan dan 4 lemari. Lukisan pertama (kiri) mengenai Geger Pecinan, Lukisan kedua (tengah) mengenai Perang Mataram, Lukisan ketiga (kanan) mengenai Perang Diponegoro. Lalu di lemari pertama berisi tentang penjelasan Geger Pecinan di Batavia, lemari kedua berisi tentang pecahnya Mataram melalui Perjanjian Gianti, lemari ketiga berisi tentang Perang Jawa hingga munculnya Tanam Paksa, lemari keempat berisi tentang Jawa Bersolek hingga buku Max Havelaar karya Multatuli.
Galeri Ketiga ini disebut sentong (ruangan kecil pada rumah Joglo). Ruangan ini berisi ruangan kaca dan terdapat tampilan layar tv mengenai buku Max Havelaar karya Multatuli atau Douwes Dekker yang mengkritik keras terhadap sistem Tanam Paksa.
Galeri keempat mengenai politik etis dan dampaknya. Ada empat tema seperti perubahan sosial di Surakarta, kesadaran kebangsaan Indonesia, Surakarta dan gerakan radikalisme partai, dan revolusi dan turbulensi di Surakarta.
Galeri kelima mengenai revolusi total di Surakarta pada tahun 1945-1949. Mulai dari proklamasi kemerdekaan dan pembentukan daerah istimewa atau swapraja di Surakarta hingga penyerahan kekuasaan Belanda ke Surakarta di Stadion Sriwedari. Pada galeri ini juga terdapat foto-foto sejarah seperti foto penonton penyerahan kekuasaan Belanda ke Surakarta di Sriwedari dan foto mengenai laskar srikandi dan tentara pelajar.
Galeri keenam ini mengenai garis besar Jepang di Indonesia. Mulai dari Jepang mendarat pertama kali di Indonesia tepatnya di Kalijati, Jawa Barat hingga isi pidato Soekarno. Selain itu juga terdapat gambar mengenai pembakaran gedung kepatihan.
Galeri terakhir mengenai Surakarta masa kini. Galeri ini lebih menjelaskan arsitektur, kultur, budaya, kuliner, dan seni yang ada di Surakarta pada masa kini.