Jalan Panjang 'Kelahiran' Pesawat N219 Nurtanio

Jakarta, Rifan Financindo || -- Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengisahkan jalan panjang yang harus dilalui selama mengembangkan pesawat N219. Pesawat yang oleh Presiden Joko Widodo diberi nama Nurtanio ini sebenarnya telah dikembangkan sejak tahun 2006.


"Pengembangan dimulai sejak 2006 dengan uji seperti terowongan angin sudah dimulai sampai 2012. Kemudian mulai intensif setelah LAPAN mendapatkan anggaran dan dilaksanakan pada 2012," ungkap pria yang kerap disapa Djamal saat ditemui CNNIndonesia.com di Lanud TNI AU Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (10/11).


Lebih lanjut ia menjelaskan pihaknya melalui proses bertahap untuk bisa mendapatkan anggaran, lantaran sempat hilang di tahun 2012. Namun kemudian di tahun 2014, LAPAN mendapatkan anggaran dalam jumlah cukup besar.


LAPAN sendiri sejauh ini sudah menggelontorkan dana skitar Rp550 miliar untuk proyek ini. Hingga akhir 2018 nanti, pesawat yang diujicobakan untuk komersial akan menghabiskan dana hingga Rp1,1 triliun.


"Proses mendapatkan anggaran itu ternyata lama. Kami beverja sama dengan PTDI, BPPT, dan instansi terkait lainnya. Baru di tahun 2014 LAPAN mendapat anggaran cukup besar untuk program pembuatan N219," jelasnya.


Tepat dua tahun lalu pada 10 November 2015, Djamal menjelaskan pesawat N219 sudah mulai menunjukkan bentuk fisiknya. Selain LAPAN, lembaga terkait juga turut merogoh kocek untuk pengembangan 'Nurtanio'.


Ia juga mengatakan peran lembaga yang terlibat seperti PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan lembaga terkait yang juga turut memberikan suntikan untuk pengembangan N219.


"Total anggaran yang sudah dikeluarkan LAPAN sekitar Rp550 miliar. PTDI juga mengeluarkan anggaran. Itu total biaya yang dikeluarkan sampai produksi Rp1,1 triliun," cerita Djamal.


Namun begitu, ia mengungkapkan masih ada beberapa hal yang harus disempurnakan sebelum memasuki tahap produksi. Salah satunya adalah ijin sertifkasi sebagai pesawat komersial.


"Ini kan sebagai pesawat yang baru dikembangkan, tentu ada proses penyesuaian-penyesuaian. Memang beberapa kali sempat ada pergeseran-pergeseran, tetapi alhamdullilah bisa terbang perdana 16 Agustus lalu," tutupnya.


Jelang produksi massal untuk jangkau daerah terpencil


Setelah merampungkan tahapan uji terbang hari ini, pesawat N219 bersiap untuk memasuki tahapan produksi dan dikomersialkan pada awal 2019. Tahapan uji copa sendiri masih akan berlanjut hingga tahun 2018 nanti.


Nantinya, Djamal menyebut satu unit ‘Nurtanio’ akan dibanderol seharga US$6 juta. Takap produksi massal untuk memenuhi kebutuhan logistik di daerah terpencil sebagai tol laat dan feeder atau pengisi penerbangan lokal dan regional.


Pesawat N219 kabarnya sudah mendapatkan peminat, yaitu dari Gubernur Kalimantan Utara. Meski berbodi kecil, pesawat ini memiliki keunggulan terutama karena sistemnya yang tak terlalu rumit namun sudah sesuai dengan standar teknologi baru.


"Targetnya akhir 2018 pesawat sudah bisa diperoleh, di awal 2019 sudah mulai proses produksi," imbuhnya.


Di awal proses produksi, PTDI ditargetkan membuat enam unit per tahunnya. Baru kemudian, kapasitas produksi akan ditingkatkan.


Menggunakan komponen asing


Selama proses perancangan pesawat, Djamal mengakui jika seluruh SDM yang terlibat merupakan orang Indonesia. Namun, ia tidak mengelak jika masih ada beberapa komponen yang harus didatangkan dari luar negari.


Targetnya, tahun depan pesawat N219 bisa menambah kandungan lokal hingga mencapai 60 persen. Desain pesawat disiapkan oleh PTDI dan dukungan rancang bangun oleh LAPAN.


" Pembuatan) dari dalam negeri mulai dari rancangannya sampai nanti pembuatannya. Komponen jelas masih ada dari luar tetapi komponen lokalnya akan diupayakan mencapai 60 persen," jelasnya.