Halaman ini berisi artikel dari pustakawan. Artikel yang ada dibuat hanya untuk mengisi waktu luang sehingga harap maklum jika isinya tidak terlalu "berat". Seluruh artikel tidak diterbitkan dalam versi cetak, lebih-lebih tersedia di perpustakaan offline. Untuk membacanya, silakan sentuh anak panah di sebelah kanan tampilan judul. Selamat membaca, semoga menginspirasi.
Oleh: Fis Habib
Kartografi merupakan ilmu, teknik, dan seni dalam merancang, membuat, menyajikan, dan
mengkomunikasikan informasi geografis melalui peta. Setelah bertahun-tahun menjadi kartografer
(pembuat peta) ternyata penulis baru menyadari bahwa dusun merupakan wilayah yang memiliki
batas administrasi unik. Disebut unik karena dalam banyak kasus, wilayah dusun tidak ditandai
dengan garis batas yang jelas di lapangan.
Kawasan permukiman dusun umumnya berbatasan langsung dengan lahan pertanian,
seperti sawah, ladang, atau perkebunan. Peralihan penggunaan lahan tersebut sering kali menjadi
petunjuk visual untuk mengenali keberadaan dusun di lapangan. Batasnya jarang berupa unsur
geografis alami (natural boundary) yang sekaligus berfungsi sebagai batas wilayah administrasi,
sebagaimana yang dapat dijumpai pada batas desa atau kecamatan.
Sungai, punggung pegunungan/perbukitan, dan unsur geografis lainnya dapat digunakan
sebagai batas alami wilayah administrasi yang kemudian digambarkan sebagai garis pada peta.
Uniknya, batas dusun tidak selalu ditandai oleh unsur geografis yang tegas seperti itu. Dengan
kata lain, keberadaan dusun sangat erat kaitannya dengan permukiman penduduk. Dusun
bukanlah jenis penggunaan lahan, tetapi keberadaannya sering kali dapat dikenali melalui pola
permukiman.
Dari temuan di atas, akhirnya penulis menyadari bahwa dalam kehidupan administratif
perkotaan, istilah dusun umumnya tidak digunakan sebagaimana di wilayah perdesaan. Sebagai
contoh, di Surabaya. Di kota ini, satuan wilayah di bawah kecamatan adalah kelurahan, yang
secara hierarkis setara dengan desa. Begitu pula di Jakarta dan kota besar lainnya. Tidak terdapat
satuan kewilayahan berupa dusun di bawah kelurahan. RW dan RT-lah yang "bersentuhan
langsung" dengan masyarakat.
Pada masa ketika wilayah perkotaan masih belum padat, keberadaan dusun masih dapat
dijumpai. Namun, ketika kawasan tersebut berkembang menjadi wilayah perkotaan, identitas
dusun secara administratif tidak lagi digunakan dan kehidupan kemasyarakatannya kemudian
berlangsung dalam struktur RW dan RT. Kalaupun masyarakat setempat tetap ingin mengenang
nama dusunnya, salah satu caranya adalah dengan mengabadikannya sebagai nama jalan atau
fasilitas umum lainnya.
Bayangkan jika keberadaan dusun tetap "dipaksakan" untuk kawasan perkotaan di masa
kini. Yang terjadi adalah kita akan kesulitan membedakan satu dusun dengan dusun lainnya
karena hampir seluruh wilayahnya berupa permukiman yang relatif homogen. Bukankah
keberadaan sebuah dusun lebih mudah diidentifikasi jika penggunaan lahannya bersifat heterogen
sebagaimana di kawasan perdesaan?
Jika ditarik ke dalam halaman layout peta, penulis menilai bahwa jenis peta yang sangat
sesuai untuk menunjukkan keberadaan wilayah dusun adalah peta tematik penggunaan lahan
(land use). Alasannya, peta jenis ini umumnya memiliki toponimi yang lebih rinci dibandingkan
dengan peta tematik lainnya, termasuk peta pembagian wilayah administrasi. Begitu repot jika
peta administrasi harus mencantumkan keberadaan dusun yang batas administrasinya tidak
selalu tegas dan berhimpitan antar dusunnya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dusun merupakan wilayah administrasi yang
unik dalam perspektif kartografi. Keberadaannya sangat erat kaitannya dengan permukiman
penduduk, tetapi dusun bukanlah jenis penggunaan lahan. Pada umumnya, dusun juga
merupakan satuan kewilayahan di kawasan perdesaan. Karena batasnya tidak selalu ditandai
oleh unsur geografis yang tegas, keberadaan batas dusun sering kali lebih sulit dikenali secara
visual dibandingkan batas desa atau kecamatan.
(Kasiman, 4/09/2026)
Oleh: Fis Habib
Tidak ada buku teks mata pelajaran IPS yang mengulas lingkungan tempat tinggal para
siswa. Begitu pula dengan keberadaan koleksi kartografi di perpustakaan yang menggambarkan
wilayah kecamatan. Keduanya relatif sulit ditemukan dalam koleksi perpustakaan sekolah. Buku
teks yang ada cenderung mengulas informasi pada lingkup nasional, sementara kondisi sosial dan
fenomena alam di sekitar tempat tinggal siswa justru kurang terangkat.
Kurikulum nasional sebenarnya telah memberikan ruang untuk mengatasi persoalan
tersebut. Guru dituntut mampu mengangkat dan mengintegrasikan kearifan lokal di lingkungan
tempat tinggal siswa. Untuk hal ini, kemampuan guru tidak perlu diragukan. Berbagai diklat dan
workshop sering mengangkat isu kearifan lokal. Namun, ada hal yang nyaris belum tersentuh.
Salah satunya adalah ketersediaan media belajarnya. Tidak semua guru dapat mengatasi
masalah ini.
Ketika semua perangkat mengajar sudah mengacu pada kearifan lokal, tentu lembar kerja
siswa juga demikian. Namun, buku teks dan peta masih menyajikan fenomena pada wilayah
administrasi yang lebih luas dari wilayah kabupaten. Data serta fenomena sosial di tingkat provinsi
dan nasional masih kerap jadi rujukan utama para guru. Artinya, perangkat pembelajaran yang
digunakan guru dan media belajar yang tersedia tidak lagi sepenuhnya sinkron, apalagi relevan
dengan konteks lokal.
Salah satu kunci untuk mengatasi permasalahan tadi adalah kembali pada peningkatan
kemampuan guru, khususnya guru IPS. Guru IPS perlu memiliki kemampuan untuk
mengembangkan bahan ajar bertema lokal. Begitu pula dengan peta, guru perlu memiliki
kemampuan dasar untuk membuat atau mengembangkan peta tingkat kecamatan, bahkan desa.
Jika belum mampu, minimal dapat menemukan keduanya untuk dibawa ke dalam ruang kelas.
Data-data yang diperlukan untuk mengembangkan media belajar bertema lokal sebenarnya
telah tersedia di berbagai lembaga pemerintah, baik dalam bentuk data statistik, arsip, maupun
data spasial. Misalnya pada Perpustakaan Daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), serta Badan
Pertanahan Nasional (BPN). Tinggal modal kemauan untuk mengaksesnya. Jika terbatas pada
kesempatan dan prosedur administrasinya, bukankah kini semuanya dapat diakses secara
daring?
Untuk sementara, kita kesampingkan dulu belajar tentang teknis kurikulum yang sifatnya
tidak awet. Selain sudah banyak yang mendalami dan ahli di bidang itu, belajar mengenai media
belajar IPS juga tidak kalah penting. Dalam banyak kasus, media pembelajaran yang baik justru
dapat bertahan melampaui masa berlaku suatu kebijakan atau perubahan kurikulum. Bahkan,
dalam pengalaman penulis, sebuah media pembelajaran dapat bertahan hingga melewati tiga kali
transisi kurikulum.
Pertanyaannya, bagaimana jika guru IPS belum mampu membuat media belajar dan peta
lokal secara mandiri? Jika karena faktor latar belakang pendidikan maka itu dapat diatasi dengan
belajar bersama melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Selain lebih mudah karena
menerapkan metode tutor teman sebaya, MGMP juga memiliki kedekatan dengan konteks daerah
karena mempertemukan guru-guru yang mengajar pada lingkungan pendidikan yang relatif sama.
Jika ingin cepat dalam menggambar peta, lebih baik hindari dahulu menggunakan bantuan
AI (Akal Imitasi). Saat ini AI generatif belum dapat diandalkan untuk menghasilkan peta yang
benar dan baik. Benar secara geografis dan kartografis, sekaligus baik secara visual. Jangankan
peta kecamatan, peta negara pun bisa terlihat kacau jika digambar menggunakan AI. Meskipun
memakai prompt yang rinci dengan ribuan kata, penulis tetap tidak yakin jika AI bisa
melakukannya dengan sempurna.
(Kasiman, 13/08/2026)
Oleh: Fis Habib
Jadi begini, ada cerita unik saat Gus Dur menjabat presiden. Beliau adalah presiden yang gemar berkunjung ke banyak negara. Bukan karena "aji mumpung", tetapi untuk melakukan lobi politik kenegaraan. Beberapa negara yang dikunjungi adalah negara-negara di Asia Barat, termasuk Arab Saudi.
Saat Gus Dur berkunjung ke Arab Saudi, Sang raja Arab dibuat tertawa terbahak-bahak karena gurauan beliau. Bahkan, ada yang menambahkan bahwa setelah itu, hutang Indonesia langsung dianggap lunas oleh raja Arab. Kurang lebih ini isi pembicaraannya:
"Begini Tuan, bahasa Arab di sini berbeda dengan bahasa Arab di negeri kami"
"Berbeda bagaimana ya Syeh? timpal Sang raja.
"Kalau di negeri Indonesia, rambu-rambu di jalanan dan terowongan Masjidil Haram yang berbunyi mamnu' ud-dukhul tidak diterjemahkan sebagai 'dilarang masuk' seperti yang diketahui masyarakat Arab sini", Gus Dur menguraikan maksud kalimat sebelumnya.
"Lantas, bagaimana terjemahnya menurut versi masyarakat Anda?"
"Menurut kami yang masih mempelajari bahasa Arab klasik, rambu-rambu itu salah tempat dan tidak perlu dipasang" Gus Dur melanjutkan.
"Salah tempat?" Sang raja rupanya masih belum memahami arah pembicaraan Gus Dur.
"Iya, karena menurut kami, maknanya bukan 'dilarang masuk', tetapi 'dilarang berhubungan suami-istri', Tuan!"
Seketika sang Raja tertawa terbahak-bahak. Mulut sang raja terbuka lebar ketika tertawa, hingga gigi-giginya tidak luput dari bidikan kamera pers. Bisa ditebak, pagi hari setelah kejadian itu, koran di Arab Saudi memuat foto sang raja saat bergurau dengan Gus Dur.
Respon masyarakat Arab pun beragam. Salah satunya melalui surat yang dikirim ke Gus Dur: "Terima kasih Syeh Wahid! seumur hidup, rasanya baru kali ini kami melihat raja kami tertawa bahagia hingga gigi beliau terlihat". Respon lain terkait gurauan dua raja adalah perubahan kebijakan penataan rambu-rambu di kota Makkah dan Madinah.
Meski sulit dicari sumber rujukannya secara tertulis, namun cerita di atas sangat populer di kalangan pondok pesantren. Menurunnya jumlah hutang Indonesia antara tahun 2000-2001 rasanya sudah cukup untuk membuktikan cerita tadi.
Bukti lainnya, sekarang tidak ada lagi rambu-rambu yang dimaksud Gus Dur. Ketika berkunjung ke Arab Saudi pada tahun 2024, penulis sudah tidak menemukan rambu-rambu "dilarang berhubungan suami-istri". Baik di dalam lingkungan Masjidil Haram maupun di masjid Nabawi, he..he..he...
(Kasiman, 21/04/2026)
Oleh: Fis Habib
Ketika di Arab Saudi, saya pernah bersama seorang kiai pimpinan pondok pesantren. Sang kiai menyampaikan keluhan mengenai kondisi kamar hotel kepada karyawan hotel. Meski sang kiai berbicara dengan tata bahasa yang sangat baik, rupanya si karyawan tidak mampu memahami kata-kata yang dia dengar. Berkali-kali sang kiai mengulang penjelasannya, tetapi si karyawan lebih sering diam dan sesekali menggelengkan kepala. Setelah si karyawan pergi, sang kiai lantas menggerutu, "orang Arab kok tidak mengerti bahasa Arab?".
Saya menduga, si karyawan tadi hanya mengenal bahasa pasaran (ammiyah) dalam berbicara. Di sisi lain, sang kiai terus berbicara dengan bahasa resmi (fusha). Sama-sama bahasa Arab, namun berbeda pada kosa kata dan pelafalannya. Ammiyah lebih dikenal sebagai bahasa percakapan modern, sedangkan fusha dikenal sebagai bahasa kitab suci. Serupa tetapi tidak sama. Atau, berkerabat namun tidak saling mengenal.
Menurut masyarakat Asia Barat, bahasa Arab yang kita kenal saat ini adalah bahasa Arab versi klasik. Bahasa yang digunakan 1400 tahun silam, ketika awal penyebaran Islam di jazirah Arab. Saat itu, kosa kata, pelafalan, dan struktur pada bahasa Arab masih teratur dan identik dengan kitab suci. Karenanya, bahasa Arab fusha begitu mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Bahkan, banyak buku klasik berbahasa Arab yang ditulis oleh para ilmuwan dari luar negeri Arab.
Layaknya bahasa Arab, bahasa yang kita gunakan sebenarnya juga mengalami pergeseran. Artinya, bahasa masyarakat Nusantara ratusan tahun silam dengan bahasa kita saat ini sudah berbeda. Bahasa yang digunakan 1400 tahun silam pada zaman kerajaan Tarumanegara dan Kalingga tentu tidak sama dengan bahasa kita saat ini. Bahkan, sekarang tidak ada lagi bangsa yang menggunakan bahasa Sanskerta sebagai bahasa resmi sebagaimana kerajaan-kerajaan di Nusantara tadi.
Jangankan bahasa Sanskerta, kita mendengar bahasa 200 tahun silam saja sudah bingung. Bisa jadi tidak mengerti sama sekali. Coba saja membaca fragmen Serat Wedhatama karya seorang raja dari Surakarta, KGPAA Mangkunegara IV (1811-1881) berikut:
Mingkar mingkuring ungkoro.
Akarono karnan mardi siwi.
Sinawung resmining kidung.
Sinubo sinukarto.
Itu adalah bahasa Jawa klasik alias bahasa Kawi. Masih terpengaruh bahasa Sanskerta, namun tidak berkaitan dengan bahasa Indonesia.
Setelah menyadari adanya evolusi bahasa, sekarang saya menjadi tidak begitu heran ketika ada orang Arab yang tidak memahami bahasa Arab kita. Karena menurut mereka, kita berbicara menggunakan bahasa klasik. Juga tidak heran, ketika mendengar cerita bahwa ada seorang Arab yang tidak bisa membaca Al Quran. Diminta menjadi imam salat pun bacaannya tidak karuan. Makhraj dan tajwidnya jauh di bawah kemampuan anak-anak TPQ di kampung kita.
(Kasiman, 21/04/2026)
Oleh: Fis Habib
Pendahuluan
Cara pandang kita mengenai hari mungkin perlu diluruskan. Meski tidak dapat membenahi kesalahan yang sudah umum berlaku, setidaknya kita dapat memahami makna asal dari istilah atau kata yang ada. Bagaimana tidak, selama ini kita selalu menganggap bahwa hari Senin adalah hari pertama dalam satu pekan. Demikian pula kita sering menggunakan kata Minggu untuk hari pertama sekaligus untuk menunjuk satu putaran hari selama tujuh hari. Rasanya dua fenomena tersebut sudah cukup mewakili beberapa kesalahan konsep (miskonsepsi) yang sering kita anggap sudah benar karena wajar.
Akhir atau Awal Pekan?
Di semua peradaban, jumlah hari memang tujuh. Semua bangsa sama, kecuali (tentu saja) nama dan urutannya. Jika perbedaan nama masih dapat dimaklumi karena ragam bahasa, lain halnya dengan urutannya. Mari kita cermati dulu mengenai permasalahan ini dengan latar budaya bangsa kita. Jika selama ini kita menganggap Senin adalah hari pertama, sebaiknya kita lihat kembali kalender di dinding rumah kita. Bukankah nama hari yang pertama tertulis di sebelah kiri adalah Ahad (Minggu) di setiap bulannya?. Munculnya anggapan Senin sebagai hari pertama mungkin disebabkan karena kita mengawali hari kerja pada hari Senin. Atau mungkin juga karena kita sering mendengar sapaan akhir pekan yang diucapkan pada hari Sabtu malam oleh penyiar berita di televisi.
Dengan menganggap Senin sebagai hari pertama, sebenarnya secara tidak langsung kita juga menganggap bahwa Senin merupakan awal pekan. Jika Senin adalah awal pekan dan Sabtu adalah akhir pekan, lantas bagaimana kedudukan satu hari di antara Sabtu dan Senin?. Sebetulnya mudah untuk menentukan kebenaran mengenai hal ini. Nama-nama hari sebetulnya merupakan kata serapan dari bahasa asing. Dalam bahasa Arab, Senin berasal dari kata al-itsnain yang berarti hari kedua. Demikian juga Selasa (al-tsulatsa) yang bermakna hari ketiga, dan seterusnya hingga Sabtu yang kata dasarnya al-sabt bermakna hari ketujuh. Memang enam dari tujuh nama hari berasal dari bahasa Arab yang memiliki makna urutan angka, kecuali Jumat yang memiliki makna berkumpul (1).
Hari Minggu atau Ahad?
Kita telah mengetahui bahwa akhir pekan adalah hari Sabtu dan awal pekan adalah hari setelahnya. Lantas, mengenai nama hari di awal pekan apakah memang benar Minggu atau Ahad?. Jika dikembalikan ke dalam bahasa asalnya Arab, sebenarnya nama yang dimaksud adalah Ahad mengingat hari itu adalah hari kesatu (ahad=satu) . Diketahui, istilah Minggu untuk penamaan hari di Indonesia berasal dari bahasa Latin (dominicus) yang diserap dalam bahasa Portugal (domingo) dengan makna "hari tuhan kita" (2). Agak aneh memang, mengapa nama-nama hari yang berasal dari bahasa Arab disisipi satu kata yang berasal dari bahasa Portugal (bangsa Portugis).
Setelah melalui kajian literatur sederhana ternyata ditemukan asal-usul penyebutan hari Minggu. Kata ini muncul pada akhir abad-19 dan awal abad-20 (3). Artinya, sebelum akhir abad-19 tidak ada nama Minggu dalam kalender kita. Munculnya Minggu menggantikan Ahad ternyata ada kaitannya dengan salah satu misi penjelajahan samudera oleh bangsa-bangsa Eropa khususnya bangsa Portugis. Misi tersebut adalah gold, glory, dan gospel. Gold diidentikkan sebagai pencarian kekayaan. Glory identik dengan pencarian kejayaan. Sedangkan gospel identik dengan penyebaran agama. Penggantian Ahad menjadi Minggu tentu saja terkait dengan misi ketiga, yaitu penyebaran agama yang dianut mayoritas bangsa penjelajah samudera dari Eropa.
Minggu atau Pekan?
Setiap saya mengatakan "pertemuan pekan lalu" atau "pekan depan", selalu saja ada siswa yang bertanya, "pekan itu apa Pak?". Mereka baru memahami setelah saya berganti istilah "minggu lalu" atau "minggu depan". Di sisi lain, kadang para siswa juga berkelakar pada hari Sabtu menjelang pulang sekolah, "besok kita libur satu minggu ya Pak?". Bagi saya, terdapat kejanggalan pada dua contoh kejadian tadi. Bagaimana tidak, para siswa menggunakan istilah minggu di dua satuan waktu yang berbeda. Satu untuk menunjuk putaran waktu 1x7 hari, yang lain menunjukkan putaran waktu 1x24 jam.
Jika dikembalikan ke satuan waktu asalnya, menyebut minggu untuk menunjukkan putaran tujuh hari sama halnya menyebut jam 1.00 untuk menunjukkan putaran satu hari. Bagaimana tidak, terasa aneh jika harus menyebut satuan waktu dalam tujuh hari dengan hanya menyebut salah satu harinya saja. Jika sebutan 1x24 jam adalah sehari, maka sepantasnya ada istilah khusus untuk menyebut 1x7 hari. Tentu saja sebutan yang mewakili semua hari yang ada. Rasanya "pekan" adalah istilah yang paling tepat untuk itu. Sebagaimana terdapat istilah week dalam bahasa Inggris atau usbu' dalam bahasa Arab.
Kesimpulan
1. Hari pertama di awal pekan adalah Ahad. Sedangkan hari terakhir dalam satu pekan adalah Sabtu yang merupakan hari ketujuh.
2. Di Indonesia, penyebutan hari di awal pekan pada mulanya adalah Ahad. Nama ini diambil dari bahasa Arab sebagaimana nama enam hari yang lain.
3. Istilah yang paling sesuai untuk menunjuk putaran waktu selama tujuh hari adalah pekan, bukan minggu.
Tautan Terkait
(1) https://artikula.id/alfatih/mengenal-tradisi-penamaan-hari-dan-bulan-dalam-islam/
(2) https://id.wikipedia.org/wiki/Minggu_(hari)
(Purwosari, 13/11/2023)
Oleh: Fis Habib
Semua orang dapat dipastikan pernah mengalami situasi yang memaksa dia untuk tidak mengikuti aturan. Pada umumnya, situasi seperti ini bersifat darurat sehingga dapat dimaklumi oleh banyak pihak yang menyaksikan. Coba Anda bayangkan, alangkah ruwetnya jika berada pada situasi seperti ini: Ada rombongan siswa yang terlambat setengah jam masuk ruang Ujian Akhir Sekolah gara-gara kendaraan umum yang ditumpangi mogok di tengah perjalanan. Pada kasus semacam ini sekolah harus mengesampingkan aturan "maksimal keterlambatan 10 menit" karena kondisi darurat. Justru semakin ruwet jika tetap menegakkan aturan yang ada.
Pernahkah Anda mendengar istilah Kartografi? Itu adalah ilmu yang mempelajari peta. Semakin dipelajari, semakin mudah memahami dan menggambar sebuah peta. Di sisi lain, semakin dipelajari, semakin ruwet jika harus mentaati aturan dalam ilmu ini. Penulis menemukan setidaknya ada empat permasalahan yang cukup sulit jika harus diselesaikan dengan kartografi. Ini diketahui setelah penulis membuka Google Maps dan Peta Rupa Bumi Indonesia (PRBI) untuk wilayah Kecamatan Purwosari dan sekitarnya. Berikut ulasannya:
1. Kita Menghadap ke Mana?
Apakah Anda menyadari jika semua gedung di sekolah kita tidak persis menghadap ke salah satu penjuru mata angin? Jika dicek melalui Google Maps maka kita segera mengetahui bahwa komplek sekolah kita sebenarnya tidak lurus menghadap arah timur. Lebih tepatnya serong 7,41° ke arah kiri dari arah sebenarnya (1). Pada lingkup yang lebih luas, sebenarnya semua kegiatan kita di sekolah menghadap condong 7,41° dari arah yang diinginkan. Tapi kita selalu PeDe menjawab "timur" saat ditanya sekolah kita menghadap ke arah mana. Jawaban yang ringkas, cepat, dan tidak ruwet (Gambar-1). Secara rinci mengenai hal ini, Anda dapat menengok kembali artikel #1 mengenai koreksi arah kiblat untuk SMP Prada.
2. Papan Tulis Harus di Utara?
Pada umumnya, peta digambar dengan orientasi arah utara berada di atas. Jika mengikuti gambar peta yang ada maka papan tulis di setiap ruang kelas seharusnya berada di sisi dinding sebelah utara. Ini dilakukan agar sinkron dengan pembelajaran IPS. Saat siswa membuka peta dan atlas di mejanya masing-masing, orientasi peta langsung sesuai dengan kondisi arah mata angin sebenarnya. Bagi guru pun demikian, fikiran tidak bercabang saat menentukan orientasi peta di papan tulis jika papan tulis berada di sisi selain arah utara. Namun, betapa ruwetnya tugas kepala urusan Sarana dan Prasarana SMP kita jika memang harus taat aturan ini. Lebih ruwet lagi jika sekolah dituntut harus menyediakan berbagai jenis atlas dengan orientasi arah mata angin yang berbeda, menyesuaikan arah menghadapnya ruang kelas.
3. Di Manakah SMP Kita?
Jawaban mengenai pertanyaan tersebut penulis temukan melalui laman peta Rupa Bumi Indonesia dari Badan Informasi Geospasial RI. (2). Setelah melalui analisis yang cukup sederhana, penulis menemukan bahwa SMP Negeri 2 Purwosari (koordinat 7°14'51" LS, 111°42'15" BT) sebenarnya berada di wilayah administrasi desa Pelem, Kecamatan Purwosari. Namun, jika melihat peta Google, SMP kita beralamat di desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo. Ini disebabkan karena sekolah kita memang berada di perbatasan antara Kecamatan Purwosari dan Tambakrejo (Gambar-2). Dalam keseharian, kita hanya menyebut Kecamatan Purwosari jika ditanya alamat sekolah. Tanpa memberi tambahan keterangan yang ruwet: "tidak seperti yang tertulis di Google".
4. Mengapa Kita Sering Beraktivitas di Kecamatan Sebelah?
Dalam penjelajahan data keruangan, penulis kembali menemukan versi lain dari posisi SMP Prada. Jika kita mengetik kata kunci "Kecamatan Purwosari, Bojonegoro" pada kolom pencarian Google Maps maka akan muncul peta Kecamatan Purwosari lengkap dengan batas wilayah administrasinya (3). Kemudian, jika tampilan diperbesar dan digeser untuk menemukan posisi SMP Prada, data dari Google tersebut menunjukkan garis batas administrasi yang melintang di tengah komplek gedung SMP kita (Gambar-3). Dengan demikian, menurut data ini wilayah SMP Prada sebagian terletak di kecamatan Purwosari, dan sebagian lagi terletak di Kecamatan Tambakrejo.
Disadari atau tidak, adanya data versi Google ini dapat memunculkan pertanyaan: mengapa kita cenderung lebih banyak beraktivitas di Kecamatan Tambakrejo, padahal itu kecamatan sebelah? Jika interaksi kita hanya dibatasi oleh garis batas administrasi, tentu sangat ruwet. Perlu diingat, garis batas administrasi hanyalah sebuah simbol di atas peta yang tidak mungkin membatasi interaksi sosial masyarakat di kehidupan nyata. Lalu, data mana yang benar dan dapat dijadikan acuan: data versi Badan Informasi Geospasial RI., ataukah data dari Google? Sudahlah, ruwet jika harus dibahas lebih lanjut.
Kesimpulan dari artikel ini, terkadang fakta yang terjadi di sekitar kita tidak sesuai dengan teori ilmiah yang ada. Jika itu sudah dianggap wajar dan tidak membahayakan, anggap saja dalam situasi darurat kemudian kita tinggal mengikuti kecenderungan yang berlaku. Justru bisa semakin ruwet jika kita memaksakan sinkronisasi antara fakta dan teori ilmiah. Saran penulis, jika Anda tidak ingin semakin bingung dengan fakta-fakta kartografi yang telah dipaparkan, pilihlah artikel lain yang lebih simpel dan menghibur kemudian lupakan artikel ini :).
Tautan terkait:
(1) & (3): https://www.google.com/maps/
(2): http://tanahair.indonesia.go.id/
(Purwosari, 20/4/2023)
Gambar-1: Foto Satelit SMP Prada dari Google
Gambar-2: Posisi SMP Prada Sesuai Peta dari Badan Informasi Geospasial (BIG)
Gambar-3: Posisi SMP Prada Sesuai Data dari Google Maps
Oleh: Fis Habib
Pernahkan kita telat pergi ke tempat kerja gara-gara mencari flashdisk berisi tugas hasil lembur semalaman?. Suasana lebih kacau setelah kita menyadari bahwa flashdisk tadi keluar dari mesin cuci. Tentu saja setelah terendam semalaman dan teraduk-aduk di pagi harinya. Kadang masalah tadi memang pernah terjadi, benar-benar terjadi dan menyakitkan. Namun, tidak jarang masalah seperti itu hanya dongeng fiksi yang tercipta untuk mengelabui sang 'pengepul' tugas/kerjaan. Supaya deadline bisa diulur beberapa jam lagi, syukur-syukur beberapa hari lagi. Memperbesar kemungkinan untuk terjadinya hal-hal menyakitkan yang sebenarnya terkait flashdisk.
Mungkin kita pernah berangan-angan suatu saat nanti kejadian/alasan seperti di atas tidak akan ada lagi. Bukan karena semakin hari semakin banyak orang berperilaku disiplin, tetapi karena flashdisk sudah hilang dari peredaran, punah. Kepunahan itu mungkin saja terjadi sebagaimana hilangnya alat komunikasi pager, juga USB mp3 player dari peredaran. Sangat canggih di zamannya, tetapi dalam hitungan empat sampai enam tahun dari rilis perdananya sudah dilupakan orang. Serupa dengan kedua alat tadi ada juga CD, DVD, dan kaset pita. Alat terakhir memiliki masa edar terlama, sekitar 30 tahun. Atau sejak Sonetanya Bang Haji melakukan rekaman perdana hingga ulang tahunnya ke-30 pada tahun 2000. Sekadar info, saat ini flashdisk telah memasuki tahun ke-21 sejak dipasarkan pertama kali secara umum oleh IBM pada 2001.
Saya beli flashdisk pertama sekitar tahun 2004, seperempat gigabyte seharga 200 ribuan. Tujuh belas tahun kemudian harga flashdisk 32 gigabyte hanya 70 ribuan. Artinya, semakin lama harga penyimpanan data/storage semakin murah. Jika diterus-teruskan harga storage dipastikan Rp. 0,- alias gratis. Bukan karena bahan pembentuk fisik storagenya yang tidak berharga lagi, tetapi karena memang tidak memerlukan bahan fisik. Tengok saja lagu yang sering kita dengarkan dari situs youtube, gratis bukan? Tidak seperti zaman dulu saat lagu masih dalam wadah bernama kaset. Jika mau mendengarkan lagu, tentu saja harus beli wadahnya, kasetnya.
Sekarang kita sudah wajar mengatakan selamat tinggal kaset, jangan heran jika lima tahun mendatang kita akan terbiasa mendengar kalimat serupa untuk flashdisk. Lalu, bagaimana cara menyimpan data? bagaimana pula cara 'mencuci data' di mesin cuci? (he he). Sekadar gambaran saja, selama ini kita punya akun email. Jika kita pernah mengirim data pekerjaan lewat email dan suatu saat kita memerlukan kembali data tersebut, apakah kita perlu flashdisk untuk mengambil data tadi?. Tentu tidak, tinggal mengunduh data yang diinginkan, beres. Cara ini sudah saya lakukan sejak enam tahun yang lalu. Terima kasih google, sudah mengizinkan saya membuka lima akun email gratis untuk menyimpan data.
Rupanya google menyadari kecenderungan perilaku beberapa konsumennya seperti saya. Buktinya, tahun lalu google mail mengganti namanya menjadi google workspace setelah didahului munculnya istilah 'penyimpanan dan email gratis' beberapa pekan sebelumnya. Storagenya gratis tanpa alat fisik seperti flashdisk. Sistem penyimpanan seperti ini dikenal dengan sebutan clouds/awan. Tidak berhenti sampai di situ, saya lebih kagum lagi pada google setelah 'dia' berhasil membuat notebook dengan sistem clouds untuk penyimpanan datanya. Notebook unik ini dinamakan chromebook. Kalau dibuat slogan mungkin yang sesuai untuk chromebook adalah "buka, kerja, unggah". Sama halnya dengan flashdisk, tidak ada lagi cerita file pekerjaan tertinggal di laptop rumah.
Kembali ke cerita flashdisk. Saya punya teman guru yang memiliki banyak flashdisk, katanya itu untuk banyak jenis data. Seperti halnya sopir bus pariwisata yang pernah saya sewa saat ke Jogja. Beliau memiliki setandan flashdisk. Jumlahnya banyak sekali, sebanyak genre lagu yang dia kenal. Ditambah flashdisk berisi pengajian yang diputar saat menjelang maghrib di perjalanan. Masalah klasiknya adalah, jika ada yang meminjam tetapi lupa orangnya atau orangnya lupa, lebih-lebih flashdisk tercecer di antara bangku siswa atau penumpang, jelas kinerja beliau-beliau terganggu. Lain ceritanya jika menggunakan penyimpanan clouds, tentu masalah tadi tidak akan terjadi. Ingin mengerjakan perangkat mengajar, cukup mengakses gawai (apapun jenisnya). Jika sudah selesai tinggal mengunggah hasil pekerjaan tadi. Ingin memutar lagu juga demikian, tinggal buka youtube, beres. Asal tidak memutar genre dangdut saat maghrib.
Meskipun bukan peramal tetapi sejak dulu prediksi saya tentang teknologi informasi selalu tepat. Dua di antaranya: Saat awal tahun '90an saya pernah bermimpi berbicara dengan pesawat telefon tanpa kabel. Padahal saat itu telefon dengan kabel masih dalam angan-angan. Ternyata awal tahun 2000 impian saya tadi menjadi kenyataan. Sekitar tahun 2006 saya juga pernah meramalkan suatu saat ponsel akan dapat memutar lagu. Akhirnya terbukti juga, semua jenis ponsel saat ini sudah dapat memutar lagu, bahkan saat tidak ada file lagu di dalamnya. Prediksi saya kali ini adalah, dunia terbebas dari flashdisk. Lebih hebat lagi, ponsel tidak lagi memerlukan memory penyimpanan seperti sekarang.
Pucuk dicinta ulampun tiba, mungkin pepatah ini sesuai dengan keadaan terkini, lebih tepatnya di dunia pendidikan. Rupanya google bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam peluncuran program Google for Education atau yang lebih akrab dengan sebutan belajar.id. Pada program ini, google memberikan akun email @belajar.id gratis untuk guru dan siswa di seluruh Indonesia. Salah satu keunggulan akun belajar.id adalah tersedianya penyimpanan awan dengan kapasitas tidak terbatas/unlimited. Artinya, setiap guru dan siswa nantinya akan digiring untuk memanfaatkan sistem penyimpanan model terbaru, penyimpanan awan berkapasitas tak terhingga. Tidak berupa fisik, bebas virus, bisa diakses dari mana saja, dan tentunya aman dari peminjam flashdisk yang anonim. Selamat tinggal flashdisk, selamat datang sistem awan.
(Purwosari, 6/7/2022)
Oleh: Fis Habib
Penulisan artikel ini dilatarbelakangi pengamatan citra satelit wilayah SMP Negeri 2 Purwosari (Prada) saat penulis akan melakukan pemetaan wilayah secara fotogrametri. Citra satelit Google menunjukkan bahwa seluruh bangunan yang ada ternyata tidak sejajar dengan keempat arah mata angin. Kondisi ini tentu saja tidak terlihat saat pengamat berdiri di wilayah pengamatan. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh bangunan di lingkungan Prada berorientasi pada kemiringan horizontal ruas jalan raya Purwosari-Ngambon (km-10,50 sampai km-10,63). Selanjutnya, timbul pemikiran bahwa diperlukan evaluasi kembali terhadap arah kiblat mushalla di lingkungan Prada.
Shalat merupakan ibadah utama bagi umat muslim. Sebagaimana umumnya ibadah, pada pelaksanaan shalat juga terdapat syarat sah. Allah berfirman dalam Al-Quran surah Al-Baqarah pada tiga ayat "... palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram...." (QS. Al-Baqarah ayat 144, 149, dan 150). Rasulullah SAW. juga pernah berpesan kepada seseorang yang sedang belajar shalat: “Apabila kamu ingin shalat maka berwudhulah, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbir...” (HR. Bukhari: 6251 dan HR. Muslim: 397) . Dari beberapa dalil tersebut, keempat mazhab (Maliki, Syafi'i, Hanafi, & Hambali) memiliki pandangan yang sama bahwa menghadap kiblat termasuk salah satu syarat sah dalam shalat (Zuhri, dkk., 1994: 307-311) . Sedangkan berijtihad (berusaha) menemukan arah kiblat melalui penelitian adalah suatu kewajiban (Zuhri, dkk., 1994: 343) .
Teknik penentuan arah kiblat saat ini cukup beragam. Pertama adalah teknik theodolite. Dinamakan demikian karena pengukuran dilakukan dengan alat utama theodolite. Alat ini berfungsi mengidentifikasi derajat kemiringan lahan terhadap arah mata angin, panjang dan lebar lahan, serta ketinggian lahan. Untuk mengoperasikan alat ini diperlukan tim yang terdiri dari tenaga-tenaga ahli dalam pengukuran tanah. Teknik ini juga diterapkan untuk menganalisis kondisi kerusakan jalan raya sebelum dilakukan perbaikan. Tahapan utama pada teknik ini adalah penghitungan secara matematis hasil pengukuran dengan menggunakan rumus sudut dalam Ilmu Ukur Tanah.
Kedua adalah teknik pemantauan kiblat/rashdul qiblah. Ini merupakan teknik yang paling murah. Cukup melihat posisi matahari pada waktu tertentu saat kedudukannya tepat di atas ka'bah. Meski murah namun teknik ini tidak mudah untuk dilakukan. Selain tergantung kondisi cuaca, durasinya juga terbatas beberapa menit saja dalam satu tahun. Pengamat harus melihat posisi matahari pada tanggal 27 Mei (16.18 WIB) dan 15 Juli (16.27 WIB) setiap tahun kabisat. Ini dilakukan karena pada waktu-waktu tersebut matahari berada tepat di atas ka’bah (Muharram, 2016) . Sedangkan untuk tahun non-kabisat, pengamatan dapat dilakukan pada tanggal 28 Mei (16.18 WIB) dan 16 Juli (16.27 WIB) (Raharto dan Surya, 2011:25).
Teknik lain yang juga cukup akurat adalah teknik daring, yaitu dengan mengakses situs pelacak arah kiblat secara daring. Mirip dengan aplikasi arah kiblat di ponsel (tidak dianjurkan karena tingkat akurasinya yang labil), situs pelacak arah kiblat harus diakses dengan komputer/laptop. Ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang presisi dengan bantuan mouse serta aplikasi pengolah gambar berbasis komputer. Situs yang dimaksud misalnya qibla finder (qiblafinder.withgoogle.com) dan qibla pointer (al-habib.info/qibla-pointer/). Fasilitas utama pada kedua situs ini berupa garis lurus arah kiblat yang terintegrasi dengan semua titik pada peta dan citra satelit seluruh permukaan bumi.
Lebih lanjut, artikel ini akan menguraikan teknik yang terakhir: teknik daring. Penerapan teknik ini tentu saja lebih mudah dan murah dibanding dengan teknik theodolite. Selain itu, pengukuran dapat dilakukan setiap saat, tidak terbatas waktu maupun durasinya sebagaimana teknik kedua (rashdul qiblah). Meskipun teknik daring lebih murah, namun tingkat akurasi yang menjadi syarat utama suatu pengukuran tetap terjamin.
Penentuan arah kiblat untuk lingkungan Prada menggunakan teknik daring. Langkah awal yang dilakukan adalah mengakses situs qiblafinder.withgoogle.com. Tampilan utama situs ini berupa hamparan citra satelit seluruh permukaan bumi. Untuk mencari tempat yang akan dilacak arah kiblatnya, pengguna dapat mengetikkan nama tempat pada kotak pencarian. Pencarian tempat juga dapat dilakukan secara manual, yaitu dengan cara menggeser (pan) maupun memperbesar (zoom) tampilan citra satelit. Tampilan citra satelit pada situs ini identik dengan tampilan pada situs Google Maps. Dengan demikian interfacenya cukup familiar, bahkan untuk pengguna baru sekalipun.
Sudut kemiringan bangunan secara horizontal dapat diidentifikasi dengan aplikasi pengolah vektor/gambar seperti Inkscape, Corel Draw, GIMP, maupun Photoshop. Proses identifikasi dilakukan setelah citra satelit disesuaikan sudut orientasinya pada keempat arah mata angin. Identifikasi terhadap citra satelit lingkungan Prada menghasilkan nilai sudut 7,41°. Artinya, hampir semua bangunan di lingkungan Prada serong 7,41° ke arah kiri dari arah sebenarnya (gambar-1). Sedangkan bangunan mushalla yang berhimpitan dengan gedung perpustakaan memiliki sudut kemiringan 5,35°. Dengan sudut tersebut dapat diartikan bahwa arah kiblat mushalla selama ini menyimpang ke kiri menjauhi arah kiblat yang seharusnya.
Sudut penyimpangan kiblat mushalla Prada jika dihitung secara matematis hampir mencapai 30° ke arah kiri, lebih tepatnya 29,70°. Angka ini diperoleh dari penjumlahan sudut kemiringan bangunan mushalla (5,35°) dengan sudut orientasi arah kiblat sebenarnya pada arah barat (24,35°) (gambar-2). Perlu diketahui, besarnya sudut arah kiblat tersebut relatif tetap meski terdapat pergerakan lempeng tektonik kulit bumi. Pergeseran arah kiblat karena faktor deformasi lempeng tektonik memerlukan waktu yang cukup lama, yakni puluhan hingga ratusan tahun. Ini disebabkan kecepatan pergerakan lempeng pulau Jawa bagian timur rata-rata hanya sejauh 19,39 mm tiap tahunnya (ke arah tenggara) (Saputra, 2017: 431) . Pada sisi yang lain, lempeng Arabia hanya mengalami pergerakan kurang dari 1,5 mm tiap tahunnya (ke arah utara) (Zolfaghari, 2015: 2) .
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: (1) teknik pengukuran yang paling sesuai untuk mengevaluasi arah kiblat di Prada adalah dengan teknik daring. Teknik yang lain tetap dapat diterapkan jika fasilitas dan syarat yang ada telah terpenuhi. (2) kiblat mushalla Prada ternyata menyimpang ke kiri sebesar 29,70°. Hal ini terjadi karena keterbatasan alat dan metode pengukuran kiblat saat pendirian bangunan mushalla. Solusi yang dapat diambil untuk mengatasi dua hal tersebut adalah: (1) Mengukur ulang arah kiblat dengan teknik lainnya di lain kesempatan. Dengan demikian dapat meningkatkan akurasi penelitian ini. (2) Membuat garis shaf dalam mushalla yang secara tegak lurus menghadap arah kiblat seharusnya. Dalam hal ini pembongkaran mushalla tidak disarankan.
DAFTAR RUJUKAN
Muharram, RM. 2016. 27 Mei: Istiwa 'Adhom, Kesempatan Perbaiki Arah Kiblat Bagi Muslim. https://www.infoastronomy.org/2016/05/27-mei-istiwa-adhom.html. Diakses pada 10 Mei 2022.
Raharto, M. dan Surya, DJA. 2011. Telaah Penentuan Arah Kiblat dengan Perhitungan Trigonometri Bola dan Bayang-Bayang Gnomon oleh Matahari. Jurnal Fisika Himpunan Fisika Indonesia XI (1) hlm 23-29. (https://www.neliti.com/publications/79316/telaah-penentuan-arah-kiblat-dengan-perhitun gan-trigonometri-bola-dan-bayang-bay). Diakses 10 Mei 2022.
Saputra, Renaud dkk. 2017. Analisis Deformasi di Wilayah Jawa Timur dengan Menggunakan CORS BIG. Jurnal Geodesi Undip VI (4) hlm 422-432. (https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/geodesi/article/view/18172/17245). Diakses 10 Mei 2022.
Zolfaghari, MR. dan Darzi, A. 2015. Development of GIS-Based Database of Active Faults in The Middle East Area. 7th International Conference on Seismology & Earthquake Engineering (SEE7) at Tehran, Iran. https://www.researchgate.net/publication/332726722_Development_of_GIS-based_Datab ase_of_Active_Faults_in_the_Middle_East. Diakses 10 Mei 2022.
Zuhri, M. dkk. 1994. Fiqih Empat Madzhab. Semarang: CV. Asy Syifa'.
(Purwosari, 11/5/2022)
Gambar-1: Tampilan kemiringan horizontal citra satelit lingkungan Prada pada Inkscape.
Gambar-2: Kemiringan horizontal bangunan mushalla dan arah kiblat seharusnya.